Cara Cerdas Mengurangi Kebiasaan Jajan Anak-Anak

Saya dan duo crucils.

BEBERAPA Moms yang memiliki balita alias crucils akhir-akhir ini sering berkeluh kesah kepada saya. Yang mereka keluhkan adalah kondisi ekonomi keluarga yang kian sulit karena suami yang sudah tidak bekerja di sektor formal karena dirumahkan dengan alasan perusahaan sepi order. Sehingga, sekarang banyak suami yang bekerja serabutan.

Sepi order, kondisi ini memang sedang melanda bisnis di Batam, baik industri besar maupun kecil. Alhasil, para suami banyak yang sekarang kerja serabutan dengan pendapatan “pas-pas makan”.

Satu hal yang paling dikeluhkan para Moms tersebut adalah kebiasaan jajan anak-anak. Meskipun uang jajan yang diminta hanya Rp 1.000 atau Rp 2.000, tapi kalau sehari bisa lima kali atau lebih, akumulasinya memang cukup lumayan. Apalagi dengan kondisi yang sedang pacleklik begini.

“Aduh, jangankan untuk beli-beli baju, bisa makan dan bayar air-listrik aja syukur,” kata seorang Mom saat sedang mengobrol dengan saya suatu sore.

“Iya bener… Apalagi yang bikin sakit kepala adalah anak-anak gak mau berhenti jajan… Jajan terus… Jajan terus… Uh…rasanya jengkel sekali. Mana duit pas-pasan untuk makan, eh ini anak minta jajan terus….”kata Mom lainnya menimpali.

“Iya… Anakku juga begitu. Asal ada tukang jualan lewat, semua mau dibeli. Pusing…,” sambung Moms  lainnya membenarkan.

Perbincangan seperti ini mungkin juga sering Moms dengar dan mungkin juga Moms adalah satu di antara yang suka mengeluhkan hal yang sama.

Dari perbincangan itu, satu hal yang paling menarik bagi saya adalah keluhan soal anak yang suka jajan.

Pertanyaannya adalah mengapa anak suka jajan? Siapa yang mengajarkan dan membiasakan anak suka jajan?

Dari perbincangan itu, saya jadi ingin sharing bagaimana mengurangi kebiasaan jajan anak-anak kita. Kebetulan, kedua crucils saya memang bukan tergolong anak-anak yang suka jajan. Sehari sekalipun mereka tidak rutin jajan. Bahkan, kadang ketika saya tawari beli jajan, mereka justru menolaknya.

Bagaimana ini bisa terjadi, padahal umumnya anak-anak kalau ditawari beli jajan pasti mengiyakan secepat kilat, benar gak Moms?

Mengapa Anak Suka Jajan?

Moms…. satu hal yang perlu diingat bahwa kebiasaan anak-anak kita tentu saja tidak terlepas dari ajaran yang ada di rumah.

Moms and Dads, sangat perlu diingat bahwa anak lahir itu seperti kertas putih. Dia tidak mengerti apa-apa sampai kita, orangtua atau orang yang mengasuhnya, mengajarkan segala hal, termasuk soal jajan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Secara langsung contohnya, banyak orangtua yang sedari anak kecil membiasakan membawa ke warung dan membelikan jajanan. Bahkan jika anak menangis atau merengek kerap menawarkan “beli jajan” sebagai obat mendiamkan mereka.

Jika anak jahil pun, ancaman yang diberikan adalah “nanti tidak dibelikan atau diberi uang jajan”. Saat anak melakukan hal yang baik, misalnya sudah membantu membersihkan rumah, reward yang diberikan pun “uang jajan”. Dan, ketika anak-anak mulai sekolah atau pergi mengaji, uang jajan tidak pernah ketinggalan diberikan.

Nah, Moms dari aktivitas sehari-hari begitu banyak orangtua tidak menyadari bahwa secara langsung dan tidak langsung telah menanamkan budaya jajan kepada anak sehingga dia menjadi tukang jajan.

