• Home »
  • Inspirations »
  • Ketika Nelayan Terpaksa Berubah Haluan Jadi Petani: Kisah Inspiratif dari Pulau Subangmas Batam

Ketika Nelayan Terpaksa Berubah Haluan Jadi Petani: Kisah Inspiratif dari Pulau Subangmas Batam

Saya bersama keluarga dan si bungsu yang masih tiga bulan berkeliling Pulau Subangmas.

INI adalah sebuah kisah inspiratif tentang satu keluarga yang tinggal di sebuah pulau kecil di Batam, bernama Pulau Subangmas.

Mayoritas penduduknya bermata pencaharian utama sebagai nelayan.

Namun, profesi bahari itu terpaksa ditinggalkan karena habitat laut yang tidak lagi bisa memberikan harapan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Di saat banyak penduduk di pulau itu memilih meninggalkan Subangmas dan pindah ke kota untuk mencari penghidupan lain, keluarga ini tetap bertahan di pulau tersebut dan berubah haluan dari nelayan menjadi petani.

Mereka berhasil menggarap lahan mati yang selama ini hanya dibiarkan penuh semak belukar dan hutan, kini menjadi pertanian palawija yang menghasilkan.

Saya sangat sering berkunjung ke sini. Sejak kali pertama menginjakkan kaki pada 2005 lalu, saya merasa sudah menjadi bagian dari masyarakat di sini, meskipun saya tinggal di Batam.

Mari kita simak ceritanya!

——————————-

MENJADI nelayan adalah pekerjaan turun temurun yang biasa dilakukan warga Pulau Subangmas, Batam.

Sejak perkampungan ini ada, berpuluh-puluh tahun silam, satu-satunya profesi yang dikenal adalah nelayan.

Peta Subangmas (bertanda merah adalah pulaunya)

Hal ini sangat wajar karena Subangmas merupakan pulau kecil yang berada di gugusan kepulauan yang masuk daerah administratif Kecamatan Galang, Kota Batam.
Namanya juga pulau kecil, yang ada di sekeliling Subangmas tentu saja air laut yang kaya akan sumber daya hayati.
Pulau ini tidak begitu luas dan masyarakatnya mayoritas menghuni daerah pantai, sementara daratan yang ada di tengah pulau tidak dihuni, bahkan dibiarkan menjadi hutan.
Bagi warga Subangmas yang ingin ke luar pulau, misalnya ke Batam, harus naik pompong atau pancung, sebutan orang lokal untuk sampan kayu bermesin tempel.
Pelabuhan yang bisa dituju ada beberapa, dua di antara yang paling gampang adalah pelabuhan rakyat Telaga Punggur dan Tebing Tinggi, Rempang Cate yang tidak jauh dari Jembatan Empat Barelang atau dikenal dengan sebutan Jembatan Sultan Zainal Abidin.
Jarak tempuh ke Punggur menggunakan pompong sekitar satu jam. Sedangkan ke Tebing Tinggi hanya 30 menit.

Pompong sebagai transportasi laut warga Subangmas.

Dari Nelayan ke Petani 
Seperti yang disampaikan sebelumnya, masyarakat Subangmas sangat menggantungkan hidup pada hasil laut.
Mulai anak-anak sampai orang tua, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki tugas masing-masing untuk mengambil hasil laut.
Bagi para pria yang berusia remaja sampai dewasa, tugas utama mereka adalah mencari ikan di tengah laut dengan cara memancing, menjaring, maupun memasang perangkap atau kelong ikan di laut.
Sementara anak-anak dan perempuan mencari ketam atau kepiting, gonggong (sejenis siput laut khas Batam), dan biota lain yang hidup di pesisir pantai.
Namun, dalam sepuluh tahun terakhir, hasil laut yang biasanya bisa menghidupi warga jumlahnya terus menurun.
Seorang warga yang dituakan di Subangmas bernama Pak Amad (60) bercerita, jika dahulu hasil laut bisa dijual dan mampu menghidupi keluarga, tapi beberapa tahun terakhir, hasil laut hanya sedikit sehingga sulit untuk menjualnya.
Hasil laut lebih diutamakan untuk kebutuhan makan sendiri dan aktivitas melaut ini tetap dilakoni warga demi mendapatkan lauk bagi keluarga.
Aktivitas melaut yang masih bernilai ekonomi lumayan adalah memasang kelong di saat musim dingkis tiba. Biasanya menjelang Imlek dan Cap Go Meh.
“Biasa kalau jelang Imlek adalah musim dingkis. Kami pun memasang kelong agar dapat dingkis dengan jumlah banyak,” kata Pak Amad.

