• Home »
  • »
  • Stop Pernikahan Dini: “Kebahagiaan Sesaat, Sengsara Sepanjang Masa”

Stop Pernikahan Dini: “Kebahagiaan Sesaat, Sengsara Sepanjang Masa”

Ilustrasi pernikahan

Ilustrasi pernikahan

 

“KAPAN nikah?”

“Kapan kawin?”

“ Sudah umur berapa, kok belum punya pendamping?”

Tiga kalimat tanya di atas menjadi pertanyaan paling lumrah yang kerap diutarakan orang tua, keluarga, teman, dan tetangga saat melihat dara dan lajang yang sudah berumur tapi belum juga berumah tangga.

Apalagi jika para bujangan itu tampak sudah selesai kuliah, sudah kerja, sudah punya rumah dan mobil, ya pokoknya sudah masuk kategori mapan.

“Tunggu apalagi? Semua sudah ada, menikahlah lagi,”pertanyaan berikutnya pun pasti mereka lontarkan. Jika kondisinya sudah mapan begitu, secara ekonomi dan usia, memang sebaiknya para single mencari pasangan halalnya. Sebab, jika tidak maka anggapan negatif dari orang lain bisa saja mendera.

“Mungkin dia suka sesama,”itu salah satu prasangka buruk yang bisa saja dialamatkan kepadanya. Ada sekian banyak alasan yang melatarbelakangi para single belum menikah padahal dia terlihat mapan di mata orang lain.

Menikah itu memang bukan hanya kesiapan materi atau finansial tetapi yang paling penting adalah mental dan emosi.

Bisa saja orang sudah kaya raya di usia muda, tapi ternyata secara psikologi, dia tidak punya kesiapan untuk mengarungi bahtera rumah tangga.

Sebaliknya, tidak sedikit yang belum punya kemapanan finansial tetapi punya keberanian untuk berumahtangga. Dalam tulisan ini saya memaparkan fenomena menikah muda yang sedang marak terjadi di lingkungan kampung halaman saya, Desa Brohol, Kelurahan Karya Jaya, Kecamatan

Rambutan, Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Cerita ini bisa dijadikan satu contoh ‘kehancuran’ generasi akibat tidak punya kesiapan finansial dan mental tapi berani menikah karena tidak bisa mengendalikan keinginan seksualnya.

Kampung saya,  kampung yang tidak begitu besar baik secara ukuran geografi maupun demografi. Letaknya juga tidak begitu jauh dari Pusat Kota Tebing Tinggi, hanya sekitar 15 menit naik motor atau mobil. Fasilitas umum  sudah modern, jalan beraspal, listrik terang benderang, siaran televisi lengkap, sinyal ponsel penuh, dan internet lancar, Dari catatan kantor kelurahan, jumlah pendudukannya sekitar 1000-an orang.

Pacaran, ‘Kecelakaan’, Menikah, Bertengkar, dan Cerai

Selama dua dekade terakhir, saya melihat sebuah fenomena perilaku sosial yang cukup miris.

Remaja-remaja usia sekolah, baik lelaki maupun perempuan, banyak yang putus sekolah karena terpaksa menikah di usia muda. Pernikahan yang terjadi tidak lain karena sang remaja putri sudah hamil duluan.

Rata-rata pernikahan itu terjadi antar remaja yang usianya sebaya. Rata-rata juga mereka pacaran sebelum menikah. Meskipun mempelai wanitanya sudah berbadan dua, pernikahan biasanya digelar cukup meriah dengan pesta yang mengundang ratusan bahkan ribuan orang plus hiburan berupa orgen tunggal atau yang popular di sana dengan sebutan “keyboard”.

Saking banyaknya pernikahan karena ‘kecelakaan’, warga di sana memandangnya sudah menjadi sesuatu yang wajar.

‘Wanita hamil sebelum menikah’ dianggap sesuatu yang biasa saja bukan lagi suatu hal yang memalukan.

Alhasil, saat orangtua mendapati anak perempuan mereka yang masih muda sudah hamil duluan, satu-satunya tindakan yang lazim dilakukan adalah menikahkannya dengan orang yang menghamilinya.

“Mau apalagi, sudah begitu jalan hidupnya,”itulah komentar paling sederhana yang paling sering saya dengar dari para orang tua yang mendapati anak mereka terpaksa menikah.

