Hidup di Norwegia : Ketika Gorengan Ikan Asin Menjadi Urusan Pihak Keamanan

Bangunan apartemen saat saya tinggal di Oslo, Norwegia. Foto by menixnews.com

HIDUP di negeri orang, terutama western country, yang notabene kebudayaannya jauh berbeda dengan orang Indonesia seperti saya, memang memberikan pengalaman yang sangat berharga. Pengalaman lucu, senang, sekaligus bikin deg-degan.

Di tulisan ini saya ingin sharing pengalaman saat tinggal di sebuah apartemen di Oslo, ibukota Norwegia, 2011 lalu.

Memang sudah lama berlalu, tetapi rasanya tidak plong kalau saya tidak menceritakannya. Pengalaman ini adalah tentang gorengan ikan yang sampai  menjadi urusan pihak keamanan apartemen.

Sebagai gambaran, saya tinggal di komplek apartemen di suburb yang agak jauh dari pusat kota Oslo. Naik T-bane, sebutan untuk kereta api cepat di sana, sekitar 30 menit.

Apartemen itu memiliki enam lantai dan tidak ada lift. Dua lantai ada di bawah tanah atau underground dan selebihnya di atas tanah.

Di depan apartemen saya ada areal hijau, bisa dikatakan hutan pinus mini yang dilengkapi dengan tempat duduk untuk santai sekaligus barbeque.

Di sekitar bangunan apartemen juga banyak ditumbuhi aneka bunga yang tampak cantik di saat mudik semi dan summer.

Saya memilih tinggal di unit nomor dua dari lantai paling dasar. Ini berarti masih di bawah permukaan tanah. Jika saya buka jendela maka, jalan aspal tepat berada di sisi atas jendela saya. Saya pilih unit ini karena harganya memang lebih murah dan sesuai dengan jangkauan kantong mahasiswa.

Di dalam unit apartmen saya, ada enam kamar yang dihuni pasangan tanpa menikah dari Polandia, pasangan Norwegia, mahasiswi Norwegia, mahasiswi Irak (Kurdish tepatnya), pria AS yang bekerja sebagai tukang bangunan dan tiap malam mabuk, dan saya sendiri.

Suatu siang, saat pulang kuliah, saya teramat sangat ingin makan makanan ala kampung, yakni ikan asin goreng. Rasanya ngences seperti orang ngidam….

Kebetulan, beberapa hari sebelumnya saya mendapat rezeki nomplok karena diberi seekor ikan asin oleh seorang teman yang baru datang dari Indonesia. Sudah beberapa hari ikan itu saya simpan di kulkas karena bingung mau diapakan.

Sampailah pada satu hari dimana rasa lapar mendera dan hasrat ingin makan nasi panas berlauk ikan asin tidak tertahankan.

Begitu pulang kuliah dan setelah berberes, saya langsung mengambil ikan asin plus cabai hijau (cabai dimaksud adalah lebih mirip pabrika karena besar-besar dan tidak pedas). Saya Lansung beraksi di dapur.

Dapur bersama di apartemen di Oslo, Norwegia. Foto by menixnews.com

Serasa berada di Indonesia, saat hendak menggoreng ikan asin, pintu utama unit apartemen saya buka. Saya lihat siang itu teman-teman seapartemen tidak berada di kamar mereka.

“Ah amanlah untuk goreng ikan asin yang baunya memang pasti menyengat,”pikir saya ketika itu.

Agar baunya cepat hilang, selain menghidupkan blower yang ada di atas kompor, saya pun membuka pintu utama unit apartemen tersebut.

Sreng….sreng….sreng…. Tiga potong ikan asin saya gulingkan di dalam minyak panas, persis cara menggoreng ikan asin yang dilakukan orang Indonesia di tanah air.

Seketika, asap pun mengepul  dari gorengan ikan asin tersebut. Dan tentu saja bauya menyeruak ke mana-mana. Untungnya pintu kamar saya dan pintu kamar semua penghuni di unit saya tertutup.

Bau ikan asin goreng ini tentu saja membuat perut saya semakin lapar dan tidak sabar untuk menyantabnya. Apalagi, sepiring nasi sudah menunggu di atas meja.

Saat sedang asyik membalikkan ikan asin goreng yang sebentar lagi matang, saya dikagetkan dengan ketukan pintu apartemen yang terbuka lebar.

Saya menoleh ke arah pintu. Oh, ternyata seorang wanita tegap paruh baya berpakaian seragam dongker sedang berdiri di depan pintu sambil menutup hidung.

Saya lalu mematikan kompor dan menghampirinya. Saya menyapa dan menanyakan ada apa?

