How Are You Going ala Australia yang Bikin Bingung!

Lunch bareng temen-temen kampus.

BERKESEMPATAN menimbah ilmu di luar negeri dengan beasiswa itu memang suatu anugerah yang tak ternilai.

Rasa syukur yang tiada kira selalu saya haturkan kepada Allah SWT dan ucapan terimakasih kepada orangtua, keluarga, sahabat, kolega, dan rekan-rekan semua.

Dari begitu besarnya anugerah, tantangan kuliah di luar negeri memang akan lebih terasa ketimbang di negeri sendiri.

Nah, berdasarkan pengalaman saya yang sempat kuliah 1,5 tahun di The Australian National University (ANU), Canberra, Australia dan satu semester di Bjorkness College, Oslo, Norwegia, saya ingin berbagi satu kelumit tentang tantangan bahasa.

Yang saya bahas di sini hanyalah satu kejadian miskomunikasi kecil tetapi membekas di benak dan perasaan saya sampai sekarang.

How are you going yang bikin bingung!

Kuliah di luar negeri, apalagi jika bahasanya tidak serumpun, tantangan paling utama memang bahasa.

Meskipun sebelum berangkat saya sudah dibekali dengan kemampuan berbahasa Inggris yang saya rasa mencukupi, namun ternyata begitu sampai sana rasanya masih sangat sulit untuk berkomunikasi dengan warga setempat.

Lidah ini keluh dan sulit berkata-kata. Apalagi dialek orang Australia terasa asing dan sangat berbeda dengan orang Inggris dan Amerika.

Belum lagi, kalau bicara mereka tidak memandang saya ini alien (orang asing) yang baru sampai.

Mereka nyerocos dengan cepat tanpa mempertimbangkan psikologi saya yang masih deg-degan kalau bicara English.

Di samping itu, selama di Indonesia lebih banyak belajar bahasa Inggris formal, nah begitu sampai sana, masyarakat yang dihadapi adalah warga biasa dengan bahasa slengean.

Ibarat di Indonesia, selama sekolah belajar bahasa sesuai EYD, begitu terjun ke masyarakat ternyata bahasanya bahasa slang yang selama ini tidak pernah didengar, dibaca, dan kadang tidak tercatat di dalam kamus.

Begitu juga ketika hidup di tengah masyarakat Australia.

Sebenarnya, untuk bahasa Inggris Australia, terdapat kamus spesial agar mudah memahami bahasa slang warga di sana, lengkap dengan cara bacanya. Namun, ketika itu saya belum membelinya.

Saya punya pengalaman lucu soal bahasa ini. Minggu-minggu pertama saya di Canberra, ketika naik bus pagi hari hendak ke kampus, begitu pintu dibuka dan saya naik ke bus, supir bus langsung menyapa dengan ramah.

Dia menanyakan kabar saya dengan berkata,”Hi, how are you going?

Foto bareng teman-teman saat kelas pre-academic training yang kebanyakan mahasiswanya dari negara non-speaking English.

Awalnya, saya sama sekali tidak tahu apa maksud dari pertanyaan itu karena saya benar-benar baru mendengar kalimat seperti itu.

Ketika itu, saya langsung berfikir, ah mungkin si supir yang tampan, berkulit putih berambut pirang serta bermata biru (ya iyalah bule) ini bertanya saya hendak kemana.

Dengan senang hati pula saya menjawab, “I am going to the civic” alias city (kebetulan saya tinggal di daerah suburb atau pinggiran kota).

Mendengar jawaban saya, si abang ganteng mengulang pertanyaannya lagi. Dan, saya pun memberikan jawaban yang sama sembari meyakinkan.

Tapi wajahnya langsung berubah bete, dan meminta saya cepat-cepat duduk.

Ya sudahlah, saya pun tidak berpikir tentang perlakuannya karena memang sedang menikmati pemandangan hijau jalanan kota dan rumah-rumah penduduk yang tersusun rapih.

Study Abroad, Why Not? Jangan Takut dengan Bahasa Inggris!

Keesokan harinya, saya naik bus dengan supir lain. Sang supir pun menanyakan hal yang sama.

Kali ini saya menjawab,”I am going to Dickson (satu kawasan China Town di Canberra).”

Lagi-lagi sang supir bermuka bingung dan menyuruh saya duduk.

Karena menemukan ekspresi yang sama, saya jadi bingung juga. Apakah jawaban saya salah?

Untung saja, di dalam bus tersebut, saya bertemu seorang wanita yang juga berambut pirang dan berkulit putih serta bermata biru (lagi-lagi bule ya, warga setempat).

Kebetulan dia duduk di samping saya. Dia ternyata memperhatikan dialog saya dengan supir barusan.

Dia menyampa dengan ramah dan menanyakan asal saya serta sudah berapa lama saya berada di kota ini.

Setelah bercerita untuk beberapa saat, dia mulai menyinggung tentang dialog saya dan supir tadi.

Mau Study Abroad ke Australia atau Amerika Serikat? Ini Informasi Beasiswanya

Dia menanyakan, apakah saya bingung dengan pertanyaan supir?

Saya jawab,”Ya saya bingung. Perasaan saya sudah menjawab dengan benar karena saya memang hendak ke Dickson.”

Dia lalu menjelaskan, bahwa jawaban saya memang keliru. Itulah mengapa sang supir memasang tampang muka heran.

Dari dialah saya mendapat penjelasan bahwa makna dari kalimat tanya how are you going? itu ternyata sama dengan how are you yang sudah sangat popular di seluruh dunia.

Bahasa Inggris warga Australia memang memiliki kekhususan untuk percakapan sehari-hari yang sangat jarang dipelajari di negara-negara lain.

“Ooooalah Bang Supir…. andaikan si abang ganteng itu gunakan pertanyaan how are you saja, pastilah sudah saya jawab dengan sangat benar dan tidak akan membuat saya dan abang bingung,” dalam hati saya ketika itu.

Sejak kejadian tersebut, kalimat how are you going semakin sering saya dengar dan saya juga sangat sering mengatakannya ketika bertemu tetangga atau teman kuliah agar terasa lebih dekat dan membaur dengan warga setempat. (sri murni)

Baca juga tulisan saya tentang pengalaman lain hidup di negeri orang!

Hidup di Norwegia : Ketika Gorengan Ikan Asin Menjadi Urusan Pihak Keamanan