Serba-Serbi Tinggal Seatap dengan Bule-Bule di Australia

Bersama teman-teman sekelas saat makan siang usai final exam, Juni 2012.

TULISAN ini menceritakan pengalaman saya ketika tinggal di Canberra atau The Australian Capital Territory (ACT), ibukota Australia, selama kurang lebih 1,5 tahun. Saat itu, saya masih menjadi mahasiswa The Australian National University (ANU) pada awal 2011-2012 akhir.

Selama menimbah ilmu di sana, saya pernah lima kali pindah tempat tinggal, dua kali serumah dengan pelajar asal Indonesia, dan tiga kali sewa kamar alias ngekos atau share house dengan bule. Saat tinggal seatap dengan bule memang memberikan pengalaman lebih seru karena ada perbedaan budaya yang membuat culture shock.

Dua pekan pertama saat sampai di Canberra, saya tinggal di rumah sewaan bersama seorang teman asal Kalimantan yang merupakan satu angkatan penerima beasiswa Indonesian of International Education Foundation (IIEF) angkatan atau Cohort 8.

Rumah tersebut terletak di Griffith dan merupakan rumah deret dalam satu komplek kecil. Rumahnya berisi satu kamar tidur lengkap dengan kamar mandi, satu ruang tamu merangkap ruang keluarga, dan satu dapur. Di sini saya tinggal memang untuk sementara sampai saya mendapatkan tempat tinggal yang “permanen”.

Dari awal study, saya memang berkeinginan untuk tinggal di luar kampus alias tidak di asrama mahasiswa. Tujuannya, agar bisa lebih berbaur dengan warga tempatan sehingga bisa mendapatkan lebih banyak pengalaman dan mempelajari pola kehidupan masyarakat Australia.

Dekat Gunung dan Kangguru

Tempat tinggal saya yang kedua adalah sebuah penginapan dengan nama Carotel Motel. Letaknya di di daerah Watson dan sangat dekat dengan Majura Mountain (Gunung Majura). Jaraknya memang cukup jauh dari kampus ANU.

Naik bus sekitar 30 menit. Penginapan ini bentuknya seperti cottage berukuran besar. Satu cottage terdiri dari 6 kamar, satu dapur besar, serta satu ruang tamu besar merangkap ruang makan, dan ruang nonton TV.

Penginapan ini sengaja disewa oleh pihak kampus untuk mahasiswa internasional (di luar warga Australia) yang tidak mendapatkan kamar di asrama mahasiswa. Bisa dikatakan, kami menyewa tidak langsung dengan manajemen Carotel, melainkan dengan pihak kampus.

Cottage ini memang penginapan layaknya hotel. Mayoritas tamunya adalah para pelajar luar Canberra yang sedang mengadakan summer camp dan winter activities di ibu kota.

Ada dua cottage yang disewa kampus untuk mahasiswa pria dan wanita. Di cottage wanita, isinya beragam. Ada dari Indonesia (saya seorang), dari Cina (3 orang), Norwegia (seorang), dan Finlandia (seorang).

Karena yang tinggal satu bangunan adalah cewek-cewek semua, tidak banyak drama di sini. Semuanya berjalan dengan baik dan semuanya taat aturan. Terutama soal penggunaan alat masak yang wajib dibersihkan setelah dicuci.

Fasilitas dapur, ruang makan, dan ruang tamu di Carotel Motel, Canberra.

Tinggal di sini sangat nyaman. Semua fasilitas layaknya sebuah penginapan. Semua alat dapur dan alat makan disediakan, pendingin dan pemanas ruangan tersedia di setiap kamar, kamar, linen, dan bed cover dibersihkan oleh pihak hotel, fasilitas mesin cuci dan pengering lengkap (harus pakai koin saat menggunakannya), serta alam yang menyenangkan karena dekat dengan Majura Mountain.

Saat butuh refreshing, saya dan teman-teman hanya perlu tracking ke gunung sambil melihat banyak Kangguru yang hidup secara liar. Bahkan, saat malam pun, Kangguru liar bisa muncul di depan jendela kamar mencari rumput. Carotel Hotel ini memang memiliki halaman yang super luas yang hamparan rumput yang hijau di setiap arealnya, sehingga Kangguru pun senang merumput ke sini.

Kangguru liar di Majura Mountain. Foto taken from majura.com

Saya tinggal di sini sekitar lima bulan, Maret-Agustus 2011. Setelah itu saya hijrah satu semester ke Oslo, Norwegia. Pada awal 2012, saya kembali lagi ke Canberra untuk melanjutkan kuliah dua semester. Bulan-bulan pertama, saya menyewa kamar di rumah yang disewa seorang teman asal Indonesia share house yang juga di daerah Watson.

Paling Banyak Drama di Sini!

Setelah itu, saya pindah lagi menyewa kamar atau share house milik warga Canberra yang terletak di daerah Lyneham . Rumah ini cukup besar, dua lantai dengan lima kamar tidur (satu di bawah dan empat di atas). Rumah itu disewa oleh dua sijolo warga Australia yang sudah bekerja. Pasangan muda ini tinggal sekamar tanpa ada ikatan pernikahan. Ya… hal begini lumrah di Australia.

