Travelling Nyebelin: Di Paris Persahabatan Itu Pecah

JALAN-jalan ke Paris? Siapa sih yang tidak pengin? Apalagi jika kita sudah berada dan tinggal sementara di salah satu negara Uni Europa, jalan-jalan ke kota romantis itu pun kian mudah dan bukan sesuatu yang sangat mahal. Juga, kita tidak memerlukan visa tambahan jika sudah memengang schengen visa.

Namun, apa jadinya jika jalan-jalan yang banyak diimpikan orang itu, berakhir dengan perseteruan bahkan pecahnya persahabatan. Nah, tulisan kali ini menyambung tulisan sebelumnya tentang travelling nyebelin.

Hal inilah yang saya dan tiga sahabat rasakan ketika jalan-jalan ke Paris, Perancis, 2011 lalu.

Ceritanya, kami berembat masih tinggal di kota Oslo, Norwegia. Setelah selesai mengikuti ujian tengah semester, saya dan tiga sahabat (dua wanita dan satu pria) ingin jalan-jalan ke Paris.

Saya tidak menyebutkan identitas asli mereka demi kepentingan menjaga hubungan baik dan saya juga tidak mengunggah foto-foto mereka (cukup foto saya saja saat masih langsing… kwkwkwkw).

Saya akan menggunakan nama samaran saja tanpa menyebutkan pula ciri-ciri fisiknya. Dua teman wanita saya adalah Diana dan Julia, sedangkan yang pria adalah Danny.

Dari Oslo, kami terbang dengan pesawat low budget Ryan Air yang terbang dari Bandara Moss Rygge ke Beauvais (BVA), Paris. Penerbangan pada Jumat, 23 Oktober 2011 sekitar pukul 13.55 waktu setempat. Waktu terbang tidak begitu lama hanya sekitar dua jam. Pesawat mendarat di BVA sekitar 16.05 waktu setempat

Di awal-awal perjalanan, mulai naik bus bersama ke bandara, di dalam pesawat, sampai landing di BVA, semuanya sangat menyenangkan. Kami berempat begitu excited karena akan mengunjungi kota impian banyak orang. Ini adalah kunjungan pertama kami ke Paris. Semua tempat wisata mainstream dan non-mainstream sudah ada dalam list kunjungan.

Setiap orang menginginkan tempat yang hampir sama untuk dikunjungi, mulai jalan kaki di sepanjang kota Paris dari satu spot wisata ke spot lainnya, mengunjungi menara Eifel, Museum Louvre, Palace de la Concorde, Arch de Triomphe, Jembatan Gembok Cinta, dan lainnya.

Pesawat kami landing dengan mulus di Bandara BVA. Bandara ini terletak cukup jauh dari pusat kota Paris. Jaraknya sekitar 80 km dan bisa ditempuh dengan bus dalam waktu sekitar 1,5 jam. Bus dari BVA langsung menuju salah satu terminal di Paris yakni Porte Maillot. Selanjutnya perjalanan di dalam Kota Paris bisa menggunakan kereta api cepat yang disebut Metro.

Untuk liburan tiga hari di Paris, kami pun sudah memesan penginapan, hostel yang murah, yakni Appartement Proche Montmartre yang lokasinya sangat dekat dengan salah satu tempat wisata terkenal yakni Gereja Montmartre.

Kamar yg kami pilih adalah jenis dorm dengan dua unit tempat tidur bertingkat. Dengan begitu jumlah tempat tidurnya pas untuk berempat.

Rebutan Tempat Tidur

Perjalanan hingga ke penginapan masih sangat menyenangkan. Masing-masing kami menikmati keceriaan Kota Paris. Namun, setelah usai check-in dan kami menuju ke kamar, begitu sampai di dalam kamar hal sepele yang melelahkan pun terjadi.

Rebutan posisi tempat tidur terjadi di antara kami. Awalnya, hanya canda-candaan saja dan saling berebut seperti anak kecil. Namun, setelah saya menetapkan diri untuk memilih tempat tidur di atas, ternyata Diana, Julia, dan Danny masih berebut. Yang paling parah adalah yang terjadi pada Julia dan Danny. Keduanya dengan nada agak marah (tidak lagi dalam candaan) berebut posisi tempat tidur di atas atau di bawah. Akhirnya Julia mendapatkan tempat tidur di bawah dan Danny di atas.

Well, karena lelah, saya dan Diana meminta agar pertengkaran kecil itu disudahi. Kemudian, kami mandi secara bergantian, lalu istirahat sebentar. Setelah badan segar lagi, kami mulai jalan-jalan melihat suasa malam kota kecil Montmartre dan Gereja Montmartre yang tidak jauh dari penginapan.

