Pilih KPR Konvensional atau Syariah?

Rumah adalah investasi jangka panjang yang saat ini mulai dipikirkan oleh semua orang. Mereka ingin membeli rumah karena hunian merupakan kebutuhan utama.

Berbicara mengenai membeli rumah, berdasarkan data Bank Indonesia, skema pembayaran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) menjadi cara yang paling banyak dilakukan jika dibandingkan dengan cara pembayaran lainnya, seperti tunai keras, tunai bertahap ataupun ballot payment.

Jika saat ini Anda berniat untuk mengajukan KPR, ada baiknya jika terlebih dahulu mengetahui tentang jenis KPR. Secara umum KPR terbagi dua yakni, konvensional dan syariah. Simak yuk ulasannya!

KPR Konvensional

KPR Konvensional ini biasanya ditawarkan oleh bank umum atau konvensional. Bank akan memberikan patokan bunga yang telah ditetapkan.

Setiap bank akan memberikan bunga sendiri-sendiri. Ada dua sistem bunga yang ditetapkan yakni bunga tetap (besaran bunga sama dari awal KPR hingga berakhirnya kredit) dan bunga mengambang (bunga akan naik dan turun seiring kondisi ekonomi.

Jika bunga yang ditetapkan adalah bunga mengambang maka, Anda kemungkinan harus membayar bunga yang jauh lebih tinggi di kemudian hari karena bunga akan selalu naik seiring bertambahnya waktu.

Jika Anda membeli rumah dijual dengan sistem KPR dari bank konvensional maka besarnya angsuran yang Anda harus bayar untuk setiap bulannya juga dipengaruhi oleh besaran suku bunga setiap bank.

Besaran suku bunga ini bisa fluktuatif bergantung pada tingkat ekonomi negara yang tenang atau sedang bergejolak. Dengan demikian jika suku bunga tinggi maka ada kemungkinan cicilan yang harus Anda bayarkan ke bank juga akan akan lebih banyak daripada bulan-bulan sebelumnya ketika suku bunga stabil.



KPR Syariah

Berbeda dengan sistem konvensional yang digadang-gadang sebagai ladang riba karena adanya bunga, perbankan syariah dianggap bebas dari riba.

Dalam hal pinjaman KPR syariah bisa jadi lebih menguntungkan bagi kebanyakan rakyat
Indonesia jika yang dicari adalah membayar pinjaman KPR dengan jumlah yang sama untuk
setiap bulannya.

Bank Syariah yang biasanya memiliki banyak akad yang bisa menjadi alternatif. Yang paling sering ditawarkan adalah berupa skema murabahah atau jual beli dimana pihak bank akan membeli rumah yang diinginkan sesuai dengan harga rumah dijual tersebut.

Kemudian pihak bank akan menjual rumah tersebut kepada Anda sesuai dengan harga jual rumah yang sudah ditambahkan dengan margin atau keuntungan yang telah disepakati diantara Anda dan bank. Harga
jual rumah ini sudah ditetapkan sejak awal Anda melakukan penandatanganan perjanjian KPR dengan bank syariah yang Anda pilih. Angsuran yang harus Anda bayarkan akan tetap jumlahnya sampai jatuh masa tempo pembiayaan rumah Anda.

Kemudian apabila Anda memilih KPR syariah dan ingin melakukan pelunasan sebelum tenor Anda berakhir maka Anda tidak akan dikenakan penalti walaupun harga KPR sudah ditetapkan dari awal.

Nah, sebelum Anda menetapkan KPR jenis konvensional atau syariah, baiknya dipertimbangkan secara matang plus dan minus kedua sistem KPR tersebut.

Sebagai informasi, saat ini banyak pula KPR dengan bunga kecil yang diberikan oleh bank umum lainnya. Ada baiknya Anda meneliti dan melakukan penghitungan secara cermat antara jumlah keseluruhan cicilan KPR yang ditawarkan dari bank syariah dan bank umum untuk menentukan bank jenis yang mana yang kira-kira memberikan pinjaman KPR paling ringan dan paling sesuai dengan keinginan Anda.

Setiap jenis bank memiliki plus-minusnya sendiri
sehingga Anda harus cermat untuk memilih bank pemberi KPR terbaik bagi Anda.

Perlu diingat bahwa KPR bukanlah jenis kredit yang pendek, melainkan perlu waktu 10 hingga 15 tahun. Kemampuan bayar Anda selama masa panjang itu sangat perlu diperhitungkan.

SEMOGA BERMANFAAT!