Berburu Empat Oleh-oleh Wajib dari Anambas

MENJELAJAH suatu daerah, tidak lengkap rasanya tanpa memburu makanan khas yang bisa dijadikan oleh-oleh dari daerah tersebut.

Kalau sudah ke luar kota, kemudian tidak membawa apa-apa untuk oleh-oleh orang-orang tercinta, rasanya kok gemana gitu ya… Hehehehe.

Ngomong-ngomong soal buah tangan, saat menjelajah Anambas tepatnya ke Pulau Letung, 3-5 September 2018 lalu, dalam rangka “Jelajah Konektivitas Hati”, saya pun berburu makanan khas lokal sana.

Dari hasil jalan sana jalan sini, saya merangkum setidaknya ada lima makanan khas yang wajib dibawah dari Letung sebagai buah tangan.

1. Ikan salai

Kabupaten Kepualaun Anambas adalah salah satu lumbung hasil laut di Kepri. Jadi kalau ke sini, pastinya pulang harus bawa ikan. Namun, jika pulangnya naik pesawat, membawa ikan segar pastilah sulit dilakukan. So, bagaimana solusinya?

Ikan Segar di Pasar Letung, Anambas, Foto by menixnews.com

Saat saya jalan-jalan ke pasar tradisional Letung, saya sampai terbelalakkarena melihat ikan segar dengan harga yang murah-murah sekali. Bayangkan, satu ekor ikan tuna putih dan ikan putih atau warga lokal menyebutnya ikan manyuk, dijual hanya Rp 30.000-35.000 per ekor dengan berat hampir 2 kg. Sementara ikan talang yang ukurannya lebih besar seekor hanya Rp25.000.

Untuk ikan yang ukurannya sedang, dijual per paket misalnya 3 ekor Rp 20.000. Sedangkan untuk ikan kecil atau hasil laut lain seperti cumi-cumi dan udang, dijual per tumpuk dengan berat sekitar 1 kg dengan harga kisaran Rp 15.000.

Para pedagang di sini menjual ikan memang tidak dengan ditimbang melainkan per ekor atau per tumpuk.

Mendapati harga ikan yang begitu murah, otak matematika emak-emak langsung beraksi dan dengan otomatis membandingkam harganya dengan di Batam.

Di Batam, ikan tuna segar satu kilo kisaran Rp 40.000, demikian juga dengan cumi-cumi. Sementara udang, mencari Rp 100.000 per kg.

Ikan Segar di Pasar Letung, Anambas, Foto by menixnews.com

Jujur saja saya tidak tahan untuk tidak membeli hasil laut di pasar ini. Namun, membeli ikan segar untuk oleh-oleh merupakan hal yang sangat sulit karena pulang naik pesawat.

 

Alhasil, seorang teman, Bang Habib namanya, memberikan ide agar meminta tolong penjual ikan di pasar untuk membuatnya menjadi ikan salai.

Saya pun sangat setuju. Akhirnya saya beli satu ekor besar ikan manyuk dan satu ekor besar ikan tuna putih dengan harga Rp 70.000. Kemudian, memberikan upah kepada penjualnya Rp 20.000 untuk menjadikan dua ekor ikan tersebut menjadi salai.

Untuk menyalai ikan ini, diperlukan waktu sekitar 3-4 jam. Ikan diasapi di atas api dari bakaran sabut kelapa hingga kering.

Si Ibu mengantarikan ikan salai pesanan saya ke penginapan, Foto by menixnews.com

Jika ingin pesan ikan salai segar seperti yang saya lakukan, pergilah ke pasar Letung pada pagi hari selepas subuh agar mendapatkan ikan sesuai keinginan. Kemudian, meminta tolong pada penjual untuk menyalainya.

Biasanya, sekitar pukul 10 atau 11.00 WIB sebelum kita meninggalkan penginapan, pesanan kita akan diantarkan oleh mereka.

Jika tidak ingin repot, sebenarnya di pasar juga sudah ada warga yang menjual ikan salai, namun ukurannya lebih kecil dan rata-rata adalah jenis ikan tuna putih atau biasa warga lokal menamaninya ikan jabat dan tuna merah atau curing.

Ikan Salai di Pasar Letung, Anambas, Foto by menixnews.com

Patut diketahui bahwa harga ikan di sini tidak selamanya murah ya. Jika ikan sedang tidak banyak, harganya juga bisa mahal seperti di Batam.

2. Gula Tempong

Oleh-oleh kedua adalah gula tempong. Ehmmm apakah gula tempong itu?

Awalnya saya pun tidak kenal bahkan bingung. Pertama tahu gula tempong ini ketika saya duduk di warung makan, kemudian disuguhi pisang goreng dengan saos coklat di atas piring kecil yang terpisah.

Bang Habib yang merupakan asli Anambas memberitahu, bahwa saos di piring kecil itu adalah gula tempong yang rasanya tentu saja manis.

Gula tempong bersanding dengan goreng pisang, lezat…. Foto by menixnews.com

Setelah saya coba, rasanya ya memang manis tetapi manisnya tidak bikin bosan dan tidak juga bikin gigi sakit atau ngilu.

Selidik punya selidik, ternyata gula tempong ini adalah gula merah aren yang dimasak lembek.

Warga lokal menyebut gula merah ini dengan nama gula ijuk atau gula aren karena memang dibuat dari nira yang berasal dari pohon aren.

Karena penasaran bagaimana membuat gula tempong, saya dan tim pun menyempatkan diri untuk melihat langsung bagaimana pembuatannya.

