Drama Kehilangan HP di Roma dan Cara Saya Mendapatkannya Lagi

Berdiri di depan Collessium, Roma, Italia. Foto by menixnews.com

TULISAN pengalaman saya tentang solo traveler ke sejumlah negara di Eropa memang belum menyentuh tempat-tempat wisatanya ya, melainkan masih seputar cerita-cerita unik dan menarik saja dulu.

Alasannya, cerita tentang tempat-tempat wisata, apalagi yang mainstream, pasti sudah banyak bertebaran di internet. Sementara kisah-kisah di balik jalan-jalan yang mengasyikkan itu, tidak semua orang mengalami dan mau berbagi cerita.

Nah, tulisan saya kali ini menceritakan tentang pengalaman saya kehilangan hand phone (HP) di Kota Roma, Italia dan cara saya mendapatkannya kembali.

Kehilangan HP saat traveling jauh itu rasanya “ngenes” banget. Apalagi di HP itulah tersimpan dokumen tentang tiket pesawat, bukti booking penginapan, dan foto-foto selama jalan-jalan.

Untuk dokumen, masih bisa diakali dengan membuka email via komputer umum yang tersedia di sejumlah tempat, tapi kalau kehilangan foto-foto itu hal paling berat yang harus diterima.

Kejadian kehilanga HP ini pada 26 Desember 2011. Saat itu saya bersama seorang teman asal Norwegia (saya lupa namanya) yang baru saya kenal di penginapan Mona Lisa Hostel, sedang berjalan-jalan mengitari Colleseum. Ini adalah satu tempat wisata paling popular di Roma dan terkenal sebagai tempat laga gladiator di zaman Romawi.

Saat sedang duduk santai dan selonjoran di taman di depan Collessium karena kecapean keliling dan berfoto-foto ria, saya dan teman ngobrol ngalur-ngidul.

Perasaan saya, ketika itu HP duo sim Nokia seri E-5 sedang berada di saku jaket. (Dibanding smartphone yang beredar sekarang, Nokia E-5 terasa jadul bangets ya, tapi di masa itu sudah termasuk kerenlah karena dilengkapi kamera belakang 5 MP dan kamera VGA di bagian depan)

Baca juga pengalaman saya menginap di hostel “horror” di Roma.

Namun, saat hendak melanjutkan jalan-jalan ke spot wisata berikutnya, saya mencari-cari HP di kantong dan tas tidak ada. Saat itu, saya tidak membawa tas carrier karena ditinggal di penginapan. Saya hanya mengandalkan saku celana, jaket, dan tas kecil

Saya memang agak panik karena mendapati HP sudah tidak di tangan. Saya langsung memberitahu teman saya tentang kejadian ini.

Saya pun meminjam ponselnya untuk menelepon nomor yang ada di HP saya. Di HP terdapat dua nomor telepon yakni dari operator Norwegia dan Indonesia.

Setelah coba saya hubungi, ternyata tidak aktif. Waduh…. Saya langsung lemas. Rasanya tidak bergairah lagi untuk jalan-jalan.

Terbayang foto-foto ketika sedang di Jerman, Milan, Barcelona, Atena, Paris, dan tempat-tempat lainnya. Semua foto-foto itu akan lenyap begitu saja.

Melihat saya begitu down, teman saya tetap menyemangati bahwa saya harus tetap semangat jalan-jalan dan membeli HP baru.

Ya, beli HP baru? Ini bukan di Indonesia dimana HP jauh lebih murah. Ini adalah Roma dan pastinya beli HP baru tidak ada dalam daftar pengeluaran saya.

Ketika itu saya tidak berpikir HP itu bisa kembali lagi. Saya sadar bahwa saya sedang berada di Roma, dimana tingkat kejahatan pencopetan sangatlah tinggi.

Namun begitu, saya tetap berusaha untuk mendapatkannya kembali. Saya meminjam HP teman saya untuk terus menghubungi nomor HP saya. Karena HP itu tetap tidak bisa dihubungi, saya mengirimkan SMS ke nomor saya.

Inti SMS tersebut adalah:

“Meminta tolong dengan segala kerendahan hati kepada yang memegang HP saya saat ini untuk mengembalikan HP tersebut. Saya akan memberikan sejumlah imbalan.

