Serunya Backpacker-an Romantis Bareng Suami di Australia

Di atas kapal regular keliling pulau-pulau sekitar Sydney.

INI salah satu kisah romantis saya dan suami saat jalan bareng di Australia 2012 lalu. Sudah lama sih, tapi saya ingin mengabadikan kisah ini dalam blog saya agar menjadi pengingat dan kenangan yang bisa terus dibaca oleh anak-cucu kami kelak atau orang-orang yang membutuhkan referensi.

Saat saya masih studi di Negeri Kanguru selama kurang lebih 1,5 tahun (2011-2012), suami saya sempat dua kali mengunjungi saya ke sana, Juni 2012 (winter holiday) dan Desember 2012 (summer holiday sekaligus jemput saya pulang ke Indonesia).

Kunjungan pertama hanya berlangsung dua pekan karena cuti suami cuma segitu. Kunjungan kedua lebih lama, sekitar satu bulan lebih.

Kedinginan menunggu bus wisata di Melbourne

Kedatangan suami, tentu saja tidak saya sia-siakan untuk menikmati jalan-jalan berdua, sebagai bulan madu kedua. Meskipun, tetap saja walau namanya bulan madu tetapi cekcok mesra tetap terjadi.

Secara, sang istri pengin menginjakkan kaki di banyak tempat dan senang berjalan kaki kemana-mana agar bisa melihat banyak hal lebih detail, eh sang suami penginnya nyantai di penginapan dan kemana-mana kudu naik transportasi.

Ehmmm ya itulah kami, bagai langit dan bumi. Walau begitu, kami selalu menemukan win win solution setelah berdebat panjang lebar dan setelah saya juga pakai acara ancam-mengancam plus cemberut tujuh samudera… Kwkkwkww

Lalu, sebenarnya apa yang mau diceritakan di sini? Cuma curhat?

Ehm… Pastinya gaklah. Tentu saya ingin berbagi tips backpacker-an romantis bareng suami.

1. Pesan hostel murah dan nyaman

Pin on Punt Hostel Melbourne

Sebelum pesan kamar hostel bareng suami, pastikan pria yang Anda bawa benar-benar suami Anda, bukan suami orang… (kwkwkwkw tips ala Cak Lontong bangets ya).

Ya, karena judulnya pengin beromantis bareng suami, maka usahakan cari hostel yang murah tetapi nyaman untuk berdua. Tipe kamarnya bisa double bukan dorm alias satu kamar ramai-ramai.

Ini kami lakukan ketika jalan ke Melbourne. Kami memilih penginapan yang agak jauh dari kota tapi dekat dengan ojek wisata pantai. Kami menginap di Pint on Punt Hotel di 42 Punt Road, Windsor, Melbourne, 3181, Australia. Jadi tinggal jalan kaki ke pantai dan naik tram ke kota.

Kamar Pin on Punt Hostel Melbourne

Kamarnya tidak besar tetapi isinya hanya kami berdua jadi bisa beromantis ria. Walau tampak sederhana, harganya tidak murah loh kalau pakai rupiah. Satu malam ketika itu 30 dolar per orang. Jadi semalam harus bayar dua orang alias 60 dolar. Ketika itu kurs dolar Australia Rp 10.000 jadi semalam Rp 600 ribu. Kalau di Batam tentu saja sudah dapat kamar di hotel berbintang ya….

Enaknya, harga kamar tersebut sudah termasuk makan malam dan sarapan pagi (roti, sereal, teh dan kopi).

Hal serupa juga kami lakukan saat bermalam di Blue Mountain, Sydney. Kami memilih kamar double agar bisa lebih privasi.

2. Kamar dorm tapi tidurnya tetap seranjang

Jika di Melbourne dan Blue Mountains kami bisa menikmati sekamar berdua saja, lain dengan pengalaman menginap di Sydney.

Di kota terbesar Australia ini, hampir semua penginapan untuk private (double bed) mahal. Jadi demi irit biaya, kami memutuskan menginap di hostel dengan kamar dorm alias satu kamar beramai-ramai. Kami memilih Maze Backpackers yang berada di tengah kota, tepatnya di 417 Pitt Street, Sydney, 2000, Australia.

Maze Backpackers, Sydney

Kemana-mana, kami hanya perlu jalan kaki sedikit seraya menikmati kota Sydney yang sangat sibuk.

Di Maze Backpackers ini, satu kamar ada tiga tempat tidur bertingkat. Ini berarti isinya enam orang.

Karena ini hostel backpacker, tetap harus bayar per orang, bukan per kamar. Kami pun pesan untuk dua orang dan mendapatkan tempat tidur satu di atas dan satu di bawah.

Maze Backpackers, Sydney

Alhasil, walau dapat jatah dua tempat tidur, kami memilih tetap tidur satu ranjang di bawah dengan ditutupi seprai di sekelilingnya. Kali ini bukan untuk beromantis ria, tetapi risih juga jika tidur dilihati orang lain. Kalau tertutup kan, lebih nyaman.

