Nikmati Kedamaian Anambas dari Atas Transportasi Pedesaan Gratis

Transportasi Pedesaan yang menjadi sarana angkutan gratis dari Bandara Letung, Anambas ke kota. Foto by menixnews.com

BEGITU saya menginjakkan kaki di terminal kedatangan Bandara Letung, Anambas, Senin (3/9/2018) lalu, terdengar informasi seorang wanita dari pengeras suara.

Wanita itu mengumuman bagi penumpang pesawat yang mendarat di Bandara Letung, telah disediakan bus gratis dari Bandara baik ke Kota Letung maupun ke Pelabuhan Pelni.

Mendengar pengumuman itu, saya berucap Alhamdulillah, kini tidak sulit mencari transportasi dari Bandara Letung ke kota. Jalan-jalan dalam rangka program “JelajahKonektivitasHati” di Letung inipun bisa semakin lancar.

Sebelum ada bus gratis ini, para penumpang harus naik ojek ke kota atau ke Pelabuhan Pelni dengan tarif Rp 50.000. Jika tidak naik ojek, penumpang harus menunggu jemputan kendaraan pribadi.

Untuk bus gratis, disediakan dua unit mini bus warna dongker dengan tulisan di badannya “Transportasi Pedesaan”. Busnya sangat nyaman. Kedua bus memiliki rute berbeda. Satu ke Pelabuhan Pelni yang letaknya di Pulau Berhala, dan satu lagi ke Kota Letung.

Bus yang ke Pelabuhan akan berangkat lebih dulu karena mengejar jadwal kapal ke Tarempa atau ke pulau lain. Sementara bus ke kota, berangkat belakangan dan biasanya mengangkat sisa penumpang.

Sebenarnya, jarak antara Kota Letung dengan Pelabuhan Pelni tidak terlalu jauh. Bahkan Pulau Berhala, dimana pelabuhan itu berada, tampak jelas dari kota. Jika naik bus atau motor hanya sekitar 10 menit.

Menikmati Kedamaian

Bus yang membawa penumpang ke Kota Letung akan melalui rute yang sama yakni melewati Kampung Pasiran, Desa Bukit Padi, Kecamatan Jemaja Timur.

Kawasan ini merupakan areal transmigrasi “gagal” yang dicanangkan di era Orde Baru, tepatnya pada tahun 1980—an. Banyak warga Jawa Barat yang dipindahkan ke sini dalam program transmigrasi tersebut. (cerita tentang transmigrasi gagal akan saya tulis di edisi lain)

Begitu keluar dari lokasi bandara, dan memasuki Kampung Bukit Padi, kami langsung disambut dengan jalan yang baru dibuka. Kondisinya masih jalan tanah dan sebagian berkerikil. Di dalam bus, tentu saja goyang sana-goyang sini mengikuti ritme jalan yang tidak mulus.

Jalan tanah keluar dari Bandara Letung, Anambas. Foto by menixnews.com

Kondisi jalan tanah dan berkerikil ini begitu panjang. Setelah melewati Kampung Pasiran, akan bertemu jalan aspal mulus sampai ke Kota Letung. Jalan Bandara ini memang belum diaspal karena baru dibuka. Bandara Letung sendiri juga baru beroperasi beberapa bulan lalu.

Di sepanjang perjalanan, dari atas bus, saya bisa menikmati kedamaian dan pemandangan indah Pulau Letung. Pemandangan pertama adalah deretan bukit-bukit yang memagari Letung.

Letung ini merupakan pulau yang berpagar bukit dan laut. Suasananya masih asri dan damai sekali. Sangat terasa perkampungannya. Tidak ada hiruk-pikuk kendaraan apalagi suara mesin-mesin pabrik.

Di pulau ini terdapat dua kecamatan yakni Jemaja Timur dan Jemaja. Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Jemaja Timur adalah areal pertanian dan perbukitan, sedangkan Jemaja adalah areal pantai dan laut.

Melewati Jemaja Timur, sepanjang mata memandang, tersaji bukit-bukit hijau yang berjajar. Di bawah bukit, terlihat areal pertanian dan rumah-rumah penduduk yang tidak begitu banyak jumlahnya.

Di areal pertanian itu, juga tampak sapi-sapi yang dipelihara warga. Saat saya di sana, areal pertanian tampak hijau dengan rumput-rumput dan sapi-sapi di atasnya.

Menurut warga lokal, mereka memang baru selesai panen padi beberapa waktu lalu sehingga kini sawah tersebut masih kosong dan menjadi areal padang rumput bagi sapi-sapi milik mereka.

Pertanian di Jemaja Timur, Anambas.

Mengingatkan pada Kampung Orde Baru

Saat saya melewati desa transmigrasi dari Bandara ke Kota Letung, saya teringat kampung-kampung di era Orde baru, dimana setiap kampung memiliki beberapa tugu yang berdiri di setiap persimpangan jalan.

Di sepanjang jalan yang saya lalui, saya menemukan tugu tani, tugu cangkul, tugu keris dan lainnya.

Tugu dibangun, selain sebagai penanda kampung dan persimpangan, juga sebagai tempat berkumpulnya warga dalam momen-momen tertentu.

Setelah melewati Desa transmigrasi, dan memasuki kota Letung, maka pemandangan yang tersaji bukan lagi areal pertanian melainkan perkampungan nelayan yang tertata rapi dengan panorama laut yang membentang luas.

Di antara lautan itu, ada pulau-pulau kecil nan hijau yang membuat pemandangan jadi lebih indah.

Bukit-bukit hijau masih tetap tampak mengelilingi rumah penduduk.

Perkampungan warga di Kecamatan Jemaja, Anambas. Foto by menixnews.com

Mata ini rasanya sangat segar menyaksikan perpaduan antara birunya laut dengan hijaunya perbukitan. Ah semua lukisan nyata yang begitu sempurna.

Perlu diketahui bahwa, pulau letung dibagi menjadi dua kecamatan yakni Kecamatan Jemaja Timur dan Kecamatan Jemaja.

Selain sebagai nama pulau, kata Letung juga dipakai untuk menamai Bandara dan nama ibukota Kecamatan Jemaja.

Untuk Kecamatan Jemaja Timur, ibukotanya Ulu Maras. Baik Kecamatan Jemaja dan Jemaja Timur, memiliki karakteristik topografi yang berbeda.

Wilayah Jemaja Timur lebih bercirikan perbukitan dan dataran sebagai areal pertanian. Warganya meyoritas berpenghasilan dari pertanian. Daerah ini menjadi central pertanian di Letung.

Sementara Kecamatan Jemaja adalah wilayah pantai dan laut. Penduduknya pun meyoritas nelayan dan pedagang. Dengan ibukota Letung, dari sisi pembangunan, memang tampak lebih maju.

Jalan-jalan sudah terbangun dengan bagus dan beraspal, sekolah-sekolah banyak di sini, pasar serta penginapan juga banyak di sini.

Penduduknya juga lebih ramai dengan aktivitas perkotaan semi modern.

Rumah-rumah nelayan sudah dibangun dengan layak. Ada yang dari kayu maupun beton.

Rumah warga juga sudah banyak yang bertingkat dua, bahkan lebih.

Bisa dikatakan, Kota Letung merupakan pusat keramaian dari dua kecamatan di pulau ini. (sri murni)

Baca tulisan saya sebelumnya di sini!

Cara Gampang ke Anambas dari Batam dan Tanjungpinang, Ini Pilihan Transportasinya