Dataran Engku Putri: Wujud Impian Warga Batam yang Rindu Public Space Modern dan Nyaman

KALI pertama menginjakkan kaki sekaligus hizrah ke Kota  Batam tahun 2004 lalu, saya melihat kota ini masih penuh dengan hutan dan bukit-bukit.

Sepanjang jalan dari Bandara Internasional Hang Nadim Batam ke pusat kota, Jodoh-Nagoya, kanan dan kiri jalan masih hijau mata memandang.

Bangunan-bangunan rumah, ruko, mal, dan gedung bertingkat di sepanjang jalan protokol Jendral Soedirman belum tampak beridiri. Bahkan, kesan saya ketika itu,”meskipun Batam terkenal dengan industrialisasinya, ternyata kotanya masih hutan.”

Saat itu, satu-satunya tempat yang “eye catching ” alias tampak gemerlap hanyalah papan reklame berupa neon sign milik Telkomsel yang terletak  di puncak bukit dimana Vista Hotel berdiri.

Di malam hari, neon sign itu memang sangat mencolok karena lampu-lampunya.  Apalagi letaknya di atas bukit yang tidak jauh dari Simpang Jam, simpang utama di Kota Batam. Bahkan bisa dikatakan, neon sign itu menjadi salah satu ikon Kota Batam di malam hari.

Karena neon sign yang mencolok itu, warga menamai bukit itu dengan sebutan “Bukit Telkomsel”.

Sayangnya sekarang neon sign itu sudah tidak ada lagi. Warga pun menamai bukit itu bukan lagi “Bukit Telkomsel” melainkan “Bukit Vista”.

Vista Hotel yang terletak di Bukit Vista, Batam. Foto diambil dari TripAdvisor)

Vista Hotel yang terletak di Bukit Vista, Batam. (Foto diambil dari TripAdvisor)

Selain belum pesatnya pembangunan, di tahun itu, Kota Batam memang telah berhasil menumbuhsuburkan rasa bosan saya. Alasannya, minimnya tempat wisata, terutama bagi kelas pekerja seperti saya.

Yang tersedia di depan mata hanyalah mal dan mal lagi, ditambah pantai dan laut.

Saat itu, mal-mal masih terpusat di tiga lokasi keramaian yakni Jodoh-Nagoya (Robinson, Ramayana, Centre Point dan Lucky Plaza), Batam Centre (Barata dan My Mart atau Carnaval Mall) dan Mukakuning (Panbil Mall dan Batamindo Plaza).

Sekarang, mal di Batam jumlahnya sudah puluhan dan menyebar hampir di semua kantong-kantong pemukiman penduduk. Setidaknya ada empat mal “raksasa” yang beroperasi yakni Nagoya Hill, Kepri Mall, Mega Mall, dan Panbil Mall. Sedangkan untuk mal dan plaza yang ukurannya menengah dan kecil, jumlahnya mencapai puluhan.

Bahkan beberapa mal yang ukurannya menengah dan sempat berjaya di masa awal saya di Batam, saat ini sudah “dikanibal” alias tidak bisa bersaing dan tutup, di antaranya Carnaval Mall, Robinson, Centre Point, dan Barata.

Dulu Batam Ini “Kurang Piknik”

Saking minimnya tempat wisata, termasuk areal terbuka untuk duduk-duduk sore, saya sering merindukan kampung halaman.

Satu hal yang sangat saya rindukan adalah keberadaan alun-alun atau di kampung saya (Sumatera Utara) dikenal dengan istilah Lapangan Merdeka. Di sanalah biasanya anak-anak muda dan keluarga berkumpul, duduk-duduk santai, sambil bercerita plus menikmati cemilan dan minuman.

Di sana pula berbagai kegiatan dilangsungkan. Ada yang berolahraga, ada yang bermain engklek, ada yang bergitar sambil bernyanyi dan yang paling banyak itu ya nongkrong sambil nonton aktivitas orang-orang seraya menertawakan kejadian-kejadian janggal. Di sana pula tempatnya pentas seni, upacara bendera 17 Agustus, hari besar nasional, dan berbagai event-event besar.

