• Home »
  • My travelling »
  • Toilet, I’m in Trouble! (Pengalaman Pakai Toilet Umum di 6 Kota Besar Dunia yang Bikin Frustasi)

Toilet, I’m in Trouble! (Pengalaman Pakai Toilet Umum di 6 Kota Besar Dunia yang Bikin Frustasi)

DEAR My Blog Readers…..

Posting-an blog saya kali ini bukanlah tulisan saya, melainkan tulisan kakak cantik bernama Cut Cynthia Sativa, seorang penghobi jalan-jalan keliling dunia.

Dia memiliki tulisan yang sangat menarik dan informatif seputar toilet di kota-kota besar di sejumlah negara di dunia.

Urusan toilet ini tidak bisa dianggap sepele karena itu bagian dari hajat hidup orang banyak (kwkwkwkw). Bagi saya kedudukannya sama pentingnya dengan makanan karena manusia ini butuh makan dan pasti butuh tempat pembuangan.

Nah, masalahnya tempat pembuagan itu di sejumlah negara ternyata bisa sangat berbeda dengan yang ada di Indonesia, dalam hal desain dan fungsi tombol-tombol airnya. Bahkan, ada yang tidak ada tombol flush-nya karena sudah otomatis.

Bagi orang yang pertama kali menemukan bermacam-macam teknologi toilet ini, pastinya bikin frustasi berada di balik bilik berukuran kecil tersebut, kan?

Nah, supaya gak mengalami culture shock urusan toilet saat berada di dunia “antah baranta” ketika traveling ke luar negeri, pengalaman Kak Cut Cynthia Sativa ini kudu dibaca dan diabadikan sehingga kita bisa mengantisipasinya… hehehe

Cut Cynthia Sativa

(Terimakasih Kak Cut yang sudah mengizinkan tulisannya saya share di blog ini ya…)

Langsung baca saja ya tulisan Kak Cut yang saya copas dari laman FB-nya tanpa mengurangi atau menambahi sedikitpun isinya. Tulisan Kak Cut diunggah di FB pada 20 Oktober 2018 dan saat tulisan ini saya publish di blog ini pada 26 Oktober 2018, tulisan Kak Cut sudah di share lebih dari 11.000 oleh pengguna FB

——————————–

Toilet, I’m in Trouble!

Ketika saya berkesempatan menyalurkan hobi traveling, beberapa kali saya ketiban kejadian nyeleneh di toilet umum. Mulai dari yang aneh, bikin shock bahkan sampai kepengen nangis pernah saya alami.

Segreget apa sih hal² yang bisa terjadi di balik pintu toilet…?

1. AMSTERDAM
Saya sedang menunggu kereta api tujuan Rotterdam waktu tiba² kebelet ke kamar kecil di Amsterdam Central Station. Yang ngantri mau ke toilet rame banget, sehingga orang yang tadinya cuma kebelet level pemula bisa berujung histeris di level tari kejang karena tidak tahan lagi.

Begitu giliran saya tiba, saya hampir membelah pintu toilet saking kebeletnya. Setelah lega membuang hajat dan bebersih, barulah saya menyadari ada yang tidak beres dengan toilet satu ini. Saya tidak bisa menemukan tombol flush dimanapun!

Ya amplop, matilah Dora the Explorer! Saya berputar² tidak karuan dalam bilik sempit itu sambil menjambak² rambut, frustrasi meratapi “barang bukti” yang terpampang cetar membahana dalam mangkuk toilet. Ditambah lagi antrian panjang di luar yang bikin makin parno maksimal.

Apa boleh buat, akhirnya saya mengambil keputusan yang paling putus asa yang pernah saya bikin dalam bilik toilet: saya akan melarikan diri sekencang²nya saat keluar nanti!

Sambil menahan napas saya pasang kuda² bersiap kabur. Tepat ketika gagang pintu saya tekan ke bawah… “Bluuussshhh…” si toilet uedan itu tiba² nge-flush automatically karena terkoneksi ke gagang pintu.

VERDOMME!! Penting banget ya bikin orang yang sudah setengah mati kebelet harus ditambah jantungan pula, Meneer?!? 😤😤

2. FRANKFURT
“Where’s the nearest restroom, Sir?”
“Right over there.”

Saya celingukan kesana kemari.
“But……… where?”
“There! Right over thereeeee…”

Tempat yang dirujuk oleh si petugas sebagai “right over there” adalah sebuah trotoar lebar di seberang jalan di tengah² keramaian pejalan kaki. Ini saya yang kelihatan seperti manusia primitif yang siap buang hajat di semak² kapan saja, atau petugas ini yang sarap sih?

Melihat ekspresi “tidak sudi buang hajat di semak²” tergambar jelas di muka saya yang cemberut, si petugas meminta koin €1, kemudian membimbing saya menyeberang jalan. Si sesemamas memasukkan koin di sebuah tiang lalu menekan tombol.

Mendadak tanah di bawah kaki saya bergemuruh dan “Nguuuuuunnggg…” sebuah kapsul raksasa muncul ke permukaan! Kapsul itu ternyata sebuah bilik toilet single yang apabila tidak digunakan dalam jangka waktu tertentu akan nyungsep balik ke dalam tanah dan kembali menjadi bagian dari trotoar.

Setdahh, saat itu tampang saya dijamin primitif seratus persen!

Ilustrasi

3. MILAN
Ini kebeletnya waktu lagi halan-halan ke San Siro Stadion, kira² satu jam perjalanan dari pusat kota Milan. Public toiletnya berupa sebuah ruangan kontemporer yang dibangun di bawah tanah. Nyaris seluruh ruangan terbuat dari material kaca. Pintu kaca, langit² kaca, lantai kaca, jamban kaca dan washtafel kaca.

