Susahnya Jadi Orang “Kerdil” Saat Traveling ke Australia

Bersama teman-teman sekelas Peace and Conflict Studies ANU, Canberra, Australia.

JAKARTA-Canberra merupakan penerbangan internasional pertama saya. Dari Jakarta saya berangkat dengan pesawat Garuda Indonesia pukul 22.05 WIB.

Alhamdulillah pesawat ini terbang sesuai jadwal. GA 712 yang saya tumpangi menggunakan pesawat berbadan besar yakni Airbuss 330 yang muatannya sekitar 200-an orang dengan posisi tempat duduknya dibagi tiga bagian, sisi kanan, sisi kiri, dan tengah.

Saran saya, jika ingin terbang dengan santai dan apabila pesawat tidak penuh, mintalah tempat duduk di bagian tengah karena Anda akan bisa tidur dengan merentangkan kaki di 4 kursi di bagian tersebut.

Sayangnya, saya sendiri ketika berangkat meminta duduk di sisi kanan dan dekat jendela, dengan asumsi agar bisa melihat keluar. Ternyata saya salah karena selama terbang tidak ada matahari alias malam dan gelap.

Untuk penerbangan internasional, layanan Garuda sangat menyenangkan dan tidak membosankan karena setiap tempat duduk telah dilengkapi fasilitas hiburan seperti monitor di depan setiap tempat duduk . Dengan fasilitas ini Anda bisa main game, nonton film-film terbaru baik Hollywood, Bollywood, maupun produksi Indonesia.

Banyak genre yang disediakan, mulai dari komedi, horor, romantis, drama keluarga, sampai action. TIdak ketinggalan tontonan untuk anak-anak. Jika tidak ingin melihat tayangan video, Anda bisa sekedar mendengarkan musik atau membaca majalah.

Pesawat dari Jakarta tidak langsung ke ibukota Australia melainkan harus berhenti di Sydney. Australia memang memiliki kebijakan penerbangan dimana pesawat dari luar Australia tidak akan diizinkan langsung mendarat di ibukota melainkan harus berhenti di kota-kota lain di Australia seperti Sydney, Melbourne, Perth, dan lainnya. Dari bandara di kota-kota tersebut, kemudian dilanjutkan dengan pesawat lain ke Canberra.

Dari Jakarta ke Sydney memakan waktu sekitar 6 jam 10 menit. Jika berangkat dari Jakarta pukul 22.00 maka akan tiba di Sydney sekitar pukul 08.15 waktu setempat. Perbedaan waktu antara Jakarta dan Sydney sekitar empat jam saat musim panas dan tiga jam saat musim dingin. Sebelum mendarat, Anda akan mendapatkan sarapan pagi dari Garuda. Untuk kelas ekonomi seperti yang pernah saya alami, menunya hanya terbagi dua yakni western food (daging dan kentang) dan Indonesian food (nasi goreng).

Setelah sarapan, Anda akan dibagikan holder card, semacam kartu masuk Australia yang berisi tentang informasi diri Anda dan barang bawaan. Kartu ini harus Anda isi sebelum pesawat mendarat agar tidak repot saat urusan pemeriksaan barang. Jika kartu tidak tersedia di pesawat, terpaksa Anda harus mengambil dan mengisinya setelah berada di tempat pemeriksaan imigrasi.

Jangan Bawa Cairan ke Kabin

Perlu diingat, untuk barang bawaan di dalam pesawat, jangan membawa cairan apapun yang isinya lebih dari 100 ml. Jika ada obat-obatan, lengkapilah dengan resep dokter. Sebaiknya barang cairan, makanan olahan (rendang, sayur, dll), buah, obat-obatan, diletakkan di bagasi dan harus disebutkan dalam card holder.

Jika dibawa ke kabin, urusannya bisa repot. Termasuk jangan membawa air minum baik mineral maupun bentuk lainnya karena petugas bandara akan meminta Anda meminum minuman tersebut sampai habis atau meninggalkannya di konter pemeriksaan. Jangan khawatir takut haus atau lapar karena selama penerbangan, Garuda akan memberikan makanan dan minuman yang cukup untuk penumpangnya.