Saking kangennya saya dengan Lapangan Merdeka, sore-sore selepas pulang kerja, rasanya ingin langsung terbang pulang kampung, hanya sekedar duduk-duduk santai dan ngobrol dengan orang-orang di sana.

Ketika itu, Batam memang sangat minim ruang terbuka sosial dan taman kota.

Bahkan, saya sempat geli saat melihat sebuah kolam kecil di daerah Batam Centre yang tak ubahnya seperti kubangan kerbau di kampung saya, ramai dijadikan warga sebagai tempat piknik. Mereka menggelar tikar dan membawa makanan saraya duduk santai bersama keluarga.

Sempat geli juga rasanya melihat bundaran Bandara Hang Nadim yang di tengahnya menjulang tinggi Patung Burung Elang, dijadikan tempat duduk-duduk santai warga di sore hari. Padahal di sekitar bundaran itu adalah jalan raya yang cukup ramai.

hang-nadim

Bundaran Bandara Internasional Hang Nadim Batam. (foto diambil dari tribun batam).

Ada lagi yang juga membuat saya tertawa dalam hati,  sebuah kolam yang kelihatannya dangkal di dekat salah satu perumahan di Batam Centre, dijadikan tempat mancing beberapa warga. Entah ada ikannya atau tidak, saya sendiri tidak yakin kalau kolam itu dihuni ikan.

Seorang warga yang ikut memancing yang sempat saya tanya ketika itu. Ternyata dia juga tidak yakin kolam yang dipancingi ada ikannya. “Konyol juga ya,”pikir saya.

Tapi saya bisa paham mengapa warga itu tetap memancing di kolam yang belum tentu ada ikannya karena dia bilang,”Daripada suntuk di rumah mending disini, kan banyak temannya.”

“Batam ini memang kurang tempat piknik ternyata,”dalam hati saya.

Menyulap  Dataran Engku Putri dari “Arena Mesum” Jadi Taman Kota nan Indah

Cukup lama saya merasakan Batam yang “kurang piknik” sampai akhirnya  lapangan atau disini dikenal dengan sebutan Dataran Engku Putri yang berlokasi di komplek Gedung Pemko Batam mulai direnovasi.

Dataran itu ditata dan diperuntukan sebagai public space alias ruang terbuka umum layaknya alun-alun. Proyeknya mulai pada 2009 lalu (www.humasbatam.com) .

This slideshow requires JavaScript.

Dataran Engku Putri ini memang letaknya sangat strategis karena dikelilingi pusat perbelajaan Mega Mall, Pelabuhan Ferry Internasional Batam Centre, Masjid Raya, Gedung DPRD Batam, Gedung BP Batam, serta hotel dan restoran.

Dijadikannya Engku Putri sebagai landmark Kota Batam juga merupakan langkah strategis. Sebab, selain untuk memenuhi kebutuhan ruang publik, langkah itu sekaligus meminimalisir pemanfaatan lahan yang sering digunakan sebagai “arena mesum” oleh sejumlah anak muda.

Pembangunan Engku Putri memang dilakukan bertahap dengan total dana yang dikucurkan sekitar Rp 15 miliar (www.humasbatam.com).

Setiap bagian dari lapangan ini dipugar dan didesain agar bermanfaat sebagai tempat yang bisa digunakan warga baik untuk berolahraga, pentas seni budaya, piknik keluarga, dan penyelenggaraan event-event besar sampai konser musik nasional. Setiap tahun, juga digelar Pesta Kembang Api menyambut tahun baru. Yang pasti tempat ini bisa dimanfaatkan siapa saja.

Alun-alun ini pun sempat dijadikan tempat penyelenggaraan event akbar MTQ Nasional ke-22 pada 2014 lalu.

