• Home »
  • Kuliner »
  • Dari Gonggong, Lendot, Sampai Kepurun Sagu, Inilah 10 Juadah Tradisional Kepri yang Wajib Dinikmati

Dari Gonggong, Lendot, Sampai Kepurun Sagu, Inilah 10 Juadah Tradisional Kepri yang Wajib Dinikmati

KEPRI itu “terlalu indah tuk dilupakan” (meminjam lirik pertama lagu “Andaikan Kau Datang” karya Koes Plus).  Ya, memang sulit untuk dilupakan karena Kepri yang memiliki nama panjang Provinsi Kepulauan Riau ini punya alam yang begitu indah dan juadah yang sangat menggoda lidah.

Ada 2.408 pulau besar dan kecil yang tersebar di Kepri. Secara geografi, provinsi yang memiliki luas keseluruhan 8.201,72 km ini, hanya lima persennya daratan, sementara selebihnya lautan. Dilihat dari udara, sejumlah pulau di Kepri ini, khususnya wilayah Kebupaten Kepulauan Anambas, memiliki keindahan layaknya Maldives atau Maladewa. Sehingga tidak mengherankan jika banyak yang menyanjung Anambas sebagai Maladewa-nya Indonesia.

Kepri juga begitu seksi sebagai jalur pelayaran perdagangan internasional. Letak geografis yang begitu strategis dan berbatasan dengan empat negara tetangga yakni Singapura dan Malaysia di bagian barat serta Vietnam dan Kamboja di bagian utara, memberikan kekayaan kebudayaan tersendiri bagi Kepri.

Penduduk Kepri yang umumnya Melayu, telah dipengaruhi oleh kebudayaan negeri jiran, terutama masyarakat Tionghoa, yang banyak bermigrasi sejak lama, baik secara mandiri maupun dibawa para penjajah, Belanda dan Jepang ke Kepri.

Alhasil kebudayaan Tionghoa pun hidup dan mempengaruhi kebudayaan lokal dan terjadilah akulturasi budaya. Budayanya pun menjadi lebih kaya dan beragam. Salah satunya dalam hal juadah tradisional di Kepri.

Pada tulisan kali ini, saya ingin merangkum secara detail 10 ragam juadah yang telah menjadi ciri khas Kepri sebagai hasil perpaduan budaya masyarakat yang telah membaur dan hidup harmonis di lima kabupaten dan dua kota. Kelima kabupaten tersebut adalah Karimun, Bintan, Kepualauan Anambas, Lingga, dan Natuna. Sementara dua kota dimaksud adalah Batam dan Tanjungpinang, yang juga menjadi ibukota Provinsi Kepri.

Ragam kuliner yang saya bagikan di sini merupakan hasil jalan-jalan saya ke banyak tempat di Kepri termasuk ketika mengikuti program #JelajahKonektivitasHati.

1. Gonggong

Kuliner pertama yang ingin saya rekomendasikan dari Kepri adalah gonggong, sejenis siput laut yang sangat jarang ada di daerah lain di Indonesia. Gonggong ini sangat mudah ditemukan di Kepri, terutama di Batam, Karimun, Bintan, dan Tanjungpinang.

Gonggong rebus bersanding dengan sambal terasi. Foto diambil di salah satu restoran seafood di Batam, November 2018. Foto by Eka Handa

Bahkan, di banyak tempat makan, warung dan restoran seafood, terutama yang berada di tepi laut, gonggong bisa dikatakan menjadi menu andalan yang wajib ada saat hidangan seafood disajikan.

Jika ingin mencarinya langsung di pantai, gonggong ini mudah ditemukan di pinggiran pantai yang memiliki hutan bakau. Biasanya di pulau-pulau kecil yang tersebar di Kepri, para penduduk pesisir (khususnya wanita) menjadikan pencarian gonggong sebagai pekerjaan sambilan di pagi dan sore hari.