Begitu mendarat di Kingsford Smith Airport,  harus memasang mata ke segala penjuru untuk membaca petunjuk arah atau bisa pula langsung mengikuti penumpang lain agar tidak tersesat. Semua petunjuk arah terpampang di dinding, lantai dan plafon. Selama proses pemeriksaan imigrasi, tunjukanlah paspor dan holder card. Setelah urusan imigrasi selesai, Anda akan langsung menuju tempat pengambilan bagasi yang letaknya tepat di belakang konter imigrasi.

Nah holder card akan diminta oleh petugas pemeriksaan barang. Jangan kaget jika koper dan tas Anda dibongkar untuk dilakukan pemeriksaan. Santai saja karena itu hal biasa. Asalkan Anda tidak membawa barang-barang yang dilarang, semuanya akan aman.

Saya sarankan, untuk barang-barang yang sangat pribadi seperti pembalut dan pakaian dalam, sebaiknya dibungkus dalam kantong hitam, sehingga ketika koper dibongkar petugas, benda-benda itu tidak berserakan.

Jangan Harap Ada Porter

Bandara di Australia tidak menyediakan jasa porter seperti di bandara-bandara Indonesia. Anda diharuskan mandiri mengangkat barang bawaan sendiri meskipun itu sangat berat. Yang tersedia hanyalah troli. Jika memang Anda tidak kuat mengangkat koper, mungkin bisa meminta tolong penumpang lain untuk membantu.

Jika urusan barang bawaan tidak bermasalah, langsung saja menuju konter transit domestik untuk melanjutkan penerbangan ke Canberra. Biasanya dari Sydney ke Canberra menggunakan pesawat Qantas. Meskipun counter check in domestik Qantas masih satu gedung, tapi jaraknya lumayan jauh. Bersiap-siaplah untuk bercapek-capek membawa barang .

Jika pesawat Anda dari Jakarta mengalami penundaan  dan sampai di Sydney pesawat Anda ke Canberra sudah terbang, jangan panik. Tetap lapor ke counter check in domestik karena mereka akan memberikan penerbangan berikutnya tanpa dikenakan biaya apapun.

Sulitnya Menjangkau Pegangan

Setelah urusan check in domestik beres, Anda akan diantar ke terminal penerbangan domestik menggunakan bus. Jaraknya lumayan jauh, sekitar 1 km. Untuk orang-orang yang tinggi badannya pas-pasan seperti saya alias “kerdil” (sekitar 150 cm) baiknya cepat-cepat masuk ke dalam bus agar kebagian tempat duduk. Jika tidak, Anda akan berdiri.

Anda akan merasa sedih dan kesulitan mencari pegangan, karena pegangan tangan yang biasanya tergantung di plafon bus, ternyata tidak terjangkau.  Jadi bisa dibayangkan, sulitnya mencari pegangan di dalam bus jika posisi berdiri.

Saya sendiri memang tidak mendapat tempat duduk di dalam bus dan harus berdiri. Waduh…berkali-kali saya hampir terjatuh. Mau tidak mau saya pegang saja penumpang lain yang duduk di kursi di depan saya. Untung saja ada seorang nenek yang duduk di depan saya dan merelakan tas tangannya saya jadikan pegangan.

Penerbangan dari bandara Sydney ke Canberra memakan waktu sekitar 1,5 jam. Pesawat domestik Australia ternyata tidak jauh beda dengan pesawat di Indonesia. Qantas yang saya tumpangi  berjenis pesawat boeing 737-400 dan ketika landing di Canberra, tetap saja seisi pesawat bergoyang-goyang. Plafon dan dinding pesawatnya juga sudah kendor sehingga berbunyi seperti terkena gempa.

Ada satu pemandangan ganjil bagi saya dan cukup membuat saya heran ketika pesawat mendarat dan para penumpang mulai turun. Ternyata bagasi bisa diambil di landasan pesawat dan tidak harus di dalam gedung (tempat pengambilan bagasi). Saya melihat para penumpang berlari-lari dari tangga pesawat menuju mobil pembawa bagasi untuk berebut mengambil koper dan barang lainnya. Karena koper saya berat, ya saya tunggu saja bagasi di baggage claim. (sri murni)