Menilik Budaya Vasektomi Warga Australia: Hadiah Pernikahan Terindah untuk Istri

Ilustrasi pernikahan. Foto by Thinkstock

MOMS and Dads…. Tulisan kali ini rada serius ya.

Saya ingin membahas tentang salah satu pilihan keluarga berencana (KB) pada pria yang sudah membudaya di Negeri Kanguru, Australia.

KB yang dimaksud adalah vasektomi yakni operasi kecil atau bedah minor untuk mencegah transportasi sperma pada testis dan penis sehingga tidak akan membuat hamil pasangan wanitanya.

Cerita vasektomi ini terinspirasi oleh postingan facebook senior saya, Kak Ilvy Rahmy, alumni Universitas Riau, Pekanbaru,  yang menikah dengan pria Australia dan sudah beberapa tahun ini tinggal di sana.

Sekarang pasangan itu sudah dikaruniai sepasang anak, perempuan dan laki-laki, yang berusia sekitar enam dan empat tahun.

Dalam postingan facebooknya, dia mengungkapkan kekagetannya karena sang suami melakukan vasektomi.

Kak Ilvy mengatakan, dirinya memang pernah bicara pada yayangnya dan melontarkan niatnya untuk tidak memiliki anak lagi karena memiliki dua anak sudah cukup. Kak Ilvy juga ingin mulai berkarier di Australia.

Berikut postingan Kak Ilvy di dinding facebookny:

“Lain negara lain budaya, salah satu budaya di Australia ini yg aku baru tau, klo pasangan sudah punya anak cukup, si istri akan cerewet minta suami utk vasectomy, jadi yg ber KB itu suami bukan istri.
Aku nggak pernah kepikiran apalagi minta suami vasectomy, tapi itulah yg dilakukan suami setelah aku bilang kita cukup punya 2 anak saja ya krn aku jg ingin punya karir disini…..
Teman Australianku bilang “Vasectomy is the most loving gift a man can give to his wife” …
maaf ya honey, aku nggak dampingi kamu vasectomy kemarin, get well soon”.

Membaca unggahan Kak Ilvy, saya sangat terkejut dan mengapresiasi keputusan suaminya.

Saya juga baru tahu bahwa di Australia vasektomi sudah membudaya, padahal saya pernah tinggal di sana 1,5 tahun tetapi tidak menelisik masalah yang satu ini.

Jujur, baru kali ini saya mendapati seorang suami yang sukarela dan memilih KB untuk dirinya sendiri ketimbang meminta sang istri untuk ber-KB.

Susahnya Jadi Orang “Kerdil” Saat Traveling ke Australia

Ya tahu sendiri kan, di Indonesia menurut saya sangat jarang suami yang mau ber-KB apalagi sampai melakukan vasektomi.

Soal urusan KB, kebanyakan suami menyerahkan sepenuhnya pada istri, meskipun tidak semua.

Suami saya sendiri termasuk golongan yang lebih memilih dirinya yang ber-KB ketimbang sang istri. Namun, KB yang dipilih suami saya tidaklah vasektomi melainkan pengaman.

Alasannya, karena suami saya sadar KB untuk istri, apalagi yang sifatnya hormonal bisa mengganggu hormon istri yang ujung-ujungnya menganggu metabolisme tubuh, termasuk jadwal menstruasi, emosi, dan bodi.

Well, kembali ke urusan vasektomi.

Dari Kak Ilvy, saya mendapat cerita bahwa ternyata bagi kebanyakan keluarga di Australia, jika pasangan suami-istri memutuskan untuk tidak punya anak lagi, maka dokter lebih menyarankan suami yang ber-KB (vasektomi) ketimbang istri.

Alasannya karena memang resiko bagi suami sangat kecil dibanding istri baik dari sisi kesehatan fisik dan mental.

Para suami yang ingin vasektomi hanya menjalani operasi sekali.

Budaya Vasektomi dan Gratis

Menurut data dari Metrocentre Australia, salah satu unit kesehatan yang khusus menangani masalah vasektomi di Australia, kegagalan vasektomi dalam mencegah kehamilan sangat kecil.

Dari 1.000 kasus vasektomi, kemungkinan kegagalan mencegah kehamilan hanya satu.

Hasil operasinya pun tidak akan berdampak apa-apa termasuk soal urusan keperkasaan pria.

Tidak mengherankan jika setiap tahun ada 29.000 pria Australia menjalani vasektomi.

Banyaknya pria yang menjelani vasektomi ini juga didorong oleh program gratis dari pemerintah.

Setiap pria bisa mendapatkan vasektomi gratis di rumah sakit pemerintah asalkan mengikuti semua prosedur yang ada.

Serba-Serbi Tinggal Seatap dengan Bule-Bule di Australia

Nah, ternyata di keluarga suami Kak Ilvy, vasektomi sudah membudaya.

Ayah mertuanya juga melakukan hal yang sama.

Banyak yang bilang, vasektomi adalah kado terindah dari suami untuk istri. Ini menandakan bahwa suami punya komitmen kesetiaan hidup  bersama sang istri.