Sementara tempat tidur bagian atas difungsikan untuk meletakkan tas berisi pakaian. Barang-barang berharga tetap dilekatkan di badan atau didekap.

3. Masak sendiri

Hampir semua penginapan hostel atau backpacker room, dilengkapi dengan dapur lengkap degan alat masak dan alat makan. Fasilitas ini bisa digunakan dengan cuma-cuma.

Semua fasilitas tersebut bisa kita cek via website sebelum memutuskan memesan kamar. Dengan dapur ini, sangat membantu upaya penghematan biaya makan.  Apalagi untuk berdua.

Kami pun memutuskan masak sendiri dan membawa bekal jika ingin pergi ke tempat wisata. Menu yang dimasak ya yang sederhana dan muda saja, seperti mi goreng, pasta, spageti, sandwich, dan omelet.

Kadang kalau sangat pengin nasi, kami beli beras instan yang bisa dimasak cepat di dapur hostel tanpa ribet.

Lauknya, kami masak ayam goreng sederhana. Jika ingin masakan pedas, kami beli saja saus pedas. Bisa juga ditambahkan cabai segar.

Hanya saja, saat masak harus hati-hati jangan sampai menimbulkan bau menyengat seperti masak sambal di Indonesia yang bisa bikin orang bersin-bersin. Jika hal itu terjadi, siap-siap kena tegur tamu lainnya atau pengelola hostel.

Belanjanya dimana? Belanjanya ya di supermarket dan toko Asia terdekat. Di Australia banyak toko Asia dan supermarket. Ya, masak alakadar Indonesia dengan rasa agak western.

4.  Mengunjungi tempat wisata murah menggoda

Di depan Universitas Melbourne.

Di Australia, terutama Melbourne dan Sydney, banyak sekali tempat wisata murah meriah menggoda bahkan gratis. Dan, kebanyakan tempat wisata itu memang di pusat kota yang mainstream-mainstream, seperti botanical garden, bangunan bersejarah, museum, galeri, dan perpustakaan.

Di Melbourne misalnya, tersedia bus dan tram gratis bagi turis. Bus ini membawa kami ke tempat-tempat wisata utama seperti monumen perjuangan, botanical garden, pelabuhan, museum dan pusat perbelanjaan.

Tram City Circle Melbourne. Foto: lauretanaviaggi

Sementara di Sydney ada bus gratis ke tempat-tempat wisata di pusat kota sampai ke Bondi Beach. Saat kami ke pantai ternama ini, sedang musim panas di penghujung tahun.

Jadi ya banyak deh warga berjemur di sini. Tanpa sengaja saya pun foto dengan latar belakang warga yang sedang berjemur (maaf ya).

Bondi Beach Sydney, Australia.

Sementara untuk keliling pulau-pulau sekitar Sydney termasuk Manly Island, bisa membeli tiket kapal one day untuk semua kapal rute regular.

BTW, untuk tiket kapal ini, tidak ada pemeriksaan di pintu masuk karena self service. Namun, bukan berarti kita bisa membeli tiket yang tidak sesuai ya, karena di dalam kapal bisa saja pemeriksaan itu terjadi. Dan, jika kita kedapatan membeli tiket tidak sesuai, bisa kena denda yang bikin merinhis, besarnya jutaan rupiah.

Kapal regular keliling pulau sekitar Sydney

Tiket yang tidak sesuai maksudnya, orang dewasa non-mahasiswa harus beli tiket regular umum, tetapi justru membeli tiket mahasiswa atau lansia yang harganya 50 persen lebih murah.

Kalau berani gambling dan ambil risiko, sih silahkan saja. Tapi kalau kena apes karena random check, ehmmm siap-siap meringis ya.

5. Sempatkan nonton bioskop berdua

Jika berkesempatan jalan-jalan bareng suami di negeri orang, jangan lupa sempatkan nonton film terbaru di bioskop ya. Walaupun tidak akan ada teks Indonesianya, tapi minimal bisa merasakan bagaimana suasana nonton bersama orang tercinta di negeri orang.

Edisi hendak nonton Spiderman terbaru 2012.

Tujuannya tetap satu, menambah kisah dan kenangan romantis bersama.

Well, segitu dulu ya ceritanya. Yang pasti jalan berdua bareng suami itu memberikan sweet memory yang terlalu manis untuk dilupakan (kayak lirik lagu deh). Sekaligus jadi pengobat emosi kalau lagi berantam… Hahahaha…

Semoga kami bisa mengulang traveling bareng lagi… Amin… (sri murni)

Baca kisah traveling di Australia lainnya di sini!

Menjelajah Tanah Aborigin in The Great Blue Mountains Australia

Escape to The Snowy Mountains Australia: Excited Rasakan Salju Kali Pertama