Jadi Korban Tabrak Lari Itu, SAKIT!

Ilustrasi tabrak lari. Foto is taken from Berita Bojonegoro

SELAMA ini, rasa geram selalu menerpa saya ketika mendengar orang-orang menjadi korban tabrak lari. Ditabrak saja sudah sangat sakit, apalagi tabrak lari!

Lah, pada Minggu (15/10/2017) saya sendiri justru menjadi korban tabrak lari.

Ceritanya, selepas sholat Magrib di rumah, saya mengendarai motor bebek menuju kantor seperti biasa. Laju motor saya standar yakni sekitar 50 km per jam.

Sampai di Simpang Empat Bengkong Harapan, Batam, saya menurunkan kecepatan hanya di angka 10.

Di simpang ini, pengendara memang kudu jalan pelan dan super hati-hati.

Sebab, di sana tidak ada lampu merah jadi semua pengendara harus bisa membawa kendaraan dengan pertimbangan yang cermat.

Di saat saya sudah sangat pelan dan berada di tengah jalan, ternyata dari sisi kanan ada seorang pengendara motor yang melaju kencang.

Tiba-tiba dia menabrak bagian depan motor saya, dan saya pun kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke sisi kiri Saya tertimpah motor saya sendiri. Hiks….

Sementara pengendara motor yang menabrak sempat oleng tapi tidak sampai terjatuh.

Dia pun langsung tancap gas. Pria itu masih mudah, bisa dikatakan remaja dengan rambut gaya anak punk. Potongan rambutnya berjambul dan disemir warna kuning.

Melihat dia lari, saya berteriak,”Eh kurang ajar, jangan lari!”. Dia hanya melengos melihat saya kesakitan tertimpa motor.

Tidak jauh dari lokasi, saya sempat melihat pengendara motor, sepertinya suami-istri, yang datang dari lawan arah berusaha menghalau laju motor si penabrak.

Saya juga lihat wanita yang dibonceng pria tadi berusaha menarik kerah baju penabrak, tetapi tidak kena karena si penabrak melaju sangat kencang.

Beberapa pengendara yang lewat saat kejadian juga sempat mengejar penabrak, tapi juga tidak ketemu.

“Orangnya sudah lari Mbak,”kata seorang pria yang menolong saya.

“Duh kurang ajarnya itu orang…..,”kata saya.

Saat saya tertimpa motor, memang saya sempat kesulitan berdiri beberapa menit. Baru setelah seorang warga menolong mengangkat motor, saya pun bisa pelan-pelan berjalan ke pinggir.

Ketika itu, rasa sakitnya hanya perih-perih di kaki, paha, dan tangan karena tergores aspal. Ditambah pegal di betis dan pergelangan mata kaki sebelah kiri.

Karena merasa tidak terlalu sakit dan kondisi motor pun baik-baik saja, saya pun memutuskan untuk melanjutkan perjanan ke kantor dan kerja seperti biasa.

Saat kejadian, sempat kepikiran ingin minta izin gak kerja. Tapi kok rasanya kurang sreg, karena hari Minggu ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi hampir semua karyawan di kantor.

Tenaga sudah terkuras karena ada acara outdoor festival dan konser Netral. Seharian karyawan telah bekerja keras menyukseskan even tersebut, termasuk awak redaksi.

Ditambah lagi, setiap hari Minggu, beberapa rekan editor juga libur. Jadi kalau saya izin tidak masuk, maka akan semakin banyaklah pekerjaan teman-teman editor yang bekerja di hari ini.

Well, sampai pertengahan kerja, semuanya baik-baik saja. Namun, sekitar pukul sembilan malam, rasa nyeri di betis mulai sangat terasa. Ternyata betis saya bengkak dan kemungkinan terkilir pada pergelangan mata kaki.

Semoga tidak menjadi parah karena baru besok bisa ke tempat urut.

Ah, rasa kesal memang masih melanda tapi kudu ikhlas atas kecelakaan ini. (sri murni)