Home / My travelling / Cara Gampang Liburan ke Sumbar dari Batam: Murah, Seru, dan Nostalgia Jadi Satu
English English Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia
Wefie di depan Bandara Internasional Minangkabau. Photo by menixnews.com.

Cara Gampang Liburan ke Sumbar dari Batam: Murah, Seru, dan Nostalgia Jadi Satu

SUMATERA Barat (Sumbar) yang tersohor dengan destinasi wisata alam, budaya, dan kulinernya telah menjadi salah satu alternatif liburan domestik bagi warga Batam dan sekitarnya. Selain letak geografinya yang tidak terlalu jauh dari Batam, banyak perantau Sumbar juga berdomisili di kota industri ini.

Sebab itu, hampir setiap tahun, terutama di masa-masa libur Lebaran dan liburan sekolah, tidak sedikit warga Batam yang berbondong-bondong ke Sumbar dengan tujuan liburan sekaligus pulang kampung.

Peta Batam-Dumai-Padang. Source: Google

Saya dan keluarga, memang bukan asli Sumbar, tetapi kami memiliki ikatan emosional yang cukup dengan dalam Tanah Minang tersebut. Suami saya, pernah bersekolah SMK selama tiga tahun di Bukit Tinggi. Sementara saya, pernah kuliah di Universitas Riau (Unri) dan tinggal di Pekanbaru kurang lebih lima tahun. Dan, dulu sangat sering jalan-jalan ke Sumbar karena jarak Pekanbaru ke sana sangat dekat.

Karena kedekatan emosional ini pula, saya dan suami saat libur Lebaran dua tahun lalu  mengajak duo crucils untuk menapak tilas mengunjungi tempat-tempat yang pernah kami jelajahi saat masih belia. Sambil refreshing, sambil mengenang masa lalu, begitu niatnya.

Nah, my blog readers, pada tulisan kali ini saya ingin berbagi pengalaman mengajak keluarga liburan ke Sumbar dengan budget minim tapi tetap tidak mengurangi keseruan dan tujuan nostalgia yang kami inginkan.

Cerita akan dimulai dari pilihan transportasi sampai objek-objek wisata yang kami kunjungi.

Pilihan Transportasi

Saat ini ada tiga pilihan transportasi yang bisa dilakoni warga Batam jika ingin berlibur ke Sumbar, yakni via udara, laut, dan sambung jalan darat.

  1. Pesawat Hanya Sekitar Satu Jam

Transportasi paling praktis dan cepat tentu saja via udara. Pesawat langsung dari Bandara Internasional Hang Nadim Batam ke Bandara Minangkabau Internationla Airport tersedia beberapa kali sehari dengan maskapai Citilink dan Lion Air.

Jadwal pesawat dari Batam ke Padang. Source: Google

Hanya saja, sudah setahun lebih belakangan ini, harga tiket pesawat melonjak. Jika sebelumnya di masa low season, harga tiket pesawat hanya kisaran Rp300-an ribu, sekarang paling murah dua kali lipatnya bahkan lebih. Ketika tiket pesawat masih murah, saya memang cukup sering berpergian ke Tanah Minang.

Dengan harga tiket tersebut, bisa dibayangkan ya berapa biaya perjalanan udara pergi dan pulang untuk satu keluarga (empat orang) seperti saya. Tentu saja untuk tiket pesawat saja sudah kisaran Rp5 jutaan.

  1. Jalur Laut Batam-Buton

Pilihan kedua adalah jalur laut dari Batam ke Tanjung Buton, Mengkapan, Siak, Riau. Untuk rute Batam-Buton ini, ada dua alternatif yang bisa dipilih.

