Jungkir Balik Cari Nafkah untuk Suami, Anak, dan Istri Kedua Suaminya

Ilustrasi wanita pekerja keras. Foto diambil dari slideshare

INI adalah kisah hidup sepupu saya yang sangat menggugah emosi. Saya marah, sedih, prihatin, dan akhirnya juga takjup dengan sikapnya. Kisahnya juga membuktikan bahwa cerita dalam film ‘Surga yang Dirindukan’ benar adanya dalam kehidupan nyata, meskipun tidak mirip 100 persen.

Bagi saya, dia adalah wanita luar biasa yang menerima keputusan suaminya untuk menikah lagi, bahkan menerima sang suami membawa istri keduanya tinggal serumah dengannya.

Yang lebih membuat saya terkesima lagi adalah dia rela jungkir balik banting tulang “nggalas” ini-itu demi menafkahi empat anaknya, suami, istri kedua suaminya dan dua anak hasil hubungan suami dengan madunya itu.

Kisahnya saya tulis lengkap bukan sebagai inspirasi apalagi motivasi para suami untuk berpoligami, tetapi sebagai gambaran keteguhan dan kehebatan seorang wanita, khususnya seorang istri demi menjaga keutuhan keluarga.

Kehebatan sepupu saya dalam melakoni hidup yang mungkin banyak wanita, termasuk saya, tidak sanggup menjalaninya. Banyak yang bilang sepupu saya ini “maaf b****” tp bagi saya, dia itu memiliki jiwa luar biasa.

Inisial sepupu saya itu adalah M. Dia anak dari adik perempuan ibu saya. Umur kami sebaya, paling terpaut bulan saja.

Kami tumbuh bersama di kampung yang sama, salah satu kampung di Tebing Tinggi, Sumut. Kami juga sekolah SD di tempat yang sama. Hanya saja, setelah tamat SD, sekolah kami terpisah dan setelahnya kami menjalani hidup masing-masing hingga kini.

Sejak saya merantau, mulai 1996 lalu, kami hanya bertemu setahun sekali, biasanya di saat Lebaran. Dia tetap sekolah dan menjalani hidupnya di kampung, sementara saya melanglang buana.

Singkat cerita, dia menikah jauh lebih dulu dari saya. Anak tertuanya kini sudah duduk di SMA, sementara anak sulung saya masih kelas 2 SD.

Kesamaan kami sampai sekarang adalah sama-sama pekerja keras dan tidak suka tinggal diam di rumah tanpa menghasilkan sepeserpun.

Sejak remaja, saya dan M sudah menjalani kehidupan yang penuh perjuangan secara ekonomi. Baik keluarga saya maupun keluarganya, bukanlah golongan yang mapan. Keluarga kami dulunya masuk dalam kategori serba kekurangan. Tanpa kerja keras, kami akan sulit mendapatkan makan yang layak.

Dia pun sangat rajin mencari nafkah demi dirinya sendiri maupun demi membantu orangtua dan adik-adiknya dengan cara nggalas. Sementara saya punya tugas membantu ekonomi keluarga mulai dari menemani ayah gembala sapi, ikut ke sawah mengusir burung saat padi mulai menguning, dan menjaga warung di rumah.

Pekerjaan yang dilakukan M sejak dulu memang nggalas (orang Sumut pastinya kenal dengan istilah ini).

Nggalas adalah sebutan lokal bagi seseorang yang bekerja mencari apapun dari kebun orang, dibeli, kemudian dibersihkan dan dijual ke pasar.

Apapun yang saya maksud di sini, bisa berupa daun pisang, kelapa, serai, laos, ubi, pisang, nangka atau gori, dan lainnya, yang intinya sesuatu hasil pertanian yang bisa dijual.

Nggalas ini merupakan profesi turun temurun dari keluarga besar nenek-kakek saya. Ibu saya dan ibu M pun, sebelum meninggal, menjalani profesi yang sama selama hidup mereka. Dari profesi ini juga, mereka menghidupi anak-anaknya hingga sekolah tinggi.

Awal Pernikahan

Awal pernikahan M berjalan lancar. Dia menikah dengan seorang lelaki yang pekerjaannya tidak tetap.

Tak lama menikah, M dikaruniai anak pertama, laki-laki. Pekerjaan nggalas tetap dilakukannya meski sudah menikah dan punya anak.

