Nikmatnya Makanan Libanon, Bikin Lidah Susah Move On

Makan malam bersama Ibu Guberkur Kepri di Byblos Grill di Singapura.

PEKAN pertama Desember 2017 lalu, tepatnya tanggal 8, saya berkesempatan visiting and training di kantor Google Asia Pacific di Singapura.

Kunjungan ini bersama Tim Batik Girl yang diprakarsai Mbak Lusia Kiroyan sebagai pendiri Cinderella from Indonesia.

Kegiatan ini juga dihadiri Ibu Gubernur Kepri Noorlizah Nurdin selaku pembina Batik Girl, bersama para stafnya dan dua rekan Blogger Kepri, Teh Lina Sasmita dan Chai Loekman.

Tentu saja begitu banyak ilmu dan hal menarik yang kami dapatkan dari kantor Google yang super keren.

Tapi, cerita tentang hasil kunjungannya akan saya paparkan di tulisan tersendiri.

Sementara tulisan kali ini, khusus mengulas edisi makan malam ala Libanon  di Byblos Grill Bar, Bussorah Streets, Singapura, tidak begitu jauh dari Masjid Sultan.

Billboard Byblos Grill. Foto by menixnews.com

Dipilihnya restoran ini, karena memang menurut Ibu Gubernur,  makanan Timur Tengah, khususnya Libanon, paling enak di Byblos.

Restoren ini juga menjadi langganan Ibu Gubernur yang memang penyuka hidangan Timur Tengah.

Makan malam ini pun disponsori oleh Ibu Gubernur.

Pati Bread, Makanan Pembuka

Pati Bread lengkap dengan anek sausnya. Foto by menixnews.com

Dari sekian banyak sajian, saya paling berkesan dengan makanan pembuka khas Libanon yang namanya Roti Pati.

Pati ini adalah roti (seperti prata) khas Libanon  yang dibakar dan disajikan dengan empat jenis saus dan satu atau dua salad.

Salad pertama disebut fattoush, salad tradisional Libanon yang terdiri dari campuran sayuran, tomat ceri, dan beberapa buah serta minyak zaitun, lemon, bawang putih, dan garam.

Salad kedua namanya Tabbouleh yakni salad yang didalamnya terdiri dari bulgur (sejenis sereal khas Timur Tengah), tomat, bawang putih, salada, dan daun sup. Sebagai perasanya diberikan minyak zaitun, perasan lemon dan garam.

Jenis saus yang dihidangkan bersama Pati Bread. Foto by menixnews.com

Kelima peneman pati disajikan tersendiri di sebuah tempat bundar atau disebut Mezza Platter.

Dan, menariknya, saos rata-rata dibuat dari bulgur yang diberi minyak zaitun beserta sebiji buah zaitun hitam di atasnya.

Sementara patinya diletakkan di wadah terpisah.

Nah, untuk satu porsinya ada dua slice pati yang ukurannya cukup besar.

Bagi orang Indonesia, satu porsi bisa disantap empat orang.

Soal rasa, bagi yang tidak familiar dengan makanan Timur Tengah memang agak aneh karena sausnya hampir tidak berasa, terkecuali agak asin dengan rasa minyak dan buah zaitun.

Karena saya penyuka buah zaitun, jadi saya lahap saja menyantapnya termasuk buah zaitunnya saya habiskan.

Awalnya, saya tidak tahu kalau pati bread ini adalah makanan pembuka.

Karena di lidah saya, rasanya begitu menggoda dan tidak membosankan, saya pun menyantapnya hingga perut hampir penuh.

Setelah, hidangan pati bread hampir habis, pelayan restoran menghampiri dan bertanya ingin pesan makanan utama apa?

Wah, saya sempat bingung karena memang sudah terasa kenyang.

Pizza dan Mixed Grill 

Karena semua orang pesan main course, saya pun ikut-ikutan. Tapi kami sepakat untuk pesan yang berbeda-beda agar bisa icip-icip.

Saya sendiri menjatuhkan pilihan pada pizza ala Libanon.

Meskipun pizza aslinya adalah dari Italia, tapi restoran ini punya pizza Libanon.

Well, saya pun tergoda untuk mencicipinya.

Pizza ala Libanon. Foto by menixnews.com

Sedangkan satu teman saya, Mbak Umil, tergoda untuk pesan spageti ala Libanon.

Lagi-lagi, spageti adalah makanan khas Italia tapi di sini dihadirkan dengan ala Libanon.

Teman lainnya, pesan main course yang Libanon tulen yakni mixed grill. Namanya sih bahasa Inggris, tapi kata pelayan di sana, grill yang disajikan memang otentik ala Libanon.

Mixed Grill ala Libanon. Foto by menixnews.com

Mixed grill ini isinya aneka sosis, ayam, daing sapi, dan kambing yang dibakar. Kemudian disajikan dengan saus bulgur.

 

Tidak lupa bawang Bombay mentah dan cabai merah besar yang juga mentah.

Kalau bombay dan cabai ini, menurut saya hanya sebagai penghias hidangan. Tapi, jika ada yang mau menyantapnya juga disilahkan.

Ada juga teman lainnya yang memesan Lamb Kofta yakni nasi ala Libanon dengan lauknya kambing/domba bakar.

Lamb Kofta ala Libanon. Foto by menixnews.com

 

Bagaimana rasa main course-nya?

Untuk pizza ala Libanon ini rasanya standard saja. Plusnya adalah lelehan keju mozzarella yang melimpah.

Minusnya, kurang berasa di lidah (biasa orang Indonesia makan kudu kaya rasa).

Sedangkan spagetinya memang sungguh nikmat.

Bolognisenya kaya rasa dengan daging giling yang melimpah, begitu juga dengan keju mozzarellanya.

Sedangkan nasi Libanonnya memang berasa rempah-rempah, terutama bunga lawang dan cengkehnya.

Untuk sosis, ayam, kambing, daging bakarnya berasa originalnya.

Sajian ini, bagi lidah Indonesia memang berasa kurang pedas.

Tapi jangan khawatir karena di meja disiapkan saus sambal yang lumayan nendang.

Harga?

Untuk masalah harga, memang terbilang lumayan mahal.

Sebagai gambaran umum :

  1. Makanan pembuka rata-rata dibandrol mulai dari 11 dolar Sing atau sekitar Rp 110 ribu (kurs Rp 10 ribu).
  2. Makanan utama, harganya mulai dari Rp 25 dolar Sing atau sekitar Rp 250 ribu per porsi.
  3. Makanan penutup, mulai dari 10 dolar Sing atau Rp 100 ribu.

So, tidak ada salahnya jika jalan-jalan ke Singapura, makan siang atau malamnya coba sajian berbeda dari yang biasa.

Apalagi, makanan Timur Tengah, khususnya Libanon, tidak selalu tersedia di kota-kota di Indonesia, termasuk di Batam. (sri murni)

SELAMAT MENCOBA!