• Home »
  • My travelling »
  • #Rentak Selangor-4 : Mengenal Kesenian Cempuling: Cara Orang Jawa di Selangor Berkumpul dan Saling Mengingatkan

#Rentak Selangor-4 : Mengenal Kesenian Cempuling: Cara Orang Jawa di Selangor Berkumpul dan Saling Mengingatkan

Para pemain Cempuling. Foto by salah satu anggota Tim Rentak Selangor.

Para pemain Cempuling. Foto by salah satu anggota Tim Rentak Selangor.

ALUNAN kompang menyambut kedatangan rombongan Rentak Selangor saat baru turun dari bus dan memasuki pekarangan Banghuris Homestay yang beralamat di Jalan Tailong Kg. Hulu Chuchoh, Sungai Pelek, Sepang, Selangor, Malaysia, Kamis (1/12/2016).

Kompang merupakan salah satu jenis alat musik pukul tradisional yang dimainkan untuk menyambut tamu yang datang ke homestay tersebut.

Sambutan Kompang di Banghuris Homestay.

Sambutan Kompang di Banghuris Homestay.

Kehadiran kami di sini, terutamanya adalah untuk melihat dan menikmati alunan musik tradisional bernama Cempuling yang dimainkan Kelompok Cempuling Cendana Klasik.

Kedatangan rombongan kesini adalah sebagai rangkaian promo wisata Rentak Selangor yang ditaja Selangor Exco for Youth Generation, Sports, Culture and Entrepreneurship dengan panita penyelenggara acara UPEN Selangor berkolaborasi bersama Gaya Travel Megazine dan didukung PUSAKA.

Team Rentang Selangor saat berada di Banghuris Homestay. Foto by salah satu tim Rentak Selangor.

Team Rentak Selangor saat berada di Banghuris Homestay. Foto by salah satu tim Rentak Selangor.

Makna Cempuling

Cempuling Cendana Klasik merupakan kumpulan para seniman tradisional dan modern yang menjadi bagian atraksi wisata dari Banghuris Homestay.

Anggota kelompok seni ini ada belasan orang. Namun, saat kami datang, yang tampil ada 11 orang (10 pria dan 1 wanita). Sembilan diantaranya bermain musik tradisional dan modern, satu pria sebagai pembawa acara, dan satu wanita sebagai penyanyi utama.

Kelompok Cempuling Cendana Klasik di Banghuris Homestay, Selangor.

Kelompok Cempuling Cendana Klasik di Banghuris Homestay, Selangor.

Sebelum memainkan alunan musik Cempuling, sang pembawa acara yang bernama T.H. Arief Bin Ahmad menjelaskan bahwa Cempuling merupakan akronim dari bahasa Jawa yaitu Cempul yang bermakna kumpul-kumpul dan ing yang dimaksudkan iling-iling atau mengingat.

“Jadi Cempuling itu maksudnya adalah kumpul-kumpul dan iling-iling yang bermakna berkumpul bersama seraya mengingat Allah SWT dan kampung halaman serta saling mengingatkan sesama,”ujarnya.

Nama Cempuling itu diambil dari Bahasa Jawa karena memang masyarakat di kampung ini berasal dari Jawa, tepatnya Kebumen, Jawa Timur.

Menurut seorang warga setempat Ncik Nur yang bernama asli Ngatemi, kakek buyut mereka datang ke Selangor karena dibawa Kolonial Inggris untuk bekerja membuka perkebunan sawit dan karet.

Sejarah ini juga dibenarkan oleh Sejarawan Selangor Profesor Mohamad Romazi bin Nordin. Dia menjelaskan, bahwa pada zaman pendudukan Inggris dan Jepang, banyak mendatangkan orang-orang dari Jawa untuk dipekerjakan di Selangor.

Setelah zaman penjajahan, orang-orang dari Jawa datang dengan kemauan mereka sendiri dengan tujuan untuk mencari kehidupan ekonomi yang lebih baik.

Alhasil, sampai sekarang banyak orang Jawa yang sudah menetap dan menjadi warga Selangor.

“Setelah zaman kolonial, orang-orang Jawa datang ke Selangor karena memang ada yang dibawah oleh keluarga mereka yang sudah lebih dulu datang kesini,”kata Profesor Romazi.

Tidak mengherankan jika warga disini, selain mahir berbahasa Melayu, juga pandai berbahasa Jawa halus.

Kembali ke Cempuling, secara klasik, musik Cempuling terdiri dari enam instrumen utama yakni Gendang Jawa, Gendang Sunda, Enteng-Enteng, Kempul, Kempreng, dan Gendang Agung atau Gendang Besar.

Kini, Cempuling sudah dimodifikasi menjadi Cempuling Model dengan mengkolaborasikannya dengan instrumen musik modern seperti gitar, digital keyboard, dan accordion.

Dari Lagu Jawa, Melayu, Mandarin, sampai India

Kelompok Cempuling Cendana Klasik memang serba bisa membawakan beragam lagu manca negara.

Awal penampilan, mereka menyuguhkan alunan musik klasik yang hanya dimainkan oleh instrumen utama.

Kemudian, diiringi dengan lagu-lagu berlirik Jawa yang sangat terkenal di Indonesia yakni Tombo Ati yang dipopulerkan oleh Opik.

Lagu ini bermakna dakwah dan mengingatkan kepada manusia, khususnya umat Islam, untuk senantiasa menjalankan lima rukun Islam (syahadat, sholat, membaca Al-Quran, puasa, dan zakat).

Selanjutnya, lagu-lagu lain pun silih berganti dinyanyikan diantaranya berlirik Melayu, Mandarin, Thailand, dan India, dengan iringan musik kolaborasi instrumen klasik dan modern.

Di hadapan tamu undangan, kelompok kesenian ini tidak hanya menyuguhkan kepiawaian bermain musik, tetapi juga mengajak para tamu untuk ikut mempraktikkan bagaimana cara memainkan setiap instrumen yang ada.

Seorang peserta Tim Rentak Selangor mencoba memainkan instrumen kempul. Tampaknya, instrumen tersebut tidak sulit dimainkan karena mudah untuk dipelajari asalkan bisa mengikuti pola irama yang dimainkan.

O ya… untuk belajar instrumen Cempuling ini, tidak menggunakan catatan nada atau not balok, melainkan hanya feeling dan perasaan bermain musik mengikuti irama yang dibentuk. (sri murni)