Tips Cermat Mengatur Keuangan Keluarga di Masa Panceklik

Transaksi belanja di supermarket. Foto by Sri Murni

DI saat ekonomi sedang lesu dan kebutuhan keluarga juga terus meningkat, ditambah kewajiban membayar kredit sana-sini yang tidak bisa ditunda, serta kebutuhan sekolah anak yang tidak kecil, tentu membuat pusing istri alias ibu rumah tangga.

Uang gaji suami, ditambah gaji istri, dan penghasilan bisnis lainnya serasa pas-pasan untuk menutupi kewajiban bayar ini itu karena kebutuhan hidup yang terus melonjak.

Sebagai “menteri keuangan” di rumah, tentu saja istri harus cermat menghadapi situasi panceklik begini.

Anggota keluarga, terutama anak-anak, harus tetap makan dengan asupan gizi yang mencukupi plus susu yang tidak bisa mereka tinggalkan.

Nah, tiga bulan terakhir ini, saya melakukan eksperimen tentang mengatur keuangan keluarga.

Pos-pos pengeluaran yang masih bisa saya atur adalah belanja kebutuhan rumah tangga, termasuk belanja dapur, jajan, dan pemakaian listrik. Sementara pos kredit, asuransi, susu anak, dan uang sekolah anak sudah tidak bisa lagi diganggu gugat.

Sebelum mengulas tips, ada tiga prinsip dasar agar keuangan keluarga tidak bocor:

1. Pegang teguh pepatah “jangan lebih besar pasak daripada tiang” yang maknanya “jangan lebih besar pengeluaran daripada penghasilan”. Sebab itu, segala apapun yang akan dibeli, baik cash maupun kredit, harus benar-benar dihitung kemampuan membayarnya. Sehingga tiap bulan tidak perlu gali lubang untuk menutupi lubang yang lain.

2. Hidup apa adanya dan jangan jadi korban social climber. Tahu kan makna social climber? Itu loh penyakit sosial yang ingin dipandang wah dan punya segalanya di Medsos padahal tidak mampu secara ekonomi dan akhirnya melakukan perbuatan kurang terpuji. So, hiduplah apa adanya dan tidak perlu mengada-ngada.

3. Pakai skala prioritas. Pastikan pendapatan keluarga dialokasikan untuk skala prioritas.

Uang yang ada kudu dibagi-bagi. Bila perlu dimasukkan ke dalam amplop berbeda untuk segala jenis kredit, uang sekolah, listrik, air, jajan, dan kebutuhan dapur, serta tabungan.

Atau jika uangnya ada di tabungan, ya bikinlah daftar tagihan yang harus dibayarkan lengkap dengan tanggal dan jumlahnya. Tempelkan daftar tersebut di tempat yang mudah terlihat, misalnya di laptop, PC, atau di papan tempel yang ada di rumah.

Setelah memegang prinsip dasar dalam mengelola keuangan keluarga tersebut, sekarang kita bicara soal tips agar uang bulanan tetap cukup bahkan berlebih.

Karena yang bisa diolah adalah uang belanja dapur dan listrik, maka uraian selanjutnya adalah seputar itu.

Saya mengalokasikan Rp 1 juta untuk belanja dapur (alokasi ini tentu saja berbeda setiap keluarga karena tergantung jumlah anggotanya), maka saya harus melakukan ini agar mencukupi :

1. Belanja di Pasar

Saya melakukan eksperimen dengan belanja kebutuhan dapur di pasar bukan di supermarket. Di pasar, segala kebutuhan dapur ada dan segar-segar mulai dari aneka lauk pauk, sayuran, sampai buah-buahan. Harganya pun jauh lebih murah.

Saya menargetkan satu kali seminggu ke pasar dengan besaran uang belanja maksimal Rp 200 ribu per belanja.

Apa yang saya dapatkan dengan uang segitu?

Ternyata banyak. Saya membeli aneka ragam lauk untuk satu pekan, yang saya bagi per setengah kilo untuk satu kali masak setiap harinya.

Lauk 1/2 kg itu ternyata cukup untuk makan seharian satu keluarga kecil saya (saya, suami, dan dua anak).

