Pengalaman Puasa di Belahan Kutub Utara dan Selatan

MUMPUNG Ramadan, ingin deh berbagi pengalaman berpuasa di luar negeri yang ternyata tidak mudah. Tidak mudah karena, pertama, mayoritas penduduk di sana bukan muslim sehingga pastinya mayoritas tidak berpuasa. Kedua, waktu berpuasa yang bisa jadi lebih lama atau bahkan lebih pendek dari Indonesia.

Nah, pada tulisan kali ini, saya ingin menceritakan pengalaman berpuasa di dua tempat yang berbeda dalam satu bulan Ramadan. Pertama puasa dijalankan di belahan dunia selatan (kutub selatan) dan sisanya di belahan dunia utara (kutub utara).

Kongres Perhimpunan Pelahar Indonesia Australia (PPIA) di Balai Kartini KBRI Canberra, 2012.

Pengalaman ini berlangsung pada 2011 lalu. Ketika itu puasa Ramadan jatuh pada Juli-Agustus. Kebetulan saat awal-awal puasa saya tinggal di Canberra, ibukota Australia, yang notabene bagian dari wilayah selatannya dunia.

Namun, pada pertengahan puasa, saya harus hizrah selama satu semester ke Oslo, ibukota Norwegia, wilayah bagian utaranya dunia. Bagaimana puasa di dua kutub yang berbeda ini, baca sampai habis ya! Ada kisah saya hampir pingsan di dalamnya. Hehehe

Puasa di Kutub Selatan, Lebih Singkat

Sebagai informasi dasar, wilayah yang ada menjadi bagian dari kutub selatan dan kutub utara sama-sama memiliki empat musim sepanjang tahun, yakni summer (musim panas), autumn (musim gugur), winter (musim dingin) dan spring (musim semi).

Image result for kutub utara dan selatan

Hanya saja, karena posisinya utar dan selatan, waktu masing-masing musim pun berlangsung kebalikannya. Misalnya di utara musim dingin, di selatan musim panas, dan begitu seterusnya.

Nah, kembali ke puasa Ramadan. Di tahun 2011, puasa Ramadan jatuh pada bulan Juli-Agustus. Pada awal Ramadan, saya masih tinggal di Canberra untuk keperluan studi S2.

Ketika itu, di Australia berada di musim dingin. Walaupun kebanyakan wilayah di Australia tidak diguyur salju saat musim dingin, namun di Canberra udara bisa mencapai -5 dan lumayan menggigilkan badan bagi saya yang biasa hidup di daerah tropis.

Puasa saat musim dingin itu merupakan suatu anugerah dan membuat semangat bergelora. Bagaimana tidak, puasanya lebih singkat, tidak sampai 12 jam.

Ketika saya di Canberra, saya puasa dari sekitar pukul 05.30 dan berbuka sekitar pukul 17.00. Selain puasa lebih singkat, sepanjang hari tantangan cuaca juga tidak begitu terasa karena adem bahkan dingin sehingga tenggorokan tidak sedahaga saat puasa di wilayah tropis.

Bagaimana dengan rasa lapar? Bukankah cuaca dingin membuat perut terasa lebih lapar dan nafsu makan juga semakin tinggi? Kalau ini memang saya alami. Namun, namanya juga puasa kalau tidak lapar ya tidak puasa namanya, ya kan!

Menyiasati dahaga dan lapar selama puasa dan agar Ramadan lebih berasa serta menyenangkan, yang saya lakukan adalah:

  1. Membaca dan mengerjakan tugas-tugas kuliah sebanyak mungkin baik di kamar kos maupun di perpustakaan kampus.
  2. Ikut part time job di jam-jam yang tidak mengganggu perkuliahan.
  3. Memasak hidangan sahur dan berbuka puasa sendiri (saya sangat jarang makan di luar karena susah cari makanan halal dan juga bisa lebih hemat).
  4. Rajin menghadiri undangan buka puasa bersama, terutama dari KBRI (Kedutaan Besar RI). Selain dapat hidangan gratis (ah mahasiswa dimana-mana gratis memang menyenangkan), menunya juga Indonesia bangets! (Secara makan makanan nusantara di Canberra lumayan mahal)

Puasa di Kutub Utara, 20 Jam

Setelah sekitar dua pekan menghabiskan Ramadan di Canberra, pada awal Agustus 2011 saya harus hizrah ke Oslo, Norwegia. Hizrah ini adalah untuk kepentingan studi dimana saya harus mengambil kelas Peace and Conflict Studies di Bjorkness Collage di sana.

