Travelling Dua Benua Bareng Orang Nyebelin: Rasanya Pengin Lompat dari Pesawat

Pose bareng teman-teman dengan latar belakang pemain musik tradisional Norwegia.

ADA pepatah mengatakan, semakin jauh kita berjalan, semakin banyak yang dilihat.

Semakin banyak kita travelling semakin banyak pengalaman dan semakin banyak tips hidup yang kita pelajari.

Semakin banyak orang yang kita temui selama travelling, semakin mendawasakan kita untuk menghadapi beragam karakter manusia yang berbeda-beda dan semakin pula mengajarkan kita menata hati dan emosional menghadapi orang-orang tersebut.

Saat travelling baik bersama sahabat maupun orang yang baru dikenal, merupakan momen dimana kita bisa mengetahui karakter dan sifat asli mereka. Apakah mereka orang yang easy going dan menyenangkan atau justru berubah menjadi sosok yang nyebelin.

Well, tulisan saya ini akan berbagi kisah momen nyebelin khususnya bersama orang yang baru saya kenal selama perjalanan dua benua dari Australia ke Asia.

Tulisan saya ini ada dua seri. Seri pertama kali ini adalah perjalanan nyebelin di dalam pesawat dari Sydney ke Oslo dengan teman sebangku yang baru saya kenal.

Tulisan kedua nantinya adalah tentang jalan-jalan di Paris dengan tiga sahabat yang ternyata dua di antaranya nyebelin.

Susahnya Jadi Orang “Kerdil” Saat Traveling ke Australia

TOLONG! Teman Sebangku, Bau Mulutnya Luar Biasa Menyengat

Adalah hal yang sangat menyenangkan jika bertemu teman sebangku yang ramah dan asyik diajak cerita di dalam pesawat.

Apalagi jika penerbangan itu merupakan penerbangan internsional dalam waktu lebih dari delapan jam.

Sungguh perjalanan yang sangat lama dan membosankan kan? Namun, apakah teman sebangku yang ramah tamah itu bisa membuat penerbangan menjadi menyenangkan jika ternyata keramahtamahan itu dibarengi dengan nafas dan bau mulut yang sangat menyengat?

Inilah pengalaman “pahit” yang saya rasakan ketika terbang jauh dari Bandara King Smith International Airport Sydney, Australia, menuju Oslo, Norwegia pada Jumat, 12 Agustus 2011 lalu.

Ketika itu, saya masih berstatus pelajar S2 di The Australian National University (ANU), Canberra alias the Australian Capital Territory (ACT). Karena keperluan study, saya harus mengikuti sandwich program Peace and Conflict Study di Bjorkness Collage di Oslo.

Untuk pergi ke sana, saya pun mencari penerbangan yang low budget. Setelah searching sana-sini, saya mendapatkan penerbangan Sydney-Oslo dengan penerbangan tidak langsung dengan dua kali transit.

Penerbangan pertama dari  King Smith International Airport Sydney menuju Shangkai Pu Dong Airport, Cina dengan pesawat Southern China Airlines. Waktu perjalanan sekitar 8,5 jam.

Menjelajah Tanah Aborigin in The Great Blue Mountains Australia

Kemudian di bandara Shanghai transil sekitar enam jam, lalu ganti pesawat dengan menggunakan Aeroflot Russian International Airlines (SU)  menuju Moscow Sheremetyevo Airport. Lama penerbangan sekitar 6,5 jam.

Dari Bandara Moscos ini saya kembali tukar pesawat menggunakan maskapai yang sama menuju Oslo Airport Gardermoen, Norwegia. Lama penerbangan hanya sekitar 35 menit.

Bisa dibayangkan kan panjang perjalanan saya dari kutub selatan ke kutub utara dengan total waktu di atas pesawat sekitar 15,5 jam, di luar waktu transit dan menunggu pesawat.

Dari tiga pesawat yang saya tumpangi itu, penerbangan yang paling berkesan sekaligus menyebalkan terjadi saat berada di atas pesawat China Southern Airline dari Sydney ke Shanghai.

Pesawat China Southern Airlines. Foto by google

Dari Bandara King Smith, Sydney, pesawat take off sesuai schedule yakni pukul 11.00 waktu setempat. Maka sekitar setengah jam sebelum pesawat berangkat, penumpang yang sudah check in dan selesai urusan bagasi, dipersilahkan untuk naik ke pesawat.

Saya pun sangat senang mendengar panggilan seorang wanita dari pengeras suara bahwa penumpang pesawat China Southern Airline dengan nomor penerbangan MU 0562, tujuan menuju Shangkai Pu Dong Airport dipersilahkan naik ke pesawat.

