Altruismenya Bikin Rasa Sayang dan Cinta Saya tak Tergoyahkan

My hubby and our first lady, Azka. Foto by meninews.com

JIKA ada pertanyaan siapakah orang yang paling kamu sayang dalam hidup ini? Maka tiada ragu saya akan menjawab “My hubby” alias “Suami saya”. Jawaban ini memang terdengar biasa sekali karena banyak wanita lain di luar sana yang juga akan menjawab hal yang sama.

Namun, di balik jawaban saya itu, ada cerita suka dan duka yang sudah kami lalui bersama yang membuat saya begitu sayang kepadanya. Ini bukan berarti saya mengalfakan rasa sayang saya kepada kedua almarhum ibu dan bapak saya maupun saudara-saudara saya yang sudah berkontribusi begitu banyak dalam kehidupan saya. Raya sayang kepada masing-masing orang dalam hidup kita pastinya memiliki kadar dan penempatan yang berbeda-beda.

Rasa sayang kepada suami pastiya karena dia adalah imam dan belahan jiwa dalam hidup saya saat ini dan semoga untuk selamanya sampai maut memisahkan.

Kerja Double Agar Bisa Menikah

Kebersamaan dengannya, memang penuh dengan kerja keras, bahkan beberapa tahun sebelum menikah. Sejak awal menjalin hubungan dengannya (anak zaman Millennial sekarang menyebutnya masa pacaran), memang untuk menuju pernikahan. Dia adalah sosok pekerja keras dan penuh tanggungjawab.

Ketika suatu malam di tahun 2006, dia menyatakan perasaannya kepada saya, saat itu juga langsung saya tantang agar hubungan kami adalah untuk berumatangga bukan main-main. Dia meminta waktu beberapa tahun agar bisa mengumpulkan “modal” biaya pernikahan. Saya juga menantangnya agar berusaha sendiri tanpa meminta bantuan orang lain termasuk kedua orangtua untuk biayai pernikahan tersebut.

Demi tantangan itu, dia mengambil langkah-langkah agar bisa mengumpulkan pundi-pundi rupiah dengan kerja di dua tempat, pagi dan malam. Saat itu, dia memilih bekerja sebagai graphic designer pada pagi sampai sore di satu perusahaan, dan malam harinya bekerja di bidang yang hampir sama di perusahaan lainnya. Dalam waktu kurang lebih dua tahun, dana pernikahan yang dibutuhkan tercukupi. Rasanya saya bangga sekali dengannya karena dia membuktikan bahwa dia bisa berdikari dan mengimplementasikan janjinya kepada wanita yang akan dinikahinya. SO SWEET!

Pesta pernikahan kami 26 September 2009.

Perjuangan kami membangun rumah tangga dari nol hingga sekarang bisa hidup layak adalah sebuah fondasi yang kuat yang Insyaallah tidak mudah diruntuhkan. Semua perjuangan di masa lalu adalah obat lara ketika kami dalam suasana sedang tidak harmonis. Tiada rumah tangga di dunia ini yang tidak menghadapi inharmonisasi, hanya saja bagaimana dua orang pengayuh biduk rumah tangga itu bekerjasama untuk menyelesaikan segala persoalan dengan mencapai win-win solution sehingga tidak menyakiti satu sama lain

Bukan Sosok Suami Egois

Kesabarannya seperti lautan tanpa batas. Begitulah saya merasakan hidup setiap saat berdampingan dengan my soul mate sejak 26 Septermber 2009 lalu. Kesabarannya kadang sebagai tamparan bagi diri saya sendiri karena saya memang termasuk orang yang temperamen.

Meskipun dalam keadaan lelah sepulang kerja, jika saya meminta bantuan kepadanya, dia selalu memenuhi permintaan itu. Dia pun selalu punya waktu untuk saya dan dua putri kami, Azka dan Kenzie. Rasanya memang sangat beruntung mendapatkan pasangan hidup seperti dia.

Dia tidak pernah marah ketika pulang kerja tidak ada makanan untuk makan malam karena istrinya tidak sempat menyiapkan. Dia justru yang bertanya, ingin makan apa agar dibelikan. Ehm…. Rasanya senang sekali. Saya tidak kebayang, di luar sana banyak wanita yang mendapatkan omelan bahkan pukulan dari sang suami ketika di rumah tidak tersedia kopi atau teh saat dia pulang kerja.

Hal lain yang membuat saya begitu sayang kepadanya karena dia bukanlah sosok suami penganut egoisme melainkan penuh altruisme. Dia tetap mau berbagi waktu dan tenaga untuk urusan domestik rumah tangga, termasuk mengasuh anak-anak, mencuci pakaian, memasak, dan membersihkan rumah. Sehingga, di rumah kami mengenal yang namanya Mama Time dan Papa Time. Maksudnya adalah, ketika suami saya tidak di rumah maka urusan pekerjaan rumah dan anak-anak adalah urusan saya atau Mama Time. Tapi ketika suami di rumah maka urusan anak-anak adalah urusannya atau Papa Time.

Dengan Mama dan Papa Time yang kami terapkan, anak-anak menjadi dekat kepada kami berdua tanpa beda. Anak-anak juga menjadi terbuka kepada mama dan papanya. Bercerita apa saja dan berkeluh kesah apa saja kepada papa-mamanya.

Jika salah satu dari kami harus ke luar kota, anak-anak tidak pernah menangis dan sedih karena ditinggal. Sosok mama sudah bisa terwakilkan oleh papanya dan begitu juga sebaliknya. Selama berkeluarga, meskipun kami berdua bekerja, kami mengurus anak dan pekerjaan rumah tangga sendiri tanpa asisten. Kebetulan pekerjaan yang saya lakukan memang bisa dikerjakan dari rumah sehingga lebih banyak waktu mengurus anak-anak dan keluarga.

Ingin Menghadiahkan Kamera

Suatu malam di bulan November 2016, suami saya pernah berujar,”Jeng…. Ajeng kan suka menulis dan travelling. Belilah kamera yang bagus. Nanti kalau kita travelling bareng, biar abang yang jadi fotografernya.” (Ajeng itu sapaan sayangnya untuk saya…ehm…)

Saya hanya bisa mengangguk ketika itu. Apalagi dia juga beberapa kali mengutarakan keinginannya untuk bisa menjadi fotografer profesional sehingga bisa membuka bisnis fotografi. Semua itu, pastinya membutuhkan kamera yang memang berkualitas. Kamera bagus itu harganya pasti lumayan ya, delapan jutaan ke atas.

Ehm…. Rasanya memang agak berat memenuhi permintaannya saat ini tetapi bukan berarti saya menolaknya. Pertimbangannya tidak lain karena kebutuhan rumah tangga dan sekolah anak yang masih besar. Anggaran untuk membeli kamera itu belum terpikirkan.

Apa yang bisa saya lakukan adalah dengan aktif mengikuti lomba-lompa menulis agar impian suami saya bisa terwujud meskipun ini bukan cara instan. Memang membutuhkan waktu yang ntah sampai kapan, tetapi begitu ada peluang lomba menulis yang hadiahnya kamera, saya ikuti dan akan terus saya ikuti.

Kesabaran dan kerja keras dari suami saya telah menghantarkannya memenuhi janji-janjinya membangun rumah tangga bersama saya. Dan saya yakin kesabaran dan kerja keras dari saya juga akan membuahkan hasil untuk mewujudkan impiannya memiliki kamera berkualitas.

ONE DAY, YOUR DREAM WILL COME TRUE MY LOVED HUBBY!

(sri murni)