• Home »
  • Bintan »
  • Menyusuri Makam Laksamana Hang Tuah & Keluarganya di Bawah Kaki Gunung Bintan

Menyusuri Makam Laksamana Hang Tuah & Keluarganya di Bawah Kaki Gunung Bintan

Makam Laksamana Hang Tuah di Kampung Duyung di bawah kaki Gunung Bintan.

NAMA Laksamana Hang Tuah memang sudah sangat tersohor dan menjadi bagian dari cerita sejarah Nusantara. Tidak hanya di Indonesia tetapi juga Malaysia dan Singapura. Sejumlah sejarawan Indonesia menyebutnya sebagai Kesatria Melayu. Namun, sejarawan Malaka mengklaim dan menamainya sebagai Laksamana Malaka Hang Tuah. Dari beberapa literatur yang telah mengupas cerita tentang Laksamana Hang Tuah,  memang terdapat beberapa versi cerita Laksamana Hang Tuah, termasuk dimana dia lahir dan dimana dia wafat. Keberadaan makamnya pun ada beberapa versi.

Nah, tulisan ini mengupas sejarah Laksamana Hang Tuah berdasarkan versi dari Zuriyath Kerajaan Bintan (Bentan) yang sempat saya wawancarai pada Maret lalu. Saat itu, bersama keluarga dari Zuriyath Bentan, saya diajak menelusuri jejak makam Laksamana Hang Tuah dan keluarganya, yang ada di bawah kaki Gunung Bintan. Tempat bersejarah ini sudah menjadi satu di antara destinasi wisata Kabupaten Bintan.

Perjalanan kami dimulai dari Kampung Bintan Enau, Desa Bintan Buyu, letaknya masih di sekitar kaki Gunung Bintan, Senin (27/3/2017). Saya tidak sendiri, melainkan bersama warga lokal yakni Datun Asyim Sofyan yang mengaku sebagai keturunan ke-12 dari Laksamana Hang Tuah dan menjabat sebagai Sekretaris Lembaga Warisan Adat Melayu Bentan.

Kami juga ditemani Kapala Desa (Kades) Bintan Buyu Bapak Daeng Ibrahim, seorang peneliti dari Kemendikbud Mas Robert, serta beberapa orang pegiat kebudayaan lokal, Mas Vicky dkk (dan kawan-kawan).

Saya dan teman-teman yang ikut ke Makam Laksamana Hang Tuah.

Untuk mencapai makam Laksamana Hang Tuah, yang berlokasi di Kampung Duyung, diperlukan waktu berjalan kaki menyusuri hutan sekitar satu jam lamanya. Karena hari sudah menunjukan pukul 11.30 WIB, dan perut terasa lapar, kami makan siang terlebih dahulu di warung pinggir jalan yang tidak begitu jauh dari Simpang Bintan Enau.

Warung ini memang sangat kecil dan terbangun dari kayu alakadarnya dengan atap dari daun rumbia. Hanya ada dua meja di depan warung tersebut plus beberapa kursi yang terbuat dari kayu alakadarnya juga. Bahkan, bagi orang yang baru datang ke kampung ini, mungkin tidak akan tahu jika warung ini adalah warung makan. Saya sendiri menganggapnya seperti gubung tak terpakai. Namun, di balik kesederhanaan warung ini, ternyata menjual soto, gado-gado, dan sup ayam yang enak rasanya.

Santap makan siang di warung super sederhana tapi sajian makannya endes…

Setelah mengisi perut dan membeli perbekalan berupa air mineral 10 botol berukuran sedang, kami melaju naik mobil ke Kampong Bintan Enau. Setelah melewati rumah-rumah di perkampungan ini, mobil kami berhenti di pangkal jalan menuju perkebunan warga. Di sinilah batas akhir kendaraan roga empat karena jalan selanjutnya menuju makam hanya setapak dan hanya bisa dilalui dengan jalan kaki.

