Home / Inspirations / Belajar dari Samsara Living Museum Bali: Begitu Natural Tanpa Plastik
English English Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia
Samsara Living Museum Bali
Berfoto bersama peserta PKN dan para penari cilik di Samsara Living Museum, Bali, 20 Juli 2023. Photo: idawahyuni

Belajar dari Samsara Living Museum Bali: Begitu Natural Tanpa Plastik

DUNIA tanpa plastik, mungkinkah? Sangat mungkin dan ini bukan omong kosong. Sebab, gaya hidup tanpa plastik sudah dipraktikkan dan sukses dilakukan di museum kehidupan (living museum) Samsara di Jalan Telaga Tista, Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem, Karangasem, Bali.

Lokasi Samsara Living Museum yang telah menjadi destinasi wisata budaya, cukup jauh dari ibukota Denpasar maupun dari Bandara Ngurah Rai yakni sekitar tiga jam ke arah timur.

Di museum ini, para pengunjung diajak untuk merasakan kehidupan masyarakat Bali yang otentik dan sangat tradisional.
Saya berkesempatan menikmati kehidupan yang natural di sini bersama rekan-rekan se-Indonesia yang tergabung dalam jejaring ICCN (Indonesia Creative Cities Network), sebuah simpul organisasi jejaring yang berkomitmen mewujudkan 10 prinsip kota kreatif di Indonesia.

Samsara Living Museum Bali
Berfoto bersama peserta PKN dan para penari cilik di Samsara Living Museum, Bali, 20 Juli 2023. Photo: idawahyuni

Bersama rekan-rekan penggerak komunitas dari 10 provinsi di Indonesia berada di sini dalam rangka lokakarya Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2023 dan rakornas ICCN tahun ini. Kesepuluh perwakilan provinsi terebut berasal dari Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Papua Barat Daya, dan Papua Tengah.

Samsara Living Museum

Samsara Living Museum memiliki arti museum kehidupan masyarakat Bali. Samsara itu sendiri bermakna siklus kehidupan warga Bali mulai dari dalam kandungan sampai penyucian pasca kematian.

Museum Samsara dibangun di tengah-tengah kebun di antara pemukiman warga dengan luas sekitar dua hektare lebih. Sebelum masuk ke museum, kita diajak melewati jalan setapak kampung yang sederhana. Jalannya sudah disemen jadi tidak berdebu maupun becek. Kita juga melewati jembatan yang kanan kirinya dipagari oleh gedek dari bambu.

Di sisi kanan dan kiri jalan tersebut juga ditumbuhi pohon-pohon rindang. Begitu menginjakkan kaki di lorong jalan masuk museum, kita sudah merasakan keasrian sebuah kampung. Tidak hanya keasrian yang menyambut kita, tapi juga alunan musik dari lesung sudah terdengar.

Setelah berjalan sekitar 150 meter, di sebalah kanan jalan setapak tersebut terdapat gerbang museum. Gerbangnya berpagar anyaman bambu, bertiang batu, dan beratap ilalang.

Gerbang Samsara Living Museum Bali
Gerbang Samsara Living Museum Bali. Photo: menixnews.com

Di depan gerbang, sudah menunggu wanita-wanita ayu berbusana Bali. Mereka menyambut tamu dengan senyum ramah dan ucapan selamat datang. Terdapat pula dua meja berhias bunga-bunga yang di atasnya ada tumpukan kain panjang, selendang, udeng-udeng, dan bunga kamboja.

penyambut tamu di gerbang Samsara Living Museum
Seorang penyambut tamu di gerbang Samsara Living Museum, Bali. Photo: menixnews.com

Para tamu berbaris ke belakang untuk mengikuti ritual cuci tangan dan pemasangan kain. Air pencuci tangan diletakkan di dalam kendi yang sudah diberikan bunga-bunga di dalamnya. Dengan menggunakan gayung bergagang panjang terbuat dari batok kelapa, air disiramkan ke tangan setiap peserta oleh penyambut tamu.

Selain menyiramkan air, penyambut tamu juga menuangkan sabun ke tangan masing-masing tamu dengan menggunakan alat serupa.

Prosesi cuci tangan di depan Samsara Living Museum
Prosesi cuci tangan di depan Samsara Living Museum, Bali. Photo: menixnews.com

Setelah mencuci tangan, kita diberikan tisu berwarna coklat yang ramah lingkungan. Setelahnya, pengunjung yang tidak memakai rok, dipakaikan kain jarik atau kain panjang, selendang pengikat pinggang, dan penutup kepala (udeng-udeng) untuk laki-laki serta bunga Kamboja.