Servis area berdisain high-end ini hanya berisi dua bilik toilet saja yang letaknya saling berhadapan. Ketika saya masuk ke dalam bilik toilet, seorang nenek juga masuk ke bilik di depan saya.

Ok, saya ulangi: seluruh ruangan terbuat dari kaca. Kaca bening. Tembus pandang. Dengan posisi jamban saling berhadapan. Epic, isn’t it?

Lama saya dan si nenek saling berpandang²an dari balik pintu kaca kami masing², just don’t have any idea how to execute.

Well, bagaimanakah cara melenyapkan seorang nenek kecil keriput dalam jarak pandang ketika sedang butuh privasi untuk bermanuver di atas jamban transparan ini? – lebih tepatnya itulah masalah yang harus saya pecahkan saat itu.

Mungkin karena tidak tahan lagi, dari bilik seberang si nenek berteriak ke arah saya, “DO YOU MIND?” sambil memeragakan orang yang sedang memelorotkan celananya.

Saya balas berteriak histeris, “YESSS!! I DO MIND!!!” sambil mendelik ganas tanpa belas kasihan ke arah si kecil keriput. Saya sama sekali tidak butuh melihat replika tubuh bagian pinggang ke bawah berusia hampir satu abad itu!

Tiba² muncul dewi penyelamat berseragam cleaning service di pintu masuk “Just lock the door properly and you’ll be fine.”

Benar saja, begitu pintu dikunci hingga terdengar ‘klik’, wujud kaca tembus pandang itu perlahan² mulai blur kemudian berubah menjadi dinding yang solid sepenuhnya.

Terima kasih Italia, untuk pengalaman buang hajat di kapal induk Star Trek ini!

4. ZURICH
Toilet kali ini merupakan hasil perkawinan silang kedua toilet yang saya ceritakan sebelumnya. Lebih jelasnya, toilet yang saya temukan di Zurich ini mengadopsi rancang bangun toilet transparan ala Milan dan menyontek lokasi penempatan ala Frankfurt yang nyembul tiba² kayak komedo kepencet, ditengah² trotoar umum.

Sudahlah nampang di jalan raya, transparan pula! Untungnya dari sisi luar, dinding toilet ini berfungsi sebagai cermin tak tembus pandang. Namun dari sisi dalam seperti jendela sehingga sambil buang hajat saya bebas menonton segala kegiatan di luar toilet!

Sumpah, serasa lagi dicasting untuk film “Beranak Dalam Toilet”…

5. NEW YORK
Saya numpang buang air di salah satu pusat perbelanjaan di Manhattan Time Square. Itu adalah toilet umum paling ricuh yang pernah saya masuki. Dari masing² bilik terdengar desahan, pekik tertahan bahkan teriakan!

Demi Harpic Biru dan Harpic Merah yang mampu menghilangkan kamar mandi, APA-APAAN INI?!?

Ketika akhirnya saya melongok ke dalam, saya menemukan sebuah benda yang seumur hidup tak akan pernah saya bayangkan bisa berada di dalam toilet: sepasang pedal sepeda!!!

Pedal ini tersambung dengan badan jamban dan berfungsi untuk memompa air, baik untuk keperluan “wash” maupun “flush”. Jadi desahan dan teriakan yang saya curigai sebelumnya ternyata yel-yel penyemangat diri sendiri ketika mengayuh si pedal. Karena semakin hot Anda menggowes makin cepat urusan Anda selesai.

Tareeekkk, Maanggg!!!

6. PARIS
Saat lagi ngopi² syantik di sebuah cafe di depan Notre Dame Cathedral, saya menyelinap ke toilet warung kopi klasik itu. Toiletnya normal layaknya WC umum yang banyak ditemukan di Indonesia.

Setelah selesai bongkar muatan, saya panik tingkat internesyenel begitu mengetahui bahwa tuas flush-nya jebol tak berfungsi. Dengan berkunang² saya kembali menatap barang bukti tak senonoh di mangkuk jamban. NOT AGAIN!!!

Saya terus mencoba nge-flush mungkin ada 10-15 kali tanpa harapan. Kali ini option hit and run tidak bisa diterapkan, mengingat ada secangkir kopi yang belum saya bayar di depan sana. Maka saya putuskan untuk mengadukan insiden berbau tak sedap ini pada pihak manajemen cafe.

Oh please, saya harus mencantumkan disclaimer terlebih dahulu disini. Tak pernah saya temukan di belahan bumi manapun orang² yang alergi menggunakan bahasa Inggris melebihi orang Perancis!

Dengan susah payah saya menceritakan insiden yang terjadi di dalam toilet mereka, because they can’t speak any English and I don’t understand one damn word in French.

Setelah menari kecak beberapa saat, akhirnya saya berhasil memaksa si manajer cafe untuk ikut masuk ke dalam toilet. Keburu merasa puas, dengan heroiknya saya mengacungkan telunjuk ke arah tumpukan harta karun yang teronggok di dasar jamban kemudian dengan heroik pula mendemonstrasikan tuas flush yang rusak, namun yang terdengar kemudian adalah… “Bluuuuuusshh…”.

EVERYTHING WORKS PERFECTLY! 🙈🙈🙈

Si manajer menatap sadis ke arah saya seolah² telah menciduk seorang eksibionis yang memang memamerkan kotorannya dengan sengaja.

Terdengar soundtrack Killing Me Softly di latar belakang…
.
.
.

Seberapa gregetnya pengalaman toilet Anda? (*)