Ternyata, situasi di malam pertama di Paris itu mulai tidak enak pasca insiden rebutan posisi tempat tidur. Ini terlihat ketika saya, Diana, dan Danny memutuskan untuk naik ke puncak Montmartre, dimana gereja besar itu berdiri.

Sementara Julia hanya ingin tinggal di bawah dengan alasan yang tidak begitu jelas. Well, tidak masalah deh, karena itu adalah keinginan masing-masing. Mungkin juga Julia tidak ingin menaiki tangga yang tinggi karena masih kelelahan.

Di malam itu, cuaca sangat cerah. Lampu-lampu gereja juga sangat indah. Tentu saja, momen ini tidak mungkin saya lewatkan untuk tidak melihat lebih detail apa yang ada di gereja tersebut.

Kami bertiga menaiki tangga ke atas hingga masuk ke perkarangan gereja. Sesungguhnya kami ingin melihat interior gereja, namun karena sedang ada kebaktian, wisatawan dilarang masuk. Setelah puas melihat Montmartre, kami mencari makan malam sesuai selera masing-masing, kemudian balik ke hotel dan istirahat.

Sebelum masing-masing kami terbuai dalam mimpi, kami menyepakati agenda jalan-jalan besok pagi. Kami berencana untuk jalan kaki dari penginapan ke pusat kota Paris dan terus jalan kaki mendatangi spot-spot tempat wisata yang ada.

Yang terbayang di malam itu adalah, sambil berjalan kaki tentunya kami akan bisa menikmati kota Paris lebih detail dan melihat hal-hal unik yang mungkin tidak ditemui ketika berkeliling menggunakan kendaraan maupun transportasi umum.

Satu di Depan dan Satu di Belakang

Cuaca Kota Paris di hari kedua kami berada di sini, masih sangat bersahabat. Ketika itu mulai masuk musim gugur. Rumput, bungan, dan pohon-pohon memang sudah tidak indah lagi. Rumput-rumput sudah mulai berubah warna, dari hijau ke warna kuning kecoklatan.

Begitu juga dengan bunga-bunga yang sudah kehilangan daun dan hanya menyisahkan ranting-ranting kering. Sementara pohon-pohon besar yang ada di pinggir-pinggir jalan juga mulai menguning. Mereka mulai kehilangan daun-daun yang hijau.

Kami beranjak dari penginapan sekitar pukul 08.00 WIB, usai sarapan pagi. Kami benar-benar berjalan kaki menyusuri jalan-jalan kota dari Montmartre dengan tujuan utama adalah Menara Eiffel. Jaraknya sekitar 6,9 km.

Kami melewati jalan-jalan kecil Kota Paris. Kami juga melewati sejumlah pasar seni, taman, dan aktivitas para seniman yang melukis di pinggir-pinggir jalan. Kami mengikuti ramainya penyeberangan jalan bersama warga setempat saat lampu hijau berganti merah dan melihat ramainya lalu lintas di ibukota Perancis ini.

Kami pun menyusuri Sungai Seine yang membela Kota Paris. Kami mlalui sejumlah jembatan termasuk Jembatan Gembok Cinta. Di salah satu jembatan dan berdekatan dengan persimpangan lampu merah, kami melihat Menara Eiffel dari kejauhan.

Saat lampu merah menyala dan semua kendaraan berhenti di sisi depan kami, kami langsung berfoto-foto dengan bermacam-macam gaya seolah-olah Menara Eiffel itu ada di dalam tangan kami. Sungguh seru aksi kami itu, sampai-sampai menjadi perhatian dan bahan ketawaan orang-orang yang sedang berada di dalam mobil yang berhenti di lampu merah tersebut.

“Cuek bebeklah, kapan lagi bisa berfoto di sini. Lagian kan kita gak kenal mereka-mereka yang tertawa itu,”begitulah prinsip kami ketika itu. Setelahnya, kami pun singgah di Grand Palais yang mempunyai taman luas dan panorama indah.

Di balik pengalaman dan aksi seru kami itu, sepanjang jalan dari penginapan tadi, suasananya sebenarnya tidak mengenakkan. Perseteruan Julia dan Danny belum berakhir. Danny berjalan di depan bersama saya dan Diana, sementara Julia menyendiri di bagian belakang.

Ketika saya atau Diana hendak mengajak Julia jalan berbarengan, berempat, dia selalu menolak. Jika pun Julia bersedia, gentian si Danny yang berjalan menjauh. Alhasil, agar suasana tidak semakin memanas, saya dan Diana senantiasa berusaha menemani keduanya secara bergantian sambil membujuk agar mereka berbaikan. Sayangnya, sangat sulit menyatukan kedua sosok ini. Untuk berfoto berempat pun, sangat sulit terwujud.