Simpang masuk ke Kampung Bintan Enau. Foto by menixnews.com

Begitu turun, pemandangan kanan-kiri  hanyalah pepohonan seperti pohon durian, petai, jengkol, enau, gaharu, dan lainnya. Di pangkal jalan menuju jalan setapak itu, ada sebuah peringatan di papan yang berdiri agak miring. Isinya: “Kendaraan Roda 4 Dilarang Masuk. Jika Dilanggar akan Ditindak Lanjuti!”. Kalimatnya memang terdengar janggal (ditindak lanjuti) tetapi itu sebagai pertanda batas roda empat.

Jalan setapak menuju Makam Laksamana Hang Tuah. Foto by menixnews.com

Jalan setapak itu, kondisinya bisa dikatakan baik. Jalannya sudah dilapisi dengan paving block dengan lebar kurang lebih satu meter. Hanya saja, kanan dan kirinya rimbun ditumbuhi rumput sehingga paving block yang tampak hanyalah di bagian tengahnya.

Makam Anak Hang Tuah

Tidak jauh dari pangkal jalan setapak ber-paving block, tepatnya sekitar 300 meter, kami menemukan satu komplek makam berpagar berwarna kuning di sisi kanan jalan. Di dalam komplek itu ada dua nisan. Menurut Asyim, salah satu makam itu adalah milik Tun Juan alias Raja Megat Kudu. Komplek makamnya sudah dipagar beton setinggi kurang lebih 50 cm dan dicat warna kuning tanpa atap.

Komplek Makam anak Laksamana Hang Tuah. Foto by menixnews.com

Setelah berdoa dan mengabadikan keberadaan makam ini, kami melanjutkan perjalanan dengan santai. Kami menyusuri jalan setapak yang masih ber-paving block itu. Tidak jauh dari makam pertama tadi, di sisi kiri jalan ada jejeran makam lama yang dipercaya sebagai makam para menteri dan hulubalang kerajaan Bentan.

Deretan makam menteri dan hulubalang Kerajaan Bintan. Foto by menixnews.com

Setelah sekitar 15 menit jalan kaki, kami belok ke kanan. Kali ini jalannya tidak ber-paving block melainkan jalan tikus. Di kanan dan kirinya, ditumbuhi semak belukar dan pohon-pohon keras. Hutannya masih lebat. Kami pun menyusuri hutan itu dengan melewati lima parit yang masing-masing parit lebarnya sekitar satu meter. Empat dari lima parit itu memiliki jembatan yang sangat sederhana berupa satu balok kayu yang melintang. Sementara satu parit lagi, tidak memiliki jembatan sehingga kami harus melompatinya. Saat itu, paritnya berlumpur sehingga jika tidak hati-hati bisa terjatuh ke dalam.

Setelah berjalan kurang lebih 30 menit, kami sampai di perkebunan warga dan salah satu pemiliknya adalah Asyim. Dia mengatakan, perkebunan itu adalah milik anggota keluarganya. Tanah milik keluarganya di sini sekitar 60 hektare. Di kebun ini ada tanaman sayuran seperti cabai dan bumbu dapur, kunyit, jahe, sere, dan lainnya. Ada pula sebuah gubuk sederhana yang memang digunakan pemilik kebun untuk beristirahat saat lelah setelah bercocok tanam. Kebun sayur ini juga dikelilingi pohon-pohon buah keras, terutama durian, rambai, langsat, dan petai.

Kami hanya berhenti sejenak di sini, hanya sekedar melihat-lihat.

Mencapai Makam Laksamana Hang Tuah

Kami melanjutkan berjalan kaki ke tempat yang menjadi tujuan utama yakni Makam Laksamana Hang Tuah. Tidak begitu jauh kami berjalan. Dari kebun itu hanya sekitar 15 menit lagi. Kami pun sudah sampai ke lokasi makam. Lokasi makam Hang Tuah memang tidak mudah ditemukan dan jika ke sana tidak bersama orang lokal yang mengerti letak pastinya, agak sulit menemukannya. Sebab, di makam ini belum ada petunjuk jalan dan jalan masuknya memang jalan tikus yang bisa membuat orang baru seperti saya tersesat.

