Pengalaman Menginap di Hostel “Horor” di Roma Italia

Bersama para traveler makan malam di Mona Lisa Hostel. Foto by menixnews.com

TRAVELING ke manca negara pasti memberikan pengalaman yang sangat berkesan dalam hidup. Apalagi jika traveling-nya seorang diri alias solo traveler.

Ada sederet cerita senang dan haru bertemu orang-orang baru yang baik hati.

Ada pula cerita seru karena “ditawar” ketika menginap di hostel yang lokasinya di jantung proatitusi Kota Athena, Yunani. Dan, ada cerita serem saat menginap di hostel yang lumayan berkesan angker.

Nah, tulisan kali ini saya ingin berbagi pengalaman agak horor saat menginap di salah satu hostel di kota Roma selama enam hari lima malam pada akhir tahun 2011 lalu, tepatnya mulai 24-29 Desember.

Keberadaan saya di Roma ketika itu karena liburan dan memang ingin melihat malam Natal dan misa keesokan harinya di Vatikan.

Sebelum saya bercerita tentang hostel horor ini, saya ingin menggarisbawahi bahwa kesan horor atau angker itu sifatnya subjektif ya.

Mungkin bagi orang yang sudah biasa di tempat itu, tidak ada kesan angkernya tapi bagi orang baru, kesan horor itu bisa sangat terasa.

Nama hostel tempat saya menginap selama di Roma, Italia, adalah Mona Lisa Hostel yang berlokasi di Bangunan Via Palermo 13.

Pintu masuk bangunan Via Palermo 13 difoto dari dalam. Foto is taken from hostelsclub

Ini merupakan deretan bangunan ruko yang usianya lumayan tua. Bisa dikatakan, bangunannya seperti ruko-ruko di Indonesia.

Hanya saja, fisiknya lebih tinggi dan berdesain khas Mediterania dengan cat bangunan didominasi warna coklat berkombinasi krim. Nuansa bangunannya klasik seperti halnya gambaran Kota Roma secara keseluruhan.

Hostel ini termasuk yang paling murah dan berada di pusat kota serta dekat dengan objek wisata utama seperti Colosseum dan Vatikan.

Peta Mona Lisa Hostel, Roma, Italia. Foto by menixnews.com

Semua objek wisata di Roma bisa dijangkau dengan jalan kaki. Ya lumayan mengirit biaya transportasi dalam kota.

Bahkan dari termini atau terminal (stasiun) kereta api dan bus utama Roma sangat dekat. Jalan kaki sekitar 15 menit (perlu diingat, traveling ke negara Europa, jalan kaki 15 menit itu hitungan sangat dekat loh).

Dari jalan protokol Roma pun hanya satu blok. Namun, tidak ada plang nama hostelnya. Jadi, mencari hostel ini benar-benar berdasarkan nama bangunan dan nomornya.

Saat itu, pesawat Ryan Air yang membawa saya dari Atena, Yunani, mendarat di Bandara Roma sudah sore.

Jarak dari bandara ke central station Roma naik bus sekitar sekitar 1,5 jam dengan tarif sekitar 10 Euro. Saya pun sampai central station sudah Magrib.

Hanya menggunakan ancang-ancang lokasi yang tertera di website, saya menelusuri Kota Roma seorang diri. Sesekali saya bertanya kepada petugas keamanan yang ada di pinggir jalan untuk memastikan saya tidak tersesat.

Setelah sekitar 20 menit berjalan (saya jalannya santai saja), akhirnya saya menemukan alamat yang dimaksud. Karena sudah malam dan penerangan lampu Kota Roma tidak begitu bagus, saya memutuskan untuk tidak jalan-jalan malam itu.

Begitu sampai di depan pintu alamat Mona Lisa Hostel, saya mendapati pintu tertutup rapat. Pintunya dari kayu dan berukuran tinggi. Saya jadi terbayang film-film mafia Italia.

Di pintu tersebut ada tulisan bahasa Italia dan Inggris “open”. Saya langsung membuka pintunya. Ternyata di dalam remang-remang sekali dan tidak ada seorangpun.

Pintu masuk bangunan Via Palermo 13 difoto dari dalam. Foto saya ambil saat siang hari. Foto by menixnews.com

Saya sempat merinding karena lantai dasar ini sepertinya kosong. Baunya pun apek.

Hanya ada satu lampu kecil di dekat lift. Di samping pintu lift tertera tulisan “Mona Lisa Hostel 2nd Floor”.

Saya sempat melihat bentuk lift yang sudah tua. Besi dan kabel-kabelnya terpampang karena lift ini tidak berada di bagian dalam dinding, melainkan di tengah bangunan.

Tangga menuju lift di bangunan Via Palermo 13 difoto dari dalam. Foto diambil saat siang hari. Foto by menixnews.com

Tanpa banyak berfikir, saya langsung masuk lift. Ternyata lift ini memang sudah tua. Ini terlihat dari lamanya proses membuka dan menutup pintu lift, tombol-tombol yang sudah jadul, dan lift yang berjalan pelan plus suaranya yang berderit.

Walaupun letak hostelnya hanya berada di lantai dua, kok saya merasa liftnya lama sampainya….

Alhamdulillah, akhirnya angka dua di deretan tombol lift menyala yang menandakan sudah sampai di lantai yang dituju. Saya pun cepat-cepat membuka pintu lift.

Saat di dalam lift, saya sempat berharap ada keramaian orang di lantai dua. Namun, begitu keluar lift, saya mendapati suasana yang sama dengan lantai dasar. Remang-remang dan tidak ada orang.

Di sisi kiri lift, terpampang tulisan “Mona Lisa Hostel” pada neon box yang berwarna hijau dan biru.

