Empat Langkah Ampuh Atasi Anak Sakit dari Jarak Jauh

Azka dan Kenzie sangat familiar dengan obat penurun panas mereka. Tempra Syrup. Foto by menixnews.com

SEBAGAI seorang ibu, sepertinya akan memberikan jawaban yang sama ketika ditanya, momen apakah yang paling mengkhawatirkan dalam hidup?

Jawaban itu adalah ketika sang buah hati jatuh sakit.

Apalagi, ketika mereka sakit, sang ibu tidak berada di dekat mereka.

Rasanya pengin cepat-cepat pulang agar bisa mengecek sendiri keadaan anak-anak dan memberi mereka obat yang tepat.

Jika perlu, langsung membawa mereka ke dokter anak yang bagus sehingga sakit cepat teratasi dan keceriaan bisa kembali lagi.

Namun, bagaimana jika ternyata saat anak-anak sakit, sang ibu sedang berada di luar kota yang jauh dari anak-anak dan tidak bisa cepta kembali ke rumah karena pekerjaan?

Saya pernah mengalami hal itu pada 2014 lalu, ketika anak bungsu saya, Kenzie, berumur 1,1 tahun.

Ketika itu, my youngest lady, Kenzie, terpaksa saya tinggal karena ada pekerjaan untuk beberapa hari.

Dia pun dijaga papanya bersama my oldest lady, Azka, yang sudah berusia sekita empat tahun.

Saat hari pertama ditinggal, semua baik-baik saja tidak ada yang perlu dikhawatirkan sehingga saya bisa bekerja dengan baik di luar kota.

Namun, memasuki hari kedua, si papa menelepon di tengah jam kerja. Ketika itu, saya sedang berada di sebuah pelatihan bersama rekan-rekan yang lain.

“Tidak pernah-pernahnya si papa menelepon di jam kerja,”dalam hati saya berkata ketika melihat ada panggilan di hanphone.

Biasanya juga saya yang selalu telepon ke rumah, setiap saat ketika ada kesempatan untuk mengecek anak-anak.

Benar saja, ketika si papa menelepon pasti ada yang krusial.

Dari ujung telepon dia mengabarkan bahwa badan Kenzie mulai panas tidak lama selepas dimandikan pagi.

Mendengar hal tersebut, pastinya bikin saya agak panik dan konsentrasi mengikuti pelatihan pun agak buyar.

Kemudian, saya keluar ruangan agar bisa berbicara leluasa dengan si papa.

Syukurnya sebelum berangkat ke luar kota saya telah menerapkan beberapa langkah jika situasi seperti ini terjadi.

1. Training sampai Mahir

Sebelum meninggalkan si kecil ke luar kota apalagi untuk beberapa hari, kita harus mengajari atau training orang yang akan menjaga anak kita.

Alangkah baiknya, yang menjaga anak kita adalah orang yang sudah dekat dengannya, bisa suami kita, anggota keluarga, atau pengasuhnya.

Yang pasti, jangan biarkan orang yang masih asing dengan anak kita menjaganya karena akan memerlukan waktu untuk keduanya saling mengenal dan beradaptasi.

Beritahu sedetail mungkin kebiasaan-kebiasaan anak kita sehari-hari seperti:

a. Jadwal tidur dan bangun tidur, baik tidur siang maupun malam. Jika anak masih bayi, tentunya jadwal tidur pasti lebih banyak.

Termasuk kebiasaannya sebelum tidur atau setelah bangun tidur.

Biasanya anak-anak, terutama bayi, punya kebiasaan tersendiri sebelum tidur. Misalnya minta ditemani di tempat tidur, didengarkan musik atau bacaan Alquran,  minta digendong, diayun, dielus, dikusuk-kusuk, diberikan susu atau justru sambil mengenyut kompeng.

Jangan lupa memberitahu suhu ruangan agar anak kita tidur nyenyak tanpa kepanasan maupun kedinginan.

Agar yang menjaga tahu apa saja kebiasaan anak kita, alangkah baiknya, jika dia kita training mengurusi anak kita sampai mahir.

Ingat para ibu, anak-anak yang tidak cukup tidur akan mudah rewel bahkan mengamuk (menangis histeris).

b. Jadwal makan dan minum susu. Anak-anak juga jangan sampai terlambat makan maupun minum susu karena perut lapar akan membuat mereka rewel.

Apalagi jika anak yang kita tinggalkan masih dalam masa ASI ekslusif.

Ketika itu, si Kenzie memang sudah tidak dalam masa ASI ekslusif namun ketergantungannya dengan ASI sangat besar.

Dia bahkan tidak begitu nafsu makan makanan pendamping ASI, sehingga sebelum berangkat saya harus pastikan persediaan ASI mencukupi bahkan berlimpah.

Mau tidak mau, ibu harus memerah ASI dalam jumlah banyak sesuai kebutuhan anak selama ditinggal.

Tempatkan ASI di dalam botol-botol kaca kecil, berikan label tanggal pemersan dan pemakaian, kemudian simpan di dalam freezer agar tidak basi karena dibutukan untuk waktu yang lama.

Ilustrasi penyimpanan ASI. Foto diambil dari bidanku.com

Saya lebih mewadahi persediaan ASI di dalam botol-botol kaca kecil yang isinya saya takar untuk sekali minum setiap botolnya. Sehingga, begitu dibutuhkan, si papa tinggal ambil dan menghangatkannya.