Berikut rincian belanja Rp 200 ribu :

1. Udang 1/4 kg Rp 20.000

2. Ayam 1/2 kg Rp 16.000

3. Ikan 1/2 kg Rp 15.000

4. Kerang kupas 1/2 kg Rp 20.000

5. Cumi-cumi 1/2 kg Rp 20.000

6. Telur puyu Rp 5.000 (15 btr)

7. Tahu Rp 3.000

8. Tempe Rp 5.000

9. Telur 5 btr Rp 6.000

10. Cabai, sayur, bawang dan bumbu dapur lainnya Rp 30.000

11. Kentang, buncis, dan wartel Rp 10.000

12. Buah dengan pilihan jeruk, lengkeng, semangka, anggur atau lainnya (jangan beli semuanya tapi pilih 2-3 jenis per 1/2 kg) Rp 30.0000

Total belanja Rp 180.000 dan saya masih punya sisa uang Rp 20 ribu yang bisa digunakan untuk membeli kekurangan untuk masak di tengah minggu, misalnya beli santan atau tambahan sayur.

Satu hal lagi, Kalau belanja di pasar hindari hari libur dan jangan terlalu pagi karena biasanya harga barang lebih mahal.

Nah, mengapa saya tertip belanja ke pasar satu pekan sekali dan mencukupkan persediaan belanja saya? Karena memang semakin jarang ke pasar, semakin kecil pengeluaran demikian pula sebaliknya.

Jangan lupa untuk membersihkan dan menyimpan bahan makanan dari pasar dengan baik dan benar di kulkas sehingga tetap segar selama satu pekan.

Biasanya saya bersihkan dan bagi-bagi lauk ke dalam mangkok-mangkok penyimpanan dan tersusun rapi di kulkas. Begitu mau masak, tinggal ambil sesuai kebutuhan.

2. Belanja Sembako di Supermarket

Jika kebutuhan dapur yang segar-segar belanjanya di pasar, bagaimana dengan beras, minyak, dan gula?

Kalau untuk tiga kebutuhan ini saya memang lebih memilih belanja di supermarket berjaringan (Indomaret, Alfamart, dan Giant) karena kualitasnya lebih terjamin dan sering ada promo yang membuat belanja tentu saja lebih hemat.

Untuk beras, minyak, dan gula biasanya saya menghabiskan uang sekitar Rp 150 ribu sebulan.

3. Bikin Daftar Menu Harian

Dengan aneka bahan makanan yang sudah tersimpan di kulkas, tentu saja saya bisa berkreasi masak setiap harinya.

Memang saya tidak masak aneka ragam makanan dalam sehari melainkan satu lauk dan satu sayur saja karena memang itulah yang dibutuhkan.

Ditambah membuat cemilan untuk crucils yang bentuknya bisa bakwan, goreng pisang, tela-tela, nugget, bolu, keju lumer, atau lainnya tergantung bahan yang ada di kulkas.

Mengapa harus masak satu jenis lauk serta sayur dan tidak memasak aneka ragam dalam sehari?

Menurut saya, kapasitas perut kita juga terbatas untuk menyantap semua ragam lauk yang ada. Jangan sampai apa yang kita masak mubazir karena tidak termakan.

Agar tidak bosan, saya membuat daftar menu harian yang selalu saya diskusikan dengan the oldest lady.

Apalagi setiap hari, doi harus bawa bekal ke sekolah karena full day school. Maka lauk yang dimasak kudu sesuai seleranya.

Contoh daftar menu yang saya buat adalah :

Senin : Udang sambal dicampur kentang plus sayur bening bayam

Selasa : Ayam lada hitam plus lalapan timun

Rabu : Ikan bakar dan sambal kecap ditambah rebusan sawi

Kamis : Gulai kerang dicampur wartel dan sambal terasi

Jumat : Sambal telur puyu dicampur tahu dan tumis kangkung

Sabtu : Taoco cumi-cumi dicampur buncis atau kacang panjang dan lalapan timun

Minggu : Bacem tempe dan telur ayam plus sambal terasi dan rebusan bayam.

Nah, ternyata mengatur belanja dapur tetap bisa cermat dan makanan yang disajikan tetap memenuhi kebutuhan gizi keluarga kan!

