Tradisi Bagi-bagi THR Paling Seru Saat Lebaran

Berfoto bersama duo crucils dan suami saat hendak Sholat Idul Fitri, Minggu (25/6/2017). Foto by menixnews.com

BAGI-BAGI tunjangan hari raya (THR) biasanya dilakukan oleh pemilik usaha kepada para pekerjanya. Namun, singkatan THR menjadi istilah umum yang digunakan untuk bagi-bagi uang kepada siapa saja di saat Lebaran Idul Fitri. THR ini bisa disamakan dengan angpaonya hari raya Imlek.

Nah, di keluarga saya ada tradisi bagi-bagi THR paling seru yang sudah berlangsung puluhan tahun. Kapan tepatnya dimulai, saya pun lupa, yang pasti sejak saya kecil sudah berlangsung.

Tradisi bagi-bagi THR berlangsung di hari pertama Lebaran. Selepas Zuhur, semua anggota keluarga berkumpul. Saat orangtua saya masih hidup, acara kumpul pastinya berlangsung di rumah orangtua. Namun, sejak orangtua tiada (ayah wafat pada 1993 dan ibu pada 2011), kami berkumpul di rumah abang saya yang paling tua. Letak rumahnya hanya 20 meter dari rumah orangtua saya.

Saat berkumpul keluarga, jumlah yang datang bukanlah 10-20 orang, melainkan 62 orang. Jumlah itu berasal dari sepasang suami-istri (ayah dan ibu) saya yang memiliki sembilan anak (sebenarnya 10 anak– 5 pria dan 5 wanita–tapi kakak saya yang nomor dua meninggal saat bayi. Saya sendiri anak bungsu). Masing-masing kami sudah menikah dan memiliki anak. Nah, beberapa anak dari abang dan kakak saya juga sudah menikah dan sudah memiliki anak juga. Wih orangtua saya memang pengikut program KB (keluarga besar) sejati. Usia antara saya dan abang sulung memang terpaut jauh, 20 tahun lebih. Saya pun punya panggilan istimewa untuk abang-abang dan kakak-kakak saya. Karena body mereka yang aduhai, saya memanggil dengan sebutan Si Berat 1 sampai 8.

Legino dan istri, abang tertua di keluarga saya, biasa kami memanggilnya Kakak Pertama alias Si Berat 1. Foto by menixnews.com

Saat kumpul, suasana rumah abang sulung saya yang kini usianya setengah abad lebih memang seperti acara syukuran karena memang ramai sekali.

Acara lebaran dibuka dengan makan siang bersama. Untuk hidangannya, pasti beragam yang tidak hanya disediakan si tuan rumah, tetapi juga dibawa masing-masing keluarga yang datang. Beragam makanan itu di antaranya : miso Medan dan lontong sayur khas Medan yang lengkap dengan gulai ayam dicampur nangka, taoco kikil, sambal teri, bumbu pecal, mi gomak, dan telur rebus. Ada pula menu tambahan seperti lontong sate, rendang entok, rendang daging, pecal, urap, dan sup. Untuk menu penutupnya, ada dodol original, lemang plus sri kaya, gemblong plus tapai ketan merah, dan kue-kue Lebaran yang terlalu panjang disebutkan satu-satu.

Berkumpul makan siang bersama. Foto by menixnews.com

Selepas makan siang, kami lanjutkan dengan sungkeman satu-satu, mulai dari yang paling tua sampai yang paling muda. Karena anggota keluarga yang banyak, acara sungkeman bisa berlangsung satu jam lebih. Apalagi saat sungkeman abang dan kakak saya banyak menggunakan kalimat-kalimat yang panjang sehingga memerlukan  waktu yang lebih lama pula. Tidak semuanya menggunakan bahasa Indonesia, tetapi juga bahasa Jawa Kromo Inggel karena orangtua saya memang tulen Jawa. Kalau saya, ya pakai bahasa Indonesia saja dan kata-katanya pun lebih singkat.