Meski demikian, bukan berarti suami yang sudah vasektomi tidak ada yang selingkuh maupun bercerai dengan istrinya.

Masih Perkasakah?

Soal keperkasaan pasca-vasektomi memang menjadi hal paling dikhawatirkan bahkan momok bagi para suami.

Soal hal satu ini, saya sempat mendapatkan sharing pengalaman dari Mbak Yuni Palmer, wanita Indonesia yang menikah dengan pria Australia. Dia juga teman Kak Ilvy.

Dia bercerita bahwa suaminya juga sudah vasektomi sejak 16 tahun lalu. Vasektomi dilakukan setelah empat tahun perinikahan mereka.

Alasannya, karena semua KB yang pernah dijalani Mbak Yuni ternyata berefek negatif ke dirinya.

Setelah vasektomi, kata Mbak Yuni, rumah tangganya baik-baik saja, terutama soal hubungan intim.

Begini jawaban Mbak Yuni soal keperkasaan sang suami setelah vasektomi.

“Kita tdk ada masalah. Suami gak ada pengaruh. Kita sudah nikah hampir 22 tahun…. still hot😀😀kecuali kalo lagi ada beban pikiran, masalah kerjaan suami jg drop ambisinya. Itu kan biasa bukan krn masalah vasektomy.”

Hal yang sama juga disampaikan oleh Mbak Etty Williams, WNI lain yang juga menikah dengan pria Australia.

Meskipun tidak merinci pengalamannya, tapi dia menegaskan bahwa vasektomi tidak mempengaruhi keperkasaan suaminya.

Pendapat Pria Indonesia?

Soal vasektomi ini, seorang teman Blogger Kepri, yang biasa saya panggil Ko Aji, ternyata juga punya pemikiran untuk melakukan vasektomi.

Berikut pendapatnya:

Eike dulu kepikiran punya anak 1 aja, jadi uda kepikiran setelah Adel lahir mau vasek. Tapi kok abis Ade uda agak gedean kok kasian juga tu anak maen sendirian di rumah kalo malem, dan emang si Ms BD (istri) maunya punya beberapa anak, jadinya ya ga dilakuin dulu.

Sekarang si Bella uda lair, eike uda kepikiran lagi mau ngelakuin vasek, tapi liat ntar deh si Ms BD maunya apah, hehe.

Pertimbangan kenapa kok vasek:

1. KB kalo ke cewe kayanya bener2 mengubah bodi si cewe (tambah ndut, jadi lemes, dll, whatever dah), sedangkan kalo cowo kayanya kok ga ada efek samping.

2. Stres liat si Ms BD penuh perjuangan waktu hamil, jadi kepikiran ga mau nambah anak lagi, jadi daripada ntar kecolongan mending sumbernya diiket, hehe.

Ini terserah sih, tapi kalo menurut pandangan eike sama @⁨Yunita Yap⁩ :

Jangan sampe telat bahagia.

Maksude opo?

Jadi kita ngerasa waktu urus Adel, kita masih bisa jalan-jalan santai, bisa ada me time, we time, family time.

Nah, waktu si Bella ini nongol, otomatis me time sama we time uda berkurang, jadi ada kemungkinan kita bakal jarang keluar berdua doang.

Nah, menurut kita, antara kerja, family, sama pribadi itu harus balance. Jangan sampe kita ngurusi kerja sama family, tapi pribadinya kebengkalai.

Banyak orang tua, termasuk orang tua kita berdua, happynya telat. Sudah umur 50 an baru bisa jalan jalan. Menurut kita sih telat happy nya. Duit ada, waktu ada, energi ga ada.

Jadi intinya, mau punya anak selusin sih ga masalah (tapi kalo bisa KB dah, hehe, biar ga sumpek), tapi jangan sampe keteteran jaga anak sampe lupa ada diri sendiri yang harus dijaga sanity nya.

Eike jg suka rame anak2 kog. Dr keluarga 5 bersaudara, rasanya senang aja dan rame. Makanya pgn punya bny anak tadinya. Cm ya itu, kl qt filthy rich sih ga mslh mau pny suster brp bny utk bantuin.

Kl sendiri urus, bs stres jg. Dan ortu jaman dl pikirnya, gpp, ntar kl anak udah gede br seneng2. Buat kita itu agak salah sih, krn hidup harus balance sejak awal.

Kerja keras diimbangi dgn hidup yg penuh suka cita sejak awal, bukan ntar2, 20 tahun ke depan.

Vasektomi Secara Medis

Nah, Moms and Dads bagaimana menarik kan pengalaman temen-teman yang sudah vasektomi ini?

Sebelum Moms and Dads putuskan untuk melakukan vasektomi ada baiknya membaca dan berkonsultasi dengan dokter tentang plus minusnya cara KB tersebut.

Sebagai pelengkap tulisan ini, berikut saya kopikan tulisan tetang vasektomi secara medis yang saya ambil dari alodokter.com dan dokter.id :

Ilustrasi vasektomi. Foto diambil dari dokter.id

Vasektomi merupakan suatu tindakan pembedahan yang dilakukan sebagai salah satu cara kontrasepsi permanen pada pria. Vasektomi mencegah sperma bercampur dengan air mani saat seorang pria ejakulasi.