Gubung reot tak jauh dari Makam Laksamana Hang Tuah. Foto by menixnews.com

Di sekitar lokasi makam terdapat satu gubuk reot yang biasanya dipakai warga untuk menjaga kebun mereka ketika musim buah. Makam Laksamana Hang Tuah sendiri, berada sekitar 50 meter dari gubuk ini. Makam itu memiliki dua batu nisan pertanda kepala dan kakinya. Baik nisan kepala dan kaki dibalut dengan kain kuning, kain kebesaran masyarakat Melayu. Panjang makam sekitar dua meter. Makamnya berada tepat di bawah pohon Nam-Nam yang memang sudah berusia tua.  Di sekitar makam juga terdapat beberapa bunga puring sebagai penghias kuburan dan semak belukar. Makam Hang Tuah ini memang belum dipagar dan hanya diberi tanda kain kuning di batu nisan.

Makam Laksamana Hang Tuah. Foto by menixnews.com

Asyim bercerita, banyak warga sekitar kaki Gubung Bentan mempercayai bahwa makam ini memang makam Hang Tuah berdasarkan Hikayat Hang Tuah yang ditulis oleh Tun Kola. Dalam hikayat itu dikatakan bahwa Hang Tuah wafat di usia tua dikebumikan di kaki Gunung Bentan, di Kampung Duyung, di atas Bukit Duyung, membelakangi Sungai Duyung, dan di bawah pohon Nam-Nam.(Saya sendiri juga belum sempat mengecek tentang kebenaran isi hikayat tersebut).

Makam Laksamana Hang Tuah di bawah Pohon Nam-Nam. Foto by menixnews.com

Asyim menceritakan, keberadaan makam ini sudah sangat lama diketahui secara turun temurun oleh warga Kampung Duyung. Lokasi makam Hang Tuah yang saat ini berubah menjadi hutan, sebenarnya dahulunya adalah sebuah kampung. Asyim sendiri masa kecilnya tinggal di kampung ini. Dahulu, kampung ini terbentuk karena memang sangat dekat dengan aliran sungai Duyung yang sejak zaman dahulu menjadi nadi dan sumber air warga Desa Duyung.

Namun, karena perkembangan zaman dan jalan raya di Kampung Bintan Enou dibangun, warga yang sebelumnya tinggal di Kampung Duyung perlahan pindah dan membangun rumah di dekat jalan raya Bintan Enou. Akhirnya Kampung Duyung kosong ditinggalkan warga dan kini menjadi kebun dan hutan.

“Sebelumnya, makam Hang Tuah ini berada di dalam perkampungan, tetapi karena warga kampung sudah hijrah, maka makam tersebut menjadi hutan belantara,”begitu kata Asyim.

Sejarah Singkat Laksamana Hang Tuah

Ini adalah sejarah singkat Laksamana Hang Tuah berdasarkan keyakinan warga Bintan yang dituturkan Asyim. Dia menceritakan, Laksamana Hang Tuah lahir di Kampung Duyung yang ada di bawah kaki Gunung Bintan ini. Ketika itu masih berdiri Kerajaan Bintan. Ibu Hang Tuah bernama Daeng Merdu dan ayahnya bernama Hang Mahmud. Sejak kecil, Hang Tuah punya empat teman sepermainan, namanya Hang Jebat, Hang Lekir, Hang Lekiuh, dan Hang Kesturi.

Sejak kecil, Hang Tuah merupakan anak yang rajin belajar, baik mengaji maupun bela diri. Suatu hari, ketika Hang Tuah berusia 10 tahun, bersama keempat sahabatnya, berlayar untuk mencari ikan. Mereka membawa peralatan berupa tombak yang disebut seligi dan tempuling. Mereka juga membawa keris yang diberikan oleh orangtua masing-masing.

Namun di tengah perjalanan, mereka dihadang sekelompok bajak laut yang disebut lanun. Walaupun Hang Tuah hanya berlima bersama temannya sementara para lanun berjumlah banyak, mereka tidak gentar. Hang Tuah punya taktik. Dia tidak mau melawan lanun di laut karena kemungkinan besar mereka akan kalah. Hang Tuah pun mengarahkan perahunya ke sebuah pulau.

Rencana Hang Tuah berhasil. Para lanun itu mengikuti perahu Hang Tuah hingga ke pulau. Di pulau, Hang Tuah bersama empat teman karibnya membuat berbagai jebakan menggunakan peralatan yang mereka bawa. Mereka memasang tali di antara bebatuan besar, kemudian menariknya ke atas ketika lanun melintas yang mengakibatkan mereka celaka. Dengan cara tersebut, Hang Tuah dan teman-temannya berhasil mengalahkan para lanun dan kembali ke rumah dengan selamat.

Cerita tentang keberanian dan kecerdikan Hang Tuah dan keempat sahabatnya itu langsung tersebar luas hingga ke telinga Bendahara Paduka Raja Bintan.

Beberapa hari setelah Hang Tuah kembali ke kampungnya, terjadi keributan yang dilakukan oleh empat orang pengacau. Mereka menyerang Bendahara Paduka Raja Bintan. Hang Tuah bersama empat sahabatnya dengan gagah berani melawan empat pengacau itu. Mereka menyelamatkan Bendahara Paduka Raja Bintan. Sang Bendahara sangat kagum dan berterima kasih kepada Hang Tuah dan empat temannya.

Sebagai rasa terima kasih, sang bendahara mengangkat Hang Tuah dan empat kawannya menjadi anaknya. Aksi heroik Hang Tuah dan keempat kawannya tersebar makin luas. Sang Bendahara pun tidak luput menceritakannya kepada Paduka Baginda Raja Bintan, Raja Syah Alam.Baginda Raja meminta Hang Tuah dan empat sahabatnya untuk datang ke istana. Tak disangka, Baginda Raja menghadiahkan sebuah keris elok kepada Hang Tuah.

Meskipun ketika itu Baginda Raja sudah mempunyai 40 anak angkat, ia menganggap Hang Tuah paling istimewa. Selain pemberani, dia juga pandai. Ketika itu, usia Hang Tuah masih belasan tahun, tapi ia sering dimintai pendapat oleh Raja Syah Alam. Akhirnya dia diangkat sebagai Laksamana atau panglima.

Hang Tuah bersama empat temannya selalu ikut ke mana pun Raja pergi. Tidak terkecuali ketika beliau memperluas kerajaan ke Singapura dan membangun kerajaan di Malaka. Kerajaan yang awalnya di Bintan, kemudian dipindah ke Malaka dan mencapai kemakmuran di sana. Dalam perjalanannya mengapdi kepada raja, Hang Tuah beberapa kali mengalami fitnah dari orang-orang yang tidak suka kepadanya.

Alhasil, ketika ia tua, ia memilih untuk kembali ke Bintan dan dipercaya wafat di sini.

Cerita Pohon Nam-Nam

Pohon Nam-Nam yang menjadi pertanda Makam Laksamana Hang Tuah memiliki cerita tersendiri. Dikisahkan, ketika Hang Tuah mendapatkan mandat untuk menjadi duta Kerajaan ke beberapa negara di Asia Tengah, di antaranya Cina dan India, dia bertemu dengan Nabi Haidir. Dalam pertemuan itu, Nabi Haidir memberikan buah yang tidak diketahui apa namanya kepada Hang Tuah. Dengan memakan buah itu, Nabi Haidir mengatakan bahwa Hang Tuah akan bisa berbicara bahasa asing yang diperlukan. Sehingga Hang Tuah pun bisa berbicara 12 jenis bahasa asing. Karena buah itu begitu memberikan manfaat, Hang Tuah pun menanam biji buah itu setiap kali dia selesai memakannya. Kata Nam-Nam dipercaya berasal dari kata tanam dan tanam sehingga menjadi Nam-Nam. Makna Nam-Nam juga merupakan angka kebisaan 12 bahasa (enam + enam) yang dikuasa Hang Tuah.