Terpaut sekitar dua tahun pasca-melahirkan anak pertama, M melahirkan anak keduanya yang juga laki-laki.

Prahara Dimulai

Beberapa bulan setelah melahirkan anak kedua, suami M mulai berulah. Tanpa bicara sebelumnya pada M, sang suami memutuskan untuk menikah lagi.

Hal ini dilakukannya ketika dia pulang kampung seorang diri (saya tak sebutkan dimana kampungnya demi menghindari isu SARA).

Begitu balik ke Tebing Tinggi, dia sudah membawa istri keduanya. Istri keduanya itu adalan orang sekampung suaminya.

Cerita M kepada saya, madunya itu bukanlah cantik rupa ataupun lebih muda, melainkan lebih tua.

Bagaimana perasaan M ketika itu? Yang pasti hancur sebagaimana perasaan kebanyakan wanita saat tahu suaminya menikah lagi, apalagi membawa istri lainnya ke rumah.

Kegaduhan dalam keluarga besar M pun terjadi. Semua anggota keluarganya marah, terlebih sang ayah. Dia pun disarankan untuk bercerai.

Tapi ternyata bukan perceraian yang dia pilih. M tetap menerima suami dan istri keduanya.

Mereka bahkan hidup satu atap di rumah sederhana milik M. Lambat laun, walau disertai dengan cek cok sana-sini, kehidupan keluarga mereka bisa berjalan seperti biasa.

Madu M tidak bekerja, hanya ibu rumah tangga (IRT). Sementara suaminya tetap bekerja serabutan, dan M tetap nggalas.

Karena pendapatan suaminya yang tidak mencukupi, M menjadi tulang punggung utama keluarganya.

Mengurus anak dan istri kedua suaminya

Saya tidak bertanya kepada M bagaimana kehidupan hubungan suami-istri diantara dia, suami, dan madunya. Sebab, menurut saya itu adalah privasi masing-masing.

Yang pasti, hampir setahun menikah, istri kedua suaminya melahirkan seorang anak. M pun ikut mengurus proses persalinan madunya.

Tidak itu saja, dia juga membantu mengurus pasca melahirkannya di tengah kesibukannya mencari nafkah. Bisa dikatakan, M menanggung beban berlipat ganda: mengurus anak sendiri yang masih kecil-kecil, mengurus madu dan anak yang baru dilahirkan, mengurus suami, dan tetap bekerja.

Di rumah kecil dan sederhana, semua proses kehidupan mereka berjalan. Tidak lama berselang, M juga melahirkan putra ketiganya. Menyusul, beberapa tahun setelahnya, dia melahirkan anak keempat, seorang perempuan.

Selama berlajannya waktu tersebut, madu M juga melahirkan satu anak lagi sehingga jumlah anaknya dari suami M adalah dua orang.

Berbagi Peran

Kehidupan rumah tangga M dan madunya tampak biasa. M mulai memegang kendali dalam keluarganya. Dia membagi peran dirinya dan madunya.

Karena anak-anak mereka masih kecil, M meminta madunya untuk bertugas menjaga dan mengurus anak-anak mereka di rumah.

Selain itu, dia bertugas mengurus pekerjaan rumah: mencuci, masak, membersihkan rumah, dan lain-lain.

Sementara M berperan sebagai pencari nafkah utama dengan tetap nggalas. Suaminya? Tetap bekerja serabutan.

Hubungan sang suami dan istri keduanya dengan keluarga besar M tidak harmonis. Keduanya tidak diterima di keluarga besar M. Bahkan, ketika lebaran pun, hanya M dan anak-anaknya yang diperkenankan berkumpul di keluarga besarnya.

Namun begitu, M sering membawa madunya ke acara-acara tertentu dan mengenalkannya kepada keluarga dan sanak famili yang kebetulan ditemui.

Seorang anggota keluarga besar saya menceritakan, pernah bertemu M berdua dengan madunya berbelanja di pasar.

Saat ditegur, M juga memperkenalkan madunya. M tampak kompak berbelanja bersama di pasar. Keduanya saling membantu membawa belanjaan yang lumayan banyak.

Bagi M, kehadiran madu di dalam rumah tangganya sedikit meringankan beban mengurus anak dan pekerjaan rumah tangga ketika anak-anaknya masih kecil.

Mengapa tidak bercerai?