Sebelum melewati gerbang, pengunjung “diasapi” dengan bakaran kemenyan. Kemudian dipersilahkan untuk melewati gerbang.

Lihat prosesi penyambutan tamu secara lengkap di video ini!

Prosesi pencucian tangan dan pengasapan memiliki makna pembersihan diri sebelum masuk kearea museum. Sama seperti ketika hendak masuk ke dalam rumah dimana hal-hal yang kurang bersih ditinggalkan di luar rumah.

Begitu melewati gerbang, kita disambut dengan segelas minuman jamu kunyit asem sebagai pelepas dahaga.

lesung bareng ibu-ibu lokal di Samsara Living Museum Bali
Praktik menggunakan lesung bareng ibu-ibu lokal di Samsara Living Museum Bali. Photo: menixnews.com

Tak jauh dari pintu gerbang, deretan ibu-ibu lokal tampak menumbuk lesung yang menghasilkan bunyi-bunyian berirama mengiringi kedatangan para tamu. Di sini, pengunjung juga boleh langsung ikut menumbuk lesung untuk praktik. Lesung digunakan masyarakat Bali sebagai alat penumbuk pari.

Samsara Living Museum, Bali
Gubuk belajar musik di Samsara Living Museum, Bali. Photo: menixnews.com

Di museum ini, terdapat beberapa gubuk atau magubug (bahasa Bali) dengan fungsi yang berbeda-beda. Ada gubuk untuk jamu, lesung, dapur, balai pertemuan, tempat penyimpanan barang, gubuk pembaca lontar, gubuk bermain alat musik, dan lainnya.

Gubuk-gubuk di Samsara Living Museum
Gubuk-gubuk di Samsara Living Museum yang dikelilingi pepohonan. Photo: menixnews.com

Setiap gubuk dibangun dengan menggunakan bahan-bahan alam seperti tiangnya dari kayu atau bambu, dindingnya dari anyaman bambu, dan atapnya dari ilalang.

gubuk di Samsara Living Museum Bali
Kolam ikan air tawar di belakang gubuk di Samsara Living Museum Bali. Photo: menixnews.com

Disambut Tari Pendet Anak-Anak

Melengkapi prosesi penyambutan tamu di Samsara Living Museum, kita disajikan pertunjukan tari pendet versi sederhana yang dibawakan oleh anak-anak TK dari Sekolah Alam Trihita Alam Eco School Desa Jungutan.

Selain tari Pendet, anak-anak juga membawakan tarian nusantara dengan busana dari berbagai daerah di Indonesia.

tarian nusantara di samsara living museum
Anak-anak TK Sekolah Alam Trihita Eco School menampilkan tarian nusantara di Samsara Living Museum, Bali. Photo: menixnews.com

Untuk melihat penampilan tari Pendet dan tarian nusantara oleh anak-anak sekolah alam Trihita Eco School, silahkan klik video ini!

Nol Plastik

Satu pelajaran kehidupan tradisional di tengah-tengah modernisasi dunia yang bisa diambil dari Samsara Living Museum adalah kita bisa hidup tanpa plastik.

Perhelatan lokakarya Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) di sini dibungkus dalam suasana alami dan tanpa plastik. Dari sini kita bisa belajar bagaimana mengemas subuah acara di tengah alam terbuka dengan menggunakan perlengkapan yang terbuat dari alam.

Gubuk Pertemuan

Tempat lokakarya pertama di Samsara Living Museum adalah beraga di gubuk atau balai pertemuan. Tempatnya sangat sederhana. Penyangga gubuk dari bambu, atapnya ilalang dan kursinya dari kayu. Selain kursi panjang, disediakan pula bale-bale untuk tamu duduk bersila.

gubuk pertemuan di Samsara Living Museum
Sesi pertama lokakarya di gubuk pertemuan di Samsara Living Museum.

Di sini, para peserta bisa menyimak paparan para pemateri dengan santai. Meskipun konsepnya sederhana dan alami, namun untuk media presentasi tetap disediakan monitor berukuran besar dan alat pengeras suara yang bagus.

Gus Agung, Sekjen ICCN sekaligus inisiator Samsara Living Museum
Gus Agung, Sekjen ICCN sekaligus inisiator Samsara Living Museum memberikan materi pada sesi pertama lokakarya di gubuk pertemuan di Samsara Living Museum.

