#Rentak Selangor-5 : Menggali Makna Tarian Bugis di Tanah Selangor

SETELAH bertandang ke perkampungan orang Jawa dan Homestay Banghuris serta bermain musik tradisional modern Cempuling Cendana Klasik di Sungai Pelek, perjalanan Famtrip Rentak Selangor, Malaysia, di hari kedua, Jumat (2/12/2016), menyempatkan diri melihat seni budaya lainnya yakni milik Warga Bugis di Selangor.

Kami pun menyinggahi Perkampungan Budaya Taman Pertanian yang terletak di dalam Kawasan Taman Botani Negara Syah Alam, Selangor.

Taman Botani Negara Syah Alam, Selangor, Malaysia.

Taman Botani Negara Syah Alam, Selangor, Malaysia.

Perkampungan Budaya ini merupakan komplek yang terdiri dari beberapa bangunan tradisional berbentuk panggung.

Komplek ini menjadi salah satu pusat pertunjukan seni budaya Bugis seperti tari-tarian.

Begitu memasuki komplek ini, nuansa tradisional memang terasa. Rumah panggung tampak kokoh berdiri dan dibangun dari kayu. Warnanya didominasi hitam.

Perkampungan Budaya Bugis.

Perkampungan Budaya Bugis.

Di dalam salah satu bangunan komplek ini, sudah menunggu sejumlah penari cilik dan remaja yang siap menampilkan tari-tari tradisional Bugis.

Para penari Kumpulan Kesenian Citra Ugik.

Para penari Kumpulan Kesenian Citra Ugik.

Kami pun diarahkan langsung ke auditorium atau hall untuk menyaksikan pertunjukan seni tari Bugis yang dipentaskan Kumpulan Kesenian Citra Ugik.

Sebelum tari dipersembahkan, Pakar Budaya Bugis Prof Dr Haji Mohd Lahir bin Haji Maharam (63) menerangkan tentang sejarah Budaya Bugis di Selangor.

Sebagai nara sumber, Profesor Lahir juga didampingi Prof Mohamad Romazi bin Nordin selaku Pegawai Tugas-Tugas Khas Persatuan Melayu Bugis Selangor.

Profesor Lahir juga didampingi Prof Mohamad Romazi bin Nordin selaku Pegawai Tugas-Tugas Khas Persatuan Melayu Bugis Selangor.

Profesor Lahir (kanan) didampingi Prof Mohamad Romazi bin Nordin selaku Pegawai Tugas-Tugas Khas Persatuan Melayu Bugis Selangor.

Menghidupkan Budaya Bugis di Selangor

Keberadaan warga Bugis di Selangor sudah ada sejak pertama Kesultanan Selangor terbentuk pada abad ke-18, dimana Sultan Pertama Selangor merupakan keturunan Bugis yang bernama Raja Lumu Ibni Daeng Chelak.

Namun, menurut Prof Lahir, kebudayaan Bugis pernah tenggelam karena tergerus zaman dan pengaruh budaya Jawa yang lebih kental setelah banyaknya orang Jawa masuk Selangor dibawa kolonial Inggris.

Pada 1985, Prof Lahir bersama sejumlah pegiat budaya Bugis mendirikan Persatuan Malayu Bugis Selangor sebagai bentuk upaya melestarikan budaya dan sejarah.

Dia bercerita, dirinya menggali budaya Bugis dengan belajar langsung di Tanah Bugis, Makassar, Sulawesi Selatan.

Bahkan, untuk mewujudkan impiannya sebagai budayawan Bugis tulen, dia rela mengikuti pantangan yang diharuskan para tetua agar cita-citanya berjalan dengan lancar.

Apakah pantangan tersebut?

“Selama 100 hari tak boleh makan nasi dan 100 hari tak boleh tidur pakai bantal dan selimut. Kalau dilanggar maka bisa gila,”kata Prof.

Setelah membentuk Persatuan Melayu Bugis Selangor, pada tahun 2000, perkumpulan ini lebih agresif membumikan tradisi Bugis, termasuk membuat kamus Bugis-Melayu-English.

Tari Pooja

Di hadapan rombongan Rentak Selangor, Kumpulan Kesenian Citra Ugik, mempersembahkan empat macam tari tradisional yakni Pooja, Madupa Bosara, Zapin, dan Pattennung.

Tarian Pooja merupakan tarian yang ada sejak sangat lama, sebelum Islam dikenal di Tanah Bugis, Makassar. Bahkan tarian ini hampir punah, menurut Prof Lahir.