Andaikan memang suka dengan HP saya, maka akan saya berikan HP tersebut, namun izinkan saya memindahkan foto jalan-jalan saya  dari HP tersebut.  (Yang poin ini terdengar konyol, tapi itulah yang saya lakukan).”

Di akhir SMS, tidak lupa saya cantumkan identitas diri, tempat menginap di Roma dan tanggal berapa akan meninggalkan Roma, plus nomor telepon sementara yang bisa dihubungi.

Saya cantumkan nomor HP teman saya ini dan nomor telepon hostel tempat saya menginap.

Sepulangnya dari jalan-jalan yang terasa sangat melelahkan karena masalah HP, saya memberitahu petugas penginapan tentang apa yang saya alami.

Well, sepanjang sore sampai malam itu, saya terus menunggui kabar dari yang memegang HP saya. Saya juga terus mencoba menghubungi nomor HP saya, tapi tidak ada tanda-tanda positif.

Sampai sekitar pukul 23.00 waktu Roma, dimana saya sudah tertidur lelap, teman saya yang asal Norwegia tadi mengetuk pintu kamar dan membangunkan saya.

Tengah Malam dapat Kabar Gembira

Sebuah kabar gembira dia bawa. Dia menunjukkan SMS di layar HP-nya (HP miliknya adalah HP senter Nokia  dan saya lupa serinya).

SMS tersebut berasal dari nomor Norwegia milik saya. Isi SMS tersebut adalah mengatasnamakan seorang perempuan yang mengaku memegang HP saya. Dia baru membaca SMS saya di tengah malam ini. Dia juga meminta maaf telah mematikan HP saya lantaran dia harus bekerja sepanjang siang hingga malam.

Menerima SMS tersebut, saya sangat senang. Saya pun membalas SMS-nya dengan bertanya kapan saya bisa bertemu dengannya untuk mengambil HP tersebut.

Dia menjawab, kapan saja bisa. Malam ini juga bisa jika saya menghendaki. Dan dia memberikan alamat tempat pertemuan kami.

Mendapat balasan tersebut, rasanya saya ingin cepat-cepat menuju tempat dimaksud. Saya pun menanyakan kepada Mustofa, petugas hostel tentang alamat tersebut.

Ternyata, alamatnya terletak cukup jauh dari hostel, sekitar 20 menit naik taksi. Lagipula, kata Mustofa, tempat itu tidak begitu aman karena dekat stasiun kecil dan pasar. Di sana banyak preman. Tindak kriminal juga sering terjadi di sana.

Mustofa dan teman saya, menyarankan untuk bertemu pemegang HP tersebut besok pagi agar lebih aman.

Lagipula, kata keduanya, belum tentu yang memegang HP saya itu benar-benar orang baik karena kejahatan di Roma juga terbilang tinggi.

Bagaimana jika ternyata itu hanya jebakan untuk merampok atau menyakiti saya. Lagian, kata Mustofa, jarang barang hilang di Roma dikembalikan oleh penemunya.

Saya sempat tidak menggubris saran kedua orang ini karena saya begitu ingin bertemu dengan HP saya lagi. Dan saya yakin yang SMS adalah orang baik.

Namun, karena melihat kota Roma yang remang-remang dan juga sudah tengah malam, ditambah kawasannya banyak preman, saya mengurungkan niat bertemu pemegang HP malam itu.

Dengan menggunakan HP teman saya tadi, saya SMS dan janjian untuk bertemu keesokan paginya sekitar pukul 08.00. Namun, dia membalas baru bisa bertemu saat break sekitar pukul 09.30.

Well, tidak masalah pikir saya. Sekarang tinggal berdoa semoga orang tersebut adalah benar-benar orang baik yang memang ingin mengembalikan HP saya.

Keesokan paginya, temen saya yang asal Norwegia sudah tidak lagi berada di hostel. Sejak jam lima Subuh sudah jalan ke stasiun kereta untuk berangkat ke Pisa.

Sebenarnya saya dan dia punya janji untuk berangkat bareng ke Pisa pagi itu naik kereta api. Kami memang belum memesan tiketnya karena tiket kereta api reguler bisa dibeli di stasiun langsung.

