Kisah Persahabatan Saya dengan Seorang Atheis & Alasannya tak Mau Beragama

Ilustrasi persahatan. Foto diambil dari Hipwee

 

 

SUDAH lama saya ingin menulis tentang kisah persahabatan saya dengan seorang warga Australia yang mengaku dirinya seorang atheis. Saya tergerak untuk menulis kisah persahabatan ini lantaran saya sangat sedih dan menangis melihat banyaknya aksi-aksi pembantaian manusia dengan latar belakang perbedaan agama.

Selama ini, saya memandang pertemanan bukan dari latarbelakang agama, warna kulit, ras, suku, dan golongan melainkan pertimbangan baik tidaknya orang tersebut. Yang saya ukur adalah penghargaan dan sikap kemanusiaannya terhadap manusia lain. Beragama pun seseorang, jika kelakuannya tidak mencerminkan kebaikan, maka saya akan menghindari untuk berteman dengannya.

Pertemanan kami ini berlangsung sejak 2011 lalu, tepatnya sebulan setelah saya menginjakkan kaki kali pertama di Negeri Kangguru tersebut. Teman saya itu seorang perempuan paruh baya. Untuk memudahkan penyebutan, di tulisan ini saya namai dia dengan sapaan Igla.

Igla adalah sosok wanita yang supel dan sangat enak diajak cerita. Dia juga sangat mudah tersentuh hatinya dan ringan tangan dalam membantu orang lain.

Saat muda, dia bekerja di banyak perusahaan dan terakhir menjabat sebagai sekretaris senior di perusahaan ternama di Australia. Ketika pensiun, dia memutuskan untuk tetap bekerja, meskipun bukan pekerjaan kantoran melainkan bekerja paruh waktu sebagai kitchen hand alias bantu-bantu di dapur sebuah motel (motor hotel) di Canberra.

Saya kenal dia juga  karena saya sempat bekerja paruh waktu di tempat yang sama dengan pekerjaan yang sama pula.

Igla ini sudah memiliki seorang suami yang jarak usia keduanya terpaut sekitar 20 tahun. Mereka adalah keluarga mapan. Igla memiliki dua anak tiri yang semuanya sudah mandiri dan sudah berkeluarga. Dilihat secara materi, keluarganya sangat berkecukupan. Dia bekerja sebagai kitchen hand karena memang ingin hari-harinya tetap penuh aktivitas dan agar menjaga diri tetap berjiwa muda.

Bagi saya, Igla adalah sosok teman yang sangat peduli. Dia selalu memberikan tumpangan saat kami berdua memiliki jam kerja sama. Rumah kos saya juga masih satu komplek dengannya jadi dia selalu antar-jemput saya kalau kerja.

Bahkan saking care-nya, saat jam kerja kami berbeda, dia selalu meneleponkan temannya yang lain untuk menjemput dan mengantarkan saya. Padahal saya bisa pergi-pulang sendiri naik sepeda.

Kalimat yang selalu saya ingat darinya jika saya menolak kebaikannya soal tumpangan mobil ini adalah,”Murni, kamu itu terlalu kecil (secara fisik dibandingkan dia yang tinggi jangkung) untuk naik sepeda ke tempat kerja. Apalagi dalam gelap (jam kerja kami memang selepas Subuh sampai selepas sarapan)”.

Dia juga tidak membiarkan saya beli televisi untuk di kamar saya, melainkan dia meminjamkannya karena ada TV flat ukuran 19 inc di rumahnya yang tidak terpakai.

Perdebatan tentang Agama

Di luar segala kebaikan dan kepeduliannya terhadap saya, Igla adalah sosok yang tidak percaya pada agama dan Tuhan. Dia adalah seorang atheis.

Bahkan, katika mati nanti, dia akan membuat wasiat agar jasadnya dikremasi kemudian ditaburkan ke tanah agar menjadi pupuk atau buang saja ke keranjang sampah yang penting tidak menyusahkan orang-orang yang ditinggalkannya.

Saat saya tanya mengapa dia ingin dikremasi, jawabnya karena dia tidak ingin membebani siapapun termasuk keluarganya untuk urusan pemakaman maupun sewa lahan kuburan. Andaipun dikremasi, dirinya sudah menyiapkan semua biaya untuk kematiannya kelak.

Suatu sore, saat pulang dari tempat kerja, di dalam mobilnya kami bercerita-cerita soal agama. Karena sudah kenal dekat, saya memberanikan diri untuk bertanya kepadanya mengapa dia tidak percaya agama dan Tuhan?