Fasilitas di rumah sangat lengkap, di antaranya : ruang tamu, ruang keluarga merangkap ruang makan, dapur yang besar, kamar mandi lengkap dengan Jacuzzi, perkarangan luas mulai dari depan, samping, sampai belakang, serta teras yang nyaman pula. Tetangga yang mayoritas warga tempatan juga ramah-ramah.

Karena kamarnya banyak, kemudian oleh duo sejoli itu, empat kamar yang tidak terpakai disewakan lagi kepada orang lain. Alhasil, terkumpullah penyewa kamarnya: sepasang suami-istri warga India,  satu mahasiswi Cina, satu mahasiswi dari Sydney, dan satu lagi saya.

Saya mendapatkan kamar lantai dua di bagian belakang. Ukurannya cukup luas sekitar 4×4 meter  dengan dendalanya besar dan pemandangan di kamar yang berhadapan dengan taman yang hijau serta fasilitas umum play ground Lyneham. Fasilitas kamar lebih dari lumayan. Ada spring bed ukuran queen, meja belajar, dan lemari pakaian yang sangat besar.  Enaknya lagi, tersedia linen dan bedcover serta handuk dalam jumlah banyak yang bisa dipakai para penghuninya.

Harga sewa kamar dengan segala fasilitasnya memang sangat murah dibandingkan dengan tempat lain yakni hanya 145 AUD atau Rp 1,45 juta (kurs Rp 10.000) per minggu sudah termasuk air, listrik, dan internet yang super kencang tanpa batas kuota.

Karena tinggal beramai-ramai dalam satu atap dengan latar belakang negara, budaya, dan kebiasaan yang berbeda-beda, tentu saja banyak benturan di sana-sini. Saya akan menguraikannya satu per satu secara singkat.

  1. Pergaulan

Ya, pola pergaulan antara Indonesia dengan orang Australia, memang berbeda, terutama soal tinggal sekamar layaknya suami-istri tanpa ikatan pernikahan. Dua sijoli ini cukup ramah dan baik kepada semua penghuni. Cuma yang agak membuat saya tidak nyaman adalah tingkah laku mesra-mesraan mereka. Terkadang, saat saya ingin refreshing dengan menonton TV di ruang keluarga, eh ternyata ada mereka berdua sedang dalam selimut di atas sofa. Ehm… terpaksalah gagal niatan menonton TV. Ditambah lagi, sering kali saat hendak mandi pagi, eh si cowok keluar dari kamar mandi hanya pakai underpants. Busana underpants juga rajin digunakannya ketika berada di dapur. Hehehe… perut lapar, mau masak, tapi gak jadi karena gak enak lihat pemandangan underpants berseliweran di tempat yang sama. Sebenarnya duo sijoli ini punya kamar mandi sendiri di kamar mereka di bawah, tapi ntah mengapa saya saring mendapati si cowok di kamar mandi lantai atas.

  1. Kebersihan

Ini hal kedua yang membuat sakit kepala. Untuk menjaga kebersihan dan keteraturan di rumah, sebenarnya kami semua sudah sepakat membuat jadwal piket mingguan yang saling berganti tugas. Kadang saya dapat jatah membersihkan kamar mandi, kadang dapur, kadang membuang sampah organik dan non-organik, kadang cuci piring, dan kadang membersihkan rumah. Sayangnya, ntah mengapa rumah itu jarang sekali bersih. Piring kerap tidak tercuci, lantai rumah kotor, bahkan yang namanya meja makan itu sangat berserak. Di atasnya tidak hanya ada piring dan gelas kotor, tetapi juga buku, kertas, tas, bahkan sepatu pun pernah ada di atas meja makan. Kalau untuk yang satu ini, saya sangat menghindari makan di atas meja makan karena bikin tidak selera. Kalau saya perhatikan sih, barang-barang yang tertinggal di meja itu kebanyakan milik pasangan suami-istri orang India.

Awal-awal tinggal di sana, mata saya memang sakit karena pemandangan itu. Saya berusaha membersihkan areal dapur dan ruang makan meskipun bukan jatah saya agar enak dipandang mata sehingga saya betah duduk-duduk sambil baca dan ngemil di situ. Tapi lama-kelamaan kok gak tahan juga ya, dan saya merasa seperti babu (Hehehe). Akhirnya saya cuek aja dan beralih ke kamar atau di teras belakang.

  1. Kamar Mandi

Areal kamar mandi, bagi saya, adalah satu tempat yang vital. Kalaupun tidak bersih sekali, ya jangan kotor sangatlah. Apalagi sempat terlihat ada bekas kotoran di toilet. Begitu hendak menggunakannya, saya jadi ilfil. Hal ini sempat saya dapati beberapa kali dan saya diskusikan dengan teman-teman serumah tentang hal itu. Ntah siap yang membuatnya, namun setelah diskusi, hal itu tetap saya jumpai. Akhirnya di dinding toilet saya bikin pengumuman “Clean Your Own Shit!” Saya tahu itu kasar, tapi saya tidak ada pilihan. Dan sejak itu sampai terakhir saya tinggal di sana, tidak ditemukan lagi kejadian serupa.

