Pengalaman Didamprat Bule Gegara Berbagi Makan Fast Food ke Anjingnya

 

Vigeland Park, Oslo, Norway.

INI adalah cerita pengalaman saya ketika punya niat baik berbagi makanan dengan seekor anjing tetapi justru kena marah oleh yang empunya.

Semuanya terjadi ketika saya mengunjungi Vigeland Park di Oslo, ibukota Norwegia. Saat itu sedang musim panas (summer) 2011.

Saya bersama dua orang teman sedang menikmati hangatnya matahari di bangku taman.

Saat spring sampai summer, taman ini memang indah karena bunga bermekaran dan hamparan rumput menghijau.

Bagi warga lokal, summer merupakan waktunya berjemur.

Tak bisa berjemur si pantai, di taman pun jadi.

Sejauh mata memandang, di atas hamparan rumput hijau itu, hampir setiap jengkal terlihat warna warni bikini yang dikenakan para pengunjung.

Summer di Taman Vegeland Oslo, Norway. Foto by menixnews.com

Kalau saya dan teman yang juga dari Indonesia, tetaplah dengan busana berjilbab duduk di atas kursi taman.

Tidak lupa kami mengenakan kacamata hitam agar tetap keren, trendy, dan bebas memandang sana-sini.

Sambil bercerita ngalor-ngidol, kami juga menikmati cemilan berupa nugget, kentang goreng, dan ayam goreng.

Semuanya kami beli di toko fast food di pusat kota.

Datanglah Anjing Besar

Ketika sedang asyik bergosip-ria, seekor anjing warna coklat berbadan besar mengampiri kami berdua.

Jarang saya lihat anjing sebesar ini. Dia mengendus-endus sambil menjulur-julurkan lidahnya.

Dia datang dari samping tempat duduk saya. Kedatangannya memang sangat mengejutkan.

“Masyaallah besar kali,” teriak saya spontan sambil langsung mengangkat kaki ke atas bangku.

Aksi yang sama juga dilakukan teman saya. Melihat si guguk terus mengendus, kami agak keder.

Kami pun berdiri di atas bangku sambil memegang makanan dan berusaha mengusir anjing itu.

Tapi usaha kami sia-sia karena si anjing tetap tidak mau pergi. Ia justru duduk santai di dekat kursi kami.

Karena kelihatannya jinak, saya dan teman saya pun berusaha bersahabat dengannya.

Kami duduk kembali dengan kaki kami angkat ke atas bangku supaya tidak kena jilatannya.

Saya pun berinisiatif berbagi cemilan dengan si guguk. Saya memberinya sepotong daging ayam.

Dengan senang dia melahapnya sambil tetap duduk di dekat kursi kami.

Setelah melahap potongan pertama, dia melihat ke arah saya lagi. Saya pikir dia pasti mau lagi. Saya pun memberikan potongan yang kedua.

Saat saya memberikan potongan yang kedua, seorang wanita tua, kira-kira 70 tahun, yang sedang berjalan di jalan taman tidak jauh dari kursi kami berteriak.

“Hi…hi…stop, don’t feed my dog,”teriaknya.

Dia pun langsung memacu jalannya menghampiri kami. Namun, teriakan si wanita itu terlambat.

Si guguk sudah mengunyah potongan kedua ayam yang saya berikan.

Taman Vigeland Park, Oslo, Norway. Foto by menixnews.com

Kena Damprat

Begitu si wanita tadi sampai di depan kami, dia langsung mendekati anjing itu. Ternyata anjingnya.

Dia pun langsung membuka mulut si anjing dan berusaha mengeluarkan makanan yang saya berikan. Tapi sudah terlambat.

Kemudian dia memasang penutup mulut anjing atau biasa disebut octagon accessories.

Alat ini memang banyak dipasangkan ke mulut anjing agar mereka tidak makan sembarangan maupun menggigit orang.

Setelah itu, si wanita bertanya kepada saya tentang makanan apa yang saya berikan kepada anjingnya.

Saya menjawab singkat apa adanya sambil menunjukkan ayam goreng sisa yang masih ada dalam bungkusan.

Seketika raut wajahnya berubah, tampak agak marah. Dia kemudian berujar yang intinya adalah,”Anjing saya tidak makan fast food. Lain kali kamu tidak boleh membarikan makanan kepada anjing siapapun.”

Saya sempat kaget dan terpelongo. Dalam hati saya,”Oalah… anjing di sini gak makan fast food toh.”

Namun, di hadapannya saya hanya mengangguk dan saling lihat ke teman saya.

Bunga bermekaran di Taman Vigeland, Oslo, Norway. Foto by menixnews.com

Setelah dia pergi, saya bilang ke teman saya,”Baru tahu anjing Norwegia gak makan fast food. Perasaan anjing di Indonesia bisa makan segalanya.”

Dan kami berdua pun tertawa cekikikan tapi dengan suara yang kecil takut kedengaran yang empunya anjing.

Ini pengalaman berharga. Binatang peliharaan, terutama anjing, bagi orang Norwegia memang dianggap seperti keluarga sendiri.

Kalau anjingnya makan sembarangan dan sakit, yang repot adalah tuannya dan biaya kesehatannya juga tidak murah. (sri murni)

Maaf saya tidak punya dokumentasi foto anjing yang saya cerita di tulisan ini 😉

Tulisan lain tentang Oslo bisa dibaca di sini!

Pengalaman Seru Berburu Barang Seken di Pasar Loak “Loppemarkeder” Oslo

 

Hidup di Norwegia : Ketika Gorengan Ikan Asin Menjadi Urusan Pihak Keamanan

Rasanya PANAS-DINGIN Naik Transportasi Umum di Negeri Paling Makmur di Dunia, Norwegia