Wisata Murah ke Gunung Bromo via Surabaya dan Drama Kehilangan Tiket Kereta

Seorang penyedia jasa kuda di Gunung Bromo. Foto by menixnews.

MUMPUNG mengikuti acara Coding Mum di Surabaya, selepas acara inti yang berlangsung Rabu-Jumat siang (14-16/11/2018) lalu, saya menyempatkan diri untuk bertulang ke Gunung Bromo.

Setelah cari-cari informasi dan menyesuaikan dengan waktu serta keuangan, saya memutuskan untuk mulai petualangan ke Bromo pada Jumat sore, dengan target sun rise di Bromo pada Sabtu pagi.

Saya bersama seorang teman, Mbak Yuniar, memutuskan ke Bromo dengan menggunakan jasa tour and travel yang menyediakan paket open trip.

Mbak Yuniar ini adalah teman yang baru saya kenal di bus Damri saat baru sampai di Surabaya pada Selasa (13/11/2018) malam. Begitu kenalan, saya langsung diajak menginap di rumahnya di Sidoarjo. Padahal, saya sendiri sudah memesan hotel di kawasan pusat kota Surabaya. Namun ternyata, hotel yang saya pesan itu cukup jauh dari terminal bus Bungurasih, sekitar 30 menit naik mobil.

Mengingat waktu susah malam, lewat 22.00 WIB, saya menerima ajakan Mbak Yuniar menginap di rumahnya. Pertimbangannya, hati kecil saya yakin Mbak Yuniar adalah orang baik yang tulus ingin menolong.

Kedua, karena sudah malam, rasanya memang cukup melelahkan jika harus ke terminal kemudian mencari angkutan untuk ke hotel. Saya perkiraan sampai hotel mendekati jam 12 malam. Akhirnya saya ikhlaskan saja uang yang sudah saya transfer saat pesan hotel tersebut. Tidak besar hanya sekitar Rp106.000.

Balik ke petualangan Gunung Bromo. Setelah cerita-cerita dengan Mbak Yuniar, ternyata dia punya keinginan serupa. Walau sudah lima tahun tinggal dan kerja di Surabaya, namun dia belum pernah ke Gunung Bromo yang tersohor itu.

Singkat cerita, kami berdua menemukan cara hemat baik kantong maupun waktu untuk bertulang ke Gunung Bromo yakni via Malang.

Selfie di depan jeep yang membawa kami dari Malang ke Gunung Bromo. Foto by menixnews.

Kami pun menghubungi travel agent dengan nama  Tour Bromo untuk mengikuti open trip menggunakan jeep ke Gunung Bromo. Tarifnya hanya 250.000 per orang dari Kota Malang.

Harga tersebut sudah termasuk:

• Mobil Shutle dari penginapan ke basecamp PP
• Transport Jeep (basecamp -bromo) PP
• Air mineral
• Tiket Wisata Bromo
• Masker

Dan, spot wisata yang dijanjikan adalah:

● Penanjakan
● Kawah Bromo
● Pura Luhur Puten
● Padang Pasir Berbisik
● Savana Teletubise
● Bukit Cinta
● Widodaren
● Gunung Batok

Sementara Itinerary:

• 23.30 – 00.30 : Penjemputan di titik temu / Hotel area Malang
• 00.30 : Perjalanan menuju BROMO
• 03.30 – 05.30 : Tiba di PENANJAKAN, Peserta bebas kemana saja di area penanjakan sambil menunggu sunrise
• 05.30 – 06.00 : Hunting sunrise
• 06.00-08.00 : Berpindah spot foto ke BUKIT CINTA dan WIDODAREN.
• 08.00- 10.00 : Explor KAWAH BROMO, peserta bebas ingin berjalan kaki atau naik kuda. Disini juga kamu bakalan lihat PURA LUHUR PUTEN dan GUNUNG BATOK
• 10.00-11.00 : Explore PADANG PASIR BERBISIK di bromo, dan di lanjutkan ke hijaunya SAVANA TELETUBIES, (ini keren banget loh tapi sayangnya teletubiesnya gak ada 🤗)
• 11.00 – 13.00 : Perjalanan pulang menuju penginapan masing”. Trip MID NIGHT TOUR BROMO FINISH.

Di pinggir kawah Gunung Bromo. Foto by menixnews.

Drama Kehilangan Tiket, Akhirnya Berurusan dengan Polisi

Paket Gunung Bromo yang kami ikuti sangat murah. Sementara dari Surabaya ke Malang, kami menumpang kereta api Panempa kelas ekonomi dengan harga tiket hanya 10.000 per orang. Walaupun judulnya kelas ekonomi, namun di dalam gerbong kereta cukup nyaman karena ber-AC dan tidak sumuk.

Kami berangkat dengan kereta dari Sidoarjo dengan tiket ekonomi berdiri. Alhamdulillah di dalam kereta ternyata masih kebagian tempat duduk karena sebagian penumpang ada yg turun.