Saya juga menyusun botol-botol itu secara teratur dan berurutan serta memberikan label tanggal pemerasan. Urutan ini sangat penging sehingga tidak sulit mengambil ASI mana yang musti yang dipakai duluan.

Jangan lupa ajarkan kepada yang menjaga anak kita bagaimana teknis menggunakan persediaan asi tersebut secara cermat dan bagaimana cara menghangatkannya agar kandungan ASI tidak hilang.

c. Jadwal mandi. Kebiasaan lainnya  yang harus diberitahu adalah soal jadwal mandi.

Umumnya anak-anak mandi sama seperti orang dewasa yakni dua kali sehari.

Hanya saja, anak-anak pastinya perlu perhatian lebih tentang jadwal mandinya, jangan terlalu pagi dan jangan pula terlalu sore.

Jangan lupa untuk memberitahu tahu biasanya anak mandi pakai air hangat atau air biasa.

Alangkah baiknya, baju-baju anak sudah disiapkan selama kita tinggal agar memudahkan penjaganya.

2. Sediakan Obat-obatan

Ini adalah satu hal yang sangat krusial. Sebelum meninggalkan buah hati, kita kudu menyediakan obat-obatan di rumah.

Apalagi jika anak kita memiliki riwayat penyakit tertentu maupun alergi terhadap bahan obat tertentu.

Sejumlah obat yang harus disiapkan di antaranya :

a. Paracetamol. Ada banyak jenis paracetamo. Pilihlah yang cocok dengan anak kita sesuai dengan anjuran dokter.

Kalau saya pribadi, sejak usia anak setahun, dokter selalu memberikan obat Tempra sebagai paracetamol karena cocok menurunkan panas dan meredakan nyeri ketika anak sakit.

Saat itu, karena Kenzie masih satu tahun, saya selalu sedia Tempra Drops dan Tempra Syrup untuk si Azka.

Tapi kini setelah usia mereka sama-sama di atas dua tahun, Tempra Syrup yang selalu tersedia.

Tempra rasa anggur. Foto by menixnews.com

Sejak awal menggunakan Tempra, Alhamdulilla cocok untuk Azka dan Kenzie.

Apalagi, kedua anak saya memang tidak punya riwayat sakit tertentu dan alergi obat.

Tempra ini aman di lambung dan tidak perlu dikocok karena obatnya larut 100 persen.

Cara konsumsinya juga sangat mudah karena di botol maupun di kotak kemasannya tertera petunjuk dosis tepat penggunaan sesuai usia.

Kita pun tidak perlu khawatir obat yang diberikan akan over dosis.

Sebagai alat bantu pengukur dosis, di atas tutup botolnya juga terdapat gelas takar yang bisa digunakan sebagai alat ukur banyaknya dosis obat yang harus diberikan kepada anak.

Dengan dosis yang sesuai, saat Kenzie sakit ketika saya tinggal, memang tidak sempat dibawa ke dokter karena panasnya sudah turun setelah dua kali mengonsumsi Tempra.

b Obat batuk dan pilek. Selain paracetamol, jenis obat lainnya adalah untuk batuk dan pilek. Mereknya juga ada macam-macam.

Tidak harus mahal, yang penting cocok dengan anak dengan selalu merujuk pada rekomendasi dokter.

c. P3K. Biasakan sediakan kotak P3K di rumah yang sudah lengkap isinya. Jadi ketika kondisi sedang darurat, tidak kesulitan mencari obat yang diperlukan, termasuk jangan lupa menyiapkan oralit.

Satu hal penting lagi soal obat-obatan adalah mengajarkan penjaga anak kita bagaimana menggunakan obat-obatan tersebut.

Gak lucu kan kalau sempat terjadi. obat-obatan lengkap di rumah tapi tidak tahu bagaimana menggunakannya.

3. Panik tidak menyelesaikan masalah

Mendengar anak sakit, pasti semua ibu khawatir dan banyak juga yang panik.

Tapi ingat ya Bu, panik tidak akan menyelesaikan masalah bahkan bisa membuatnya makin runyam.

Bisa-bisa yang jaga anak kita lebih panik lagi gara-gara kita panik dulian.

Jika mendengar anak yang kita tinggalkan sakit, langkah pertama adalag istigfar dan menenangkan diri.

Kemudian, tanyalah bagaimana kondisi anak secara detail terutama penyebab sakitnya.

Beri tahu langkah apa yang harus dilakukan, misalnya memberinya obat sesuai dosis. Lalu, jika setelah diberi obat tidak juga reda, mintalah membawa anak kita ke dokter langganan atau ke dokter lain jika memang mendesak.

4. Telepon sesering mungkin

Saat berada di luar kota, ibu harus mengusahakan menelepon anak sesering mungkin sehingga kita tetap mengetahui kondisi kekinian si anak.

Selain itu juga agar tetap menjaga kedekatan ibu dan anak serta mencurahkan kasih sayang kepadanya meskipun dari jarak jauh.

Jika dalam kondisi normal dan anak yang ditinggal tidak sakit, menelepon saat pagi, siang, dan malam adalah hal yang wajar.

Tapi jika anak sedang sakit, usahakan menelepon sesering supaya kondisi anak tetap terpantau dan ibu bisa tetap dekat dengan mereka.

Ajaklah anak-anak bicara, meskipun mereka belum bisa berbicara. Mendengarkan suara ibu, akan membuat anak-anak nyaman dan memberikan dampak yang besar kepada psikologinya.

Demikian sharing dari saya, semoga bermanfaat untuk ibu-ibu semuanya. (*)

Salam Bahagia Keluarga Indonesia!

 

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra.