Traveling Impian Kami 2018: Tapak Tilas Alam dan Budaya Ranah Minang

Panorama Ranah Minang, Sumatera Barat. Foto by Minangkabaunews

RANAH Minang, Sumatera Barat, selalu punya kesan tersendiri di hati saya dan suami.

Sejak SMA (1996-1999) di Medan sampai saya kuliah (1999-2003) di Pekanbaru, Tanah Bundo Kanduang tersebut selalu menjadi tempat tujuan wisata utama saya dan teman-teman.

Begitu juga dengan suami saya. Meskipun bukan orang Sumbar, dia memiliki kenangan yang begitu indah karena pernah menghabiskan waktu tiga tahun merantau dan sekolah di salah satu STM (Sekolah Teknik Menangah) di Bukittinggi.

Namun, sejak merantau ke Batam pada 2004 (berarti sudah 14 tahun), baik saya maupun suami tidak pernah lagi menginjakkan kaki ke sana.

Ada kerinduan yang begitu mendalam akan alam dan kebudayaan Ranah Minang. Ingin sekali kami tapak tilas menyusuri tempat-tempat yang masing-masing pernah kami singgahi dulu ketika kami belum saling mengenal.

Suami saya ingin melihat kembali sekolahnya, tempat kosnya, tempat-tempat yang pernah dikunjunginya bersama teman-temannya ketika masih sekolah, termasuk tempat-tempat yang pernah dia datangi bersama pacar-pacarnya.

Dia juga ingin bertemu dengan guru-gurunya, bapak/ibu kosnya, dan tentu saja teman-teman lamanya.

Sementara saya, sangat ingin melihat keadaan Ranah Minang yang sudah 14 tahun tidak pernah saya datangi lagi.

Apakah jalan Kelok 9 (perbatasan antara Riau dan Sumbar) dan Kelok 44 (di Maninjau) masih seekstrim dulu?

Apakah Rumah Gadang masih seindah saat saya kunjungi 14 tahun silam? Apakah Pasar Bawah dan Pasar Atas masih seramai dulu? Apakah air di Air Terjun Lembah Anai masih sedingin dulu?

Ah begitu ingin kami update kenangan tentang Ranah Minang yang lama tersimpan dalam memori kami.

Apalagi, sekarang kami sudah punya dua crucils (anak) yang juga sangat penasaran dengan Ranah Minang. Setiap kami bercerita tentang pengalaman hidup dan jalan-jalan ke Sumbar, mereka senantiasa antusias dan terus bertanya kapan mereka diajak ke sana.

Setelah bertahun-tahun memendam hasrat, rasanya tahun ini adalah tahun yang pas untuk merealisasikan rencana tapak tilas itu.

Dilema antara pulang kampung dan tapak tilas

Ide tapak tilas ke Ranah Minang, sudah dicanangkan suami saya sejak empat tahun lalu. Tapi ketika itu saya belum ingin karena the youngest lady (putri bungsu) kami baru berusia beberapa bulan.

Saya katakan kepadanya,”nanti ya kalau anak-anak sudah sedikit besar.”

Setelahnya, sampai detik ini, dia selalu mengajak untuk merealisasikan rencana itu secepatnya karena dia takut orang-orang yang ingin ditemuinya keburu sudah berpulang ke Rumah Allah SWT, terutama ibu/bapak kos dan guru-gurunya yang memang kini sudah berusia rentah.

Permasalahannya, beberapa tahun ini, acapkali ingin tapak tilas selalu terbentur dengan cuti yang jumlahnya sangat sedikit (12 hari setahun).

Cuti itu senantiasa kami gunakan untuk pulang kampung ke Dumai dan Medan saat lebaran agar bisa bersilaturahmi dengan keluarga.

Berat juga rasanya ketika lebaran tidak pulang kampung, karena baik saya dan suami maupun keluarga besar di kampung sama-sama rindu.

Apalagi anak-anak, rasanya mereka akan sangat sedih ketika tidak bisa bertemu dengan bude-pakde, om-tante, dan sepupu-sepupu mereka di momen lebaran yang hanya setahun sekali.

Alhasil, selepas lebaran, tidak ada lagi cuti tersisa sehingga tapak tilas masih dalam angan-angan.

Tapi rasanya tidak untuk tahun ini. Kami bertekad agar bisa tapak tilas setelah lebaran. Kami pun sudah sama-sama mengalokasikan cuti tahunan khusus untuk berangkat ke Ranah Minang dengan tetap mengalokasikan waktu berlebaran di kampung.

Itinerary sudah kami siapkan dengan sangat baik dan cermat sehingga bisa tetap berlebaran di kampung dan tapak tilas ke Sumbar.

Ini memang perjalanan yang tidak singkat karena memerlukan waktu sedikitnya dua pekan.

Apalagi,  kami tidak ingin semua perjalanan ditempuh dengan pesawat, melainkan harus diselingi dengan perjalanan darat sebagaimana masing-masing kami lakukan di masa lalu.

Agar rencana perjalanan lancar dan sesuai dengan waktu yang tersedia, kami merencanakan perjalanan melingkar dengan rute Batam-Medan-Dumai-Sumbar-Batam.

1. Batam-Medan naik pesawat

Rute pertama adalah Batam-Medan (Bandara Kualanamu) menumpang pesawat terbang. Kami akan mulai berangkat pada H-2 lebaran, atau tepatnya pada 13 Juni 2018.

Mengapa tujuannya Medan terlebih dahulu? Karena di sanalah keluarga besar saya berada dan kami ingin merasakan riuh keramaian hari pertama lebaran.

Keluarga besar saya kini jumlahnya lebih dari 60 orang, setelah sembilan anak orangtua saya menikah, ditambah para cucu dan cicitnya.

Walau kedua orangtua saya sudah tiada, tapi tradisi kumpul semua anggota keluarga tetap berjalan setiap tahunnya.

Bagi anak-anak, momen lebaran ini sangat ditunggu karena ada tradisi bagi-bagi THR (tunjangan hari raya alias angpao) untuk mereka dari semua anggota keluarga yang sudah berkerja.

Soal serunya lebaran di keluarga saya, bisa dibaca di sini!

Tradisi Bagi-bagi THR Paling Seru Saat Lebaran

Kebayangkan bagaimana sedihnya duo crucils jika sampai kami tidak pulang saat lebaran?

Tiket pesawat untuk lebaran memang kudu dipesan jauh-jauh hari sebelum hari keberangkatan agar dapat harga murah.

Biasanya saya memesan tiket pesawat paling tidak enam bulan sebelum keberangkatan. Pemesanan bisa dilakukan sendiri via online karena sudah sangat gampang dan banyak pilihan.

Jika tidak ingin ribet cari perbandingan harga tiket pesawat dengan membuka satu per satu website maskapai, Anda bisa memanfaatkan layanan skyscanner.

Cukup dengan mengisi nama kota keberangkatan dan kota tujuan, tanggal yang diinginkan, serta jumlah penumpang yang akan berangkat, kemudian klik satu kali fitur “Cari Penerbangan”, semua pilihan penerbangan tersedia.

Pilihan pesawat lengkap dari harga yang paling murah, paling cepat, dan paling baik. Di sana juga terdapat pilihan tiket pesawat Garuda

Waktu tempuh penerbangan dari Batam ke Medan, rata-rata sekitar 1,5 jam.

Contoh tampilan pencarian tiket Pesawat via skyscanner di bawah ini!

Contoh pilihan penerbangan Batam-Medan.

2. Medan-Dumai naik bus

Rasanya kami tidak bisa berlama-lama menghabiskan momen lebaran di kampung saya seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebab kami harus membagi waktu untuk tapak tilas ke Ranah Minang.

Tahun ini, kami merencanakan hanya lima hari di kampung saya. Pada H+3, kami akan beranjak ke kampung suami saya, Dumai, untuk bersilaturahmi dengan keluarga besarnya di sana.