Awalnya, warga Kepri suka mengonsumsi gonggong ini karena sangat mudah didapat dan rasanya pun enak karena bertekstur kenyal. Saat digigit, rasa sedikit manisnya juga akan keluar. Paling enak, gonggong ini direbus, kemudian disantab dengan sambal terasi pedas yang juga menjadi khas masakan pesisir di sini. Atau, gonggong juga lezat bila disandingkan dengan sambal kecap.

Gonggong tidak hanya enak, tetapi juga memiliki kandungan gizi, karbohidrat, lemak, dan protein yang tinggi. Dalam setiap 100 gram gonggong, terdapat 4,1 persen karbohidrat dengan nilai gizi 1,4 kalori, 31,19 protein dengan nilai gizi 124,8 kalori, dan 24,9 persen lemak dengan nilai gizi 224,1 kalori (Jawa Pos /travelling/17/09/2016).

Untuk rekomendasi tempat  makan gonggong yang paling enak di Batam adalah warung-warung seafood yang banyak berjajar di pinggir pantai Tanjungpiayu, restoran seafood di Batubesar, Nongsa, dan restoran seafood di Barelang. Jika tidak ingin jauh dari kota, gonggong juga sangat mudah ditemukan di warung dan restoran seafood yang ada di Nagoya maupun Batam Centre.

Harga per porsinya (biasanya dihitung dengan satuan kg), sangat bervariasi namun rata-rata di atas 50 ribu per kilonya.

2. Sotong Masak Hitam

Sesuai namanya, masakan bercita rasa khas Melayu Kepri ini berbahan dasar sotong atau cumi yang dimasak tanpa membuang tinta hitamnya. Ditumis bersama irisan cabai, bawang merah, bawang putih, jahe dan serai ditambah garam dan sedikit gula, makanan ini sangat lezat disantap bersama nasi putih hangat.

Sotong masak hitam. Foto diambil saat saya mengunjungi di Pulau Subangmas, Batam, awal 2018 lalu.

Kenyalnya tekstur sotong berbalut rasa pedas dan asin-manis, dijamin membuat Anda ketagihan dan menghabiskan porsi nasi yang lebih banyak dari biasanya. Sebagai pelengkap hidangan ini, bisa ditambahkan sayur betik (pepaya mengkal) khas Melayu yang dimasak berkuah cokelat.

Untuk rekomendasi tempat makannya, memang agak spesial karena tidak semua warung atau restoran seafood menyediakan menu satu ini. Saya sendiri menyantap sotong masak hitam saat makan siang di Warung Seafood Tanjungpiayu beberapa waktu lalu dan juga ketika bertandang ke rumah teman saya yang ada di Pulau Subangmas, salah satu pulau kecil yang ada di Batam.

Jika jalan-jalan ke pemukiman nelayan yang ada di pulau-pulau kecil di sekitar Batam dan bertepatan sedang musim sotong, maka akan banyak warga yang menyajikan menu ini sebagai lauk harian di keluarga mereka.

Soal harga satu porsinya, sangat bervariasi, namun rata-rata di atas Rp50 ribu per piring.

3. Lendot

Makanan satu ini, saya nikmati kali pertama saat ke Tanjungbalai Karimun, Jumat (30/11/2018) lalu. Tepatnya di Warung Pesisir Uya yang ada di pinggir jalan Coastal Area, sebuah kawasan wisata yang baru dibuka Pemkab Karimun.

Pertama mendengar kata lendot, kedengarannya memang agak geli. Lendot selama ini ya identik dengan “lendotan” yang berarti bersandar dengan manja.

Lendot, khas Karimun. Foto diambil saat saya jalan-jalan ke Karimun, Jumat (30 November 2018).

Lendot yang dimaksud disini adalah makanan khas Melayu dari Kabupaten Karimun. Bentuknya seperti bubur sayur kental. Isinya adalah pakis dan kangkung yang dicampur udang, sotong atau cumi, siput, kepiting, dan ikan. Ciri khas lendot ini adalah adanya campuran sagu yang membuat kuahnya menjadi kental. Saat disajikan juga terdapat potongan sagu padat yang bertekstur kenyal.

