Tips Cerdas Ajarkan Puasa Ramadan pada Anak ala Mama Menix

Mengajarkan Azka mengaji Iqra setelah sahur dan Sholat Subuh. Foto by menixnews.com

BUNDA, umur berapa sih sebaiknya kita mulai mengajarkan anak-anak kita belajar berpuasa Ramadan? Kalau saya menjawab, sedini mungkin selama dia mulai memahami makna puasa secara harfiah ala anak-anak : tidak boleh makan apapun, tidak boleh minum, termasuk minum susu, dan tidak boleh jajan.

Tahun ini, karena my youngest lady, Azka, sudah berumur enam tahun lebih, saya memang mempersiapkan segala strategi agar si kakak mulai belajar berpuasa dengan sebenarnya meskipun hanya setengah hari.

Pengalaman saya, anak saya mulai mengerti makna puasa itu tahun ini, setalah usianya enam tahun lebih karena akal dan pikirannya mulai bekerja. Padahal tahun-tahun sebelumnya, saya juga telah mengajarkannya puasa, namun ketika itu dia menganggap puasa itu hanya tidak boleh makan (nasi), sementara minum susu dan ngemil tidak dilarang.

Maka tidak heran begitu bangun tidur anak saya langsung minta susu. Ketika dibilang,”Kan kakak puasa,” dia akan menjawab sambil merengek,”Kakak puasanya gak makan nasi aja. Kakak mau minum susu.” Padahal ketika itu, dia sudah ikut sahur dan diberi pengertian apa itu puasa dengan bahasa yang sangat sederhana yang bisa dimengerti anak-anak. Namun masih sebatas itulah makna yang dipahami anak di bawah lima tahun. Dan saya sangat bahagia, setidaknya dia sudah paham meskipun cuma sedikit bagian dari makna puasa.

Lalu bagaimana dengan anak saya ketika Ramadan ini dan usianya sudah 5,4 tahun? Sungguh berbeda. Saya pun mempersiapkan dan melakukan hal-hal ini untuknya selama Ramadan tahun ini:
1. Jelaskan dengan sederhana apa itu puasa.
Puasa adalah menahan untuk tidak makan apapun termasuk nasi, coklat, es krim, roti, kue, kerupuk (berikan sebanyak mungkin contoh makanan terutama makanan yang dia suka) dan tidak minum apapun termasuk air putih, susu, jus, teh manis dan lainnya. Saat mandipun kakak tidak boleh menelan air karena itu membatalkan puasa. Ketika puasa, juga tidak boleh berenang, karena airnya bisa terminum dan membatalkan puasa.
Penjelasan yang simpel begitu ternyata sangat dipahami anak saya. Praktiknya, dia memang tidak makan dan minum apapun selama berpuasa. Namun, di usia ini saya memberikannya waktu puasa setengah hari. Alasannya pun saya paparkan kepada dia secara logis dan sederhana yakni karena dia masih kecil dan taraf berpuasanya pun masih belajar.
2. Ajak sahur, Sholat Subuh, dan mengaji
Anak-anak harus diikutkan dalam setiap aktivitas berpuasa, mulai dari sahur, kemudian sholat Subuh berjemaah di rumah, dan mengaji Iqra atau Alquran sesuai kemampuannya. Dan jangan lupa mengajarkan doa niat berpuasa. Dengan begitu dia merasakan atmosfir berbeda selama Ramadan.
3. Tidur setelah Subuh
Hal ini saya terapkan kepada anak saya setelah rutinitas sahur, Subuh, dan mengaji selesai. Anak-anak memang harus banyak istirahat supaya perkembangannya baik. Biasanya, anak saya akan bangun lagi sekitar pukul 10 pagi. Dengan tidur yang lama, setidaknya rasa haus dan lapar akan berkurang. Lagipula, bukankah tidur orang yang berpuasa juga bagian ibadah?
4. Bermain
Selama Ramadan, untuk anak seusia anak saya yang belum masuk SD, tidak ada aktivitas karena semuanya libur. Sehingga yang ada adalah waktu bermain. Setelah mandi pagi, berikan waktu yang lebih baginya untuk bermain bersama teman-temannya. Dengan bermain, tentu saja dia tidak merasakan jika sedang berpuasa. Saat bermain, bunda juga harus memastikan apakah anak-anak yang bermain dengannya juga berpuasa. Kalau pun tidak berpuasa, minimal tidak ada yang membawa makanan dan minuman di lokasi permainan.

Azka dan adiknya, Kenzie, sedang bermain. Foto by menixnews.com

5. Buka puasa saat Zuhur
Bagi anak yang masih belajar berpuasa setengah hari seperti anak saya, saya mengajarkan dirinya untuk berbuka puasa pasca Sholat Zuhur. Berbukanya juga dengan doa berbuka puasa supaya dia mulai benar-benar mengikuti rukun berpuasa di bulan Ramadan. Jangan lupa pula untuk menyisipkan pengertian bahwa tahun depan ketika sudah masuk SD, kakak sudah mulai belajar berpuasa satu hari dengan waktu berbuka adalah saat azan Magrib, bulan Zuhur.
6. Ajak menyiapkan menu berbuka
Baik anak lelaki apalagi anak perempuan tidak ada salahnya sejak dini diperkenalkan dengan aktivitas dapur, masak-memasak. Apalagi masak merupakan satu live skill yang kudu dimiliki setiap individu. Mengajak anak menyiapkan menu berbuka puasa, pastinya akan lebih menantang baginya karena biasanya kita memasak yang istimewa.

Azka selesai membantu membuat cilok untuk berbuka puasa. Foto by menixnews.com

7. Ajak memilih busana muslim
Sebagai variasi kegiatan selama menjalankan puasa Ramadan, selain bermain dan memasak, saya mengajak si kakak untuk ikut memilih baju-baju muslim. Caranya, tidak harus pergi jalan-jalan ke mal karena itu pasti melelahkannya, tetapi cukup di depan komputer, laptop, maupun ponsel dengan membuka toko online Elevenia. Di sini tentu saja ada ratusan model baju muslim dengan warna-warni yang menarik. Saya selalu mengajak Azka untuk berdiskusi mana baju muslim yang paling bagus menurutnya, baik dari sisi mode maupun warna.

Beberapa contoh baju muslim yang ada di toko online Elevenia.

Karena di Eleviana deskripsi produk pakaian sangat lengkap, sehingga saya juga bisa sekaligus mengajarkan si Azka untuk memahami istilah dari mode-mode baju muslim, lengkap dengan jenis kainnya. Dan yang paling seru, sambil lihat-lihat baju muslim, saya sekaligus bisa mengajarkan Azka untuk lebih lancar membaca karena di setiap produk terdapat caption yang bisa dibaca si Azka.
Nah Bunda… Selamat mengajarkan anak berpuasa ya, semoga sharing saya bermanfaat. (Sri Murni)
Happy Ramadan Keluarga Indonesia!