Saya senang karena akan segera melihat belahan dunia lain. Saya juga senang karena sudah bosan dan lelah jalan-jalan mengublek-ublek isi Bandara King Smith yang mayoritas berisi jejeran duty free shop dan cafe yang harganya terbilang tidak “ramah” untuk kantong mahasiswi.

Saat mendengar pengumuman itu, saya pun bergegas masuk ke barisan antrean penumpang yang sedang boarding dan masuk ke pesawat.

Saya mendapatkan tempat duduk di dekat jendela. Saat terbang kemana-mana, saya memang paling suka pilih tempat duduk dekat jendela.

Tujuannya, tentu saja agar bisa melihat pemandangan di luar, minimal saat akan take off dan landing. Kalau di tengah perjalanan paling-paling yang dilihat adalah pemandangan awan-awan yang tidak seindah saat melihatnya dari bumi.

Bahkan awan bisa menjadi musuh karena saat pesawat menabrak awan putih dan tebal bisa menyebabkan goncangan yang lumayan kuat dan membuat mual.

Kembali ke pesawat yang saya tumpangi, setelah mendapatkan tempat duduk yang terterah di kertas boarding pass, saya meletakkan ransel di tempat penyimpanan di atas tempat duduk. Kemudian duduk manis di kursi paling pinggir dekat jendela.

Untuk penerbangan kali ini, saya benar-benar berdoa agar diberikan teman satu bangku seorang wanita yang ramah. Saya berdoa dengan teramat sangat mendapat dan meminta semoga teman sebangku saya tidak seorang lelaki, meskipun dia pria tampan sedunia.

Mengapa saya tidak ingin sebangku dengan pria tampan? Bukannya itu yang mungkin diharapkan banyak wanita? Sebagaimana banyak lelaki mendambahkan teman sebangku seorang wanita cantik?

Mau Study Abroad ke Australia atau Amerika Serikat? Ini Informasi Beasiswanya

Untuk kali ini saya tidak berharap teman sebangku pria karena saya takut tidak nyaman dan kemungkinan bisa saja terjadi hal yang tidak diinginkan. Pelecehan seksual misalnya, baik ringan maupun berat, baik fisik maupun perkataan. Jadi lebih aman menurut saya adalah teman sebangku wanita.

Ah…Alhamdulillah, doa saya itu terwujud. Dari sekian banyak penumpang yang masuk ke pesawat, seorang wanita tengah baya melangkah ke lorong tempat duduk saya dan memiliki nomor tempat duduk tepat di sebelah saya.

Sebelum duduk, dia sempat tersenyum kepada saya sambil meletakkan tasnya di atas kepala kami.

Dia pun mengucapkan,”excuse me,”dengan tampang ramah, sesaat sebelum mendudukan bokongnya di kursi. Saya pun membalasnya dengan senyuman ramah dan berkata,”Oh… Yes, please!”

Sampai di sini semuanya terlihat menyenangkan dan sesuai dengan doa dan harapan saya.

Namun, ternyata kondisi ideal itu tidak bertahan lama. Saat semua  penumpang sudah di pesawat dan pramugari kepala mulai berbicara via pengeras suara, teman sebangku saya yang juga seorang wanita Asia, mulai menunjunjukkan keramahannya.

Dia mulai membuka pembicaraan dengan menanyakan kemana saya akan pergi.

Pertanyaan itu adalah standard untuk memulai pembicaraan dan tidak ada yang salah dengan semua itu. Hanya saja, karena posisi kami begitu dekat- kebetulan pesawat China Southern Airlines ini tempat duduknya rapat-rapat seperti penerbangan domestik di Indonesia- saya mencium aroma bau mulut yang sangat tidak sedap bahkan bisa saya katakan menyengat.

“Oh My God!,” dalam hati saya. Kepala saya memang langsung kliyengan karena bau itu sungguh terlalu! Lebih bau dari mulut kita saat bangun tidur pagi dimana sebelum tidur tidak gosok gigi. Benar-benar sungguh menyengat dan langsung menusuk hidung, hingga otak saya pun langsung bereaksi.

Kemungkinan besar, ketika dia berbicara berhadapan dengan wajah saya, ketika itu pula hidung saya sedang menarik nafas, sehingga apa yang saya rasakan langsung begitu dalam. “Oh My God, berapa lamakah ini wanita tidak menyikat gigi dan membersihkan mulutnya?” saya berkata dalam hati dengan penuh kesal.

Serba-Serbi Tinggal Seatap dengan Bule-Bule di Australia

Perwujudan dari doa saya ternyata tidak sempurna. Saya memang diberikan teman sebangku wanita yang ramah, tetapi memiliki kekurangan yang membuat penerbangan berjam-jam saya jauh dari kata menyenangkan.