Peta Batam-Tanjung Buton, Riau. Source: google

Pertama, naik kapal cepat dari Pelabuhan Domestik Sekupang (PDS) ke Buton dengan lama tempuh sekitar 5-6 jam. Untuk sekali perjalanan tarifnya Rp300 ribu. Setelah sampai Buton, kita melanjutkan dengan jalur darat (bisa menumpang bus atau travel) menuju Pekanbaru dengan jarak tempuh sekitar dua jam. Setelah sampai di Pekanbaru, kita bisa melanjutkan perjalanan daratke Sumbar menggunakan angkutan travel maupun bus. Perjalanan kurang lebih delapan jam.

Related image

Suasana di Pelabuhan Tanjung Buton, Siak, Riau. Photo by spiritriau.

Kedua, naik kapal Roro (Roll on Roll off) dari Pelabuhan ASDP Telaga Punggur Batam ke Buton. Nah, alternatif ini banyak dipilih warga Batam yang ingin membawa mobil sendiri. Jika membawa mobil sendiri dari Batam, memang lebih leluasa karena tidak memikirkan transportasi selama jalan-jalan di Sumbar.

Hanya saja, jarak antara Batam ke Buton kurang lebih 267.0 km dengan waktu tempuh perjalanan Roro  sekitar 18 jam. Biaya penyeberangannya memang lumayan mahal. Berikut tabelnya:

Biaya penyeberangan Roro dari Pelabuhan Telaga Punggur Batam ke Tanjung Buton, Siak, Riau. Source: kataomed

Kami memang belum pernah mencoba membawa mobil sendiri dari Batam ke Sumbar via Buton. Namun, dari hasil bincang-bincang dengan beberapa teman yang sudah sering melakukan perjalanan tersebut, untuk membawa mobil keluarga dari Batam ke Buton, sekali jalan kurang lebih menghabiskan biaya Rp1,8 juta.

Patut dicatat, pada 17 November 2019 lalu, ponton yang ada di Pelabuhan Tanjung Buton roboh, sehingga pelayaran rute Batam-Buton sementara ditutup. Dari keterangan salah satu petugas Batam Express, operator kapal cepat yang selama ini melayari rute tersebut, pelayaran akan dibuka lagi beberapa bulan ke depan. Bahkan bisa satu tahun, tergantung jadwal perbaikan ponton tersebut.

Image result for kondisi pelabuhan tanjung buton

Kondisi ponton Pelabuhan Tanjung Buton yang ambruk. Photo by qaraq.

“Sekarang pelayaran Batam-Buton ditutup. Tidak tahu pasti kapan akan dibuka lagi, karena perbaikan pontonnya bisa jadi sekitar setahun,”kata si petugas.

  1. Jalur Laut Batam-Dumai

Pilihan ketiga masih menggunakan jalur laut, yakni kapal cepat dari Pelabuhan Domestik Sekupang (PDS) menuju Dumai, Riau. Jarak tempuhnya kurang lebih 6-8 jam. Kapal biasanya berangkat pagi sekitar pukul 07.00 WIB dan sampai sekitar pukul 15.00 WIB. Lama perjalanan, memang sangat tergantung pada cuaca dan gelombang laut.

Pelabuhan Domestik Sekupang, Batam. Photo by menixnews.com

Untuk rute Batam-Dumai ini tersedia armada yang mencukupi. Setidaknya ada dua operator kapal yang menyediakan yakni Batam Jet dan Dumai Express atau Dumai Line. Jika di hari biasa, mereka memberangkatkan dua sampai tiga kapal sehari, maka di masa liburan akhir tahun, Lebaran, atau pertengahan tahun, jumlah armada yang melayani bisa dua kali lipat.

Untuk ongkosnya, di hari low season kisaran Rp370.000 untuk dewasa, dan separuh harga untuk anak-anak. Sementara pada masa tahun baru dan Lebaran, harga tiket di kisaran Rp420.000 dewasan dan anak-anak separuh harga.

Armada kapal Dumai Line saat menaikkan penumpang di Pelabuhan Domestik Sekupang, Batam. Photo by menixnews.com

Nah, jalur Batam-Dumai ini yang kami tempuh ketika traveling ke Sumbar terakhir kali. Selain bertujuan untuk menghemat biaya transportasi, kami sekaligus ingin memberikan pengalaman kapada duo crucils menggunakan moda transportasi laut dan darat.

Sesampainya di Pelabuhan Dumai, kami melanjutkan perjalanan dengan jalur darat menggunakan travel (mobil pribadi yang dijadikan taksi). Tersedia banyak travel di Dumai. Bahkan, begitu sampai di pelabuhan, Anda akan ditawari oleh sejumlah orang untuk menggunakan travel mereka.

Perjalanan menggunakan travel Dumai-Bukit Tinggi biasanya ditempuh pada malam hari dengan lama perjalanan sekitar 8-10 jam, tergantung kecepatan dan kondisi lalu lintas.

Untuk tarif travelnya, berkisar Rp150.000 per orang dewasa. Untuk anak-anak, jika masih memungkinkan dipangku orangtuanya, maka bisa gratis. Tetapi jika tidak mungkin dipangku, maka harus bayar sebagaimana orang dewasa.

Seru-Seruan di Pariaman

Ketika liburan ke Sumbar, tujuan pertama kami adalah Pariaman. Salah satu kabupaten pesisir di Sumbar ini menjadi destinasi utama karena di sana ada kakak ipar kami. Sehingga, kami pun ingin bersilaturahmi sekaligus menginap di rumahnya. Lumayan juga untuk menghemat biaya penginapan. Hehehe.

Sesampainya di Pariaman, kami disuguhi pemandangan perkampungan yang menyegarkan. Sawah-sawah hijau dan kebun-kebun buah yang menggugah selera. Apalagi, ketika itu sedang musim durian. WAH…… tinggal jalan ke belakang rumah, maka durian matang yang jatuh dari pohonnya bisa kami dapatkan. Bahkan, keluarga kakak ipar kami pun memiliki beberapa kebun durian yang bisa kami “jarah”. Hehehehe, pokoknya puas deh makan durian di bawah pohonnya langsung.

Wanginya durian yang baru jatuh dari pohonnya. Photo by menixnews.com

Sayangnya, si youngest lady (Kenzie) dan si papah Rahman tidak doyan buah manis nan beroma segar ini. Alhasil, saya dan the oldest lady (Azka) lah yang puas menyantap durian setiap hari, baik pagi, siang, maupun malam.

Keseruan tidak hanya saat menunggu durian jatuh dan menikmatinya secara langsung, tetapi juga mandi di kali menikmati kehidupan ala orang desa. Bagi saya, mandi dan mencuci di kali yang kami lakukan seperti dejavu masa kecil ketika hidup bersama orangtua di Tebing Tinggi, Sumatera Utara.

Menikmati mandi sungai di Pariaman. Photo by menixnews.com

Sementara bagi duo crucils dan suami, pengalaman mandi di kali merupakan salah satu bentuk liburan seru karena ketiganya tidak pernah merasakan mandi di kali.

Kali yang ada di Pariaman masih alami. Saat mandi dan mencuci pun, kami ditemani banyak ikan yang berenang di bawah kaki. Jika biasanya mandi di kamar mandi hanya memerlukan waktu sekitar 10 menit, maka mandi di kali bisa berjam-jam.

Keseruan lainnya selama berada di Pariaman tentu saja menikmati ragam kulinernya di tepi Pantai Gandoriah yang berada sangat dekat dengan pusat Kota Pariaman. Kebetulan, pantai ini tidak begitu jauh dari tempat tinggal kakak ipar, hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit naik motor.

Kuliner yang paling berkesan bagi saya adalah “Peyek Raksasa” karena ukurannya memang tidak biasa. Orang lokal di sana menyebutnya sala. Jika biasanya isi peyek atau rempeyek adalah kacang tanah maupun kacang hijau, sala berisi hasil laut. Ada sala ikan teri, ikan laut ukuran besar, udang, dan juga cumi dan kepiting.