Perjalanan dari Medan ke Dumai, seperti tahun-tahun sebelumnya, akan kami tempuh dengan menumpang bus malam.

Tersedia banyak bus untuk rute tersebut di antaranya Makmur, Intra, Sinar Baru, danlainnya.

Kelas busnya juga banyak, mulai dari yang ekonomi tidak ber-AC, sampai yang super VVIP 2-1 yang AC-nya sangat dingin. Kisaran harganya mulai dari Rp 150 ribu sampai Rp 250 ribu.

Biasanya kami memilih yang medium, VIP 2-2, yang AC-nya tidak begitu dingin dan memiliki sandaran kaki serta sandaran punggung yang bisa direbahkan hampir 180 derajat.

Dengan begitu, anak-anak bisa tidur dengan pulas tanpa merasa sakit punggung, begitu juga dengan Mama dan Papanya.

Bus yang nyaman, akan membuat perjalanan menyenangkan meskipun menempuh waktu sekitar delapan jam bahkan terkadang lebih.

Jika tidak ingin menumpang bus, kini sudah tersedia penerbangan Medan (Bandara Kualanamu) ke Dumai dengan frekuensi satu kali dalam sehari. Jarak tempuhnya sekitar 1,15 jam.

Namun, kami memang lebih memilih bus karena anak-anak suka naik bus dan memberikan pengalaman berbeda kepada mereka.

Pilihannya penerbangan Medan-Dumai bisa dilihat di sini!

Pesawat Medan-Dumai

3. Dumai-Sumbar naik bus

Sama halnya dengan di kampung halaman saya, di Dumai pun kami tidak berlama-lama.

Kami berencana hanya dua hari di Dumai, kemudian melanjutkan perjalanan. Dari Dumai inilah tapak tilas kami akan benar-benar dimulai.

Dari Dumai ke Sumbar akan kami tempuh dengan bus, sama seperti perjalanan bus yang kerap dilakukan oleh suami saya di masa siloam.e

Saat STM di Bukittinggi (1996-1999), suami saya kerap menumpang bus untuk pulang ke Dumai demikian juga sebaliknya. Secara regular, dulu dia pulang kampung tiga bulan sekali guna melihat orangtua dan sanak saudaranya.

Dengan perjalanan ini, kami ingin memberikan pengalaman kepada duo crucils agar bisa merasakan perjalanan jauh yang ditempuh papanya untuk menuntut ilmu.

Perjalanan dari Dumai ke Sumbar, tepatnya ke Bukittinggi, bisa ditempuh dengan bus dalam waktu sekitar delapan jam.

Tersedia bus pagi maupun malam. Tersedia juga pilihan lain berupa travel. Tapi untuk kenyamanan anak-anak, kami lebih memilih menumpang bus. Untuk rute Dumai-Sumbar kini memang belum tersedia penerbangan.

Satu hal yang membuat saya pribadi sangat excited untuk perjalanan darat Dumai-Sumbar ini adalah, akan melewati jalan raya “Kelok Sembilan” atau “Kelok 9” Payakumbuh yang terkenal ekstrim sekaligus menegangkan.

Dulunya, saat masa-masa sekolah dan kuliah, Kelok 9 ini kerap saya lewati karena saya sering berwisata ke Sumbar.

Dulu, kelok ini memang terkenal jalur maut karena jalannya  yang berkelok-kelok tajam, mendaki dan menurun, sempit dan bersebelahan dengan jurang, sering menjadi tempat kecelakaan.

Entah sudah berapa banyak kendaraan jatuh ke jurang dan entah sudah berapa nyawa melayang di lintasan ini.

Namun, pada Oktober 2013 lalu, wajah Kelok 9 sudah berubah karena jalannya sudah dibangun dengan apik dan tidak lagi rawan kecelakaan. Bahkan, jalan ini dari atas bentuknya seperti lintasan roller coaster. Tempat ini sudah menjadi satu di antara sekian banyak ikon Sumbar dan menjadi tempat berfoto para wisatawan yang melintas.