Berkat tambahan dana dari pemerintah pusat sebesar Rp 9,1 miliar (detik.com) untuk penyelenggaraan MTQ, wajah Engku Putri disulap semakin cantik dengan dibangunnya Astaka.

This slideshow requires JavaScript.

Kini, Astaka dijadikan museum bernama Museum Madani atau Al Madinah dan dimanfaatkan sebagai kantor Perpustakaan Umum dan Arsip Kota Batam dan Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemko Batam.

Tiga gerbang masuk ke alun-alun inipun dibangun anggun dengan gaya campuran Melayu-Timur Tengah.

Gerbang Dataran Engku Putri Batam. (foto diambil dari enjoybatam.com)

Gerbang Dataran Engku Putri Batam. (foto diambil dari enjoybatam.com)

Di bagian tengah alun-alun dijadikan lapangan terbuka  berlantai paving block plus berdiri satu tiang bendera. Fungsi utamanya memang sebagai tempat upacara atau penyelenggaraan acara-acara besar.

Tampak keseluruhan bagian Dataran Engku Putri Batam. (Foto diambil dari enjoybatam.com).

Tampak keseluruhan bagian Dataran Engku Putri Batam. (Foto diambil dari enjoybatam.com).

Jika hari-hari biasa, terutama sore dan malam hari, bagian tengah alun-alun dijadikan tempat bermain sepeda dan tempat duduk-duduk santai warga. Bahkan, tidak sedikit warga yang sengaja membawa tikar dan makanan layaknya sebuah piknik.

Azka dan Kenzie (dua putri penulis artikel ini) sedang bermain sepeda di Dataran Engku Putri Batam.

Azka dan Kenzie (dua putri penulis artikel ini) sedang bermain sepeda di Dataran Engku Putri Batam.

Di sisi-sisi lain alun-alun, tepatnya di sebelah utara, terdapat lapangan futsal, basket, arena fitnes, skater park, dan down hill.

Sebelum gelaran MTQ, sisi ini juga dilengkapi dengan fasilitas wall climbing. Sayangnya tempat latihan panjat tebing itu dirubuhkan untuk kepentingan estetika saat MTQ berlangsung. Sampai sekarang, wall climbing belum dibangun kembali padahal itu merupakan sarana berlatih bagi atlet wall climbing Batam dan Kepri.

Sarana wall climbing yang sempat dibangun di Dataran Engku Putri dan dirobohkan lagi. (foto diambil dari petabatam.com)

Sarana wall climbing yang sempat dibangun di Dataran Engku Putri dan dirobohkan lagi. (foto diambil dari petabatam.com)

Di sekeliling dataran ini disediakan jogging track yang ramai setiap pagi, sore, bahkan malam hari. Yang tidak kalah modern, terdapat taman internet lengkap dengan meja, kursi dan atap agar terhindar dari hujan. Namun, keberadaan taman internet ini banyak dikeluhkan warga karena fasilitas internetnya yang jarang hidup.

Di beberapa sisi lain, disiapkan banyak tempat duduk yang memang bisa digunakan warga untuk beristirahat dan bersantai.

Karena desain yang fungsional dan artistik, Dataran Engku Putri kini tidak hanya sebagai public space bagi warga Batam, tetapi menjadi salah satu distinasi wisata, khususnya untuk berselfie dan wefie ria. Apalagi, dari sini pelancong bisa berfoto dengan berbagai back-ground pemandangan, salah satunya Bukit Clara yang ada tulisan “Welcome to Batam” berukuran besar.

Dataran Engku Putri Batam. (Foto diambil dari enjoybatam.com)

Dataran Engku Putri Batam. (Foto diambil dari enjoybatam.com)

Wisata Kuliner Minggu Pagi

Yang ingin benar-benar melihat keramaian Dataran Engku Putri sebagai sarana sosial warga Batam, baiknya datang saat Minggu pagi. Beragam acara olahraga digelar disini, seperti yoga, aerobic, basket, futsal, dan lainnya.