Nah, ada satu hal lagi yang bikin saya kagum dengan pantai ini, yakni permainan biang lala tradisional yang diputar secara manual menggunakan tenaga manusia. Nama lokal permainan ini adalah BOYAN KALIANG atau buaian hitam alias ayunan.

Agar boyan kaliang bergerak cepat, sejumlah pria memutar ayunan tersebut dengan sekuat tenaga. Meskipun diputar secara manual, ternyata kecepatan putarannya tidak kalah dengan menggunakan mesin dan mampu membuat orang yang menaikinya menjerit.

Biang lala khas Pariaman yang disebut boyan kaliang. Photo by menixnews.com.

Bagaimana cara menghentikan boyan yang sedang berputar cepat, tetap dilakukan secara manual dan perlahan. Di hari libur, buaian ini sangat diminati para pengunjung. Satu kali naik, tarifnya juga sangat murah, hanya Rp5.000 dengan beberapa kali putaran.

Penjelajahan lain di Pariaman yang tidak kalah seru adalah ketika mengeksplorasi pasar tradisional. Ada satu hal yang begitu menarik perhatian saya yakni cara warga lokal menjual hasil laut mereka. Di pasar tradisional itu banyak sekali pedagang ikan.

Uniknya mereka berjualan dengan memamerkan uang hasil jualan di atas lapak atau meja tempat mereka meletakkan barang dagangan. Lembaran uang kertas itu pun sengaja dibasahi dengan air laut.

Saat saya bertanya dengan seorang pedagang ikan tentang uang tersebut, ternyata mereka melakukan itu untuk mengetahui apakah uang kertas yang mereka terima asli atau palsu.

“Kalau dibasahi dengan air laut begini kan, ketahuan apakah uangnya asli atau tidak. Luntur atau tidak. Tanda-tanda uang asli dan palsunya juga langsung bisa kita lihat,”kata seorang ajo (abang) yang berbicara dalam bahasa lokal dan saya coba untuk merangkumkannya.

Mencoba Kereta Api Cepat ke Padang

Wefie di depan Bandara Internasional Minangkabau. Photo by menixnews.com.

Masih dalam rangka menikmati ragam wisata Pariaman, kami juga tidak ingin ketinggalan mencoba moda transportasi darat lainnya yakni kereta api cepat. Maklumlah, di Batam tidak ada kereta api. Dan, duo crucils sangat antusias ketika diajak menaiki transportasi berbadan panjang ini.

Suasana saat penumpang turun dan naik kereta api cepat di Bandara Internasional Minangkabau. Photo by menixnews.com

Rute yang kami tempuh adalah dari Bandara Internasional Minangkabau menuju Kota Padang. Jarak antara tempat tinggal kakak ipar ke Bandara tersebut sekitar 25 km dan bisa ditempuh dengan mengendarai motor kurang lebih satu jam.

Asyiknya, ketika itu tarif kereta api per orang sangat terjangkau, hanya Rp10.000.

Duo crucils menunjukkan tiket kereta api cepat di Bandara Internasional Minangkabau tujuan Padang. Photo by menixnews.com

Bernostalgia ke Bukit Tinggi dan Danau Maninjau

Setelah puas menikmati liburan di Pariaman, kami pun jalan-jalan ke Bukit Tinggi dan Danau Maninjau. Karena ketika itu masih masa Lebaran, Bukit Tinggi menjadi salah satu kota paling padat lalu lintasnya di Sumbar. Maklumlah banyak perantau Minang berbondong-bondong pulang kampung menggunakan mobil pribadi.

Atas saran kakak ipar, kami pun memilih naik motor untuk berkeliling Bukit Tinggi dan Danau Maninjau agar tidak terjebak kemacetan yang parah. Dari Pariaman, tujuan pertama adalah Danau Maninjau karena jarak tempunya lebih dekat. Setelahnya, baru menuju ke Bukit Tinggi.