Seorang remaja Subang Mas sedang mencaring ikan dari kelongnya.

Dingkis adalah ikan musiman yang banyak bermigrasi melewati Pulau Subangmas menjelang Imlek.
Di waktu ini, ikan dingkis dalam kondisi sedang bertelur.
Ikan ini banyak dibutuhkan warga Tionghoa saat perayaan Imlek untuk keperluan sesajen sembahyang.
Alhasil, saat Imlek, harga dingkis bisa mencapai ratusan ribu per kilo.
Dalam setahun, ada dua kali musim dingkis yakni jelang Imlek dan dua pekan setelah Imlek atau disebut Cap Go Meh.
Tidak mengherankan, musim dingkis menjadi masa panen raya bagi warga Subangmas karena hasil yang didapat bisa puluhan juta.

Ikan dingkis yang sedang bertelur. Foto diambil dari hmzwan.com

Tapi, penghasilan puluhan juta itu adalah cerita kejayaan nelayan Subangmas sebelum 10 tahun lalu.
Selama 10 tahun terakhir ini, setiap musim dingkis, para nelayan hanya bisa mendapatkan hasil beberapa juta rupiah.
Bahkan, nelayan yang memansang kelong pun semakin sedikit karena hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan modal kelong itu sendiri.
Alex, satu di antara anak Pak Amad yang selama ini getol membantu ayahnya, menceritakan, untuk memasang satu kelong diperlukan modal yang cukup besar sekitar Rp4-5 jutaan.
Hasil yang didapat dari dingkis kini kian merosot. Satu kelong ada yang Rp 3 juta, Rp 7 juta, sampai Rp 10 juta.
“Hasil tangkapan dingkis ini memang tidak bisa dipastikan. Ada kalanya naik dan kadang juga turun. Banyak faktor yang mempengaruhinya, misalnya masalah cuaca, gelombng, dan angin. Kalau angin dan gelombang kencang, hasilnya turun drastis karena dingkis takut ke pesisir dan karang,”jelas Alex.
Tidak hanya dingkis yang jumlahnya jauh berkurang, hasil laut lainnya seperti ikan, sotong, dan udang juga sudah jauh menurun.
Alex juga merasakan, kehidupan nelayan di Subangmas memang sangat tidak menjanjikan. Bisa di katakan nelayan tidak punya masa depan.
Beralih Profesi
Live must go on! begitulah kira-kira prinsip hidup warga Subangmas.
Meskipun hasil dari melaut sudah jauh dari harapan, hidup tetap harus berjalan.
Alhasil, tidak sedikit warga yang memilih pindah profesi dan keluar dari Subangmas.
Beberapa bekerja di galangan kapal, pabrik manufaktur, dan lainnya di Batam.
Dari sekian banyak warga yang beralih profesi, keluarga Pak Amad juga melakukan hal yang sama.
Bedanya, Pak Amad dan keluarganya tidak meninggalkan pulau melainkan tetap bertahan di Subangmas untuk membuka lahan pertanian di pulau tersebut.
Ketika Subangmas masih memiliki kekayaan laut yang melimpah, semua warga tinggal di pesisir pantai dan menelantarkan lahan kosong yang ada di tengah pulau.

Rumah nelayan di Subang Mas.