Pohon Nam-Nam yang ada di Makam Laksamana Hang Tuah. Foto by menixnews.com

Nam-Nam atau sering ditulis Enam-Enam juga dikenal dengan nama Katak Puru yang merupakan pohon langka yang memiliki filosofi tidak menyusahkan orang yang ingin menikmati buahnya. Meskipun dia termasuk rumpun pohon berbatang tinggi, namun buah dari pohon ini berada di bawah. Ini memang tidak seperti mayoritas pohon yang buahnya berada di atas ranting.  Sehingga, orang yang membutuhkan buah Nam-Nam tidak perlu memanjat melainkan hanya memetiknya di bagian bawah pohon.

Pohon ini memiliki kuntum bunga kecil-kecil berwarna merah jambu yang tersusun rapi seperti saputangan yang dilempit atau dilipat bersusun. Karena bentuk bunganya itu, pohon ini juga dinamai pohon saputangan. Kuncup merah jambu itu, kemudian berubah menjadi buah berwarna hijau saat muda dan kuning jika sudah tua. Rasa buah mudanya asam kelat, namun ketika sudah matang berubah menjadi asam manis. Buah ini banyak mengandung vitamin C. Oleh warga sekitar, buah ini biasanya digunakan untuk campuran membuat sambal atau memasak ikan. Bentuk kulit buah ini memang tidak mulus seperti buah kebanyakan. Bentuknya bergelombang menyerupai bentuk otak manusia.

Asyim menceritakan, pohon Nam-Nam ini memang menjadi pertanda keberadaan Hang Tuah. Dimana pun Hang Tuah pernah bermukim, selalu ada pohon Nam-Nam.

Tapak Silat Laksamana Hang Tuah

Tidak jauh dari makam Hang Tuah, sekitar 50 meter sebelah selatan makamnya, terdapat bukit batu yang dipercaya sebagai tempat Hang Tuah berlatih silat. Bukit ini menghadap ke Gunung Bintan.

Di atas batu ini ada bekas, yang dipercaya, tapak kaki Hang Tuah ketika berlatih silat. Di bagian bawah bukit tersebut terdapat perigi atau kolam yang dipercaya sebagai tempat Hang Tuah mengambil wudhu sebelum berlatih silat.

Kondisi bekas tapak kaki dan perigi tersebut sama sekali tidak terawat dan dipenuhi sampah-sampah daun dan ditumbuhi rerumputan liar.

Sekitar 200 meter di sisi utara dan barat Makam Hang Tuah terdapat perigi yang dulunya digunakan warga Kampung Duyong untuk mandi. Perigi itu ada dua, untuk perempuan di sisi barat dan untuk laki-laki di sisi utara. Perigi untuk perempuan tampak masih dipenuhi banyak air meskipun musim kemarau, tetapi perigi untuk pria sudah kering. Biasanya kalau musim hujan datang, perigi itu akan berair lagi.

Makam Ayah-Ibu Laksamana Hang Tuah

Masih berada di Kampung Duyung, dan tidak begitu jauh dari Makam Hang Tuah, sekitar 300 meter sebelah barat, terdapat tiga makam yang erat hubungannya dengan Hang Tuah. Dua dari tiga makam itu, diyakini adalah milik ayah dan ibu Hang Tuah yang bernama Hang Mahmud dan Dang Merdu. Makamnya bersebelahan. Kondisi makam ini juga tidak berpagar. Nisannya hanya onggahan batu alam yang ada bekas bungkusan kain kuning.