Kami pun bermotor-ria bersama kakak ipar dan saudara-saudaranya. Di tengah jalan, sempat singgah ke salah satu pasar tradisional untuk menikmati sate dan beberapa kuliner lokal. Ah, Sumbar itu memang surganya kuliner, semuanya enak-enak…….!

Image result for danau maninjau

Panorama Danau Maninjau. Photo by Eki Pratama.

Di Danau Maninjau, para wanita menghabiskan waktu dengan bersantai di tepi pantai seraya menikmati cemilan dan siput yang merupakan hasil dari danau tersebut. Sementara anak-anak sibuk bermain ayunan dan berlarian di tepi danau. Dan, para pria menyempatkan diri untuk memancing ikan di danau. Walaupun tidak mendapatkan hasil pancingannya, mereka tetap bergembira.

Menjelang sore, kami pun beranjak ke Bukit Tinggi. Perjalanan dari Maninjau ke Bukit Tinggi sangat seru karena melewati Kelok 44, rute yang sangat tersohor di Sumbar. Dikatakan Kelok 44 karena memang jumlah belokan dari danau sampai ke puncak sebanyak 44. Pemandangan selama di atas motor, tidak usah ditanya lagi, pastinya indah; perpaduan antara birunya danau Maninjau, hijaunya areal persawahan sekeliling danau, dan bukit-bukit hijau yang mengelilinginya.

Image result for kelok 44

Pemandangan Kelok 44 dari udara. Photo by tempo.

Kurang lebih menempuh perjalanan satu jam, kami pun sampai di Kota Bukit Tinggi, tepatnya di depan Jam Gadang. Ternyata sangat ramai bahkan padat oleh pengunjung. Kami menyempatkan diri untuk Sholat Magrib di Masjid Raya Bukit Tinggi yang berada hanya beberapa meter dari Jam Gadang. Suasana Masjidnya juga padat dan sholat harus bergantian.

Suasana Magrib di Masjid Raya Bukit Tinggi. Photo by menixnews.com

Kota Bukit Tinggi ternyata tidak sedingin dahulu. Walaupun hari sudah malam, kini rasanya cenderung panas dan gerah. Saya dan suami mencoba bernostalgia di sini. Dia menceritakan tempat-tempat yang dahulu sering didatanginya semasa masih duduk di bangku SMK di sini. Begitu juga dengan saya yang dulu sering berwisata ke kota ini.

Delman, angkutan wisata khas Bukit Tinggi yang banyak terdapat di sekitar Jam Gadang. Photo by menixnews.com

Ternyata kami berdua memiliki hobi yang sama, yakni dulu sering menonton film di bioskop Sovia dan bioskop Gloria. Namun keni gedung itu sudah berubah menjadi pusat perbelanjaan. Angan-angan ingin menonton di bioskop legendaris di Bukit Tinggi itu pun sirna.

Karena hari sudah malam, selepas makan malam dengan menu nasi kapau, kami tak bisa menikmati distinasi wisata lainnya di sekitar Jam Gadang, seperti Lobang Jepang, kebun binatang, Jembatan Panorama, benteng, dan lain-lain.

Jalan-jalan di Pasar Diateh Bukit Tinggi. Photo by menixnews.com

Tetapi kami masih menyempatkan diri untuk jalan-jalan malam sekaligus melihat keriuhan Pasar Diateh (di Atas) dan Pasar di Bawah. Pasar ini makin modern sekarang dan tetap ramai meskipun di malam hari.

Setelahnya, kami beranjak ke Padang Panjang guna mengunjungi saudara lainnya sekaligus menginap di sana. Pagi harinya, kami pun kembali menuju Pariaman dengan menyinggahi satu objek wisata yang sangat popular di Sumbar yakni Air Terjun Lembah Anai. Air terjun ini berada di lintasan jalan raya Padang Panjang. Jadi, sangat gampang untuk diakses.