Bagi anak-anak, juga sering diadakan event-event lomba mewarnai, menggambar, mendongeng, dan permainan rakyat. Seperti yang sering ditaja kelompok Kelas Inspirasi Batam (KIB) melalui kegiatan Minggu Ceria.

Yang paling khas dan tidak bisa ditemukan di hari-hari biasa adalah beragam jajanan makanan yang disajikan para penjual kuliner di luar gerbang Engku Putri. Para pedagang ini memang hanya diperboleh jualan di sekitar alun-alun pada hari Minggu pagi.

Selain hari itu, bagi yang ingin bersantai di Engku Putri harus membawa sendiri jajanan yang diinginkan karena pedagang dilarang berjualan di dalam areal alun-alaun maupun di luar pagar. Alasan utamanya, pastinya untuk menjaga kebersihan alun-alun dan menjaga kenyamanan warga saat menikmati fasilitas publik ini.

Walaupun demikian, terkadang masih dijumpai penjual minuman dan makanan ringan yang berkeliling menawarkan dagangan. Mereka menyimpan dagangannya dalam kantong plastik hitam. Sesekali juga, ada penjual mainan anak-anak yang menawarkan panahan berlampu.

Yang Perlu Diperbaiki

Dataran Engku Putri memang belum seutuhnya sempurna sebagai ruang publik bagi semua orang. Apalagi sejumlah fasilitas yang sudah dibangun tidak lagi seperti sedia kala karena kurang terawat. Beberapa hal yang perlu diperbaiki agar tidak mengganggu kenyaman di antaranya:

  1. Toilet alias WC. Ada dua areal toilet yang disediakan di alun-alun ini. Letaknya sisi kanan dan kiri panggung permanen. Seyogyanya, kedua sisi toilet itu memisahkan laki-laki dan perempuan. Sayangnya tidak semua toilet berfungsi. Dan jika tidak ada event-event besar, toilet yang dibuka hanyalah satu sisi. Terpaksa pria dan wanita bercampur dalam satu sisi toilet yang sama. Dalam satu sisi toilet ini, terdapat tiga bilik. Namun, pintu di bilik-bilik itu sudah tidak berfungsi dengan baik. Selain itu, kebersihan toilet memang harus ditingkatkan.
  2. Alat Fitnes. Alat-alat fitnes yang tersedia di sini bisa dikatakan tidak lagi berfungsi dengan baik karena kondisinya memang sudah rusak. Yang diperlukan adalah peremajaan alat-alat tersebut.
  3. Areal parkir. Bagi warga yang mengendarai motor, disediakan tempat parkir khusus di depan gerbang alun-alun dan tidak dikenakan biaya alias gratis. Namun, bagi warga yang mengendarai mobil, tidak disediakan lahan khusus sehingga sulit mencari parkir. Apalagi jika ada event-event besar. Jika tidak ada event, biasanya mobil bisa parkir di bahu jalan di sekitar Engku Putri. Parkir di bahu jalan ini, sebenarnya tidak dibenarkan apalagi di lokasi itu ada tanda dilarang parkir. Namun karena tidak ada lahan parkir khusus mobil yang disediakan, akhirnya tidak ada pilihan. Kondisi ini tidak jarang membuat kemacetan lalulintas di jalan seputaran Engku Putri.
  4. Penghijauan. Jika dilihat dari sisi penghijauan, Dataran Engku Putri memang belum hijau bahkan bisa dikatakan masih gersang karena pohon-pohon yang ditanam belum tumbuh besar. Sebelum gelaran MTQ, di sisi utara dan selatan alun-alun kondisinya sangat rindang karena ada banyak pohon-pohon besar. Namun, untuk pelebaran pedistrian, pohon-pohon itu ditebang dan ditanami dengan pohon pengganti yang fisiknya masih kecil-kecil. (sri murni)

NOTE: Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba GPR Blog Competition yang informasinya bisa dilihat di http://potret.kitaindonesia.id/.