Kenduri Laut Pertama di Pulau Pemping Batam

Sampan layar kayu berlomba pada even Kenduri Laut. Foto by menixnews.com

MENJELAJAH pulau-pulau kecil di Batam memberikan spirit tak biasa kepada saya karena saya senang melihat keindahan dan keramahan para penduduk pesisirnya.

Di kota industri ini, ada lebih dari 400 pulau (batam.go.id) baik yang sudah perpenghuni maupun belum. Dari sekian banyak pulau, baru sekitar puluhan saja yang sudah pernah saya datangi.

Minggu, 9 September 2018, lalu, saya berkesempatan  bertandang ke salah satu pulau yang belum pernah saya datangi. Pulau itu bernama Pemping, bagian dari Kecamatan Belakangpadang.

Lokasinya sangat dekat dengan Singapura. Dari pulau inipun, tampak jelas deretan gedung-gedung tinggi Negeri Merlion.

Peta Pulau Pemping yang berhadapan langsung dengan Singapura. viamichelin

Jalan-jalan kali ini tidak sekadar melihat keindahan pulau tersebut melainkan karena ada hajatan budaya cukup besar bertajuk “Kenduri Laut”. Even ini baru kali pertama dilangsungkan di Pulau Pemping dan dihadiri langsung Gubernur Kepri Nurdin Basirun bersama Kapolda Kepri Irjen Pol Andap Budhi Revianto beserta jajarannya.

Diguyur hujan deras

Untuk mencapai Pulau Pemping, saya bersama beberapa anggota Blogger Kepri menumpang speedboat patroli berkapasitas 10 orang milik PT Transportasi Gas Indonesia (Transgasindo).

Kami berangkat dari pelabuhan kecil di Waterfront Marina, bersebelahan dengan Harris Resort, sekitar pukul 09.45 WIB.

Cuaca pagi itu memang kurang bersahabat. Saat kapal hendak berangkat, cuaca memang sudah mendung dan gelap. Alhasil, baru beberapa menit berlayar, hujan deras mengguyur disertai angin yang cukup kencang. Sempat was-was juga saat berada di tengah laut dengan cuaca yang tidak bersahabat.

Karena hujan dan gelombang kuat, kapal terpaksa beberapa kali berhenti, kemudian berlayar lagi. Kurang lebih 45 menit waktu tempu dari Pelabuhan Marina ke Pulau Pemping.

Sekitar pukul 10.30 WIB, kapal pun bersandar di Pelabuhan Mongkol, Desa Mongkol, salah satu desa di Pulau Pemping ini. Di areal laut Desa Mongkol inilah hajatan Kenduri Laut dilangsungkan.

Di sekitar tempat acara, sudah berjajar bendera Merah-Putih dan bendera Melayu Raya serta beberapa spanduk. Karena acara baru akan dimulai selepas Zuhur, kami pun jalan-jalan dulu di sekitar perkampungan seraya mencari sesuatu yang bisa disantap karena perut lapar lantaran belum sempat sarapan pagi, sekaligus selfie sana-selfie sini, seperti biasa. Hehehe

Dari Zikir Barat sampai Lomba Sampan

Tepat setelah Sholat Zuhur, rombongan Gubernur Kepri yang sudah berada di lokasi, memulai acara Kenduri Laut. Acara dibuka dengan santap siang bersama. Santap siang dibuat bukan ala prasmanan, melainkan makan bersama dalam satu nampan. Satu hidangan nampan bisa dinikmati beberapa orang secara bersamaan. Mirip sekali dengan kenduri kebanyakan.

Gubernur Kepri Nurdin Basirun hadir di acara Kenduri Laut

Kehadiran rombongan gubernur, tentu saja juga disambut dengan tari sambutan dari dara-dara manis warga pulau dan tabuhan kompang. Sebagai hiburan, dihadirkan pertunjukan Zikir Barat yang merupakan salah satu seni warga pesisir di Kepri.

Setelahnya, baru dilaksanakan beragam lomba sampan yang diikuti puluhan peserta yang datang dari pulau-pulau yang ada di Batam.

Setidaknya ada lima kategori sampan yang dilombakan. Sampan-sampan ini merupakan alat transportasi utama yang dipakai warga pulau-pulau di sini. Sampannya terbuat dari kayu dan fiber yang sudah dipasangi mesin tempel.

Kelima kategori tersebut, yakni:

  1. Sampan layar kayu
  2. Sampan tinting kayu
  3. Sampan tinting fiber
  4. Sampan lapit fiber
  5. Speedboat slodang fiber

Dari sederet sampan tersebut, yang paling baru dikenal warga adalah jenis lapit. Sampan ini berukuran mini terbuat dari fiber. Biasanya sampan jenis ini dilombakan di Thailand, dan kini mulai dikenal warga pesisir di Batam.

Bagaimana serunya lomba sampan lepit? Tonton videonya di sini ya!

 

Insiden Sampan Terbalik

Di balik keseruan menonton beragam lomba sampan, ada sejumlah insiden yang menimpah beberapa peserta. Beberapa sampan ternyata terbalik ketika dipacu dengan kecepatan tinggi.

Saat lomba, cuaca memang tidak lagi hujan tapi angin dan gelombang masih kuat. Setidaknya ada dua sampan tinting yang terbalik dan karam. Kemudian satu sampan lepit. Dan, yang paling banyak terbalik dan karam adalah speedboat slodang fiber.

Deretan sampan peserta lomba dan sampan panitia. Foto by menixnews.com

Insiden ini tentu saja membuat para penonton yang memadati ponton dan jeti Pelabuhan Mongkol berteriak histeris. Mereka khawatir jika sang pengemudi sampan tenggelam. Alhamdulillah, dari insiden yang terjadi tidak sempat menimbulkan korban.

Panitia pun sudah mengantisipasi kejadian ini dengan menyiagakan tim penolong.

Rezeki berlimpah para pedagang

Keramaian hajatan Kenduri Laut ini, tentu saja membuka peluang bisnis bagi warga sekitar, terutama yang berdagang makanan. Di sepanjang jeti Pelabuhan Mongkol berderet warga menjajakan jajanan, mulai dari yang ringan-ringan sampai makanan berat.

Bahkan, ada pedagang dari luar Pulau Pemping yang sengaja datang untuk mengais rezeki dari keramaian ini, seperti pedagang buah potong dan jeruk dari Batam.

Warga berjualan di atas sampan di Pulau Pemping. Foto by menixnews.com

Seorang pedagang buah potong yang saya ajak ngobrol, bercerita, hari itu dia membawa lebih dari 1.000 potong buah dari Batam. Buah-buah itu sudah dikemas dalam plastik putih dan dijual dengan harga Rp2.000 per potong. Buah disajikan dengan bumbu rujak maupun taburan asam-manis.

Saat saya ajak ngobrol, tampak dagangannya hanya tinggal beberapa bungkus. Bisa dibayangkan, banyaknya rupiah yang ia raup dengan adanya even ini. ALHAMDULILLAH rezeki bagi para pedagang kecil.

Hajatan Kenduri Laut ini selesai pada sore hari. Dan, kami pun kembali ke Pelabuhan Marina dalam cuaca yang lumayan cerah. Di sepanjang perjalanan, kami bisa menikmati pemandangan gedung-gedung tinggi Singapura dari kejauhan.

Kami juga bisa melihat deretan kapal tanker, crack, dan lokasi galangan kapal yang ada di sekitar pantai Sekupang.

Salah satu crack untuk offshore yang ada di laut Batam. Foto by menixnews.com

Di Pulau Pemping ternyata juga tersaji kuliner yang enak-enak dan beberapa baru kali pertama saya temui. Apa saja kuliner itu dan bagaimana rasanya? Bisa dibaca lanjutan ceritanya di edisi setelah ini ya! (sri murni)

Baca juga pengalaman traveling saya ke Anambas!

Cara Gampang ke Anambas dari Batam dan Tanjungpinang, Ini Pilihan Transportasinya

Nikmati Kedamaian Anambas dari Atas Transportasi Pedesaan Gratis