Tari Pooja

Tari Pooja

Dahulunya, tarian ini merupakan tarian persembahan dan pemujaan dewa-dewi, sebelum hadirnya Islam. Namun, setelah Islam berkembang di Tanah Bugis, Tarian Pooja menjadi tarian untuk memuja Sultan Bugis.

Tarian ini diiringi alunan musik berjudul “Hati Raja” atau Tere-Tere yang berarti memuji pada Sultan.

Dahulunya, Pooja hanya dipersembahkan kepada Sultan di istana mulai dari Sultan duduk di singgasana sampai dia beranjak.

Saat menaripun, ada gerakan penaburan bunga sebagai persembahan kepada Sultan.

Tapi sekarang, tarian ini sudah lumrah dipertontonkan, terutama sebagai tari penyambutan tamu ataupun pembukaan acara.

Untuk merikan Pooja, diperlukan jumlah penari yang ganjil mulai 5,7,9 dan seterusnya. Biasanya yang menari adalah remaja usia 8 tahun ke atas.

Mengapa jumlahnya harus ganjil?

Pakar Budaya Bugis Prof Dr Haji Mohd Lahir bin Haji Maharam menerangkan makna gerak Tari Pooja.

Pakar Budaya Bugis Prof Dr Haji Mohd Lahir bin Haji Maharam menerangkan makna gerak Tari Pooja.

“Karena itu turut pada Syariat Islam,”kata Prof Lahir.

Para penari mengenakan baju toko lengkap dengan aksesorisnya. Warnanya bisa bebas dan biasanya dipakai warna ungu karena identik dengan warna kebangsawanan Bugis.

Untuk aksesoris, dikenakan kalung dengan sembilan bulatan yang menggambarkan sembilan lubang pada tubuh manusia yang harus dijaga.

Tari Maduppa Bosara

Tarian kedua yang dipersembahkan adalah Maduppa Bosara.

Ternyata tarian ini dimaksudkan untuk menghidangkan jamuan manisan kepada para tamu.

Kata Maduppa berarti tempat kue dan Bosara adalah penutupnya.

Tari Maduppa Bosara

Tari Maduppa Bosara

Dalam tempat kue tertutup tersebut berisi kue-kue manis yang siap disuguhkan kepada tetamu.

Gerakan-gerakan tarinya pun bermakna mencari bahan kue, mengadon, sampai mengikat bosara.

Sambil menari, para penari membawa Maduppa Bosara yang memang sudah berisi kue-kue manis.

Untuk busana, mereka mengenakan pakaian adat Bela Dada yang melambangkan hati manusia.

Tari Zapin

Tarian Zapin yang ditampilkan adalah Zapin Zapana.

Tarian ini diambil dari gerak silat Cemara Bugis yang diolah jadi tarian tradisional.

Secara keseluruhan, menurut Prof Lahir, ada 13 ragam tari Zapin yang diambil dari gerak Silat Cemara, namun yang ditampilkan hanyalah gerakan ke-5 dan 8 sampai 13.

Tari Zapin Zapana

Tari Zapin Zapana

Menurut Prof Mohamad Romazi, cemara dalam pilosofi hidup orang Bugis merupakan dasar. Maknanya, meskipun pohon cemara itu banyak cabang dan ranting, namun pokoknya cuma satu.

“Cemare adalah jati diri dan kesatuan orang Bugis. Rimbunnya pohon cemare dimaknakan sebagai perkembangan Bugis tapi akhirnya puncaknya tetap satu tetap kembali ke Tuhan,”kata Prof Romazi.

Tari Pattennung

Tarian Pattennung atau bertenun menggambarkan aktivitas harian wanita Bugis yakni bertenun atau membuat kain untuk baju.

Kain yang ditenun menggunakan berbagai serat seperti nenas, pisang, dan anggrek riau.

Sejarahnya, tarian ini berkembang di Selangor ketika para pedagang dari Tanah Bugis menyandarkan kapal mereka di Pelabuhan Klang. Mereka pun membawa kain-kain Bugis sebagai persembahan atau hadiah untuk Sultan.

Untuk menyerahkan hadiah tersebut, diciptakanlah tarian Pattennung.

Tarian ini juga menggambarkan kesabaran wanita-wanita Bugis.

Untuk menarikan Pattennung, para penari mengenakan baju tradisional Bugis yang disebut Baju Bodo yang dibuat dari serat nenas.

Mengapa dikatakan baju bodo?

“Karena baju ini tidak ada model. Hanya potong kanan dan kiri lalu dijahit sederhana tanpa ada model,”kata Prof Lahir sambil tertawa.

Setelah menyaksikan empat tarian tradisional Bugis, acara di Rumah Adat ini diakhiri dengan santap siang bersama dengan lesehan beralas kain batik. (***)