Bahan membuat Lendot, makanan khas Karimun. Foto diambil saat saya jalan-jalan ke Karimun, Jumat (30 November 2018).

Bumbu utama Lendot ini adalah cabai merah, bawang putih, merica, dan bilis giling. Lendot sangat enak disantap hangat dengan ditemani sambal terasi yang pedas.

Satu porsi Lendot harganya bervariasi, tergantung banyaknya jenis seafood  yang dicampurkan. Di warung tempat saya makan, harganya mulai dari Rp10.000 sampai Rp17.000 per mangkok. Selain enak, Lendot juga dipercaya cepat menyembuhkan orang yang sedang demam dan flu.

4. Laksa Goreng

Masih makanan berbahan dasar sagu, yang satu ini disebut laksa atau lakse. Laksa merupakan mi yang terbuat dari tepung sagu. Dahulunya, sagu menjadi salah satu makanan pokok warga pesisir Kepri sebelum digantikan sepenuhnya oleh nasi.

Laksa paling enak digoreng dengan campuran taoge dan ikan tuna, udang maupun sotong. Bumbunya tidak rumit, hanyalah capai merah kering yang digiling, bawang putih, bawang merah, dan jahe. Mengapa, memakai cabai kering dan bukan cabai segar? Dahulu, di Kepri sangat sulit mendapatkan cabai segar di sini karena sulitnya transportasi yang membawa bahan makanan segar, sehingga warga mengandalkan cabai kering yang lebih awet dan tahan lama.

Mi Tarempa goreng. Foto diambil saat saya jalan-jalan ke Letung, Anambas, Selasa (4 September 2018).

Biasanya, menyantap laksa ini ditemani dengan potongan cabai rawit yang diletakkan di pinggir piring, kemudian ditambah dengan kerupuk. Laksa juga dikreasikan oleh warga sebagai campuran sop (Laksa Sop) atau dengan kuah gulai ayam.

Laksa sop. Foto diambil saat saya jalan-jalan ke Dabo Singkep, Lingga, Jumat (7 Desember 2018).

Laksa juga menjadi makanan popular bagi warga Melayu di negeri jiran, Malaysia dan Singapura.

5. Kepurun Sagu

Makanan selanjutnya adalah Kepurun Sagu. Sesuai dengan namanaya, bahan dasar sajian satu ini pastilah sagu. Kepurun diolah dari tepung sagu yang dimasak dengan air di atas api kecil hingga mengental seperti ongol-ongol. Warnanya abu-abu dan rasanya tawar.

Kepuran sagu dan gulai kunyit ikan lebab. Foto diambil saat saya jalan-jalan ke Bintan, pertengahan 2017 lalu.

Kepurun paling lezat dimakan dengan gulai kunyit ikan lebam atau ikan kitang-kitang. Kepurun sagu ini banyak disajikan oleh masyarakat Melayu di Bintan, terutama saat acara-acara pesta pernikahan maupun perayaan hari besar keagamaan, seperti Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, Maulid Nabi, dan lainnya.

Untuk menikmatinya di rumah makan, memang jarang tersedia, walaupun tetap ada satu-dua tempat makan yang menyajikannya.

6. Mi Tarempa

Tarempa adalah nama ibukota Kabupaten Kepualaun Anambas. Letaknya ada di Pulau Siantan. Makanan paling khas di sini adalah Mi Tarempa yang sudah sangat tersohor. Bahkan, di Batam, Mi Tarempa menjadi satu nama rumah makan “Mi Tarempa (k)” yang memang menyajikan Mi Tarempa sebagai menu utamanya. Jika pergi ke Tarempa, tentu saja mi ini sangat mudah didapatkan di setiap warung sarapan pagi.