Saat saya sampai di negeri belahan kutub utara tersebut, musim yang berlangsung adalah penghujung musim panas. Pepohonan masih tampak hijau dan bunga-bunga di taman pun masih tampak mekar dengan cantiknya.

Sepanjang mata memandang, di depan-depan rumah penduduk, warga menikmati matahari dengan berjemur di halaman rumah mereka dan di taman-taman umum beralaskan handuk ataupun menggunakan kursi malas.

Summer di Taman Vegeland Oslo, Norway. Foto by menixnews.com

Meskipun musim panas, udara di sana tidaklah terik hanya sekitar 15-17 derajat celcius. Bahkan, bagi yang biasa hidup di alam tropis, udara di sana bisa dikatakan sejuk dan berangin.

Andaikan puasa berlangsung hanya 12 jam, rasanya akan sangat tidak terasa. Namun, puasa musim panas di Oslo itu memang lumayan melelahkan karena durasi puasa yang jauh lebih lama dari Indonesia.

Ketika itu, imsak sekitar pukul 02.30 sementara bedug atau buka puasa sekitar pukul 22.30. Bila ditotal, puasa berlangsung sekitar 20 jam. Jujur saja, saya memang hampir-hampir tidak berdaya menahan dahaga dan lapar selama itu.

Paling Lemas Jam 9 Malam dan Hampir Pingsan

Menjalankan ibadah puasa dari negeri bermusim dingin ke negeri yang bermusim panas memang membuat tubuh saya agak shock. Bagaimana tidak, dari yang puasa tidak sampai 12 jam, menjadi puasa kurang lebih 20 jam.

Karena jarak waktu antara bedug dan sahur terlalu dekat, hanya sekitar empat jam, alhasil saya hanya makan buka puasa, tanpa sahur. Bayangkan saja, pukul 22.30 berbuka puasa, kemudian sholat Magrib, dan tidak lama kemudian langsung Sholat Isya dan taraweh. Selesai rangkaian ibadah tersebut, waktu sudah menunjukkan hampir pukul 24.00.

Kemudian tidur, dan begitu bangun untuk sahur, rasa kantuk masih menggelayut berat dan perut pun masih sangat kenyang. Alhasil, bangun tidur hanya untuk sholat Subuh kemudian tidur lagi sampai mendekati waktu perkulihan.

Taman Vigeland Park, Oslo, Norway. Foto by menixnews.com

Sepanjang hari puasa, saya merasakan tidak begitu berat. Hanya saja, ketika waktu menunjukkan pukul 21.00 ke atas, dimana kebanyakan warga sudah mulai mimpi indah, saya masih harus terjaga menantikan azan magrib yang masih lama.

Jam segitu, matahari masih gagah bersinar. Sementara tubuh saya sudah lunglai tak berdaya di atas tempat tidur. Golek sana-golek sini, gelisah. Ingin tidur, takut ketiduran dan tidak terbangun saat magrib, tidak tidur badan sudah sangat lunglai dan hampir pingsan.

Mengapa tidak gunakan alarm? Pastinya saya menggunakan alarm. Namun, pernah satu kali saya benar-benar ketiduran dan tidak terbangun saat magrib. Alaram mendering-dering pun saya tidak dengar. Mungkin karena sudah terlalu lelah.

Alhasil, saya tidak buka puasa dan tidak sahur karena terbangun pukul 04.00 pagi. Akhirnya saya tidak puasa karena tidak sanggup jika tidak minum untuk 20 jam berikutnya.

Semangat Ganti Puasa Saat Musim Dingin

Jujur saja, banyak teman-teman yang tidak kuat menjalankan ibadah puasa di musim panas. Alhasil, sebagian tidak berpuasa atau puasanya tidak penuh selama Ramadan (orang kita bilang, puasanya bolong-bolong).

Tidak hanya teman-teman muslim dari tanah air, tetapi juga dari banyak negara lainnya. Karena puasa Ramadannya bolong-bolong, mereka pun, termasuk saya, mengganti puasa di saat musim dingin.

Main salju saat winter di Oslo.

Di musim dingin, matahari terbit hanya kisaran 6-8 jam. Jadi puasa pun tidak begitu terasa, bahkan serasa tidak puasa karena waktunya singkat. Saat musim dingin, saya tidak hanya semangat mengganti puasa yang bolong saat Ramadan, tetapi juga senang puasa sunah, Senin-Kamis dan puasa sunah lainnya.

Well, my blog readers, sampai sini dulu ya sharing pengalaman puasanya. Semoga bermanfaat dan KEEP FASTING SPIRIT! (sri murni)