Setelah acara sungkeman selesai, selanjutnya adalah tradisi yang paling ditunggu-tunggu terutama oleh para crucils yakni bagi-bagi THR. Tradisi ini memiliki beberapa ketentuan dasar yakni:

1. Setiap anggota keluarga yang sudah bekerja wajib membagikan THR kepada yang belum menikah (mulai dari bayi sampai yang dewasa asalkan statusnya belum menikah).

2. Siapapun mulai dari yang baru lahir sampai yang dewasa, asalkan belum menikah berhak mendapatkan pembagian THR.

3. Besaran THR sangat tergantung dari kemampuan masing-masing pemberi THR. Ada yang memberi Rp 100 ribu sampai minimal Rp 5.000.

4. Besaran THR yang diberikan ke penerima juga tidak sama. Biasanya yang berstatus mahasiswa dan belum kerja mendapatkan bagian paling besar, sedangkan yang SMA mendapaykan bagian lebih kecil, dan bagitu seterusnya.

5. Biasanya, penerima THR yang berpuasa penuh selama Ramadan juga mendapatkan bonus THR tambahan yang diberikan oleh pemberi THR.

6. Uang THR yang didapatkan penerima THR biasanya digunakan untuk membeli barang yang mereka impikan, misalnya sepeda, tablet, dan ada juga yang menggunakannya untuk membeli emas perhiasan sekaligus sebagai simpanan.

7. Tahun ini, penerima THR sebanyak 35 orang sedangkan pemberi THR ada 18 orang. THR dibagikan satu per satu dari pemberi kepada penerima THR. Karena banyaknya pemberi dan penerima, acara bagi-bagi THR bisa memakan waktu satu jam lebih. Bahkan agar tidak ada penerima THR yang terlewat, abang saya yang nomor dua dan bertindak sebagai MC mencatat dan membacakan satu per satu nama penerima THR (wah sudah seperti pembagian Raskin aja… kwkwkwkw).

Legiso, abang nomor dua (kami biasa memanggilnya kakak kedua alias si Berat 2) saat menjadi MC pemberian THR. Foto by menixnews.com

8. Dua tahun terakhir ini ada tradisi baru yakni para pemberi THR juga memberikan THR khusus kepada saudara paling tua yakni abang saya paling sulung. Besaran THR sangat bervariasi tergantung kemampuan ekonomi masing-masing.

9. Beberapa pemberi THR yang ekonominya memadai, juga berbagi THR kepada anggota keluarga lain yang sudah bekerja. Saya sendiri mendapatkan THR sebesar Rp 15 ribu yang diberikan ponakan. Sementara suami saya dapat Rp 20 ribu. (Haha… Besarannya sih tidak seberapa, tetapi kami sangat senang dan bahagia serta mengapresiasi yang lebih mudah karena mereka sudah mampu memberi).

Kegembiraan abang-abang saya dan suami saat menerima THR. Foto by menixnews.com

10. Selama acara berlangsung tidak dibolehkan satu orangpun yang meninggalkan lokasi acara sampai acara benar-benar selesai dan abang tertua saya mengizinkan anggota keluarga untuk bubar.

Siapakah di antara anggota keluarga yang mendapatkan THR paling banyak? Yang pasti adalah abang sulung saya karena mendapatkan THR dari adik-adiknya dan para ponakan yang sudah bekerja. Penerima THR terbanyak kedualah ponakan saya yang berstatus mahasiswa dan kuliah di ITB.

Sungguh menyenangkan memang saat Lebaran bisa pulang kampung dan mengikuti tradisi-tradisi keluarga yang hanya berlangsung setahun sekali. Jika dihitung secara materi memang tidak lah besar, tapi silaturahmi dan kebersamaan serta kebahagiaan yang dirasakan tak ternilai dengan apapun. Tradisi untuk saling memberi juga sangat kuat dengan adanya acara seperti ini. (Sri Murni)

SELAMAT BERLEBARAN KELUARGA INDONESIA!