• Home »
  • Bisnis »
  • Lezatnya Menu Original Sunda “Nasi Ayam Pencok” di Bandung + Cafe

Lezatnya Menu Original Sunda “Nasi Ayam Pencok” di Bandung + Cafe

Sedapnya Nasi Ayam Pencok bersanding dengan air kelapa di Bandung+ Cafe. Foto by mona

APA yang terlintas di benak kamu saat mendengar Kota Bandung? Yes, right! Cewek-ceweknya gelis alias cantik, fashion-nya modis dan relatif murah, plus makanannya yang enak-enak dan harganya relatif terjangkau juga.

Di posting-an kali ini, saya ingin bercerita tentang Bandung, tapi bukan Kota Bandungnya, melainkan Bandung + Cafe. Kafe ini tidak berada di Bandung tetapi di Food Court Tiban Vitka yang letaknya bersebelahan dengan SPBU Vitka, Batam.

Seperti yang saya utarakan di atas, kalau Bandung itu sangat terkenal dengan kulinernya yang lekker-lekker (bahasa Belanda yang berarti lezat). Hal ini jugalah yang dihadirkan Bandung + Cafe.

Di sini disediakan aneka menu original khas Sunda, di antaranya ada Nasi Ayam Pencok, Nasi Bakar Ayam, Nasi Timbel, Nasi Tutuq, Colenak, Seblak, Cilok, Ketan Bakar, dan banyak lagi.

Seblak ala Bandung+ Cafe. Foto by Bandung+ Cafe.

Beberapa nama menunya memang terdengar asing ya bagi orang non-Sunda. Saya sendiri saat berkunjung ke sana dua kali, ada saja menu yang membuat saya penasaran, diantaranya Nasi Tutuq, Nasi Ayam Pencok, dan Colenak (dicocol enak yang dibuat dari tapai bakar ditambah pisang bakar, dan dimakan dengan serundeng). Sementara untuk Seblak, Cilok, dan Ketan Bakar sudah pernah saya coba.

Bahkan khusus menu Seblak, saya sudah pernah membuat ulasannya dan kamu bisa baca di sini.

Karena penasaran dengan tiga menu “asing” tersebut, saya bersama suami dan duo crucils (Azka and Kenzie) langsung mencobanya ketika bertandang ke sana untuk kali kedua pekan lalu, Sabtu (22/7).

Pada tulisan ini, saya juga ingin memberikan resep spesial Nasi Ayam Pencok ala Bandung + Cafe.

Nasi Ayam Pencok

Mendengar kata Pencok, awalnya saya pikir itu adalah bahasa Jawa yang berarti bungkus daun pisang. Tetapi ternyata salah. Pencok di sini adalah bahasa Sunda yang berarti sambal mentah. Dikatakan sambal mentah karena memang dibuat dari bahan-bahan mentah tanpa ada yang dimasak terlebih dahulu, kecuali terasi yang dibakar. Sehingga, sambal ini terasa begitu segar saat disantap.

Nasi Ayam Pencok isinya adalah nasi putih disantap dengan ayam goreng plus sambal Pencok, ditemani lalapan (timun) dan selada, kerupuk, dan sambal terasi.

Sambal Pencok itu, kata Teh Yanis Pehan, pemilik sekaligus chef Bandung+ Cafe, sangat identik dengan bawang putih dan kencur, potongan kacang panjang, dan kemangi.
Sambal ini tidak hanya bisa dipadukan dengan ayam tetapi juga lauk lainnya seperti ikan asin, tempe-tahu, maupun telur. Supaya lebih jelas, saya paparkan saja resep dan cara membuatnya ya. Siapa tahu kamu ingin memasaknya sendiri di rumah.
 
Bahan
250 gram daging ayam
1 1/2 siung bawang putih
1 ruas jari kencur
1/2 ruas jari gula merah
Garam secukupnya
Cabai rawit sesuai selera
100 gram kacang panjang
Kemangi secukupnya
Cara Membuat
1. Ayam diungkap terlebih dahulu dengan bumbu ungkap. Seperti 1 ruas jari kunyit, 2 siung bawang putih, 1 siung bawang merah, 2 ruas jari, garam secukupnya, berikan ketumbar sedikit, daun salam, daun jeruk, dan serai. Semua bumbu dihaluskan selama 15-20 menit.
2. Setelah diungkap, ayam digoreng hingga matang
3. Ulek kencur, bawang putih, terasi yang sudah dibakar, cabai rawit, garam, dan gula merah hingga halus
4. Masukan kacang panjang dan kemangi, ditumbuk sedikit.
5. Hidangkan bersama nasi putih, tahu, tempe, dan kerupuk serta sambal terasi.
Sawah dan Saung Kece
Selain menu yang lezat, bersantap di kafe ini juga mendapatkan nilai plus lainnya yakni free WiFi dan booth kece untuk berfoto. Booth tersebut menarik karena bernuansa sawa yang hijau lengkap dengan saung bambunya. Di saung tersebut, tersedia pula aneka peralatan petani yang bisa digunakan sebagai properti tambahan saat berfoto. Ada cangkul, topi capil, keranjang anyaman bambu, kentongan, tampah, dan lainnya.
Dengan segala properties yang ada, kamu bisa berakting layaknya para petani.
Harga makanan di sini tidaklah mahal, berkisar Rp 25 ribu untuk makanan berat dan komplek (nasi lengkap dengan lauk dan sayuran). Sedangkan untuk cemilan, seperti cilok dan colenak, mulai dari Rp 10 ribu. Sementara minuman mulai dari Rp 5.000.
Kafe ini dibuka setiap hari mulai jam makan siang sampai malam, sekitar pukul 22.00 WIB. (sri Murni)
SELAMAT BERSANTAP KELUARGA INDONESIA!