Pertimbangan Memilih Asuransi Sesuai Tujuan dan Kebutuhan

PERLUKAH kita punya asuransi? Pertanyaan ini kerap membuat saya galau ketika saya hendak membeli polis asuransi 10 tahun lalu, tepatnya pertengahan 2007.

Sejumlah agen asuransi selalu menelepon saya baik yang mengatasnamakan berafiliasi dengan bank pemerintah maupun perusahaan murni asuransi.

Tidak hanya melalui telepon, beberapa kenalan juga gencar menawarkan beragam produk asuransi kepada saya, mulai dari yang lokal seperti Takaful sampai yang berlabel internasional seperti Prudential.

Setelah berfikir panjang, akhirnya pada Oktober 2007, saya memutuskan untuk membeli dua asuransi sekaligus yakni Takaful dan Prudential. Pertimbangan utama saya ketika itu adalah karena kedua asuransi itu ditawarkan oleh dua teman baik saya. Supaya adil, saya ambil kedua-duanya karena keduanya sangat membutuhkan nasabah untuk pencapaian target. Namun jenisnya asuransi yang saya ambil dari keduanya berbeda.

Asuransi Takaful

Saya membeli polis asuransi Takaful untuk jiwa dan kesehatan dengan premi setahun sekitar Rp 750 ribu dengan nilai pertanggungan jiwa mencapai Rp 100 juta ditambah biaya rawat inap sekitar Rp 200 ribu per malam.

Ini adalah murni asuransi jiwa dan kesehatan tanpa ada embel-embel investasi. Saat itu saya hanya membeli premi untuk satu tahun.

Selain pertimbangan pertemanan, saya berpikir memang perlu asuransi untuk kesehatan. Apalagi di tahun 2007 itu, saya masih single dan hidup sendiri di Batam. Saat itu pun tentu saja belum ada BPJS Kesehatan yang bagus seperti sekarang.

Perusahaan tempat saya bekerja juga tidak menyedialan asuransi kesehatan. Andaikan karyawan sakit, sistemnya adalah rembes alias bayar sendiri dahulu nanti baru diklaim ke perusahaan.

Nah, saya berfikir antisipatif, dengan membeli premi asuransi kesehatan, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, selain rembes dari perusahaan, juga bisa dapat pertanggungan dari asuransi. Jadi biaya perobatan bisa lebih ringan.

Setahun berlalu, Alhamdulillah kesehatan saya baik-baik saja dan tidak ada mengalami kecelakaan. Saya pun tidak pernah mengklaim asuransi Takaful. Alhasil, uang premi yang sudah saya setorkan hangus begitu saja tanpa ada pemgembalian apapun.

Ya itu adalah keuntungan bagi penyedia asuransi dan resiko bagi saya sebagai nasabah. Saya bersyukur karena saya sehat-sehat saja meskipun harus kehilangan uang premi setahun Rp 750 ribu.

Setelah habis masa kontrak premi, saya tidak melanjutkan lagi karena tahun 2008, perusahaan saya sudah menyediakan asuransi kesehatan yakni In health.

Layanan In health ini sangat bagus karena kartunya “sakti” bisa dipakai di klinik dan rumah sakit mana saja selama ada kerjasama dan tidak bayar apapun. Cukup menunjukkan kartu, kita mendapat layanan kesehatan.

Asuransi Prudential

Di tahun 2007, hampir bersamaan dengan saat saya membeli premi Takaful, saya juga membeli premi asuransi Prudential.

Ketika itu, saya tertarik dengan program Pru Link yakni perpaduan antara asuranji jiwa, kesehatan, dan investasi. Nah, saya berpikir, rasanya memang perlu mulai investasi sekaligus mendapatkan manfaat kesehatan dan jiwa.

Yang paling menggiurkan dari Pru Link adalah, setelah kontrak premi selesai, maka saya akan mendapatkan pengembalian dana yang sudah saya setor ditambah sekian persen keuntungan.

“It is not bad”, pikir saya ketika itu. Saya pun membeli premi 10 tahun dengan iuran bulanan sebesar Rp 350 ribu.

Adapun manfaat yang saya dapatkan adalah untuk kesehatan (rawat inap) Rp 250 ribu semalam dan untuk pertanggungan jiwa sampai dengan Rp 120 juta.

Saat itu saya juga berpikir jauh ke depan. Meskipun ketika itu saya belum menikah dan usia saya masih 27 tahun, maka premi akan selesai di usia 37 tahun. Di usia ini, saya sudah akan punya anak dan hasil investasi bisa digunakan untuk keperluan sekolah anak-anak saya.

Ternyata apa yang saya rancang 10 tahun lalu, Alhamdulillah berjalan seperti perkiraan. Pada Oktober 2017 ini, premi asuransi saya akan habis kontrak.

Jikadihitung-hitung dari estimasi investasi yang pernah diberikan agen Prudential (yang juga teman saya), jika kontrak habis maka saya bisa mendapatkan pengembalian dana sekitar Rp 50 juta.

Wah, Alhamdulillah jika memang demikian. Sebab, selain bisa untuk biaya sekolah dua anak saya, saya juga bisa menggunakannya untuk daftar ibadah haji, sebuah mimpi mayoritas kaum Muslim.

Selama 10 tahun berasuransi Prudential, Alhamdulillah kondisi kesehatan saya juga baik-baik saja sehingga saya tidak pernah mengajukan klaim.

Andaikan sakit pun, saya lebih memilih menggunakan asuransi dari kantor saya atau dari kantor suami. Apalagi dua tahun terakhir, semua pekerja diwajibkan pakai BPJS Kesehatan, maka saya pun lebih sering menggunakan asuransi plat merah tersebut untuk berobat jika mengalami gangguan kesehatan.

Lagipula, untuk klaim kesehatan Prudential baru bisa dilakukan jika nasabah rawat inap minimal dua malam. Alhamdulillah karena saya tidak pernah rawat inap, ya tidak pernah klaim apapun ke Prudential.

Bagi saya, premi asuransi di Prudential lebih pada tujuan investasi atau menabung secara disiplin untuk keperluan jangka panjang.

Sedangkan untuk urusan kesehatan, saya merasa nyaman dengan adanya BPJS Kesehatan saat ini karena hampir semua lini kesehatan tubuh ditanggung, mulai dari gigi, mata, kehamilan, melahirkan dan lainnya.

Padahal sangat jarang asuransi kesehatan lainnya yang menangung perawatan dan pengobatan gigi dan mata.

Terakhir, premi asuransi apapun yang saya beli, saya lebih memilih tetap hidup sehat tanpa ingin mendapatkan uang dari asuransi tersebut. Namun, seandainya kejadian buruk menimpah, saya juga tidak ingin menyusahkan keluarga karena itu saya membeli premi asuransi sebagai langkah antisipatif. (Sri Murni)

NB: Mas Ahmadi Sultak, pemilik blogger jokka2traveller pasti punya pengalaman menarik soal asuransi untuk traveling ke luar negeri.