Saat itu saya memang berada dalam posisi sulit, antara meladeni keramahannya atau justru bersikap sombong dan pura-pura sibuk.

Setiap kali saya mencium bau menyengat dari mulutnya yang aktif berbicara, saya senantiasa “panik” dan ingin menutup hidung, tetapi pasti itu akan membuatnya tidak nyaman. Saya hanya berusaha memalingkan wajah ke arah jendela untuk mengambil nafas sebentar dan mendapatkan udara agak segar, sebelum menjawab pertanyaannya.

Setelah itu, saya perlahan menjawab pertanyaannya dengan singkat sambil berdoa semoga dia tidak bertanya hal lain atau menyambung pembicaraannya.

Tenth saja, doa saya itu sia-sia karena saya menilai wanita ini memang tipe yang ramah yang sangat talkative. Situasi ini memang sulit apalagi harus bersamanya dalam waktu yang tidak singkat.

Apa yang harus saya lakukan? Apakah harus minta pindah tempat duduk? Alasan apa yang harus saya sampaikan ke pramugari dan bagaimana dengan perasaan wanita ini?

Akhirnya saya tetap bertahan di tempat duduk itu dengan berbagai cara untuk menguasai keadaan:

  1. Terpaksa sering-sering pura-pura bersin sehingga saya bisa menutup hidung dan mulut saya dengan jibab yang saya kenakan. Jika udara dalam jilbab saya tak lagi terasa segar, saya pura-pura bersin lagi dan menutup hidung serta mulut saya dengan sapu tangan. Karena dia tak menyadari bau mulutnya dan menganggap bersin saya adalah benaran, dia juga sempat menawarkan tisu kering dari dalam tasnya. Saya ucapkan terimakasih tanpa mengambil lembaran tisu karena saya juga punya sapu tangan dan tisu sendiri.
  2. Sering-sering memalingkan muka ke jendala dan mencari kesibukan dengan membaca majalah yang ada di pesawat, membaca buku yang saya bawa, atau mendengarkan musik pada MP3 saya. Saya juga memasang airphone untuk mendengarkan musik. Dengan cara begini, secara tidak langsung memberi sinyal kepadanya bahwa saya sedang tidak ingin diajak cerita.
  3. Saat waktu makan tiba (ini juga momen yang paling sulit), perut saya sangat lapar tetapi saya tidak berselera makan. Setelah pramugari menyodorkan pilihan menu dan saya memilih Halal Food, tidak lama kemudian pesanan saya diantarkan. Tentu saja saya tidak sanggup makan di waktu itu juga dan bersamaan dengan teman sebangku yang juga sedang makan. Saya takut, ketika saya makan, dia akan banyak berbicara. Solusinya, saya terpaksa pura-pura ngantuk dan tidur sambil menunggu waktu yang pas untuk makan. Kapan waktu yang pas itu? Ya saat teman sebangku saya tertidur. Biasanya orang yang habis makan kan akan cepat tertidur dan itu memang nyata adanya. Setelah teman sebangku tertidur pulas, saya baru menyantap sajian yang memang sudah tidak hangat lagi karena lama menunggu. Tapi hal itu bukanlah masalah besar karena masih enak dimakan apalagi perut yang sudah sangat kruk-kruk.

Beruntung, setelah pesawat landing di Shanghai Pu Dong, wanita tadi tidak melanjutkan perjalannya karena kota ini merupakan kampung halamannya. Saat hendak turun dari pesawat, dia juga sempat mengucapkan “Good-by and good luck for next trip” dengan ramah.

Mau Study Abroad ke Australia atau Amerika Serikat? Ini Informasi Beasiswanya

Pelajaran Penting!

Pelajaran penting dari pengalaman ini adalah tidak semua doa terwujud seperti kondisi ideal yang kita inginkan. Ada kalanya, doa dikabulkan hanya sebagaian dan tidak dalam kondisi sempurna supaya kita bisa belajar mengatasi ketidaksempurnaan itu. Memang tidak ada di dunia ini yang sempurna karena kesempurnaan itu niscaya hanyalah milikNya.

Adalah sangat penting untuk menjaga kebersihan badan dan mulut selama bepergian agar kita selalu merasa nyaman saat bicara dengan siapapun yang kita temui. Jangan sampai bau, baik itu bau badan maupun bau mulut kita menganggu kenyamanan orang lain.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk tetap membuat kita tampil menyegarkan bagi orang lain, dua di antaranya bawa parfum kecil untuk menjaga badan tetap wangi dan mengantongi permen penyegar mulut agar nafas dan aroma saat berbicara senantiasa diiringi dengan kesegaran udara. (sri murni)