• Home »
  • Inspirations »
  • Lima Kebiasaan dan Pantangan Saat Hamil dan Punya Bayi Kerap Saya Langgar, Apa Ada Resikonya?

Lima Kebiasaan dan Pantangan Saat Hamil dan Punya Bayi Kerap Saya Langgar, Apa Ada Resikonya?

azka2

TULISAN ini berbagi kisah, khususnya bagi ibu-ibu yang kerap takut dengan segala pantangan atau pamali selama masa kehamilan, melahirkan, dan mengurus bayi.

Saya saat ini sudah punya dua putri, Azka (5,5 tahun) dan Kenzie (3,2 tahun).

Di masa hamil sampai pengurusan mereka, saya memang cuek dengan segala pantangan yang berlaku umum di masyarakat.

Bagi saya, sejumlah pantangan itu bikin ribet.

Prinsip saya, percaya sepenuhnya atas kuasa Allah (Bismillahirohmanirohim) dan selama yang saya lakukan tidak menimbulkan dampak negatif bagi saya dan anak, just do it.

1. Tidak Bawa Bawang Putih atau Gunting Kemana-mana. Keluarga saya dan kemungkinan masyarakat secara umum mengenal dengan tradisi membawa gunting, bawang putih, atau biasa juga disebut empon-empon atau jimat selama kita hamil dan selama punya bayi. Tujuannya, menurut kepercayaan umum, agar kita terhindar dari gangguang makhluk Tuhan lainnya yang tidak kasat mata (jin dan setan). Tradisi ini tidak pernah saya terapkan selama hamil dan punya anak karena memang tidak logis bagi saya plus saya jadi menduakan Allah alias syirik. Sebagai gantinya, saya mempercayakan keselamatan saya dan anak hanya pada Allah dan membaca doa-doa keselamatan. Yang pasti sholat lima waktu dan menargetkan khatam Al-Quran selama masa kehamilan. Alhamdulillah, sampai saya melahirkan dan anak-anak mulai tumbuh besar, gangguan apapun, terutama mistis, tidak pernah kami rasakan.

azka

Azka ketika masih bayi

2. Tidak Memberikan Kompeng atau Dot. Di masyarakat kita, masih kental dengan kebiasaan bayi-bayi yang baru lahir kerap diperkenalkan dengan kompeng alias dot. Tujuannya agar anak merasa tenang saat mengenyut karet kompeng. Saya, tidak pernah memberikan hal itu kapada anak kedua saya (anak pertama sempat diberikan oleh keluarga yang mengasuhnya karena saya harus berpisah dengannya untuk sementara waktu saat dia masih 45 hari). Menurut saya, yang perlu diberikan ke bayi hanyalah air susu ibu (ASI) hingga si bayi kenyang. Setelah kenyang dia akan tidur dengan pulas dan kita bisa mengerjakan pekerjaan lainnya. Lagipula, kebiasaan mengompeng membuat bentuk bibir bayi tidak seindah yang seharusnya. Apalagi kalau kebiasaan ngompengnya terbawa sampai besar, wah bisa malu juga kan si anaknya. Bagaimana jika bayi tidak nyenyak tidur dan menangis? Dari referensi yang saya baca, seorang bayi butuh kenyang dan kenyamanan. Jadi, sebagai antisipasinya, buatlah bayi kita merasa kenyang dengan memberikan ASI yang cukup, atur suhu ruangan sehingga dia tidak kepanasan atàu kedinginan, serta pakaikan pakaian yang nyaman di badan.

3. Tidak Mengayun Bayi. Apa sih tujuannya mengayun bayi? Agar mereka bisa tidur dengan nyaman? Apakah iya bayi bisa nyaman jika tidur di tempat yang sekecil dan sesempit ayunan itu? Apakah bayi nyaman tidur diayun-ayun? Belum lagi resiko jatuh dari ayunan. Bukannya mereka akan lebih nyaman di tempat yang lebar (apalagi jika si anak sudah mulai banyak gerak dan lasak)? Bukankah mereka lebih nyaman tidur di atas kasur tanpa gangguang goyangan seperti di ayunan? Nah inilah yang mendasari saya tidak mengayun bayi-bayi saya. Setelah mereka saya berikan ASI sampai kenyang, saya biasakan mereka untuk tidur di atas kasar sebagaimana orang dewasa. Bayi akan mengikuti pola kebiasaan yang diberikan orang tua kepada mereka. Kalau mereka sudah dibiasakan dari bayi diayun, biasanya mereka tetap minta diayun hingga mereka bosan sendiri. Enaknya lagi tidak membiasakan anak diayun adalah kita tidak terbebani harus membawa ayunan kemana-mana jika kita hendak menginap di tempat lain.

4. Tidak Menggendong Bayi kalau Tidak Penting. Ini kedengarannya, seperti saya tidak sayang dengan anak saya. Oh tidak…. Saya dan suami sangat sayang kepada mereka. Hanya saja, kami memang tidak membiasakan menggendong bayi-bayi kami jika memang tidak penting. Jika mereka menangis, saya akan memberikan ASI. Jika ternyata mereka tidak butuh ASI, saya akan lihat areal bawahnya (mungkin BAB atau pipis) dan suhu udara ruangan yang mungkin membuat mereka tidak nyaman, terlalu panas atau dingin. Jika bukan itu penyebabnya, saya akan mengajak bayi saya bermain di atas kasurnya. Jika tidak manjur juga, baru saya menggendong dan memberikan pelukan hangat. Saat saya peluk dan tangisnya mereda, maka saya akan meletakkan bayi saya kembali ke atas kasur atau box bayi dan mengajaknya bermain sampai dia benar-benar tenang. Tidak lupa mengajaknya bicara agar lebih tenang. Bahkan, saat jalan-jalan, kami lebih sering menggunakan stroller untuk mereka. Tidak membiasakan menggendong bayi sangat membantu saya mengurus rumah karena kami tidak punya asisten rumah tangga. Bisa dibayangkan, jika bayi yang memang hanya punya bahasa tangis, terus menerus minta gendong, bagaimana urusan kerjaan rumah bisa selesai? Plus urusan kerjaan lainnya bisa saya lakukan? Dengan begitu, anak-anak saya terbiasa untuk tidak manja dan mandiri lebih cepat.

azka1

Kenzie dan Azka

5. Makan apapun (Halal) yang bergizi termasuk telur dan ikan selepas melahirkan. Pernah gak dapat wejangan dari orang tua kalau habis melahirkan gak boleh makan telur, ikan, udang, dan lain-lain. Saya pernah. Tapi saat saya melahirkan, wejangan itu saya abaikan. Mengapa, karena yang dipantangkan itu merupakan sumber nutrisi bagi ASI dan bayi saya. Setelah konsultasi dengan dokter dan dokter mengatakan boleh makan semuanya, sayapun meninggalkan wejangan tersebut. Bagaimana bayi saya bisa sehat jika makan si ibu tidak tercukupi nutrisinya? Jadi bunda-bunda jangan takut untuk makan makanan yang begizi pasca-melahirkan. Kekhawatiran bahwa luka pasca melahirkan akan lama sembuhnya, itu sangat tergantung pada perawatan kita sendiri. Makin bergizi makanan yang kita konsumsi makin cepat luka kita sembuh karena sel-sel baru akan cepat terbentuk. Apalagi jika pascamelahirkan makan ikan gabus dan gamat. (***)

Semoga Tulisan Ini Bermanfaat Terutama Bagi Bunda yang Sedang Hamil dan Punya Baby!

HAPPY MOTHER, HAPPY FAMILY