Makam ayah dan ibu Laksamana Hang Tuah. Foto by menixnews.com

Di sebalah dua makam ini ada makam yang berukuran besar milik Permaisuri Syadikar Syah, anak dari Sultan Mahmud. Permaisuri ini menikah dengan Raja Biransyah atau Al-Ghazeni dari Iran yang juga dijuluki Raja Sulat atau Raja Sakranta atau Panglima Agung dari Timur.

Batu nisan Permaisuri Syadikar Syah. Foto by menixnews.com

Menurut Asyim, dengan pernikahan Al Ghazeni menandakan Islam masuk ke Bintan pada 900-1000 dan dipercayai bahwa ini menjadi momen Islam masuk ke nusantara kali pertama.

Di lokasi makam ini juga terdapat sebuah kendi yang konon katanya sudah berusia 500-an tahun. Kendi ini berwarna putih. Tidak ada isi apapun di dalamnya.

Kendi yang ada di dekat makam orangtua Laksamana Hang Tuah. Foto by menixnews.com

Kesurupan

Perjalanan kami menyusuri Makam Laksamana Hang Tuah ini memang diiringi dengan cerita agak mistis karena satu wanita dari pegiat budaya lokal sempat kesurupan.

 

Ceritanya, ketika kami selesai berziarah ke Makam Hang Tuah, ayah dan ibunya, serta Makam Permaisuri Syadikar Syah, kami diajak Asyim untuk melihat taman orang Bunian. Orang Bunian adalah mahluk ghaib yang tentu tidak tampak oleh mata manusia yang tidak memiliki kemampuan supranatural.

Saya sempat foto-foto lereng bebatuan yang ditumbuhi beberapa rumput liar. Menurut Asyim, sejauah pandangan supranaturalnya, dia melihat bahwa tempat itu adalah taman yang cantik yang berdekatan dengan pelabuhan orang Bunian.

Selepas foto-foto di lokasi yang katanya tempat bermukim orang Bunian, kami beranjak balik dan menuju ke perigi perempuan yang tidak jauh dari makam Laksamana Hang Tuah.

Namun, baru setengah jalan, kejadian gaib menimpah satu wanita di antara kami, Citra namanya. Dia tiba-tiba pingsan dan senyum-senyum sendiri. Asyim dan teman-teman lainnya mengatakan, Citra sedang kesurupan.

Pak Kades Daeng Ibrahim yang juga pergi bersama kami menceritakan, saat Citra kesurupan, ia adalah orang yang berada tepat dibelakangnya.

“Kami jalan pelan-pelan, dia di depan saya. Kami sedang bercerita tentang mengapa Citra hanya mengenakan kaos kaki, kemana sepatunya. Tidak lama, Citra menyuruh saya diam dengan memberikan isyarat jari telunjuknya diletakkan di bibir, kemudian dia lemas dan langsung jatuh terkulai. Langsung saya tangkap. Untung saya tangkap, kalau tidak mungkin kepalanya bocor terantuk bebatuan,”kata Pak Daeng menceritakan kejadian tersebut.

Citra yang pingsan karena kesurupan. Foto by menixnews.com

Saat Citra terkulai, saya, Asyim, dan satu teman perempuan lagi, sudah berada agak jauh ke depan menuju ke perigi. Saat kami hampir sampai ke perigi, Pak Daeng dan Mas Vicky teriak-teriak memanggil nama Asyim. Awalnya kami kira mereka tersesat. Panggilan itu kami jawab sekenanya.

“Kami di sini. Jalan aja lurus, dekat lagi,”begitu kami jawab secara bergantian.

Namun, jawaban kami itu justru dijawab lagi dengan panggilan,”Asyim…Asyim… cepat ke sini dulu…. Kalian ke sini dulu,”kata Mas Vicky. Entah berapa kali panggilan itu dilantangkan dan entah berapa kali pula kami menjawab dengan jawaban serupa.