Lantas bagaimana rumah tangga di usia belia?

Secara umum bisa saya katakana “Bahagia Sesaat, Sengsara Sepanjang Masa”.

Mengapa saya katakana “Bahagia Sesaat”? Karena memang kebahagiaan kedua pasangan suami-istri muda itu hanya hitungan hari. Tepatnya beberapa hari setelah pernikahan.

Mayoritas para pasangan muda belum memiliki kesiapan finansial apapun, bahkan diantara mereka masih berstatus pelajar sebelum menikah.

Alhasil, pasca-menikah mereka harus tinggal di rumah orang tua Yang namanya tinggal di rumah orang tua pasca-menikah, konflik rumah tangga akan lebih terbuka.

Ditambah lagi jika mendapati mertua atau keluarga suami/istri yang suka ikut campur urusan rumah tangga si anak. Hasilnya adalah pertengkaran….pertengkaran….dan pertengkaran.

Selain pertengkaran, si suami muda diharuskan untuk bekerja guna menyukupi biaya hidup rumah tangganya. Masa mudahnya terpaksa dihabiskan untuk bekerja sebagai tukang rasol (pedagang keliling barang-barang elektronik, barang pecah beli, atau barang lainnya), pekerja bangunan, buruh balok (bekerja di pabrik kayu olahan), atau pedagang keliling makanan ringan.

Sejumlah pekerjaan yang saya sebutkan ini memang pekerjaan yang paling umum digeluti warga di sana. Sementara si istri belia, harus tinggal di rumah menanti kelahiran janin yang sedang di kandungnya.

Tantangan rumah tangga mereka tidak sampai di sana. Saat sang jabang bayi lahir (rata-rata proses persalinan berjalan sangat baik dan jarang ditemukan ibu maupun bayi meninggal karena persalinan), tentu saja kebutuhan rumah tangga akan semakin besar. Sampai sini, beban ayah muda semakin berat untuk mencari nafkah.

Tidak jarang, meski sudah bekerja maksimal tapi penghasilan sangat pas-pasan. Buruh bangunan, misalnya satu pekan penghasilannya sekitar Rp 500 ribu. Itu juga jika proyek yang dikerjakan berlajan lancar.

Uang sebesar itu biasanya separuhnya akan habis untuk rokok dan kopi si ayah muda. Sedangkan untuk istri dan anaknya hanya setengahnya lagi.

Apa yang terjadi kemudian?

Kondisi ekonomi yang serba kekurangan tersebut menjadi pemicu pertengkaran suami-istri. Di usia anak mereka yang masih bayi, si ibu terpaksa mencari penghasilan sampingan untuk membantu ekonomi keluarga.

Yang bisa dilakukan adalah menjadi buruh cuci pakaian di rumah-rumah warga Tionghoa yang kebanyakan tinggal di Kota Tebing Tinggi. Selain menjadi buruh cuci, biasanya ibu-ibu muda itu kerja sebagai pembantu rumah tangga harian (pergi pagi pulang sore), penjaga toko, atau pekerja lepas di industri rumah tangga yang ada di sekitar rumah mereka.

Soal gaji, rata-rata untuk buruh cuci sebulan mendapatkan Rp 300-500 ribu. Sedangkan pembantu rumah tangga antara Rp 700-800 ribu sebulan. Sementara pekerja lepas di industri rumah tangga paling besar sepekannya mendapat upah Rp 175 ribu.

Patut menjadi catatan, pengetahuan warga tentang keluarga berencana (KB), khususnya penggunaan alat kontrasepsi pasca-punya anak cukup memadai.

Ini terbukti dengan jumlah anak yang dimiliki keluarga muda di sana rata-rata satu atau dua orang saja.

Puber Lanjutan Picu Perceraian

cerai

 

Tantangan rumah tangga yang dihadapi ayah-ibu muda tidak hanya masalah ekonomi.

Karena mereka menikah muda, ada masalah lain yang kerap menimbulkan pertengkaran pasangan tersebut yakni pergaulan anak muda. Lazimnya anak-anak baru gede (ABG), kebanyakan papa-papa muda (pamud) dan mama-mama muda (mamud) itu masih suka berkumpul dan kongkow-kongkow bersama teman-temannya.