Ah lega, akhirnya sampai juga. Pintu hostel ini terkunci dan disana tertera phone door. Sehingga, setiap orang yang ingin masuk harus memencet tombol dan memperkenalkan diri serta menyampaikan maksud kedatangan, sehingga yang berada di dalam tahu kita tamu hostel yang akan check in.

Tak lama kemudian, pintu terbuka. Di dalam hostel ternyata cukup ramai. Setidaknya ada enam orang yang duduk-duduk di lobi, di depan meja resepsionis.

Kamar Sendiri dan Makan Malam

Seorang pria menyambut kedatangan saya dengan ramah. Dia memperkenalkan diri dengan menyebut nama Mustofa asal Pakistan.

Dia pun bertanya kepada saya apakah saya seorang Muslim? Pertanyaan ini kemungkinan berhubungan dengan jilbab yang saya kenakan.

Saat saya menjawab iya, dia tampak bersemangat dan langsung menyatakan dia pun seorang Muslim.

Dia menjadi sangat ramah dan banyak bertanya tentang penerbangan serta bagaimana saya mendapatkan hostel tersebut.

Di hostel ini saya memesan kamar female dorm yang artinya satu kamar dengan beberapa tempat tidur khusus perempuan.

Female Dorm Mona Lisa Hostel, Roma, Italia. Foto is taken from hostelsclub

Setelah beberapa menit bercerita, Mustofa menunjukkan tempat tidur saya. Dia punawarkan makan malam yang dimasaknya sendiri.

“Hari ini saya masak pasta khas Italia untuk semua tamu. Kamu jangan khawatir, saya masak makanan halal karena saya juga Muslim,”katanya.

Mendengar tawaran itu, perut saya langsung kriuk-kriuk lapar karena memang sudah waktunya makan malam.

Tapi saya tidak langsung ke dapur untuk makan, melainkan ingin berbaring sejenak meluruskan kaki dan pinggang yang sangat pegal.

Tak lama kemudian, eh si Mustofa mengetuk pintu memanggil saya. Dengan agak malas, saya pun berjalan ke pintu menemuinya. Ternyata dia membawa kabar dan kebaikan yang luar biasa.

“Murni, kamu saya pindahkan ke kamar yang private ya. Saya tahu kamu memakai hijab dan perlu tempat yang bersih untuk sholat. Kamar private ini kosong saat ini, jadi kamu bisa tinggal di sana. Tapi nanti kalau ada tamu yang pesan, kamu terpaksa pindah lagi ke kamar ini ya. Di sana ada kamar mandiri sendiri,” jelas Mustofa.

Wah rasanya hampir tidak percaya. Padahal di kamar ini saya juga barusan memikirkan bagaimana cara sholat karena lantainya selalu dipajak-pijak orang dan tempat tidur yang disediakan adalah bertingkat dua.

Tanpa pikir panjang, saya langsung menerima tawaran Mustofa untuk pindah kamar dan tanpa penambahan biaya. Padahal kamar private ini harganya dua kali lipat dari female dorm atau sekitar 25 Euro semalam.

Ternyata kamar privatenya seperti loteng yang terbagi dua. Di bagian bawah ada dua tempat tidur, dan di bagian atas ada satu tempat tidur sendiri.

Ada tangga terpisah untuk menuju tempat tidur atas. Dan saya diberikan tempat di atas. Layaknya loteng, selain tempat tidur, di lantai tersebut tersedia sedikit ruang untuk saya sholat dan kondisinya bersih. Kamar mandi berada di bawah atau di sebelah dua tempat tirur.

Setelah mandi dan sholat, saya ke dapur untuk bergabung dengan tamu-tamu lainnya menikmati makan malam.

Ya, di sana tersedia pasta khas Italia tapi versi yang sangat sederhana.  Pasta hanya dimasak dengan saus bolognaise tanpa potongan daging, melainkan hanya saus tomat dan daun mint.

Ah, tidak apalah karena ini makan malam paling nikmat di hari pertama kedatangan saya ke Roma.

Mustofa ternyata benar-benar pria baik dan ramah. Dia bercerita sudah memiliki istri dan anak yang hidup di Pakistan. Dia merantau ke Roma ikut temannya dan dipercaya untuk mengelola hostel tersebut.

Dari dialah saya tahu bahwa di bangunan Via Palermo 13 ini memang kosong (ketika itu). Yang ada hanyalah Mona Lisa Hostel. Makanya di luar sangat sepi karena tidak berpenghuni.

Salah satu lorong di bangunan Via Palermo 13 difoto dari dalam. Foto by menixnews.com

Walau begitu dia meyakinkan saya bahwa semuanya normal di sini. Tidak perlu khawatir, semuanya aman.

Selama hampir sepekan menginap di sini, perasaan merinding selalu menerpa ketika saya keluar dari pintu hostel dan berjalan di lorong sampai ke dalam lift.

Meskipun begitu, di balik bangunan yang terkesan angker itu, ada sosok Mustofa yang sangat helpful. Setiap hari dia menyiapkan makan malam untuk kami dengan menu pasta dan spageti.

Rasanya memang standard dan kadang bosan juga, tapi lumayan mengirit pengeluaran. Di hostel ini saya juga bertemu orang-orang baik dan asyik dari beberapa negara.

Bersama para traveler ngobrol usai makan malam di Mona Lisa Hostel. Foto by menixnews.com

Sampai sekarang, saya tetap berteman baik dengan mereka termasuk Mustofa. Kami selalu bertukar kabar dan komunikasi via FB.

Semoga sharing ini bermanfaat ya. Tetap semangat menjelajah dunia. (sri murni)