Tetap Betah sampai Akhir

Terlepas dari tiga hal negatif itu, secara keseluruhan mereka semuanya baik. Duo Sijoli Aussie, adalah orang yang enak diajak ngobrol dan bertukar pikiran, termasuk tentang penelitian dan hal-hal akademik. Orangnya juga sangat helpful.

Sepasang suami-istri orang India juga sangat ramah. Sang istri kerap memasak kare vegetarian dan mengundang seisi rumah untuk makan malam bersama. Keduanya memang bukan pemakan daging alias golongan vegan.

Mahasiswi Cina juga ramah dan tempat saya curhat. Minusnya, setiap weekend pacarnya datang dan menginap 2-3 hari di kamar. Terkadang “cekikikan” mereka agak mengganggu.

Sedangkan mahasiswi asal Sydney penuh dengan problematik pacaran sehingga dia terpaksa berhenti kuliah dan pindah lagi ke Sydney demi sang pacar. Anaknya girly, modis, seksi, dan sangat ramah.

Saya senang tinggal dengan mereka bahkan sampai akhir masa kuliah. Kami berpisah karena sekitar minggu ketiga Desember 2012, rumah tersebut tidak lagi disewakan karena yang empunya akan menempatinya sendiri.

Tinggal Bersama Seorang Gay

Karena share house di Lyneham sudah selesai, kami semua mencari tempat tinggal baru dan berpencar. Saya sendiri pindah sewa kamar dari seorang teman warga Canberra yang tinggal di Kaleen. Saya kenal dia sekitar setahun.

Dia adalah pria tua berumur sekitar 70-an tahun dan seorang gay. Di rumah ini dia tinggal sendiri karena memang tidak punya anak dan istri.  Dia sangat rajin membaca dan pengetahuannya sangat luas. Kami menjulukinya sebagai “Walking Library” atau perpustakaan berjalan. Dia juga penggemar musik klasik. Ruang tamunya penuh dengan buku dan piringan hitam koleksi musik klasik.

Dia juga sosok yang ramah, helpful, dan terbuka. Jujur menceritakan identitasnya sebagai gay dan sering kali berbagi cerita sampai masalah yang sangat privasi. Ehmmm… hehehe

Rumahnya memiliki beberapa kamar yang disewakan. Satu penyewanya adalah lelaki muda asal Iran yang mengaku Muslin tetapi paling hobi makan steak daging B2 dan mengundang pacarnya menginap setiap akhir pekan.

Di sini, semua fasilitas juga disediakan, termasuk linen, selimut, bedcover, dan handuk yang serba baru. Bahkan, ketika saya hendak mencuci linen dan handuk yang sudah kotor di hari terakhir saya tinggal di rumah ini, yang empunya rumah melarang dan mengatakan,”Mengapa kamu cuci Murni. Itu sudah kamu pakai dan akan saya buang. Saya akan ganti dengan yang baru semuanya. Saya tidak pernah mencuci bekas orang pakai.”

Selama tinggal di rumah ini, saya mendapatkan pelajaran berharga tentang penggunaan fry pan alias penggorengan yang berharga mahal. Alat dapur semua disediakan. Saya pun memasak dengan menggunakan fry pan yang ada. Tetapi masaknya ala Indonesia yakni goreng ikan dengan banyak minyak plus api yang lumayan besar. Alhasil, fry pan itu gosong. Hadeh… yang empunya agak marah dan meminta ganti.

Setelah mencari-cari produk merek serupa atau yang berkualitas sama, harganya paling murah 400 AUD alias sekitar Rp 4 juta (kurs Rp 10.000 ketika itu). Saya sempat menelan ludah. Waduh mahal sekali.

Akhirnya saya minta kepada yang empunya agar memaafkan saya karena saya akan pulang ke Indonesia. Dengan wajah memelas, dia pun tidak mempermasalahkan fry pan gosong karena masih bisa dipakai, hanya saja lapisannya menjadi tidak sebagus sebelumnya.

Harusnya memasak pakai fry pan itu apinya kecil dan tidak digunakan untuk menggoreng ikan dengan banyak minyak, melainkan untuk masak telur.

Bagi saya, kenyamanan tinggal yang utamanya adalah senengan hati. Jika hati senang maka segala minus-minus bisa diterima dengan lapang dada. Saya sadar, resiko tinggal satu atap dengan bule dan teman-teman yang berbeda negara dan budaya memang akan membuat sebuah benturan. Tetapi hal itulah yang membuat kita bisa belajar lebih tentang toleransi.

DUNIA INI INDAH KARENA PERBEDAAN, MARI KITA SALING MENGHARGAINYA!

Jangan lewatkan juga membaca cerita saya tentang mendapatkan beasiswa Se di sini!

Study Abroad, Why Not? Jangan Takut dengan Bahasa Inggris!