Lahan kosong itulah yang diolah keluarga Pak Amad sejak tujuh tahun lalu.
Keluarga Pak Ahmad adalah warga pertama Subangmas yang bersikeras untuk tetap bertahan di tanahnya.
“Saya dan keluarga tidak bisa tinggalkan kampung seperti yang lain. Inilah tanah kami,” kata Pak  Amad.
Pak Ahmad pun membuka lahan pertanian yang sebelumnya berupa hutan dan semak belukar.
Dia menceritakan, sangat beruntung memiliki dua anak laki-laki yakni Alex dan Abas, serta seorang istri yang juga bertekad bertahan hidup di Subangmas.

Lahan kosong di Pulau Subang Mas.

Abas, anak tertua Pak Amad yang sangat mendukung orangtuanya membuka lahan pertanian menceritakan, bertani memang sama sekali bukanlah keahlian mereka karena selama ini hidup sebagai nelayan.
“Tapi bukan berarti tidak bisa. Kami membuka lahan hutan pelan-pelan, dikerjai sendiri pelan-pelan sambil tetap mencari ikan untuk makan,”kata Abas.
Hal yang mendorong mereka bertekad bertani adalah karena hasil laut memang tidak lagi menjanjikan. Harus ada hal lain yang bisa menghidupkan masyarakat Subangmas.
Awalnya, kata Abas, mereka sempat pisimis karena beberapa kali menanam apapun, selalu rusak karena banyak babi hutan di sekitar ladang.
Tapi mereka tidak menyerah. Mereka memagari lahan yang sudah digarap dengan kayu agar babi tidak masuk dan cara itu berhasil.
Mereka juga membuat lahan semakin luas dengan harapan, semakin sedikit semak belukar, maka babi akan semakin menjauh karena habitatnya sudah tidak ada.
Ternyata tidak hanya babi hutan yang menjadi tantangan mereka membuka lahan pertanian, tetapi juga stigma masyarakat lokal.
Karena selama ini warga hidup sebagai nelayan, ada stigma bahwa tidaklah mungkin bisa berhasil bertani di Subangmas karena tanah di sana tidak pernah digarap.
“Kalau orang sini ya, hampir semua meremehkan kami. Memang tidak pernah ada yang garap tanah Subang ini jadi pertanian, tapi bukan berarti tidak bisa. Dan, kamilah yang sudah membuktikannya,”kata Emak, istri Pak Amad.
Panen Palawija
Cukup lama keluarga Pak Amad menggarap tanah terlantar hingga menjadi kebun palawija yang menghasilkan.
Total waktu yang diperlukan mulai dari membuka lahan hutan dan semak belukar sampai benar-benar mulai menghasilkan tanaman yang bisa dipanen, sekitar lima tahun.
Alex menceritakan, selama kurun waktu merintis usaha pertanian tersebut, Alex bersama abang tertuanya, Abas, belajar dari banyak orang tentang budidaya palawija dan tanaman lainnya.
Beberapa tanaman yang diujicoba di kebun ini adalah pepaya, jeruk, buah naga, dan sayuran seperti kangkung, bayam, kacang pancang, pari pahit, sawi, cabai, dan lainnya.
Selain kerja keras mereka, ada pula bantuan dari pihak lain yang peduli dengan nasib warga Subangmas, terutama dari Dinas Kelautan dan Pertanian Pemko Batam.
Dari ujicoba tanaman yang dilakukan, palawija berupa sayuran menjadi tanaman yang paling menjanjikan.
Dua tahun terakhir ini, ladang Pak Amad sudah menghasilkan sayuran yang tidak hanya bisa mencukupi warga Subangmas tetapi sudah mulai dijual ke luar pulau, bahkan sampai ke Batam.
Usaha pertanian mereka juga dipandang berhasil oleh pemerintah lokal. Ini terbukti dengan diberikannya bantuan berupa pupuk, bibit, dan penyuluhan pertanian.
Yang tidak kalah penting, adalah bantuan berupa irigasi. Pemerintah membangunkan waduk yang bisa mengairi lahan pertanian tersebut.
Bahkan beberapa warga kini telah ikut menggarap pertanian di Subangmas. Mereka pun sudah memiliki dua kelompok tani yakni Subangmas Subur yang diketuai Abas dan Gapotan yang diketuai Surahman.
Alex menceritakan, dari sekian banyak tanaman yang sudah diujicoba, saat ini sayuran kangkung yang paling menjanjikan.
“Tanaman kangkung itu, hanya perlu 22-24 hari mulai dari tanam sampai panen. Tapi karena tanah di Subang itu sangat subur, panennya jadi lebih cepat 18 hari sudah bisa dipanen. Kalau tanam 1 kg bibit kangkung, panennya bisa 60 kg,”kata Alex.
Karena hasil tani sudah mulai bisa diandalkan, keluarga Pak Amad pun kini sudah mulai membangun rumah di sekitar kebun agar lebih mudah bekerja dan beristirahat.
Kebutuhan Angkutan
Setelah berhasil menaklukan dan ‘menyulap’ lahan tidur di Subang Mas menjadi lahan pertanian, tantangan lainnya pasti dihadapi keluarga Pak Amad.
Hasil panen yang mereka produksi tentu saja harus dijual agar modal dan kerja keras mereka terbayarkan.
Pasar yang dituju, sudah pasti ada Batam dan pulau-pulau sekitar termasuk Bintan dan Tanjungpinang. Ketiga tempat ini sangatlah membutuhkan pasokan sayuran karena jumlah penduduknya memang besar.
Namun, bagaimana membawanya ke sana?
Yang pasti untuk mengeluarkan barang dari pulau Subangmas, diperlukan transportasi laut. Mereka bisa menanggulanginya dengan menggunakan pompong.
Hanya saja, membawa hasil panen dari ladang ke pelantar Subangmas, diperlukan alat angkut darat lain.
Karena jalan di Subangmas ini tidak terlalu besar, memang tidak memungkinkan untuk mengendarai mobil. Satu-satunya alat transportasi darat yang cocok adalah sepeda motor.
Sekitar Desember 2016, Alex memutuskan untuk membeli satu unit motor Honda Revo bekas. Motor itu dibeli dari saya yang kebetulan waktu itu ingin ganti motor Honda tipe lain.
Dia pun memboyong Revo dari Batam ke Subangmas menggunakan pompong.