Pada saat vasektomi, suatu saluran yang disebut vas deferens yang berada di setiap testis (buah zakar) dijepit dan kemudian dipotong atau diikat.

Hal ini mencegah sperma untuk bercampur dengan air mani saat ejakulasi terjadi. Sel telur tidak dapat dibuahi jika tidak ada sperma pada air mani.

Testis tetap terus menghasilkan sperma. Sperma yang tidak keluar ini pada akhirnya akan diserap kembali oleh tubuh.

Hal ini juga merupakan proses yang biasanya terjadi bila anda tidak mengalami ejakulasi, baik sebelum atau setelah vasektomi.

Vasektomi tidak mempengaruhi jumlah air mani yang dikeluarkan saat ejakulasi, karena vas deferens terletak sebelum vesika seminal dan prostat.

Biasanya diperlukan waktu beberapa bulan setelah tindakan vasektomi sebelum semua sperma yang tersisa keluar melalui ejakulasi atau diserap kembali oleh tubuh.

Anda tetap harus menggunakan alat kontrasepsi lainnya saat berhubungan seksual sampai hasil pemeriksaan air mani menunjukkan tidak ada lagi sperma di dalam air mani.

Bila tidak, pasangan Anda masih mungkin hamil.

Setelah vasektomi, seorang pria tetap akan merasakan sensasi orgasme, ereksi bahkan ejakulasi.

Memang, sesaat setelah vasektomi dilakukan, ada kasus pria yang mengalami rasa nyeri di bagian testis, tetapi hal itu hanya sementara.

Beberapa hari setelah prosedur vasektomi, seorang pria dapat segera melakukan hubungan seksual. Vasektomi juga tidak akan memengaruhi produksi hormon testosteron pada pria.

Demikian juga air mani yang keluar saat ejakulasi setelah vasektomi, tidak akan banyak berbeda, karena sperma hanya merupakan bagian kecil dari air mani secara keseluruhan.

Sebagai metode kontrasepsi permanen, vasektomi memiliki keunggulan sebagai prosedur yang  aman dan minim komplikasi serta murah karena hanya dilakukan satu kali seumur hidup. Hanya saja vasektomi tidak melindungi pria dari infeksi menular seksual, sehingga diperlukan alat kontrasepsi lain seperti kondom, untuk hal tersebut.

Efektivitas Vasektomi

Efektivitas vasektomi sebagai alat kontrasepsi tergolong tinggi yaitu mencapai 99 persen. Hanya 0,1-0,4 persen wanita yang mengalami kehamilan selama satu tahun pertama, setelah pasangannya melakukan prosedur vasektomi.

Yang harus diingat, vasektomi tidak efektif dengan segera. Air mani pria sesaat setelah vasektomi masih mengandung sperma. Jika ingin menghindari kehamilan, gunakan alat kontrasepsi lain.

Untuk benar-benar mengosongkan sperma pada air mani, diperlukan sekitar 15-20 kali ejakulasi atau sekitar 3 bulan. Sebagian pria harus menunggu lebih lama lagi. Untuk memastikan sudah tidak ada lagi sperma yang tersisa, harus dipastikan melalui tes.

Risiko Komplikasi

Meski tergolong rendah, ada beberapa risiko komplikasi dari vasektomi yaitu :

  • Hematoma yaitu pendarahan di bawah kulit yang dapat menyebabkan pembengkakan yang terasa sakit.
  • Infeksi yang dapat diiringi dengan demam atau kemerahan pada kantong pelir (skrotum).
  • Rasa nyeri pada testis yang tidak segera menghilang yaitu postvasectomy pain syndrome.
  • Benjolan pada skrotum atau disebut juga granuloma yaitu sperma yang keluar dari saluran sperma ke dalam jaringan.
  • Peradangan pada saluran sperma atau epididimitis kongestif.
  • Kegagalan vasektomi memang tergolong kecil yaitu sekitar 11 dari 1.000 vasektomi pada dua tahun pertama

Hal yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Vasektomi

Sebelum melakukan prosedur vasektomi, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan :

  • Tidak berniat memiliki anak atau menambah jumlah anak lagi. Jika ada keraguan, sebaiknya hindari vasektomi.
  • Didiskusikan dengan pasangan mengenai vasektomi. Sebaiknya Anda berdua menyetujui hal ini.
  • Jangan ambil keputusan vasektomi sesaat setelah mengalami krisis atau perubahan besar, misalnya baru saja memiliki bayi ataupun baru saja terpaksa menggugurkan janin pada pasangan Anda.
  • Umumnya dokter akan meminta seorang pria berusia di bawah 30 tahun dan belum pernah memiliki anak, untuk mempertimbangkan kembali prosedur vasektomi.

Semoga tulisan ini bermanfaat ya Mom and Dads. SALAM BAHAGIA! (sri murni)

Kisah Persahabatan Saya dengan Seorang Atheis & Alasannya tak Mau Beragama

Pengalaman Jadi Relawan Panti Jumpo di Australia : Menemani Kakek Berusia Hampir Satu Abad