Pengalaman Seru Berburu Barang Seken di Pasar Loak “Loppemarkeder” Oslo

Loppemarkeder atau Bazar Murah di Oslo. Foto by menixnews.com

BERBURU barang seken alias bekas di Oslo, Norwegia? Jauh amir cin…..! Pergi jauh-jauh kok larinya ke pasar seken sih?  Ya begitulah saya yang hobi liat-liat yang gak biasa.

Kan kalau berburu barang-barang bermerek dan mahal itu sudah biasa dilakukan orang-orang berduit. Apalagi toko-toko gituan juga banyak di Indonesia. Hampir semua merek ternama di dunia, buka cabang tu di Indonesia. So, berburu ke tempat barang seken, memang bukan pengalaman biasa.

Secara jujur saya katakan, saya adalah tipe orang yang suka barang-barang berkualitas dan tidak mementingkan merek. Loh kok lucu? Biasanya kan barang bagus, pasti berasal dari merek terkenal. Ehm… gak selalu kan ya? Kadang barang merek terkenal, tapi ternyata kualitasnya ada yang jelek. Begitu juga sebaliknya, mereknya tak tersohor, tapi kualitas barangnya OK punya. Lagian, biasanya barang bagus, pasti mereknya juga ternama dan harganya selangit kan ya?

Nah, soal harga ini, saya sangat sensitif. Saya memang penganut wanita kebanyakan: harga harus murah tapi barang harus bagus…. MIMPI KALI YE…! Bagi penjual, tipe orang seperti saya ini memang ngeseli. Mau barang bagus, kok harga murah, KE LAUT AJE!

Eh… sebenarnya saya gak ngeseli penjual kok. Saya tahu diri. Saya tidak akan masuk ke toko-toko barang mahal yang memang harganya tidak terjangkau untuk saya.

Terus bagaimana dunk cara mendapatkan barang berkualitas tapi harganya murah? Ya…  satu-satunya cara adalah masuk ke lapak-lapak barang seken…… Hehehe iya barang second alias bekas pakai. Kalau untuk yang satu ini, saya gak pernah malu, justru bangga bisa mendapatkan barang-barang berkualitas dengan harga terjangkau.

Coba bayangkan, punya duit cuma 10 juta tapi pengin sofa dan tempat tidur yang berkualitas bagus. Kalau di toko furniture baru, barang yang saya idamkan itu total harganya bisa mencapai 30 jutaan. Alhasil, saya jalan-jalan ke tempat-tempat barang seken yang ada di Tanjungpantun, Batam, dan mendapatkan sofa dan tempat tidur yang saya idamkan hanya Rp 8,5 juta.

Kondisinya sih pasti tidak baru, tapi masih mulus. Tempat tidur kayu masih kinclong dan spring bed-nya super king (2×2 meter) juga 99 % persen tampak baru. Untuk sofanya, kondisinya 90 persen. Well…. sebuah temuan barang yang membuat saya sangat bahagia. Sampai sekarang semua barang tersebut masih dalam kondisi bagus dan awet, padahal saya membelinya sudah hampir lima tahun lalu.

Kata si penjual ketika itu, tempat tidur saya itu adalah bekas pengantin baru warga Singapura yang menikahi wanita lokal di Batam. Namun, setelah tiga bulan menikah, pasangan itu cerai dan semua perabotnya dijual ke tempat barang seken. Ya…. saya sih gak risih dengan barang bekas pakai, asalkan kondisinya masih super OK!

Loppemarkeder di Oslo

Bicara soal barang seken, saya juga punya pengalaman asyik memburu barang-barang bekas ketika tinggal di Oslo. Penjualan barang seken di sini biasanya dikenal dengan sebutan Loppemarkeder atau Loppe Market (bazar murah). Tempatnya bisa di rumah-rumah orang layaknya garage sale di Australia, bisa juga di sekolah, dan di tempat-tempat umum yang khusus dibuka pada hari-hari tertentu.

Satu pasar yang paling terkenal menjual barang seken di sana adalah Pasar Gronland. Tapi mereka menyebutnya bukan pasar melainkan bazar karena barang-barangnya memang murah meriah.

Pasar ini hanya buka setiap hari Sabtu. Bazar Gronland terletak tidak jauh dari terminal bus antar kota (Bussterminaten) Oslo. Lokasinya tepat di bawah jalan layang Oslo. Jika diumpamakan, lokasinya mirip dengan tempat berjualan para pedagang yang ada di bawah jalan layang di kota Jakarta. Pasar ini mulai dibuka sejak pukul 09.00 sampai 18.00 waktu Oslo.