Kami mendatangi pemukiman warga yang menjadi central pembuatan gula tersebut yakni di Kampung Teluk Kaut, Kecamatan Jemaja, sekitar 15 menit dari kota Letung naik motor. Jalan ke kampung ini relatif sudah bagus meskipun agak berbukit dan rusnya kecil, beberapa bagian juga masih berbentuk jalan tanah.

Kami mendatangi kediaman pasangan suami istri, Ali Nopia dan Yusnita, yang secara turun temurun membuat gula tempong. Ali menjelaskan, dirinya tiap hari memasak gula tempong di atas tunggu kayu menggunakan kuali besar selama lima jam.

Biasanya, dia masak gula tempong pagi atau sore selepas memanen nira dari kebun.

“Kalau saya panen niranya pagi, siang atau sore saya bikin gulanya. Tapi kalau panen niranya sore, bikin gulanya pagi,” cerita Ali.

Gula yang dibikinnya merupakan gula murni tanpa campuran apapun. Air nira dari kebun langsung dimasak di atas tungku selama lima jam sampai airnya menyusut dan menjadi gula.

Ali menunjukkan tempat penampung nira. Foto by menixnews.com

Air nira yang diambil harus segera dimasak karena jika lewat 24 jam, rasa nira akan berubah asam dan tidak bisa lagi dibuat gula.

Satu-satunya campuran yang dipakai dalam proses pembuatan gula tempong ini adalah batang kayu resak. Batang ini dipakai saat pengambilan nira. Batang diletakkan di tempat penampungan nira di atas pohon agar air nira tidak asam dan pahit.

Setelah gula masak, kemudian ditunggu hingga dingin dan dikemas di dalam plastik bening tebal.

Proses memasak gula tempong. Foto by menixnews.com

Untuk menjual gula ini, mereka tidak menggunakan timbangan, melainkan takaran kaleng.

Setiap tiga kaleng yang sudah dikemas dalam plastik dijual Rp 20.000 di tingkat produsen dan Rp25.000 pada pengecer.  Satu plastik beratnya tidak sama, namun rata-rata satu kilo lebih.

Gula ini bisa bertahan lama, sebulan lebih tanpa bahan pengawet.

Karena sudah berada di sentra produksinya, saya langsung membeli empat kantong. Di sini tersedia gula yang lembek maupun keras. Untuk dibawa sebagai oleh-oleh, baiknya membeli yang keras.

Jika nantinya ingin menikmati gula yang lembek, kita hanya perlu memanaskannya di bawah matahari atau di dalam wadah kemudian direndam air panas.

3. Dodol ubi

Di Kampung Teluk Kaut, Jemaja, ini juga terdapat tempat pembuatan dodol ubi kayu. Kebetulan seorang warga sedang memasak dodol tersebut, ketika kami datang.

Namanya adalah Ibu Asih, rumahnya tidak begitu jauh dari Ali. Saat kami menyambangi rumahnya, Ibu Asih sedang sibuk mengaduk-aduk dodol yang setengah matang di atas wajan besar.

Sambil terus bekerja, Ibu Asih mengatakan, usaha dodol ubi ini sudah setahun lebih dijalaninya.

Ibu Asih sedang membuat dodol ubi kayu. Foto by menixnews.com

Dia membeli ubi dari petani kemudian diparut dan dimasak dengan campuran santan serta gula tempong.

Dia pun berbagi resep. Untuk menghasilkan kurang lebih 8 kg dodol ubi kayu, diperlukan 5 kg ubi yang diparut dan ditiriskan, kemudian santan kental dari enam butir kelapa, dan gula tempong dua kantong atau sekitar 2 kg.

Setelah matang, biasanya dodol ubi dikemas dalam plastik dan dijual Rp10.000 per kantong. Karena tidak menggunakan bahan pengawet, oleh-oleh satu ini hanya bisa bertahan sekitar 3-4 hari.

4. Kerupuk Atom

Karena Anambas sebagai setra penghasil ikan, makanan yang dihasilkan tentu saja tidak jauh dari ikan. Salah satunya adalah kerupuk atom.

Saya berkesempatan mengunjungi langsung tempat pembuatan kerupuk atom yang sudah tersohor di sini yakni “Kerupung Atom si Bolang”. Diberinama Si Bolang karena beberapa tahun lalu, anak dari pembuat kerupuk atom ini masuk program TV “Si Bolang”.

Kerupuk Atom Si Bolang dari Letung, Anambas. Foto by menixnews.com

Usaha yang dirintis Idariah bersama suami sejak 10 tahun lalu, awalnya bernama J3I. Namun, setelah masuk program TV, namanya pun diganti menjadi Si Bolang.

Saat saya menyambangi rumanya, Idariah menceritakan, bahwa bahan utama kerupuk atom ini adalah tepung sagu yang dicampur dengan daging ikan tuna putih serta bumbu-bumbu.

Idariah sedang menggoreng Kerupuk Atom Si Bolang dari Letung, Anambas. Foto by menixnews.com

Adonan dibentuk memanjang dan bulat-bulat, kemudian langsung digoreng hingga matang.

Dia memproduksi kerupuk ini setiap hari sekitar 10 kg. Setelah matang, kerupuk dijual Rp120 ribu per kilo dan dikemas dalam plastik ukuran kecil, sedang, dan besar.

Bagaimana cara pembuatannya lebih detail? Tonton videonya di sini ya! Ada wawancara langsung dengan si pembuat kerupuk atom Si Bolang…

So, jangan sampai lupa membawa oleh-oleh khas Anambas jika ke sini ya! (sri murni)

Baca juga tulisan saya lainnya tentang Anambas!

Terpana Pesona Padang Melang

Cara Gampang ke Anambas dari Batam dan Tanjungpinang, Ini Pilihan Transportasinya

Nikmati Kedamaian Anambas dari Atas Transportasi Pedesaan Gratis