Dengan pola tertip belanja begini, hampir setiap bulan saya masih mendapatkan lebihan dari belanja dapur Rp 50-100 ribu. Ini karena harga barang di pasar dan supermarket naik turun sehingga bisa mendapatkan sisa belanja.

4. Kurangi Jajan dan Ngemal

Kalau dulu hampir setiap minggu saya dan keluarga jalan-jalan ke mal meskipun tidak ada tujuan yang dibeli, tapi sekarang sudah sangat jarang. Satu bulan sekali pun belum tentu masuk mal.

Alasannya, pertama adalah untuk penghematan. Meskipun ke mal tidak bertujuan belanja tapi kenyataannya selalu tergoda dengan barang diskon yang setelah dibeli belum tentu dipakai. Bahkan tidak jarang hanya teronggok di lemari.

Lagipula kalau sudah ngemal, pasti bawaannya ingin makan ini dan itu. Uang terkuras dan body pun tambah melebar. Program diet gagal total!

Alasan kedua, karena semua kebutuhan rumah tangga tersedia di supermarket yang sangat dekat dengan rumah dengan harga lebih murah.

Selain mengurangi ngemal, jajan anak-anak juga saya kurangi karena tidak semua jajanan itu baik untuk kesehatan mereka.

Sebagai gantinya, saya berusaha membuat sendiri apapun yang mereka inginkan. Jika tidak sempat membuatnya, saya memilih membeli jajan yang mengenyangkan seperti donat, biskuit, coklat, pisang goreng, bakwan dan lainnya.

Tempat jajannya pun saya pilih yang dekat rumah dimana makanannya dia olah sendiri sehingga mutu dan kebersihannya saya ketahui.

Untuk makan di luar, sesekali (sebulan sekali atau sebulan dua kali) tetap kami lakukan sebagai bentuk refreshing dan mentraktir diri sendiri.

Sisa uang belanja dapur bisa dialokasikan untuk refreshing ini.

4. Piknik Murah

Meskipun musim panceklik, piknik kudu tetap diagendakan. Piknik keluarga tidak harus mahal ya karena banyak tempat yang murah meriah bahkan gratis.

Sebagai ganti aktivitas jalan-jalan ke mal, saya dan keluarga sering menghabiskan weekend ke pantai yang dekat rumah dan free alias gratis uang masuk, tanpa uang parkir, DLL.

Di pantai, duo crucils yang memang hobi main pasir dan air bisa menyalurkan kesenangan mereka.

Sementara papa dan mamanya bisa duduk-duduk santai sembari cerita ngalur ngidul. Tidak lupa, sebagai peneman piknik sederhana ini, kami bawa teh, kopi, dan makanan sendiri. Murah bukan?

5. Hemat Pakai Listrik

Nah kalau soal urusan hemat listrik, pemerintah sudah sejak lama mengkampanyekannya. Pertanyaannya, apakah kita sudah melakukannya?

Kalau keluarga saya sudah. Bahkan dari kecil duo crucils saya ajarkan untuk menggunakan listrik seperlunya.

Misalnya, selepas dari kamar mandi, matikan lampu. Begitu bangun tidur, matikan kipas angin. Begitu selesai Subuh, matikan lampu teras. Begitu matahari bersinar, buka jendela lebar-lebar dan matikan lampu di dalam rumah. Jangan hidupkan TV kalau tidak ada yang menonton.

Yang paling penting, nyalakan AC hanya saat malam hari. Atur timer AC 3-4 jam semalam dengan suhu paling dingin sehingga setelah AC mati, suhu kamar tetap bertahan sejuk hingga pagi.

Sepanjang siang, kami tidak menghidupkan AC karena udara sejuk sudah masuk dari semua jendela dan pintu yang terbuka.

Pola penggunaan energi listrik begini, tidak hanya untuk menghemat pengeluaran tetapi juga ramah lingkungan.

Well, begitulah tips dari saya seputar pengaturan keuangan keluarga di masa ekonomi sulit seperti sekarang.

Uang itu memang penting dan selalu tidak cukup jika kita tidak pandai mengaturnya.

Salam bahagia keluarga Indonesia! (sri murni)