Jawabnya sangat simpel karena dia percaya kepada ilmu pengetahuan. Satu hal yang paling membuatnya tidak percaya pada agama adalah karena banyak penganut agama yang menyalahgunakan agama untuk menyakiti, membantai, bahkan menggelar perang di muka bumi ini.

“Lihat saja dari sejarah dunia ini, perang-perang dikobarkan mengatasnamakan perluasan agama. Untuk apa menjadi orang beragama kalau kita tidak bisa menjadi manusia yang lebih baik, manusia yang saling menolong, dan menyayangi?”

Kata-kata di atas merupakan ungkapan alasan keatheisannya yang paling saya ingat. Bahkan sampai sekarang kata-kata itu selalu menjadi salah satu cambuk dan motivasi bagi saya untuk terus menjadi manusia yang lebih baik.

“Jika Igla yang seorang atheis saja bisa menjadi sosok sebaik itu dan memandang manusia berdasarkan kebaikan dan moral bukan latarbelakang kepercayaan dll, mengapa kita yang mengaku beragama (agama apapun itu) tidak bisa menjadi sosok yang lebih baik dari seorang atheis? Bukankah agama-agama kita semuanya mengajarkan tentang kebaikan dan kasih sayang kepada sesama?”

Berdoa pada Siapa?

Di suatu sore yang lain, di atas mobil jalan pulang, Igla tampak lesuh dan sedih.

Pelan-pelan aku bertanya apa yang terjadi padanya. Dia bercerita bahwa teman baiknya saat itu sedang sekarat di rumah sakit. Dia berdoa agar diberi kesembuhan atau jika memang kematian jalan terbaik, maka disegerakanlah mencabut nyawa temannya.

“Saking sekaratnya teman saya itu, dia dan keluarganya sudah meminta dokter untuk menyuntik mati dirinya. Tapi proses izin suntik mati itu memakan waktu. Aku berdoa supaya dia cepat sembuh,” kata Igla dengan perasaan sedih.

Mendengar kata “DOA” dari mulutnya, saya sempat terhenyak kaget karena selama kami berteman, baru itulah dia ucapkan kata DOA. Alih-alih ikut bersedih, saya malah keceplosan bertanya kepadanya,”Kamu berdoa kepada siapa Igla?”

Ekspresi wajahnya pun seketika berubah dan mungkin karena dia ingat bahwa dia tidak punya Tuhan untuk memanjatkan doa.

Dia buru-buru menjawab, “aku berdoa kepada siapapun dan apapunlah Murni… Kamu juga tolong doakan dan minta kepada Tuhan kamu untuk meyembuhkan atau justru mencabut nyawa teman aku itu. Janganlah dibuat seperti sekarang, hanya terbaring di ICU dengan segala peralatan medis,” katanya.

Ternyata usia teman baik Igla itu sudah 98 tahun.

Mendengar permintaannya untuk mendoakan teman baiknya, saya hanya tersenyum.

Tak lama kemudian dia bertanya kepada saya mengapa saya beragama dan percaya Tuhan.

Saat itu saya tidak mau membuka perdebatan yang panjang-panjang karena lelah sehabis kerja. Saya pun menjawab dengan agak diplomatis,”Saya percaya Tuhan karena saya diciptakan oleh Nya dan saya membutuhkan segala pertolonganNya. Untuk mengenal Tuhan, saya membutuhkan agama karena agamalah yang mengajarkan tentang Ketuhanan.”

Suami yang Sekarat

Sekarang, sudah sekitar lima tahun saya tidak pernah lagi bertemu dengannya. Kabar terakhir darinya yang dia kirim via email lima bulan lalu, adalah dia sedang tidak enak badan dan sedang full stress karena suami tercintanya sedang dirawat di ICU. Sang suami menderita kanker otak.

“Oh Murni, tolong doakanlah kepada Tuhanmu agar suamiku cepat sembuh. Aku memang sedang sibuk mengurusinya di rumah sakit jadi tidak bisa sering-sering berkirim kabar denganmu,” tulisnya.

Untuk sahabat atheis saya ini, saya doakan semoga Tuhan memberikan kesembuhan untuk suaminya.

Apapun kita, kepercayaan yang kita anut, dan latarbelakang yang kita miliki, sebagai menusia kita kudu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. (sri Murni)

NB: Pembaca juga akan menemukan cerita-cerita menarik di blog teman saya www.awitalife.com