Contoh barang antik yang dijual di Loppemarkeder Oslo. Foto by menixnews.com

Bazar Gronland bukanlah sekedar pasar murah tapi menjadi pusat pertemuan barang dan manusia dari seluruh penjuru benua yang bermukim di Oslo. Disinilah orang-orang dari Amerika, Afrika, Asia, Timur Tengah, dan Eropa bertemu, baik sebagai pedagang maupun pembeli.

Barang yang dijual juga beraneka ragam yang didatangkan dari seluruh belahan dunia, mulai dari pernak pernik perlengkapan individu , perlengkapan rumah tangga, furniture, elektronik, buku-buku, dan lainnya. Tidak semuanya seken karena beberapa penjual juga menggelar dagangan barang baru.

Sebagian barang dagangan digelar di atas meja atau lapak. Namun banyak pula barang yang digelar di atas aspal dan hanya beralaskan karpet plastik. Jika diperhatikan, mayoritas pedagang berasal dari Timur Tengah dan India.

Pasar ini terkenal tidak hanya karena harganya yang sangat murah tapi juga pilihan barangnya yang sangat beragam. Bahkan barang-barang produksi Indonsia sangat mudah dijumpai di pasar ini, terutama produk fashion dan sepatu. Untuk mengenali barang yang akan dibeli buatan negara mana, caranya sangat mudah karena di setiap barang yang dijual tertera negara produksinya.

Sebagai perbandingan, sepatu baru bermerek Nike made in Indonesia di toko-toko di Oslo berkisar 500 krone atau sekitar Rp 1 juta, tapi di pasar ini bisa dibeli dengan harga 100 krone atau sekitar Rp 200 ribu. Barang tersebut berkulitas sama dan dari produksi yang sama. Barang-barang buatan Cina, Vietnam, Pakistan, dan Thailand juga mudah ditemukan, khususnya untuk produk elektronik dan aksesorisnya seperti HP dan chargernya, radio, TV, microwave, dan lainnya.

Untuk barang-barang yang berkualitas nomor satu, jumlahnya tidaklah banyak. Jika ingin mendapatkan barang yang bagus, baiknya datang ke pasar ini pada pagi hari sekitar pukul 10 atau 11 karena belum banyak pembeli yang menyerbu.

Layaknya pasar murah, barang-barang yang dijual masih tetap bisa ditawar. Terlebih jika membeli barang lebih dari satu di tempat yang sama. Namun, pengurangan harga tidaklah besar hanya sekitar 10-20 persen. Sebab, mereka menawarkan barang dengan harga yang tidak terlalu tinggi.

Ini sangat berbeda dengan pasar murah di Indonesia dimana pembeli bisa menawar sampai lebih dari 50 persen dari harga yang diberikan pedagang.
Namun demikian, pembeli harus cermat. Kadang kala ada juga pedagang yang agak nakal, terutama jika si pembeli bukanlah orang lokal dan tidak bisa berbahasa Norwegia. Pedagang bisa menawarkan harga yang sangat tinggi, lalu ketika dilihatnya si pembeli tidak tertarik, penjual langsung menurunkan harga sampai 80 persen.

Jika ingin mendapatkan barang-barang yang unik dan berharga murah, di pasar inilah tempatnya. Misalnya, barang-barang pecah belah yang berdesain kuno. Untuk benda-benda antik ini tentunya tidaklah baru melainkan setengah pakai.

Contoh barang antik yang dijual di Loppemarkeder Oslo. Foto by menixnews.com

Menjelang musim dingin, pasar ini banyak menjual baju winter bekas dari merek-merek ternama dunia dengan kualitas bagus bangets dan harga sangat murah. Kalau sudah jelang winter, pasarnya juga makin ramai karena banyak yang mencari perlengkapan winter, terutama jaket dan sepatu.

Saya sendiri, juga begitu. Beruntungnya, saya pernah bertemu dengan seorang penjual yang dia jualan hanya iseng-iseng karena banyak baju bekas di rumahnya yang tidak terpakai. Dia menawarkan banyak baju anak-anak. Karena saya punya crucil di rumah, ya saya pilih dan borong banyak baju anak-anak.