Pertanyaan ini pasti muncul di benak banyak orang yang membaca kisah M ini. Saya sendiri juga penasaran mengapa M tidak bercerai saja.

Ketika saya ajukan pertanyaan itu kepadanya, dia justru balik bertanya, “untuk apalah kami bercerai?”

Baginya yang paling penting bisa menjaga keutuhan keluarga dan tetap bersuami karena begitu banyak orang-orang yang bercerai di lingkungan hidup M.

“Bagaimana pun anak-anak membutuhkan ayahnya,” katanya.

Bangunkan rumah untuk madunya

Saat lebaran tahun ini (2018), ketika M bersilaturahmi ke rumah kakak saya, kami mengobrol panjang lembar.

Dia datang dengan membawa dua anaknya, nomor 3 dan 4, tanpa didampingi suami dan madunya.

Dia pun menceritakan perkembangan terkini hidupnya dan kelurganya.

Kini, M dan madunya sudah tidak tinggal serumah lagi. Sebab, M telah membangunkan sebuah rumah mungil sederhana yang letaknya tidak begitu jauh dari rumahnya.

Sang madu dan anaknya sekarang tinggal di sana. Sayangnya, bukan ucapan terimakasih yang didapatkan M dari madunya, melainkan kata-kata yang tidak mengenakkan karena sang madu menilai rumah itu seperti kandang kambing.

Saya sendiri juga belum berkesempatan singgah ke rumah M dan madunya lebaran tahun ini karena waktu yang terbatas.

M juga menceritakan, dirinya tidak lagi bekerja nggalas karena saat ini profesi tersebut sudah sangat banyak dilakoni orang sehingga membuat barang di pasar banjir dan harga komoditasnya pun anjlok.

Dia mengaku, harga hasil galasan sangat murah dan tidak seimbang dengan tenaga yang dikeluarkan.

“Capek aku nggalas kak (dia memanggil saya kakak karena saya anak dari kakak ibunya). Harganya pun murah kali. Laos aja sekilo cuma Rp 1.500 padahal nyarinya susah dan bersihkannya lama. Sekarang pun tukang nggalas udah banyak kali jadi bersaing juga awak,” katanya dengan logat campuran Jawa-Batak.

Karena sudah tidak nggalas lagi, dia kini bekerja sebagai sales editing foto. Yang dilakukannya adalah keluar-masuk kampung mencari warga yang ingin foto keluarga. Tidak hanya jepret langsung tetapi juga editing foto dari seluruh keluarga termasuk  yang sudah meninggal, kemudian disatukan dalam sebuah foto keluarga dan dibingkai.

Dari kerjanya inilah, sekarang dia menghidupi empat anaknya yang masih sekolah, ditambah madu dan anaknya. Ekonomi keluarganya dibantu oleh suaminya yang tetap bekerja serabutan.

Apa pelajaran yang bisa dipetik?

Seperti yang saya ungkapkan di awal tulisan ini, apa yang saya sampaikan di sini bukanlah bermaksud untuk mengumbar aib ataupun menginspirasi dan memotivasi para suami untuk berpoligami, melainkan memberikan gambaran keteguhan dan ketabahan serta kerja keras seorang istri demi menjaga keutuhan rumah tangga.

Mungkin akan banyak orang menganggap M wanita yang “b****” tapi baginya apa yang dijalaninya masih menorehkan kebahagiaan.

Bagi saya, M adalah wanita yang luar biasa yang begitu tabah menjalani segala likaliku kehidupan. Walau banyak yang menyarankan bercerai, dia tetap memegang teguh keutuhan keluarga.

Pelajaran lain pastinya bisa dipetik dari sisi lain sesuai dengan sudut pandang pembaca.

Saya berdoa, semoga sepupu saya ini senantiasa diberikan kesehatan dan rezeki berlimpah untuk menghidupi anak-anak dan keluargnya.

Kebahagiaan itu memang relatif dan setiap orang memiliki cara masing-masing untuk bahagia. Bahagia menurut kita belum tentu bahagia menurut orang lain, begitu juga sebaliknya. SEMANGAT TERUS YA SEPUPUKU SAYANG! (sri murni)

Tradisi Bagi-bagi THR Paling Seru Saat Lebaran

Ya Allah… Jauhkan Pernikahan Kami dari Poligami: “Tamparan” dari Curhat Dian Rose