Si wanita itu bertanya balik kepada saya, apa yang sedang saya masak, sambil tetap menutup hidungnya. Dengan polos dan dengan senang hati saya menjelaskan sedang masak ikan asin, masakan khas orang Indonesia.

Kemudian dia bertanya lagi, mengapa saya membuka pintu saat memasak? Saya pun kembali menjelaskan agar bau masakan saya cepat hilang dari dalam dapur.

Mendengar penjelasan saya ini, si wanita justru bermuka masam. Dengan nada agak marah dia memberitahu saya bahwa saya tidak boleh masak apapun yang berbau menyengat apalagi dengan membuka pintu.

“Beberapa penghuni unit lain di apartemen ini menelepon pihak keamanan apartemen untuk mencari sumber bau yang menyengat. Ternyata kamu yang melakukannya. Untung mereka tidak langsung menelepon polisi, kalau tidak, kamu bisa kena masalah,” kata wanita itu yang beru saya sadari dia adalah petugas keamanan apartemen.

Dia kemudian mengakhirinya dengan memberikan peringatan untuk tidak lagi masak sesuatu yang menyengat karena bisa menimbulkan komplain penghuni lain dan masalah bagi saya. Selain itu, saya tidak boleh membuka pintu ketika memasak.

Well, setelah itu saya meminta maaf dan dia pun berlalu. Saya menutup rapat-rapat pintu tersebut sambil berdoa semoga teman-teman satu unit saya pulang malam sehingga tidak mencium bau menyengat yang dimaksud.

Dengan kejadian itu, terus terang rasa lapar saya hilang seketika. Ikan asin yang begitu menyelerakan terasa tidak menarik lagi. Yang ada di pikiran saya adalah kekhawatiran kalau-kalau kasus ini akan membuat saya harus keluar dari apartemen dan terpaksa mencari tempat tinggal baru. Repotnya pasti luar biasa, apalagi perkuliahan sedang padat dan tugas-tugas menumpuk.

Alhasil, untuk menghilangkan bau menyengat ikan asin goreng, saya gunakan segala wewangian yang ada. Mulai dari pewangi ruangan yang ada di dapur sampai parfum saya yang berharga murah (hahahaha).

Setelahnya, saya membaringkan badan dan tidur sore sejenak dengan perut yang “kenyang” karena kena tegur pihak keamanan.

Setelah bangun tidur, saya kembali ke dapur untuk memastikan bau ikan asin sudah hilang. Dengan ruang dapur tertutup tanpa ada pintu dan jendela yang bisa dibuka, bau masakan memang lebih sulit hilang meskipun ada blower.

Syukurnya, parfum dan pewangi ruangan bisa menyamarkan bau tersebut meskipun masih sedikit tercium.

Kamar kecil saya di apartemen di Oslo, Norwegia. Foto by menixnews.com

Karena perut merasa lapar, saya tetap menyantap nasi plus ikan asin, tapi di dalam kamar. Rasanya tetap nikmat, meskipun pasti tak selezat seandainya tidak kena tegur si wanita tadi.

Satu pelajaran penting yang saya dapatkan, orang di sini jika ada yang kurang berkenan tidak menegur langsung ke yang bersangkutan melainkan langsung memanggil pihak keamanan.

Sepengamatan saya, warga di sini memang tidak pernah memasak masakan yang baunya seheboh saya. kebanyakan mereka jarang yang namanya goreng-menggoreng, melainkan serba panggang pakai oven atau direbus. Maka tidak heran jika di sini minyak goreng tidak begitu laku karena warga lebih banyak memilih margarine atau minyak zaitun sebagai pelengkap.

Lah, kayak saya orang Indonesia, kalau gak digoreng kok rasanya gak puas. Hehehe

Somoga yang membaca tulisan ini bisa mengambil  pelajaran untuk senantiasa berhati-hati hidup di negeri orang. Lain lubuk lain belalang, tak semua lauk bisa dimakan saat di negeri orang. (Sri Murni)

NB: Mau tahu cerita seru traveling kemana-mana, blog teman saya Danan Wahyu yang sudah famous ini sangat recommended! 

Baca juga pengalaman lain hidup saya saat di Norwegia :

Menikmati Transportasi Umum di Negeri Paling Makmur di Dunia, Norwegia. Senyaman Apakah?

 

Rasanya PANAS-DINGIN Naik Transportasi Umum di Negeri Paling Makmur di Dunia, Norwegia

Pengalaman Seru Berburu Barang Seken di Pasar Loak “Loppemarkeder” Oslo