Duo crucils berbaur dengan pengunjung lain mandi di bawah guyuran Air Terjun Lembah Anai. Photo by menixnews.com

Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, kami pun menyebur ke kolam yang berada tepat di bawah kucuran air terjun tersebut. Wow…. Dingin bangets airnya….. Hanya beberapa menit menceburkan diri, sudah tidak kuat menahan dingin, meskipun matahari bersinar cukup terik ketika itu.

Tidak begitu jauh dari air terjun ini, kini sudah banyak terdapat pemandian yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat maupun pihak perusahaan swasta.

Salah satu kolam pemandian yang banyak terdapat di sekitar Air Terjun Lembah Anai. Photo by menixnews.com

Setelah puas, kami kembali ke Pariaman. Tidak terasa ternyata kami sudah empat hari berlibur di Sumbar. Karena cuti kantor tidaklah banyak, keesokan harinya kami kembali naik travel ke Dumai dan lanjut menumpang kapal cepat ke Batam. Liburan pun usai dan hingga kini menyisahkan cerita serta kenangan indah bagi keluarga kecil saya.

Pengin Seru-seruan Lagi dengan Menginap di Oyo Rooms

Liburan ke Sumbar itu memang tidak pernah membosankan. Saya dan suami sangat ingin membawa anak-anak kami untuk jalan-jalan ke sana lagi. Apalagi masih banyak tempat wisata yang dulu sering kami datangi dan belum sempat kami singgahi saat terakhir liburan ke sana seperti Lobang Jepang, Rumah Gadang Pagaruyuang, Lembah Arau, dan lainnya.

Jika nanti berkesempatan ke Sumbar lagi, kami juga ingin menginap di Bukit Tinggi sehingga tidak begitu jauh menjangkau tempat-tempat wisata yang ada di sekitarnya. Sekaligus ingin menghabiskan waktu bersama suami mengenang masa-masa mudanya ketika dia masih bersekolah di kota ini.

Salah satu pilihan tempat menginap yang dituju adalah hotel yang memiliki logo OYO di depannya. Mengapa OYO Hotel Indonesia?

Setelah ceki-ceki hotel murah yang ada di Bukit Tinggi, ternyata tarif yang diberikan OYO sangat terjangkau dengan kantong kami, yakni mulai Rp 100 ribuan semalam. Jadi, jika ingin menginap empat hari, biayanya tidak begitu menguras kantong. Apalagi jika hotelnya mudah dijangkau dan dekat dengan destinasi wisata, maka biaya transportasi pun bisa lebih hemat.

Hotelnya juga sudah memiliki standar fasilitas kamar twin maupun double dengan tingkat kebersihan yang standar baik lantai, dinding, linen, maupun kamar mandi. Di dalam kamar, pastinya sudah lengkap dengan amenities seperti TV, pendingin ruangan dan perlengkapan mandi.  Untuk kemudahan komunikasi, pastinya tersedia wifi gratis.

Mudah Booking dan Bayar di Hotel

Tampilan pilihan sebagian hotel di Bukit Tinggi saat booking Oyo Rooms via desktop.

Cara memesan Oyo Rooms sangatlah mudah, bisa melalui aplikasi maupun website baik dari desktop ataupun gawai. Asyiknya lagi, setelah mendapat pilihan hotel yang diinginkan, pembayaran tidak harus dilakukan secara langsung via online (kartu kredit dan debit) tetapi bisa bayar on the spot alias di hotel ketika kita check in.

Well, my blog readers, semoga ulasan ini bermanfaat dan betapa senangnya jika kita bisa berlibur bersama ke Sumbar ya! (sri murni)

 

 

 

 

2 comments

  1. Sumbar memang selalu menyenangkan untuk dikunjungi. Daerah Sumatera yang paling lengkap untuk segala jenis wisata, mau air terjun, pantai, danau dan gunung, semua ada.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.