Setelah dipilih dan ditotal, ada sekitar 15 potong dengan kondisi barang 90 persen. Dia mematok harga cuma 30 Krone atau Rp 45 ribu. Iseng-iseng saya berkata,”gak kurang lagi?” Padahal ini hanya gatal-gatal lidah saya aja, kebiasaan orang Indonesia yang selalu nawar. Eh dia langsung bilang ya udah 20 Krone aja atau berapa aja kamu punya duit boleh. Aduh jadi gak enak nih… Jadi merasa bersalah saya. Hehehe

Kebanyakan Pembeli Imigran

Jika diperhatikan, mayoritas pembeli di pasar ini memang dari kalangan menengah ke bawah serta para imigran yang memang mencari barang-barang dengan harga lebih terjangkau. Bagi masyarakat Muslim, pasar ini tidak hanya menjadi tujuan utama sebagai tempat belanja tapi juga bersilaturahmi. Tidak sedikit masyarakat Muslim di Oslo yang menggunakan kesempatan berbelanja di pasar ini sekaligus untuk bercengkeramah dengan para sahabat.

Seorang pembeli, Yamin dari Pakistan mengatakan, hampir setiap Sabtu ia datang ke Bazar karena ingin bertemu dan bercerita dengan teman-teman Muslim-nya yang juga berasal dari Pakistan. Di sekitar lingkungan pasar banyak tersedia café dan restoran. Di tempat-tempat inilah mereka menghabiskan waktu bercerita dan bersantai sambil menikmati hidangan yang beragam.

Soal keamanan, tidak perlu khawatir karena pasar ini relatif aman. Menurut para pedagang disini, sangat jarang terjadi pencurian, pencopetan, atau tindak kriminal lain. Beberapa polisi juga berjaga-jaga di pasar ini.

Bayar 250 Krone

Pasar ini merupakan tempat yang bebas bagi siapa saja yang hendak berjualan, baik orang lokal maupun penduduk dari negara lain. Untuk berjualan di pasar ini tidak perlu registrasi. Para pedagang cukup datang pagi hari untuk memilih tempat yang diinginkan, kemudian membayar uang sewa 250 krone atau sekitar Rp 500 ribu kepada petugas yang akan mengutip uang tersebut pada siang hari. Besaran uang sewa berlaku untuk satu hari.

Israel, seorang pedagang yang berasal dari Jamaika mengatakan, Bazar Gronland merupakan tempat bertransaksi yang sangat menguntungkan dan perputarannya sungguh cepat. Satu hari transaksi dirinya bisa menghabiskan ratusan pasang sepatu dan baju yang sudah berbulan-bulan tidak terjual di toko miliknya yang berada di pusat kota.

“Pasar ini sangat bagus. Barang cepat terjual karena kami memberikan harga yang sangat murah daripadai di toko,”ujarnya. Israel menceriakan, dirinya bisa menjual barang dengan harga murah karena mendapatkan barang tersebut langsung dari importer yang harganya juga sangat murah. Mayoritas barang yang dijualnya adalah sepatu dan baju buatan Amerika.

Barang Seken Pantangan

Meskipun saya itu suka barang seken yang berkualitas bagus (karena kalau barunya gak mampu beli), saya punya pantangan loh untuk tidak memakai barang seken untuk:

  1. Underwear . Alasannya pasti sudah ketebaklah ya…. risih gemana gitu pakai underwear bekas orang.
  2. Alat masak dan makan. Pastinya ini karena saya muslim, dan sangat riskan kalau barang seken untuk masak dan makan karena bisa jadi itu bekas digunakan untuk memasak atau wadah makanan non-halal.
  3. Membeli barang bekas itu memang membutuhkan energi lebih dan ketelitian agar benar-benar mendapatkan barang yang bagus. Sampai rumah pun barang harus dibersihkan, terutama pakaian. Bilas pakaian beberapa kali, kemudian rendam pakai air panas (tergantung bahannya ya), lalu rendam pakai diterjen, dan bilas bersih. (sri murni)

HAPPY SHOPPING KELUARGA INDONESIA!

Baca juga tulisan saya lainnya tentang Oslo ya!

Rasanya PANAS-DINGIN Naik Transportasi Umum di Negeri Paling Makmur di Dunia, Norwegia

Menikmati Transportasi Umum di Negeri Paling Makmur di Dunia, Norwegia. Senyaman Apakah?