Lokakarya di Tengah Kebun Salak dan Bambu

Jika selama ini saya selalu mengikuti lokakarya baik tingkat lokal sampai internasional di dalam sebuah ruangan ber-AC, namun pada acara PKN ini lokakarya diadakan di luar ruangan.

Materi dipaparkan dan didiskusikan di alam terbuka. Bahkan, sesi lokakarya yang berlangsung di Samsara Living Museum tidak hanya dilakukan di bawah gubuk pertemuan tetapi juga di tengah-tengah kebun salak dan bambu.

Samsara Living Museum
Pemaparan materi tentang Cipta Ruang oleh Pak Ibe Karyanto di tengah kebun salak dan bambu di Samsara Living Museum, Bali. Photo: menixnews.com

Sesuai dengan tema lokakarya PKN kali ini Merawat Kebudayaan Merawat Bumi diimplementasikan dengan kegiatan-kegiatan yang mengandung unsur kebudayaan asli lokal dan kepedulian terhadap lingkungan. Satu di antaranya adalah meniadakan plastik dari lokakarya ini.

Saat lokakarya di tengah kebun salak dan bambu, kita duduk di atas meja yang terbuat dari anyaman bambu, mengelilingi sebuah meja bundar yang juga terbuat dari anyaman bambu.

Samsara Living Museum, Bali
Jamuan makan siang saat lokakarya PKN di Samsara Living Museum, Bali. Photo: menixnews.com

Awalnya, para peserta menyangka meja itu adalah kurungan ayam karena bentuk anyaman bambu tersebut biasanya memang digunakan untuk kurungan ayam.

Sambil duduk santai, kita juga disuguhi makan siang dengan masakan khas Bali. Untuk wadah makanannya, tidak menggunakan piring melainkan besek yakni kotak makan yang terbuat dari anyaman daun lontar. Di beberapa tempat di Indonesia, besek dibuat dari bambu dan daun pandan berduri.

jamuan makan di samsara living museum bali
Sajian makan siang yang ada di dalam besek. Photo: menixnews.com

Di dalam besek tersebut, terdapat daun pisang sebagai pembungkus dan alas makanan agar terjaga kebersihannya. Untuk air minum, disajikan menggunakan botol kaca yang bisa digunakan lagi.

Sementara untuk kopi dan teh, panitia mengunakan cangkir seng dengan wadah gula aren terbuat dari batok kelapa ataupun bambu. Dan, untuk sendoknya terbuat dari batang kelapa.

wadah makanan dari daun kelapa di samsara museum
Wadah makanan dan minuman yang disajikan di Samsara Living Museum. Photo: menixnews.com

Untuk menyajikan aneka kue atau kudapan, dibikin piring khusus dari daun kelapa yang dilapisi daun pisang. Sendoknya pun dari daun kelapa, begitu juga penutup makanannya.

Samsara Living Museum
Wadah makanan dan minuman yang disajikan di Samsara Living Museum. Photo: menixnews.com

Bagaimana sajian kudapan di atas piring daun kelapa, lihat disini ya!

Untuk tempat sampah, pengelola Samsara Living Museum menggunakan keranjang besar anyaman bambu yang dilapisi dengan kain hitam.

Karena sampah yang dihasilkan di sini adalah sampah organik, maka semua sampah berakhir di pengolahan kompos yang akhirnya digunakan untuk memupuk tanaman yang ada di sini. Sebuah siklus kehidupan dari alam kembali ke alam.

Masih banyak hal yang akan saya ceritakan dari kegiatan Pekan Kebudayaan Nasional di Bali yang berlangsung dari tanggal 19-22 Juli 2023.

Ikuti terus ceritanya karena banyak sekali yang bisa dipelajari dari sana. Salam ICCN: Padamu Negeri Kami Berkolaborasi! (sri murni)

6 comments

  1. Semoga Bali dan daerah lain di Indonesia bisa kembali lagi alami, jangan sampai nantinya hanya ada rekaman video & gambar masa lalu yg begitu asri.

  2. Nishant Sharma

    Hi,

    menixnews.com

    I was just browsing your website and I came up with a great plan to re-develop your website using the latest technology to generate additional revenue and beat your opponents. (menixnews.com)

    I’m an excellent web developer capable of almost anything you can come up with, and my costs are affordable for nearly everyone.

    Please provide me with your email, and contact number to know more about your requirements.

    Thanks in advance,
    Nishant Sharma (Business Development Executive)

  3. Hi, I have a ton of leads that want to pay for your products / services. When do you have a second to chat about them? Would you be willing to do a comission on the leads I send over? Please reply with your best phone number so that we can discuss. -Mark W.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.