Jalan kaki yang diimpikan menyenangkan, terganjal dengan suasana panas di antara Danny dan Julia. Lebih panas lagi, ketika Julia mengaku kakinya sakit karena banyak berjalan sementara dia tidak mengenakan sepatu yang comfortable. Mendengar hal itu, si Danny tampak tambah emosi. Begitu juga dengan Julia yang merasa teman seperjalanannya tidak setia kawan karena tidak mau mengerti kondisi kakinya yang sakit.

“Sudah kalau mau jalan, jalan aja duluan,”begitu kira-kira ungkapan jengkel si Julia ketika diminta untuk berjalan agak cepat supaya tidak kelamaan berjalan kaki.

Karena tidak bisa jalan berempat beriringan, setiap dari kami yang jalan duluan, terpaksa berhenti dan menunggu di depan agar teman yang di belakang tidak tertinggal jauh. Siapapun yang berada di depan, berusaha untuk menikmati jalan kaki di Kota Paris dengan berfoto-foto sambil menunggu yang jalan di belakang mendekat.

Terbayang kan bagaimana kesalnya melihat situasi tidak mengenakkan begini! Rasanya memang nyebelin dan saya pribadi kudu sabar menghadapi hal ini. Tak ada satupun teman seperjalanan yang ingin saya tinggalkan di belakang. Prinsip itu juga yang dipegang Diana. Sekesal-kesalnya dengan teman seperjalanan, prinsip kami berdua adalah pergi berempat, jalan berempat, menginap berempat, dan balik ke Oslo harus berempat.

Karena Julia dalam kondisi tidak lagi nyaman dengan kakinya, setelah puas menikmati Menara Eiffel, kami memutuskan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata lain di Paris dengan tidak lagi berjalan kaki, melainkan menaiki transportasi umum, baik bus maupun Metro.

Sejak insiden rebutan tempat tidur itu, saya melihat selama di Paris, Julia dan Danny tidak pernah bertegur sapa. Mereka saling diam. Kalaupun ada momen bersama, yang satu selalu menghindar agar tidak dalam posisi berdekatan.

Hal ini terus berlangsung sampai hari terakhir dimana pesawat Ryan Air akan membawa kami kembali dari Paris ke Oslo. Di Bandara BVA, kami sempat kehilangan Julia yang entah kemana perginya, sementara pesawat sudah akan boarding. Kami mencari-carinya ke sejumlah tempat tidak ketemu, hingga akhirnya menemukan dia ternyata duduk menyendiri di kursi ruang tunggu.

Hal yang sama juga terjadi ketika kami sudah sampai di Central Station di Oslo. Begitu keluar dari bus yang membawa kami dari Bandara Moss Rygge ke Central Station, Julia mengilang lagi entah kemana. Kami sempat mencari-carinya. Si Danny tentu saja sudah sangat kesal dan menggerutu kesana- kemari.

Saat itu, saya dan Diana benar-benar tidak dapat menemukan Julia. Alhasil, karena sudah sampai di Oslo, kami memutuskan untuk tidak lagi mencari Julia karena kami yakin dia tidak akan tersesat di kota ini. Dari Central Station ini, kami kembali ke kos masing-masing dan menghabiskan sisa waktu di hari itu dengan urusan masing-masing.

Travelling Dua Benua Bareng Orang Nyebelin: Rasanya Pengin Lompat dari Pesawat

Pelajaran Penting

Berpergian jauh dengan orang lain memang bisa menyenangkan tetapi juga menyebalkan. Bagi yang suka travelling, sebelum berpergian sebaiknya menyiapkan beberapa hal penting ini :

  1. Perlengkapan pribadi yang nyaman dipakai dan berkualitas, terutama sepatu karena pasti membutuhkan kaki untuk banyak berjalan kemana-mana.
  2. Menata hati dan memiliki kesabaran seluas samudera. Jadilah orang yang easy going dengan prinsip asal saya, kamu, dan orang seperjalanan sama-sama senang.
  3. Tinggalkan saja semua sifat kekanak-kanakan jauh-jauh di kampung halaman. Sehingga, begitu jalan untuk liburan yang tersisa adalah kedewasaan dalam menyikapi persoalan.
  4. Sekesal apapun dengan teman seperjalanan, jangan sampai menghilang dan menyendiri tanpa pamit karena itu akan menyusahkan orang lain. Waktu yang tersisa hanyalah digunakan untuk mencari “anak yang hilang” di tempat yang tidak seharusnya.
  5. TIDAK MENJADI ORANG YANG NYEBELIN ITU AKAN DISENANGI BANYAK ORANG! HAPPY TRAVELLING & ENJOY THE WORLD! (sri murni)