Kelok 9 merupakan karya anak bangsa yang membanggakan dengan mengusung konsep green construction. Kontruksinya sangat istimewa dan unik karena jalan dibikin berkelok-kelok di atas jurang dan sungai dengan panjang keseluruhan 2,5 KM.

Jalan ini ditopang 30 pilar yang kokoh dengan ketinggian 10-15 meter. Jalan yang dulunya hanya bisa dilalui secara bergantian, kini dapat menampung 14.000 kendaraan setiap harinya.

Dilihat dari sejarahnya, jalan Kelok 9 sudah dibangun sejak zaman Kolonial Belanda, tepatnya sekitar tahun 1910.

Kelok 9 baru selesai dibangun secara modern seperti sekarang pada 2013 dan diresmikan  pada Oktober di tahun yang sama oleh Susilo Bambang Yudhoyono selaku presiden di masa itu.

Selama di Sumbar, pastinya banyak tempat yang ingin kami datangi. Target pertama, seperti yang saya sampaikan di atas, adalah bersilaturahmi dengan bapak/ibu kos, guru-guru, dan teman-teman lama suami saya.

Target berikutnya adalah mengunjungi tempat wisata yang dulu pernah saya jelajahi di antaranya: Nagari Paringan yang telah dinobatkan menjadi salah satu desa terindah di dunia sejak 2012. Nagari ini terletak di bawah kaki Gung Merapi.

Desa Nagari Pariangan. Foto via intisari

Kami juga ingin melihat keindahan kota Bukitinggi dan menikmati wisata di dalam kotanya termasuk Lobang Jepang. Tempat lain yang akan kami kunjungi adalah Rumah Gadang, Tugu Equator, Lembah Harau, Danau Singkarak, Danau di Atas dan Danau di Bawah, serta Danan Maninjau, Pantai Malin Kundang dan Siti Nurbaya, dan beberapa lainnya.

Bicara soal Danau Maninjau, rute jalan di sini sunggu luar biasa. Jika jalan dari Riau ke Sumbar ada Kelok 9, untuk ke kawasan Danau Maninjau ada rute Kelok 44. Kelok atau belokak tajamnya lebih banyak dari Kelok 9.

Saya masih ingat, pertama kali ke danau ini pada tahun 1997, semasa SMA besama seorang teman. Kami menumpang bus yang sangat padat dan kami harus berdiri.

Perut rasanya sangat mual di dalam bus karena jalannya yang berkelok-kelok ditambah lagi harus berdiri bersempit-sempit dan berpegangan di tiang tengah di dalam bus.

Panorama Kelok 44 Maninjau. Foto by AET Travel

Untuk tempat menginap selama di Sumbar, kami sudah memesan via skyscanner beberapa penginapan yang asri dan terjangkau yang tidak jauh dari tempat-tempat wisata.

Ada banyak pilihan tempat menginap dari yang paling murah di harga Rp 200-an ribu per kamar sampai yang satu jutaan lebih.

Kami sendiri memilih yang Rp 200-an ribu dengan tipe guest house ataupun penginapan non-bintang.

Sementara untuk transportasi dalam kota, kami memilih sesuai dengan kebutuhan dan mengkombinasikan antara sewa mobil, motor, dan naik transportasi umum.

4. Sumbar-Batam naik pesawat

Setelah hasrat tapak tilas terpenuhi kurang lebih satu pekan, saatnya untuk kembali ke Batam. Tapak tilas kami akan diakhiri di Kota Padang, Ibukota Sumbar.

Padang sebagai tujuan terakhir karena kami akan kembali ke Batam via Minangkabau International Airport.

Perjalanan udara tentu saja untuk menghemat waktu agar cepat sampai di Batam dan kembali beraktifitas seperti sebelumnya.

Semoga segala rencana traveling impian kami di tahun 2018 ini berjalan dengan mulus tanpa kendala yang berarti. AMIN! (sri murni)

NB: Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner.