Mengenal Jurnal Predator agar tak Terjebak, Sangat Penting bagi Para Akademisi

Kartun tentang jurnal predator by Manisha Mallick

MENJADI seorang akademisi, khususnya dosen, menelurkan karya ilmiah dan dipublikasi di jurnal internasional yang terakreditasi, merupakan satu keharusan.

Bisa dikatakan, seorang akademisi kalau tidak bisa membuat karya ilmiah dan dipublikasi maka belum sempurna rasanya.

Apalagi, karya ilmiah tersebut wajib adanya jika hendak mengurus jenjang kepangkatan dosen maupun melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Sehingga tidak mengherankan para dosen pun berlomba-lomba membuat karya ilmiah sebagus mungkin agar dapat diterbitkan oleh jurnal internasional yang terakreditasi.

Sayangnya tidak semua akademisi mampu menerbitkan karyanya di jurnal internasional yang terakreditasi melainkan tempat yang “abal-abal”.

Adanya kewajiban penerbitan karya ilmiah di jurnal internasional ini, tentu saja menjadi ladang bisnis publisher yang menggiurkan. Sebab, tidak jarang si penulis jurnal ternyata tidak dibayar atas hasil karyanya melainkan justru harus membayar sekian dolar.

Nah, bagaimana bisnis publisher internasional ini bisa menjadi “momok” bahkan predator bagi para akademisi?

Seorang teman satu angkatan saya sesama penerima beasiswa dari IIE (Cohort 8), Bli (Abang) I Gusti Agung Made Wardana, yang sudah sering mereview karya ilmiah akademisi lain menjelaskan tentang keberadaan “Jurnal Predator” atau “Predatory Journal” ini.

Bli Agung adalah seorang Doctor of Philosophy (PhD) dari Murdoch University, yang kini menjadi akademisi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.

Berikut ulasannya tentang “Jurnal Predator” tersebut yang musti menjadi perhatian para akademisi.

Apa dan Bagaimana Jurnal Predator?

I Gusti Agung Made Wardana. Photo is taken from facebook

MENDAPAT undangan untuk menjadi reviewer sebuah jurnal bernama Biomedical Research di bawah bendera Allied Academies, salah satu publisher yang masuk di Beall’s List of Predatory Publisher.

Dilihat dari abstraknya, tema yang diangkat sangat menarik yakni tentang hukuman kebiri bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak di Indonesia, dan dapat terbaca jelas jika penulisnya adalah orang Indonesia.

Ada dilema yang tengah saya dihadapi:

Pertama, saya ingin menerima tawaran tersebut sehingga bisa menelusuri siapa sang penulis. Jika ketemu kontaknya, saya selanjutnya akan menghubungi yang bersangkutan guna memberikan masukan tentang reputasi jurnal di mana ia kirimkan hasil karya intelektualnya yang mungkin saja proses penelitian dan penulisannya membutuhkan pemikiran, energi, emosi, serta sumber daya yang tidak sedikit.

Namun masalahnya, jika saya menerima tawaran publisher ini, nama saya dapat saja dicatut untuk masuk di Board of Reviewers dari jurnal tersebut. Tujuan untuk mengundang reviewer pada jurnal-jurnal predator sebenarnya bukan untuk meningkatkan kualitas artikel yang akan dipublikasikan namun sekedar ingin menunjukkan seolah-olah ada proses peer-review.

Selain itu, hal ini juga untuk menjaring nama untuk dimasukkan menjadi board of reviewer sehingga seolah-olah jurnal tersebut terlihat bonafid.

Kedua, jika tidak menerima undangan ini, berarti saya melakukan pembiaran karena satu lagi kolega dosen/peneliti Indonesia jatuh dalam kubangan jurnal internasional predator. Sayang sekali jika jerih payahnya untuk menghasilkan sebuah karya ilmiah harus ‘dicaplok’ oleh jurnal predator.

Hal ini justru menjadi kontra produktif dari harapan awal penulis untuk memiliki ‘jejak’ intelektual di tingkat internasional dan menambah deretan kerugian yang harus ia derita, tidak saja kerugian ekonomi dari fee yang harus ia bayarkan kepada publisher. Tapi yang jauh lebih penting adalah pertaruhan akan reputasi akademisnya karena jejaknya di jurnal predator akan terus ada.

List Jurnal Predator

Jurnal yang dikategorikan predator oleh Jeffrey Beall, seorang librarian di US, adalah jurnal-jurnal yang lemah atau tidak ada sama sekali proses peer-review dalam proses publikasinya.

Padahal peer-review merupakan proses penting untuk mengkaji substansi dari manuskrip yang dikirimkan untuk menilai segi kelayakannya sebagai karya ilmiah. Jurnal-jurnal ini mengesampingkan proses penting ini hanya untuk mengejar kuantitas publikasi.

Misalnya, sebuah jurnal predator yang dipromosikan via email, banyak menjanjikan akan mempublikasikan manuskrip dalam waktu yang tidak masuk akal (misalnya seminggu setelah manuskrip kita submit – mustahil proses peer-review yang serius akan membutuhkan waktu secepat itu).

Untuk list jurnal predator bisa dilihat di sini!

http://beallslist.weebly.com/

Uang yang harus dikeluarkan

Selain itu, jurnal ini bahkan bisa terbit 12 kali dalam setahun. Artinya setiap bulan akan ada 8-10 artikel yang mereka publikasikan. Jika setahun maka ada kurang lebih 100-an artikel.

Jika satu artikel mereka menarik uang atau fee publikasi sebesar Rp 5 juta saja, maka bisa hitung pemasukan mereka mencapai Rp 500 juta per tahun dengan bermodal hanya membuat website mempublikasikan jurnal-jurnal tersebut.

Dampak buruk menerbitkan karya di jurnal predator

Mengenai layak kutip, bisa saja dikutip namun sekali lagi kelayakannya dipertanyakan. Misalnya, jika Bli Agung pernah menulis artikel di jurnal predator, maka artikel Bli Agung tidak akan diakui menjadi karya yang bisa dihitung kreditnya. Jika demikian, maka uang yang Bli Agung keluarkan untuk membayar publication fee akan sia-sia.

Selanjutnya, jika Bli Agung mencantumkannya dalam CV profesional untuk kepentingan sekolah, beasiswa, atau hal lain, maka reviewer CV Bli Agung kemungkinan besar mengetahui bahwa ada artikel di jurnal predator.

Alhasil, reputasi Bli Agung sebagai scholar yang serius menjaga marwah keilmuwan dan integritas intelektual akan jatuh karena akan dianggap menggunakan jalan pintas agar terlihat memiliki jurnal internasional.

Maka berhati-hatilah dalam memilih jurnal internasional, jangan sampai masuk jebakan “Jurnal Predator”. (sri murni)

Read the English version below:

International Predatory Journal, What Academicians Must Know?