Alex (depan) bersama saudaranya membawa Honda Revo dari Batam menyeberang laut ke Pulau Subang Mas.

Dipilihnya Honda Revo karena memang irit dan bermesin bandel. Spesifikasinya sangat cocok dengan medan Subangmas yang jalannya masih tanah dan berlubang.
Bodinya yang lebar juga pas untuk membawa hasil tani dari ladang ke pelantar yang jaraknya sekitar 2 km.

Pelantar Subangmas, tempat sampan dan pompong bersandar.

“Sebelum ada motor, kami selalu jalan kaki kemana-mana di Pulau Subangmas. Rasanya memang capek sekali apalagi kalau harus bawa sayuran. Sehari bisa bolak-balik ntah berapa kali,”kenang Alex yang memang memiliki tugas distribusi hasil pertanian.
Tidak hanya dari ladang ke pelantar, Revo juga ikut diboyong naik pompong ketika Alex harus mengantarkan hasil pertanian ke Batam.
Pasalnya, dari Pelabuhan Tebing Tinggi ke Batam jaraknya puluhan km dan harus ditempuh dengan motor dengan waktu sekitar 1,5 jam.
Ke depan, jika hasil pertanian warga Subangmas kian melimpah, tentu saja satu tenaga Revo tidaklah akan mencukupi. Mereka pastinya membutuhkan Revo-Revo lain bahkan yang beroda empat.
Berkat kegigihan keluarga Pak Amad membangun Subangmas di tengah profesi nelayan yang kian tidak menjanjikan, kini pulau ini sudah banyak mendapat bantuan dari pemerintah, terutama untuk fasilitas umum berupa pelantar, sekolah, puskesmas, sarana ibadah, dan lainnya.
Semangat untuk membangun kampung halaman dari keluarga Pak Amad memang patut kita acungan jempol bahkan bisa ditiru. TERUS BERJUANG PAK AMAD, BANG ABAS, dan ALEX!
Baca juga cerita lain dari Subangmas yang kaya akan keindahan pantai dan wisata sejarahnya disini!