Dari pergaulan yang begini, ternyata membuat kehidupan rumah tangga mereka rentan perselingkuhan. Jiwa dan semangat muda mereka menimbulkan puber lanjutan.

Menikah di usia sangat muda, yang seharusnya masih diisi dengan ‘pacaran sana-sini’ , ternyata tidak sepenuhnya bisa menahan gejolak untuk mengenal lawan jenis lebih dari satu. Alhasil, perselingkuhanpun terjadi yang berakhir dengan pertengkeran dan perceraian.

Terbukti, di blok rumah orangtua saya yang dihuni sekitar 15 kepala keluarga,  ada enam Mamud yang sudah menjadi janda. Keenamnya bercerai karena latar belakang perselingkuhan.

Pasca-terjadi perceraian, yang paling sengsara memang anak-anak mereka. Beberapa anak terpaksa diurus kakek dan nenek mereka.

Ada pula anak-anak yang dibebankan kepada si ibu muda. Semua pengurusan anak korban broken home sangat tergantung kesepakatan diantara keluarga mereka.

Usia Berapa Idealnya Menikah?

Kembali ke pertanyaan usia berapa idelanya menikah?

Menurut saya bukanlah terletak pada usia tapi kesiapan ekonomi, fisik, dan mental. Kalau secara hukum formal, usia minimal wanita dan pria boleh menikah sudah diatur dalam Undang-undang Pernikahan No. 1 tahun 1974 pasa 7 ayat 1 yakni bagi laki-laki minimal 19 tahun dan bagi perempuan minimal 16 tahun.

Tapi apakah usia itu layak untuk menikah?

Menurut saya belum. Di usia itu seseorang normalnya si wanita masih sekolah dan si pria baru tamat SMA atau sederajat. .Setelah tamat sekolah, kemudian melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi. Jika semuanya lancar, pada usia 23 tahun, baru menyandang gelar sarjana.

Lazimnya, kemudian bekerja atau menjadi wirausaha. Dalam situasi tertentu, memang di saat kuliah, anak-anak muda sekarang sudah mulai membangun karir dan bisnisnya.

Nah, setelah bekerja dan mempunyai modal yang cukup, barulah melangkah ke jenjang pernikahan. Bisa di usia 25 tahun atau lebih. Tapi jangan pula di usia 30-an tahun, khususnya bagi wanita, karena akan membatasi usia produktivitas reproduksi Anda.

Mencegah pernikahan dini, tidak hanya memberikan waktu yang cukup untuk mengumpulkan finansial, tetapi juga memberikan waktu yang leluasa untuk menikmati masa muda.

Termasuk bepergian kemana-mana tanpa ada halangan suami/istri dan anak.  Saya sendiri, menikah pada usia 28 tahun dan suami pada usia 29 tahun.

Di usia itu saya sudah menyelesaikan kuliah S1 dan bekerja cukup lama plus sudah mengumpulkan finansial yang cukup termasuk memiliki rumah. Saya juga sudah merasa puas menikmati kebebasan (dalam arti positif) masa muda dengan mendatangi banyak tempat dan negara yang saya inginkan.

Saya juga sudah puas melakukan aktivitas sosial, termasuk turun ke pulau-pulau terpencil di Indonesia tanpa ada keraguan meninggalkan suami dan anak karena saat itu mamang belum menikah.

Begitu saya memutuskan menikah sampai sekarang usia pernikahan kami sudah berjalan tujuh tahun, saya bisa konsentrasi mengurus keluarga, terutama anak-anak, sambil tetap bekerja. Rasa ingin tahu saya tentang dunia luar, sebagian besar sudah terpenuhi ketika masa-masa lajang saya.

Di usia 28 dan 29 tahun, secara finansial dan psikologi, kami berdua memang sangat matang. Saat menghadapi masalah selama berumahtangga juga bisa diselesaikan dengan damai dan win-win solutions.  (sri murni)

Tulisan ini sudah saya posting lebih dulu di http://www.kompasiana.com/menix/stop-pernikahan-dini-kebahagiaan-sesaat-sengsara-sepanjang-masa_57b446e9a123bd9b162a1d29

Facebook: https://www.facebook.com/sri.murni  

Twitter: @menixnews