Study Abroad, Why Not? Jangan Takut dengan Bahasa Inggris!

Bersama teman sekelas di Bjorkness Collage, Oslo, Norwegia, 2011 lalu.

”SEKOLAH KE LUAR NEGERI?” Merupakan mimpi yang tidak mungkin terwujud. Itulah kata-kata pisimistis yang selalu ada dalam benak saya beberapa tahun lalu.

Apalagi saat melihat setiap pengumuman lowongan beasiswa sekolah ke luar negeri selalu disajikan dalam bahasa Inggris. Membacanya saja saya sudah ’enek’ karena kemampuan bahasa Inggris saya yang sangat pas-pasan.

Ditambah lagi, sekian banyak lowongan beasiswa yang pernah saya baca selalu meminta bukti tes kemampuan bahasa Inggris baik Test of English as a Foreign Language (TOEFL), Internet Based Test (TOEFL-IBT), maupun International English Language Testing System (IELTS) yang tinggi.

Padahal ketika itu satu-satunya tes TOEFL yang pernah saya lakukan adalah TOEFL preparation saat masih duduk di semester terakhir Universitas Riau (Unri) tahun 2003 dengan score tidak sampai 400.

Kondisi tersebut membuat saya tidak pernah sekalipun mencoba mendaftar beasiswa apapun, sampai pada suatu sore di bulan Agustus 2008, seorang teman di kantor memberitahukan ada lowongan pendaftaran beasiswa yang diselenggarakan oleh Institute of International Education (IIE) secara internasional, dan di Indonesia dilakukan oleh Indonesian International Education Foundation (IIEF).

Saya cukup terkejut pertama kali melihat formulir yang ada di website IIEF  tersebut karena berbahasa Indonesia. ”Alhamdulillah” ungkapan syukur saya karena akhirnya terbuka kesempatan untuk saya meskipun hari itu ternyata sudah detik-detik terakhir pengiriman berkas.

Saya pun mendaftar dan mengikuti semua proses seleksi dokumen dengan melampirkan semua berkas yang dibutuhkan, termasuk hasil TOEFL Preparation saya yang nilainya tidak seberapa.

Alhamdulillah, saya lulus seleksi dokumen, kemudian mengikuti wawancara di Lampung dan dinyatakan lulus beberapa minggu kemudian. Beasiswa IIEF memang mencari sosok-sosok agen perubahan atau agent of change dari daerah-daerah yang jauh dari ibukota, Jakarta. Juga mencari sosok potensial yang tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri, termasuk karena keterbatasan kemampuan bebahasa Inggris.

Setelah lulus tes wawancara, pada September 2009, saya bersama sekitar 34 orang lainnya dari seluruh Indonesia mengikuti pelatihan Bahasa Inggris yang dilakukan di Balai Bahasa Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta. Selama kurang lebih delapan bulan kami digembleng secara bahasa dan mental.

Bersama teman-teman Cohort 8 sepulang dari tugas belajar, Jakarta, Januari 2013.

Ternyata tidak hanya saya yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris super pas-pasan saat awal-awal pelatihan, tapi ada belasan orang lainnya. Berkat belajar setiap hari tanpa ada kegiatan lainnya, fokus kami memberikan hasil yang memuaskan. Ini terbukti, semua dari kami lulus tes TOEFL baik paper based maupun IBT dan IELTS dengan nilai yang memuaskan, sehingga kami diterima di perguruan tinggi negeri dan berkuatas di luar negeri.

Karena Australia Hijrah ke Eropa

Tujuan negara pertama saya untuk melanjutkan sekolah adalah Amerika Serikat (AS). Mengapa? Ada dua alasan. Pertama, secara akademik, kajian-kajian Hubungan Internasional (HI) klasik dan kontemporer lebih berkambang di  Amerika Serikat dan para memikir HI juga berdomisili di sana.

Kedua, alasan pribadi sebagai orang ndeso yang memimpikan bisa melihat negerinya Barrack Obama dan berharap bisa bertemua dengannya. Selain itu, jika lulus dari Amerika terdengar lebih keren, naik pesawatnya lebih lama karena sangat jauh dari Indonesia, ada salju, dan di kelas pasti orang bulenya lebih banyak ketimbang orang Asianya. (Hahahaha… ini bener-bener alasan ndeso saya)

Setelah mengikuti proses pendaftaran, kenyataan berkata lain. Kesempatan S2 ternyata tidak di Amerika Serikat melainkan Australia, tepatnya the Australian National University (ANU), sebagai universitas terbaik di Australia dan di Asia Pacific. ANU juga masuk peringkat 20 besar di dunia.