Sebelum berangkat ke Malang, terjadi drama kehilangan tiket. Entah bagaimana tiket yang saya beli di stasiun Gubeng Surabaya ternyata hilang. Padahal, seinget saya, dua lembar tiket berwarna pink tersebut sudah saya simpan di dalam tas selempang yang selalu menemani saya kemana pun saya pergi.

Kereta api kelas ekonomi Surabaya-Malang.

Namun, begitu kami sampai di stasiun Sidoarjo (kami naik dari sidoarjo dan bukan Gubeng Surabaya karena singgah dulu di rumah Mbak Yuniar), tiket tersebut tidak ditemukan. Selain itu, mbak Yuniar juga harus pulang lagi ke rumahnya karena ketinggalan jaket. Jaket sangat penting jika ingin ke Bromo karena di sana dingin sekali kalau pagi.

Untung saja kereta Sidoarjo-Malang baru akan berangkat pukul 20.38, dan kami sudah di stasiun sekitar pukul 19.50. Masih tersisa waktu sekitar 40 menit bagi Mbak Yuniar mengambil jaketnya dan saya sendiri harus mengurus surat kehilangan tiket di kantor Polsek Sidoarjo.

Saat itu, saya memang panik. Harga tiketnya memang sangat murah, dan saya meminta tolong petugas di stasiun untuk memberi kami tiket baru dengan membayar lagi.

Namun masalahnya, sudah tidak ada tiket tersedia meskipun untik ekonomi berdiri. Dan, petugas tersebut pun tidak bisa mengeluarkan tiket pengganti, meskipun nama kami sudah tertera di daftar penumpang tanpa ada surat kehilangan dari kepolisian.

Pilihannya hanya satu, untuk mendapatkan tiket pengganti, saya harus mengurus surat kehilangan di kantor polisi.

Saya bertanya ke petugas di stasiun, apakah waktu 40 menit yang tersisa cukup bagi saya mengurus semuanya? Dia hanya menjawab tidak tahu dan semua tergantung dari kepolisian apakah bisa capat mengeluarkan surat kehilangan atau tidak.

Stasiun Kereta Api Sidoarjo. Foto by menixnews

Tidak ingin membuang waktu, saya langsung jalan kaki keluar Stasiun Sidoarjo menuju jalan raya. Dalam kepanikan, saya mencoa mencari ojek online via aplikasi. Ah, jaringan internet saya lambat sekali.

Seraya terus berjalan, di pinggir jalan saya melihat seorang pria muda bertubuh tegap berdiri di samping motor metiknya. Saya langsung bertanya ke dia, dimana kantor polisi terdekat yang bisa mengeluarkan surat kehilangan.

Dengan ramah dia menjawab,”Di sana bu… Lurus dan lumayan jauh”.

“Ohhh jauh ya? Kok kata petugas stasiun dekat sini ya? Saya harus mengurus surat kehilangan tiket dan harus ke Malang jam 8.38 ini,”kata saya lagi.

Mungkin hibah dan dengan kebaikan hatinya, pria itu langsung berkata, “Mari saya antar aja Bu, biar cepat.”

Alhamdulillah…. ALLAH menolong saya dengan segala caranya. Dan hanya dalam hitungan lima menit, saya pun sampai di seberang kantor Polsek Sidoarjo. Saya cepat-cepat menyeberang dan menemui petugas yang ada di meja informasi, tentu saja setelah mengucapkan ribuan terimakasih ke pria pengantar saya tadi.

Oleh petugas polisi, surat kehilangan saya langsung dibuat. Dia hanya meminta fotokopi KTP dan keterangan singkat tentang tiket yang hilang tersebut. Hanya sekitar lima menit,  surat itu selesai dan langsung diserahkan kepada saya tanpa biaya apapun.

Surat kehilangan tiket kereta api dari Polsek Sidoarjo. Foto by menixnews.

 

Tiket kereta api pengganti. Foto by menixnews.

Setelahnya, saya langsung mencari ojek online untuk kembali ke stasiun. Sempat terjadi double order karena panik. Tapi akhirnya bisa diselesaikan baik-baik soal double order tersebut. Dari Polsek ke station hanya bayar Rp 5.000.

Sampai di stasiun, dengan surat polisi itu, akhirnya petugas stasiun mengeluarkan tiket pengganti dan saya dan Mbak Yuniar pun berangkat ke Malang untuk menikmati wisata Gunung Bromo.

Apakah berwisata Gunung Bromo seindah foto-foto yang selama ini saya lihat di internet? Dan, apakah itinerary yang telah dijanjikan travel agent-nya dijalani semua? Baca kisah lanjutannya di posting-an berikutnya ya! (sri murni)

Jangan lupa baca tulisan saya tentang acara FGD Coding Mum yang sangat inspiratif ini!

Coding Mum, Tempat Emak-Emak Belajar Bikin Website dan Aplikasi Sendiri

Asyiknya Keliling Kota Surabaya Naik “Bus Botol”