Mi Tarempa mentah. Foto diambil saat saya jalan-jalan ke Letung, Anambas, Selasa (4 September 2018).

Mi Tarempa memiliki bentuk yang panjang dan gepeng, dengan tekstur yang kenyal. Para penjual Mi Tarempa, biasanya adalah warga Tionghoa yang membuat sendiri mi tersebut dari tepung terigu.

Mi ini biasa disajikan dengan cara digoreng maupun berkuah. Ciri khas yang membuat sajian mi ini berbeda dengan mi lainnya adalah potongan ikan tuna atau tongkol segar yang dicampurkan saat memasak mi tersebut. Ikan tuna yang dimaksud bisa tuna putih atau bahasa lokalnya jabat dan tuna merah atau curing. Selain itu, bumbunya menggunakan cabai merah kering yang membuat warna masakan mi ini menjadi merah dan menggoda selera. Ditambah lagi sayur tauge dan sawi yang menambah kelezatan makanan satu ini.

Mi Tarempa goreng. Foto diambil saat saya jalan-jalan ke Letung, Anambas, Selasa (4 September 2018).

 

Mi Tarempa basah. Foto diambil saat saya jalan-jalan ke Letung, Anambas, Selasa (4 September 2018).

 

Mengapa memasak mi ini menggunakan ikan tuna? Karena Anambas merupakan salah satu lumbung penghasil ikan terbesar di Kepri dan ikan tuna atau tongkol menjadi salah satu ikan yang banyak ditangkap di perairan Anambas.

7. Mi Lendir

Makanan satu ini masih merupakan salah satu hasil akulturasi kebudayaan Tionghoa dengan Melayu, bernama mi lendir. Mi yang digunakan merupakan racikan budaya Tionghoa, sementara kuah kacang kental yang melumuri mi tersebut merupakan hasil kebudayaan Melayu.

Mi Lendir. Foto diambil saat saya saya berada di salah satu kopitiam di Batam, Selasa (11 Desember 2018).

Mi lendir ini bisa disejajarkan dengan makanan sejenis dari daerah lain seperti mi rebus Medan atau mi kocok Bandung. Namun, rasa dan tampilannya memang berbeda. Mi lendir diolah dari mi basah kuning yang dicelur dalam air panas bersama dengan tauoge atau kecambah.

Kemudian, disiram dengan kuah kacang kental. Kuahnya bewarna kuning  kecoklatan dengan rasa agak pedas. Sebagai pelengkap, di atasnya ditaburi bawang goreng dan daun seledri. Mi ini sangat enak disantap saat masih panas bersanding dengan telur rebus dan potongan cabai rawit. Sajian mi lendir ini sangat mudah dijumpai di kedai-kedai kopi di Batam dan Tanjungpinang.

8. Nasi Dagang

Jika di Yogyakarta kita mengenal nasi kucing, maka di Kepri terdapat nasi yang mirip yakni nasi dagang.

Bentuk dan porsinya mirip dengan nasi kucing dan sama-sama dibungkus daun. Bedanya, jika nasi kucing umumnya dibungkus daun dengan bentuk lipatan, nasi dagang dibungkus dalam bentuk kerucut dan direkatkan menggunakan lidi.

Nasi dagang. Foto diambil saat saya jalan-jalan ke ke Dabo Singkep, Lingga, Sabtu(8 Desember 2018).

Isi nasi dagang ini adalah nasi lemak yang dimasak dengan bawang merah, bawang putih, dan jahe, ditambah halba. Lauk nasi dagang ini ada beberapa macam, ikan tamban sambal, ikan teri sambal, ikan tuna sambal, udang, maupun sotong sambal.

Dikatakan nasi dagang karena dahulunya nasi kemasan begini merupakan bekal masyarakat pesisir yang hendak berdagang, atau menjual ikan hasil tangkapan nelayan ke pasar. Kini, nasi dagang menjadi sajian sarapan pagi di meja-meja kopitiam yang ada di hampir seluruh kota di Kepri, dari Batam, Karimun, Lingga, sampai Natuna.

Saya sendiri, jika jalan-jalan ke setiap daerah di Kepri, tidak lupa sarapan nasi dagang karena masing-masing daerah memiliki lauk yang berbeda-beda sebagai khas utama mereka. Saat saya ke Letung, Anambas, pada 3-5 September 2018 lalu, saya mendapati nasi dagang dengan lauk ikan tuna sambal.

Sementara saat saya jalan-jalan ke Daik, Lingga, 7-9 Desember 2018 lalu, nasi dagangnya berlauk ikan teri sambal, sotong sambal, dan ikan tamban sambal. Sedangkan jika makan nasi dagang di Batam, lauknya juga beragam.

9. Luti Gendang

Kuliner satu ini berasal juga dari Kabupaten Anambas, khususnya ibukota Tarempa. Mulai popular ke seluruh Kepri bahkan nasional, ketika dijual di RM Tarempa (k) yang ada di Batam.

Luti gendang merupakan roti goreng berisi abon ikan tuna atau tongkol merah dengan rasa yang cukup pedas karena abon tersebut dicampur dengan cabai merah kering dan bumbu lainnya.

Luti gendang. Foto diambil saat saya jalan-jalan ke Letung, Anambas, Selasa (4 September 2018).

Luti gendang ini, kini sudah menjadi salah satu oleh-oleh khas Kepri baik yang sudah matang (digoreng) maupun yang masih mentah (frozen food). Penjual Luti gendang juga sudah banyak baik di Batam, Tanjungpinang, apalagi di daerah asalnya, Tarempa.

Bahkan, kini sudah ada yang mengkreasikan isinya. Tidak lagi abon ikan tuna melainkan sudah berisi keju, coklat, strawberi, dan lainnya.

Luti ini paling nikmat sebagai peneman minum teh, kopi, apalagi teh tarik. Rata-rata luti ini dijual dari harga Rp1.000 sampai Rp3.000 per buah.

10. Kue Bangkit

Juadah terakhir dari ulasan saya ini kali ini adalah cemilan khas Kepri, khususnya dari Pulau Kundur, Kabupaten Tanjungbalai Karimun. Juadah kali ini bisa dijadikan oleh-oleh yang otentik Melayu Kepri dan rasanya juga enak. Namanya adalah kue bangkit.

Saya berkesempatan melihat sentra pembuatan kue bangkit ini saat berkunjung ke Kota Tanjungbatu, ibukota Kecamatan Kundur, pada Sabtu (1/12/2018) lalu.

Kue bangkit khas Kepri ini berbeda dengan kue bangkit yang juga terdapat di sejumlah daerah di Indonesia. Jika kebanyakan kue bangkit itu bentuknya kering, yang satu ini “basah” dan lembut saat dikunyah.

Roti bangkit ukuran kecil. Foto diambil saat saya jalan-jalan ke Kundur, Karimun, Sabtu (1 Desember 2018).

Bahan utama pembuatnya adalah tempung gandung dan gula putih ataupun gula aren. Kemudian dipanggang secara tradisional di atas api dari bakaran sabut kelapa. Warna kue ini, umumnya krim jika campurannya gula putih, dan merah jika campurannya gula aren. Di atasnya ditaburi biji wijen.

Bentuknya juga bervariasi, ada yang bulat kecil berdiameter kurang lebih 5 cm, ada pula yang bulat sedang berdiameter dua kali lipatnya. Dan, terdapat pula ukuran jumbo dengan diameter 20 cm.

Roti bangkit ukuran jumbo. Foto diambil saat saya jalan-jalan ke Kundur, Karimun, Sabtu (1 Desember 2018).

Jika jalan-jalan ke Kundur, jangan lewatkan untuk mencicipi dan menjadikan kue bangkit ini sebagai oleh-oleh khas dari Kepri. (sri murni)

SELAMAT MENJELAJAH JUADAH KEPRI!