Cara Cerdas Atasi Kecanduan Gadget pada Anak-Anak

Bermain sepeda di Engku Putri. Foto by menixnews.com

MOMS and DADS… Apakah Anda termasuk orangtua yang mulai khawatir atau justru sudah takut dengan kondisi anak-anak yang kecanduan gadget atau gawai?

Saya sering mendengar keluhan dari banyak orangtua bahkan kerabat saya sendiri tentang anak-anak mereka yang kecanduan gadget, baik itu tablet, hand phone, maupun laptop. Kebanyakan anak-anak mereka memegang gadget karena ingin main games dan nonton YouTube.

Saat usia anak-anak masih batita (bayi di bawah tiga tahun), dan belum memasuki usia sekolah, mungkin tidak sedikit orangtua yang senang batita mereka main gadget karena bisa membuat tenang alias tidak rewel.

Bahkan, saya menjumpai beberapa orangtua yang merasa bangga karena batita mereka sudah menguasai gadget, termasuk cara mengopersikannya dan memainkan games di dalamnya.

Namun, ternyata kebanggaan tersebut kini membuat orangtua itu bingung karena anak-anak telah memasuki usia sekolah tapi si anak justru susah diajak belajar. Si anak maunya main gadget melulu.

Nah, Moms and Dads kalau sudah begini siapa donk yang harus intropeksi diri? Apakah orangtua harus marahi anak karena kecanduan gadget? Bukankah yang memperkenalkan dan mengajarkan gedget pada anak adalah orangtua juga?

Well, saya tidak ingin mencari siapa yang salah, tetapi ingin share pengalaman cara cerdas mengurangi kecanduan anak-anak pada gadget.

Saya tidak mengatakan bermain gadget adalah salah karena anak-anak masa kini juga harus diperkenalkan dengan dunia yang kekinian juga, termasuk gadget tetapi harus ada batasannya.

Tidak hanya karena kecanduan gadget akan membuat kehidupan sosialnya memburuk dan bisa membuat anak menjadi anti-sosial bahkan autis, tetapi juga sangat mempengaruhi kesehatan terutama mata. Bermain gadget membuat mata lelah, merah, penglihatan yang buram, mata kering hingga iritasi.

Jadi, tidak mengherankan jika banyak anak zaman sekarang sudah pakai kaca mata di usia sangat muda karena tingginya penggunaan gadget oleh mereka.

Seorang anak dikategorikan kecanduan gadget apabila :

1. Ketika dia tidak bisa lepas dari gadgetnya, bahkan saat beraktivitas lain seperti makan, dia kudu membawa gadgetnya.

2. Ketika ada teman sebaya mengajak bermain, dia lebih memilih gadget ketimbang bersosialisasi.

3. Ketika gadget diambil dari tangannya, maka si anak akan menangis bahkan bisa histeris memintanya kembali.

4. Ketika anak tidak mau melakukan sesuatu tetapi begitu diiming-imingi gadget maka dia akan dengan semangat melakukan apapun demi gedget.

Kalau saya dan suami, Alhamudlillah tidak termasuk orangtua yang khawatir dengan kondisi tersebut karena duo crucils kami, Azka (6,5) dan Kenzie (4) bukanlah anak-anak yang kecanduan gadget.

Keduanya memang suka dengan gadget tetapi waktu bermainnya bisa diatur, yakni tidak lebih dari 30 menit di weekday dan maksimal dua jam di weekend atau hari libur.

Bagaimana agar anak tidak kecanduan gadget?

1. Jangan memperkenalkan gadget sedini mungkin. Janganlah menjadi orangtua yang bangga karena punya balita bahkan batita yang sudah pandai main gadget. Sadarilah bahaya gadget jangka panjang untuk anak-anak kita.

2. Berikan anak kegiatan yang bisa memacu peningkatan daya gerak (motorik) dan kecerdasan intektual (kognitif) serta sensorik  anak-anak selain gadget. Sejak batita, ajarkan permainan yang edukatif seperti susun balok, flash card, dan lainnya.

My youngest bermain balok susun. Foto by menixnews.com

Untuk fisiknya, bisa mengajarkan bermain sepeda atau mengajak bermain di taman dengan aneka permainan yang ada (seluncuran, naik tangga, ayunan, jalan di tali, dan lainnya).