Namun, karena saya lebih memilih mengamankan HP, maka malam setelah terima SMS tersebut, saya minta dia untuk berangkat duluan.

Dia sempat marah karena saya ingkar janji kepadanya. Dia justru menyarankan saya untuk mengambil HP tersebut sepulang dari Pisa.

Dia juga sempat menyinggung sudah menolong saya dengan meminjamkan HP dan pulsanya, terapi saya ingkar janji.

Saya hanya bisa berkata kalau saya harus mengambil HP tersebut dahulu, kemudian menyusulnya ke Pisa. Kami bisa bertemu di Pisa keesokan harinya.

Ternyata dia tidak bisa menerima itu dan memutuskan untuk melupakan rencana jalan bareng di Pisa. Dia juga meminta saya untuk tidak menghubunginya lagi. Ya sudahlah sampai di situlah kisah pertemanan saya dengannya.

Pagi, sekitar pukul 08.30, bersama seorang teman lain yang baru saya kenal di hostel, namanya Louise asal Amerika, mendatangi tempat yang dijanjikan oleh pemegang HP saya.

Kebetulan  Louise dan saya berkenalan saat sarapan pagi di hostel dan langsung akrab. Kami pun berencana jalan-jalan ke spot-spot wisata lainnya di Roma hari itu, setelah saya mengambil HP yang hilang.

Sesampainya di stasiun kecil (saya lupa nama daerahnya), saya SMS ke nomor HP saya menggunakan nomor Louise.

Ternyata yang memegang HP saya sudah berada di sebuah kafe kecil, standing coffee.

Di sana, saya bertemu seorang pria dan wanita paruh baya yang mengaku membawa HP saya. Si wanita berpawakan tinggi dengan rambut coklat beruban. Demikian juga sang pria, namun rambutnya lebih hitam dan lebih banyak ubannya.

Begitu masuk kafe, si wanita langsung mengenali saya karena saya telah menyebutkan ciri-ciri saya memakai hijab warna hitam dan jaket coklat. Louise tidak ikut ke dalam kafe melainkan menunggu di luar dekat stasiun.

Saya perkenalkan diri begitu juga mereka (saya sudah tidak ingat nama keduanya). Dari perkenalan itu saya tahu bahwa si wanita ternyata seorang polisi yang bertugas di kawasan wisata Collessium. Sementara suaminya adalah seorang pegawai negeri.

Si wanita juga minta maaf karena baru bisa menghidupkan HP saya di malam hari karena seharian sibuk bekerja. Dia menemukan HP saya di taman di depan Collessium di antar kaki para pengunjung.

Begitu menemukannya, dia langsung mematikan HP saya agar tidak mengganggu saat ia masih bertugas.

Sebelum menyerahkan HP tersebut, dia memastikan bahwa saya benar-benar pemilik HP dengan cara menanyakan dua nomor contact person yang ada di HP itu.

Setelah yakin sayalah pemiliknya, kemudian dia menyerahkannya kepada saya. Ah rasanya berbunga-bunga memegang kembali HP penuh memori itu.

Sesuai dengan janji yang saya sampaikan di SMS tentang pemberian imbalan, ternyata mereka tidak menginginkannya.

Saya juga menawari keduanya makan siang, namun ditolak. Si wanita mengatakan, jika saya benar-benar ingin membalas kebaikan mereka, dia minta untuk dibayari dua cangkir standing coffee.

Standing coffee adalah istilah penyebutan kopi di dalam gelas ukuran sangat mini yang bisa dihabiskan dalam sekali teguk. Harganya pun hanya 1 Euro per gelas.

Setelah selesai minum kopi, saya pamitan dan si wanita memeluk serta cipika cipiki dengan saya. Dia berpesan agar saya lebih berhati-hati.

Selanjutnya, saya dan Louise segera jalan-jalan ke spot-spot wisata yang belum kami datangi.

Sampai sekarang, saya dan Louise tetap berteman baik dan selalu bertukar kabar via Medsos.

Berpikir positif dan selalu berbuat kebaikan, akan terasa imbalan kebaikannya juga dari orang lain. (sri murni).