Saya berangkat ke sana sekitar bulan Maret 2011

, kemudian mengikuti kelas pemantapan bahasa Inggris pra masuk kuliah yang disebut Academic Writing. Kemampuan menulis secara akademik memang mutlak harus dimiliki secara mahir oleh setiap calon mahasiswa di sana. Kalau saya bisa bilang “Mending gak fasih berbasa Inggris lisan, ketimbang tidak bisa menulis secara akademik”. Masalahnya, setiap hari ya tugas kuliahnya adalah menulis essay, article, news review, dll.

Kongres Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) di Balai Kartini KBRI Canberra, 2012.

Saya merasa sangat beruntung bisa kuliah di sini karena ANU memberikan kesempatan yang tidak terduga. Sebagai mahasiswa International Relation dengan spesifikasi Peace and Conflict Studies, saya berkesempatan mengikuti kuliah satu semester di Bjorknes College, Oslo, Norwegia.

Tepat Agustus 2011, saya pun hijrah dari Canberra ke Norwegia, negeri yang menurut survei United Nations Development Programme  (UNDP) sebagai negara dengan penduduk termakmur di dunia.

Di salah satu sudut Kota Oslo, Norwegia.

Kuliah di Norway, memberikan pengalaman tersendiri bagi saya baik positif maupun negatif. Positifnya, kajian HI yang disajikan adalah kajian kontemporer yang dibawakan para pengajar yang selalu berganti setiap minggu sesuai dengan tema yang disajikan. Mereka adalah para researcher yang tergabung di wadah Peace Research Institute Oslo (PRIO, salah satu institusi reset terbesar dunia) dan Universitet i Oslo (UIO, universitas negeri terbesar di Norwegia).

Bersama teman sekelas dan lecture Colonel Kristin Lund di Bjorkness Collage, Oslo, Norwegia, 2011.

Selain itu, saya mendapatkan pengalaman hidup bersama masyarakat setempat dan menikmati berbagai fasilitas umum yang paling ‘gender balance’ sedunia.

Selama disinilah saya belajar secara langsung (di luar perkuliahan) bagaimana pemerintah setempat mengatur masyarakat secara equal baik lokal maupun para imigran dengan memperhatikan detail kepentingan kaum hawa, anak-anak, dan anjing sebagai binatang peliharaan mayoritas masyarakat tempatan. Disini pula saya belajar beradaptasi dengan lingkungan dan musim yang extrim dimana ketika winter bisa mencapai -15 derajat.

Saat winter di Oslo, Norwegia.

Negatifnya, karena saya bertempat tinggal di sebuah apartemen yang memiliki lima kamar dengan penghuni multi culture, multi profesi (pelajar, pekerja bangunan, asisten rumah tangga, dan penjaga pom bensin), dan multi country (sebagian dari Norway, Polandia, Irak, dan Canada) tentu saja menuntut kesabaran dan tenggang rasa yang sangat tinggi.

Saya harus terbiasa dengan kebisingan teman seapartemen yang hobi mabuk. Saya juga tidak bisa keberatan dengan keributan dua sejoli yang tinggal bersama tanpa ikatan perkawinan yang sangat sering membuat ‘kebisingan’ karena bertengkar. Saya harus terbiasa melihat para lelaki seapartemen yang kerap ber-underpants saja.

Suasana apartemen yang serba serbi itu mengajarkan saya untuk mengenal dan menghargai budaya dan gaya hidup yang sangat berbeda dari lingkungan hidup saya di Indonesia, tanpa mempengaruhi proses belajar saya.

Bersama teman-teman sekelas Peace and Conflict Studies ANU, Canberra.

Begitu banyak pengalaman hidup yang saya dapatkan dengan mengikuti program IFP ini yang tidak bisa saya ceritakan satu persatu secara detail karena keterbatasan tempat. Satu hal yang pasti, segala pengalaman itu telah mengubah cara pandang saya terhadap perbedaan tentang west and east, Islam dan non-Islam, makmur dan tidak makmur, dan lainnya dalam arti yang sangat positif.

Graduation Ceremony, Dec 2012.

Setelah satu semester di Oslo, saya kembali lagi ke ANU, Canberra, menyelesaikan dua semester tersisa hingga saya wisuda pada Desember 2012.  (sri murni)

YOUR DREAM WILL COME TRUE BY DOING YOUR BEST!

Cerita lainnya soal Transportasi di Oslo bisa dibaca di sini:

Menikmati Transportasi Umum di Negeri Paling Makmur di Dunia, Norwegia. Senyaman Apakah?

Rasanya PANAS-DINGIN Naik Transportasi Umum di Negeri Paling Makmur di Dunia, Norwegia