Berilah aneka permainan yang beragam di rumah sehingga anak-anak tidak merasakan bosan ataupun kekurangan permainan. Mainan tidak harus dibeli, tetapi bisa dibikin sendiri.

Baca juga cara bikin mainan sendiri dari stick kayu

3. Ajaklah anak-anak kita mengikuti kegiatan yang dia senangi di luar kegiatan sekolah. Misalnya, jika anak hobi menggambar maka ikutkanlah dia kelas atau kursus menggambar atau mewarnai.

Jika anak hobi menyanyi atau bermain musik, ajaklah dia kursus musik. Jika anak hobi olahraga, daftarkanlah dia di klub-klub olahraga. Jika anak suka memasak, ajaklah dia membantu Moms di dapur atau ikutkan dia ke kelas kursus memasak.

My oldest latihan berenang sebagai variasi kegiatan di waktu weekend. Foto by menixnews.com

4. Andaikan orangtua tidak memiliki dana yang cukup untuk biaya kursus, cara murahnya adalah siapkan saja perlengkapan yang dibutuhkan di rumah kemudian bersama anak, Anda bisa belajar membuat mainan sendiri atau melakukan hobi anak bersama dengan belajar dari tutorial di YouTube. Rasanya saat ini apapun bisa dipelajari via internet. Dengan begitu, Anda sekaligus bisa mengajarkan penggunaan internet yang benar kepada anak bahwa internet digunakan sebagai media belajar bukan hanya main game maupun nonton hal-hal yang tidak membawa manfaat.

Azka dan Kenzi membaut kursi taman dari kayu palet kecil. Foto by menixnews.com

5. Jika anak-anak memang sudah sangat sulit lepas dari gadget, yang perlu dilakukan adalah terapi. Caranya, mengurangi jam bermain gadget secara perlahan dan menyelinginya dengan kegiatan yang dia suka.

Misalnya, saat bermain gadget dia suka games sepakbola, maka ajaklah dia ke lapangan sepak bola untuk menyaksikan permainan bola secara langsung. Perlahan, ajaklah dia ikut merasakan bermain bola di lapangan.

Begitu juga dengan kegemaran lainnya. Usahakan aktivitas di dunia nyata disejalankan dengan aktivitas kesukaan anak di dunia maya.

Intinya, ajak anak beraktivitas sebanyak mungkin sehingga mereka bisa mengalihkan bahkan melupakan gadget.

Terapi ini memang memakan waktu dan menuntut kesabaran orangtua sebagai pendamping utama anak.

6. Terapkan secara disiplin waktu bermain gadget kepada anak. Mislanya, selama weekday atau hari sekolah, anak hanya boleh bermain gadget 30 menit sehari. Itu pun dilakukan setelah tugas-tugas utamanya selesai.

My duo crucils sedang bermain gadget saat liburan di D’merlion Hotel, Batuaji Batam. Foto by menixnews.com

Saat weekend atau hari libur, waktu bermain gadget bisa diperpanjang menjadi dua jam sehari. Itupun bukan waktu satu kali main, melainkan akumulasi bermain gadget selama satu hari.

Waktu bermainnya juga bisa diatur, misalnya setelah tidur siang atau setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah. Intinya, waktu bermain gadget adalah benar-benar waktu luang yang tidak mengganggu aktivitas dunia nyata anak.

7. Membuat jadwal weekday dan weekend termasuk jadwal bermain bersama teman-teman sebaya sehingga anak terbiasa dengan kegiatan dunia nyata. Dengan demikian, sedini mungkin dia tahu dan menyadari dunia maya, gadget, hanyalah pelengkap dunia nyata.

8. Sebisa mungkin selalu dampingi anak-anak saat bermain gadget. Jangan pernah biarkan mereka berselancar sendiri di dunia maya. Jangan lupa untuk mengunci atau mem-block gadget yang dipakai anak dari situs-situs berbahaya.

9. Ikuti aturan main bermedia sosial. Anak yang belum 17 tahun jangan biarkan memiliki akun media sosial (Medsos) sendiri. Baik Facebook, Instagram, dan YouTube atau lainnya telah menetapkan aturan dasar bahwa orang dewasalah (17 tahun ke atas) yang bisa membuat akun Medsos, terkecuali jika Anda membuat kebohongan data. (Sri Murni)

Mari Selamatkan Anak Indonesia dari Kecanduan Gadget!