Jika kondisi ekonomi sedang mencukupi, mungkin Moms and Dads tidak merasakan kesulitan memberikan uang jajan. Tapi bagaimana jika kondisi sedang sulit seperti sekarang, maka uang jajan anak dirasakan sangat memberatkan.

Jika dihitung-hitung dan dikumpulkan, sebenarnya uang anak bisa menambal sulam kebutuhan keluarga. Andaikan anak sehari jajan Rp 10 ribu, satu bulan sudah Rp 300 ribu. Dengan uang segitu, Moms pastinya sudah bisa menutupi biaya air dan listrik.

Lagian Moms and Dads, budaya jajan tidak hanya berimbas pada kantong, tetapi juga kesehatan anak-anak kita. Lihat dan bacalah komposisi jajanan (kemasan) yang suka dikonsumsi anak-anak kita, betapa tingginya kadar pemanis buatan, pewarna, dan MSG yang membahayakan kesehatan. Kita juga tidak tahu bagaimana higienitas makanan itu dibuat dan cara pembuatannya yang bisa jadi tidak baik untuk tubuh.

Lantas, bagaimana cara mengurangi kebiasaan anak suka jajan?

1. Hal yang paling utama adalah tidak membiasakan anak-anak sedari bayi untuk mengenal jajan. Olahlah makanan sendiri di rumah dengan rasa yang enak menggunakan bahan alami sehingga perut anak senantiasa kenyang karena makan makanan di rumah yang pasti lebih terjamin kualitasnya. Selain makanan utama, bikinlah cemilan-cemilan yang disukai anak-anak seperti tela-tela, kue-kue, gorengan, cilok, bakso, dll.

2. Jika anak Anda terlanjur “tukang jajan” karena sudah terbiasa maka dari sekarang mulailah kurangi memberikan uang jajan. Jika biasanya anak kerap minta jajan pagi, siang, sore, dan malam, sekarang bisa dikurangi siang dan sore saja dengan syarat anak-anak dibikinkan makanan di rumah sehingga dia tidak merasa lapar. Bagi anak-anak yang sudah sekolah, uang jajan bisa diganti dengan membawakan bekal makanan dari rumah, termasuk susu atau minuman lain yang dia suka (teh manis, jus, maupun sirop).

3. Saya tidak menganjurkan anak-anak tidak boleh jajan sama sekali tetapi membatasinya seminimal mungkin. Andaikan pun anak sangat ingin jajan, maka dampingilah dan pilihlah jajanan yang tidak berbahaya untuk kesehatan. Anda bisa memberikan pengertian tentang kualitas jajanan yang sehat. Anda juga harus memberikan penjelasan jenis jajanan yang banyak mengandung zat pewarna, pemanis buatan dan MSG.

4. Arahkan anak untuk membeli suatu makanan yang mengenyangkan, bukan sekadar enak di tenggorokan. Misalnya membeli donat, kue-kue, roti, biskuit, dan lainnya.

5. Jangan memberikan punishment maupun reward yang berhubungan dengan jajan. Misalnya,”Awas ya nanti gak Mama kasih uang jajan” atau “Bantulah mama, nanti mama tambahi uang jajan”. Pola seperti ini membuat psikologi anak tidak baik karena melakukan atau tidak melakukan sesuatu karena “uang jajan” bukan karena mengetahui apa yang dilakukannya itu akan masuk dalam kategori baik atau buruk.

Moms and Dads, membuang kebiasaan jajan memang tidak mudah tapi bukan berarti tidak bisa. Apa yang saya sharing di sini adalah apa yang saya terapkan untuk duo crucils saja, Azka (Kelas I SD) dan Kenzie (4 tahun).

Dengan pola begini, Alhamdulillah duo crucils saya sangat jarang meminta jajan. Bahkan kadang jika ada saudara yang memberi uang untuk jajan, si Azka menolaknya dan menjawab,”Azka gak mau jajan. Azka sudah kenyang.”

Semoga sharing ini bermanfaat dan selalu bahagia dalam mengasuh putra-putri kita. (sri murni)

Happy Family Keluarga Indonesia!

NB: Mom Dian Fernanda bagaimana pendapatnya tentang cara mengurangi kebisaan jajan pada anak-anak ini?