Sampai akhirnya Mas Vicky memanggil dengan sangat serius,”Aasyim… kalian ke sini dulu. Penting!” Barulah kami bertiga menuju ke tempat Citra terbaring.

Begitu sampai di sana, ternyata Citra sudah pingsan dan berada di pangkuang Mas Vicky. Sementara Pak Daeng sibuk untuk memberikan air mineral kepadanya. Mas Vicky tampak komat-kamit membaca ayat-ayat Alquran, begitu juga dengan Pak Daeng dan Asyim. Saya sendiri berzikir di dalam hati. Jujur saja ada rasa was-was, takutnya kesurupan juga bisa menimpah saya. Seumur hidup saya memang tidak pernah kesurupan.

Selang beberapa menit, Citra sadarkan diri, namun sepertinya itu bukanlah dia yang sebenarnya. Senyum dan tatapan wajahnya berbeda. Dia menjadi pendiam dan hanya berekspresi senyum dengan tatapan mata yang tajam. Saya sendiri agak takut menatap matanya. Ada satu kali saya tatap matanya, tetapi langsung saya alihkan karena memang terasa berbeda dan tajam sekali.

Setelah Citra Sadar, kami tidak lama-lama lagi berada di lokasi pemakaman Hang Tuah. Kami bergegas meninggalkan lokasi untuk kembali ke Kampung Bintan Enou. Sepanjang perjalanan, Cirta masih kerasukan dan terus menggandeng tangan Asyim. Pak Daeng membisikkan kepada saya, bahwa yang masuk ke tubuh Citra kemungkinan seorang putri.

“Senyumnya manis sekali seperti putri dan lenggok-lenggok jalannya seperti seorang putri,”kata Pak Daeng.

Di tengah jalan pulang, Citra meminta Asyim menemaninya untuk memetik cabai yang ada di kebun Asyim yang kami lewati. Aktivitas memetik cabai itu sempat berjalan lama kurang lebih 30 menit. Sementara menunggu Citra dan Asyim memetik cabai, kami gunakan untuk beristirahat di kebun tersebut.

 

Setelah berjalan kurang lebih 30 menit, kami akhirnya sampai di jalan setapak yang ber-paving block. Nah, herannya, begitu keluar dari hutan dan menginjakkan kaki di jalan setapak tersebut, tidak lama kemudian Citra benar-benar sadar diri dan langsung mencari HP-nya yang sedang dipegang oleh temannya yang lain.

Rasanya memang percaya tidak percaya melihat orang kesurupan. Untungnya kesurupan yang satu ini “baik budi” tidak pakai jerit-jerit seperti yang pernah saya lihat di Bumi Perkemahan di Kabil, Batam.

Kesurupan Citra hanya diam, senyum-senyum, dan mantiak (mentel) kepada Asyim dan senantiasa ingin berada di sampingnya.

Setelah perjalanan kami selesai dan kami sampai di Kampong Bintan Enou, kami pun mengintrogasi Citra. Eh ternyata Citra tidak percaya kalau dia pingsan dan kesurupan. Untung saja saya memiliki dua foto ketika dia sedang pingsan dan coba disadarkan oleh Mas Vicky dan Pak Daeng.

“Gak mungkin saya pingsan!,”kata Citra berkali-kali.

Ketika kami tanya apa yang dia ingat, dia mengatakan,”Saya ingatnya saat berziarah ke makam ayah dan ibunya Hang Tuah. Setelah itu gak ingat apa-apa lagi, sampai tersadar lagi sudah jalan pulang dan menelepon karena ada janji bertemu orang.”

Begitulah cerita menyusuri Makam Laksamana Hang Tuah dan keluarganya di Kampung Duyung,  dengan seorang teman yang kesurupan. Seru ya! (sri murni)

HAPPY ADVENTURE KELUARGA INDONESIA!