#Rentak Selangor-6 : Belajar Seni dan Budaya dari Indigenous People Suku Mah Meri

Undangan Rentak Selangor, Desember 2016.

Undangan Rentak Selangor, Desember 2016.

SAAT mendapatkan undangan mengikuti famtrip Rentak Selangor, Malaysia, saya begitu antusias dengan desain undangannya yang bergambar topeng dengan rambut gimbal khas Suku Mah Meri. Saya begitu penasaran dengan atraksi apa sebenarnya yang akan saya lihat bersama teman-teman blogger dan media dari Brunai, Singapura, Indonesia, dan Malaysia di sana.

Hari yang dinanti pun tiba, tepatnya pada hari ketiga even Rentak Selangor, 3 Desember 2016 lalu, rombongan meninggalkan Qlic Hotel yang berlokasi di Empire Damansara, No 2 Jalan PJU 8/8A, Damansara Perdana, Damansara Perdana, 47820 Petaling Jaya, Malaysia.

Rombongan kami pun berangkat dari sana sekitar pukul 09.00 waktu Malaysia menggunakan bus menuju Kampung Sungai Bumbun, Pulau Carey, Kuala Langat, Selangor, dimana suku Mah Meri bermukim. Perjalanannya kurang lebih 1,5 jam.

Meskipun terletak di Pulau Carey, namun kami tidak menyeberang menggunakan kapal atau roro, karena seluruh rute bisa ditempuh dengan bus. Di sana sudah terbentang jembatan yang menghibungkan Pulau Carey dengan daratan utama Selangor.

Nama Pulau Carey diberikan oleh Kolonial Belanda mulai kurang lebih 100 tahun lalu. Nama itu sebagai bentuk penghormatan Kolonial Belanda seorang officer-nya yang bernama Valentine Carey yang telah merintis dan mengembangkan perkebunan karet dan kopi di sana.

Kembali ke Suku Mah Meri. Kedatangan kami ke Kampung Sungai Bumbun disambut hangat oleh warga setempat yang merupakan orang asli atau indigenous people dari Pulau Carey.

Foto bersama Tim Rentak Selangor dan warga Suku Mah Meri.

Foto bersama Tim Rentak Selangor dan warga Suku Mah Meri.

Sejumlah wanita suku tersebut telah berdandan dengan busana kebesaran mereka. Mereka mengenakan baju kulit dan rok dari kulit kayu (bagaimana cara membuat baju dan rok dari kulit, baca di bagian bawah tulisan ini) yang dihiasi oleh rumbai-rumbai hasil anyaman daun nipah. Rambut mereka juga diberikan aksesori anyaman daun nipah sehingga panjang menjuntai layaknya rambut palsu.

Mereka telah berkumpul di balai adat atau disebut Pusat Kraft Orang Asli Kampung Sungai Bumbun, Pulau Carey, Kuala Langat.

Pusat Kraft Orang Asli Kampung Sungai Bumbun, Pulau Carey, Kuala Langat. Foto by menixnews.com

Pusat Kraft Orang Asli Kampung Sungai Bumbun, Pulau Carey, Kuala Langat. Foto by menixnews.com

Saat kami turun dari bus dan menuju balai adat, beberapa wanita yang sudah berbusana adat menyambut dengan meletakkan “mahkota” anyaman daun nipah ke kepala setiap orang yang hadir.

Tak lama kemudian, Sidin, selaku kepala suku di kampung itu, memimpin upacara dan berdoa kepada Moyang, sebutan bagi para “Dewa” atas kepercayaan yang dianut suku Mah Meri.

Sidin tidak mengenakan pakaian adat, melainkan kaos dengan celana kain dan sandal. Sementara para wanita yang ikut berdoa mengenakan pakaian adat dan tidak memakai alas kaki.

Ritual doa Suku Mah Meri sebelum memulai acara. Foto by menixnews.com

Ritual doa Suku Mah Meri sebelum memulai acara. Foto by menixnews.com

Di tempat sesembahan itu, tampak beberapa benda yakni sebungkus rokok (Gudang Garam 12), tiga batang rokok yang sudah dinyalakan, semangkuk bunga, secangkir kopi dan teh, serta kemenyan yang sudah dibakar, dan beberapa benda lainnya. Doa-doa pun dipanjatkan oleh Sidin dalam bahasa Suku Mah Meri sendiri.

Sesajen saat ritual doa Suku Mah Meri. Foto by menixnews.com

Sesajen saat ritual doa Suku Mah Meri. Foto by menixnews.com

“Maksud dari doa-doa tadi, kita permisi kepada Moyang dan mohon agar acara yang akan kita selenggarakan berjalan lancar,”begitu penjelasan Sidin saat saya ajak berbincang-bincang usai acara doa tersebut.

Tarian Topeng dan Musik

Seusai upacara doa, rombongan Rentak Selangor langsung diajak menuju balai pertunjukan. Di sana sudah tersedia kursi-kursi yang tersusun rapi dan sejumlah alat musik di bagian depannya.

Panitia acara yakni perwakilan dari Pusaka, sebuah lembaga non-profit yang bergerak di bidang riset dan pelestarian seni – budaya Malaysia, sempat memaparkan riset-riset yang telah mereka lakukan terhadap kebudayaan Suku Mah Meri.

Perwakilan Pusaka (kiri) dan Kepala Suku Mah Meri Sidin saat memberikan sambutan. Foto by menixnews.com

Perwakilan Pusaka (kiri) dan Kepala Suku Mah Meri Sidin saat memberikan sambutan. Foto by menixnews.com

Selain dari Pusaka, Sidin juga sempat memberikan sambutannya. Dia memaparkan bahwa penduduk di kampung yang ia pimpin ini ada kurang lebih 500 orang atau sekitar 99 KK (kepala keluarga). Selain di Kampung Sungai Bumbun, Suku Mah Miri juga tersebar di tiga kampung lainnya di Sungai Carey. Namun, suku di kampung ini yang paling aktif menggelar kebudayaan tradisional.

Setidaknya ada tiga bentuk kebudayaan tradisional yang terus dilestarikan secara turun temurun di sini yakni Tarian Topeng lengkap dengan musiknya, seni ukiran pahat, dan sesembahan pada Moyang.

Sidin juga bercerita, saat ini pembangunan di kampungnya sudah pesat terutama untuk infrastruktur primer yang berkaitan dengan jalan, kesehatan, dan pendidikan.

“Kalau pada tahun 80an-90an, anak-anak Suku Mah Meri tak ada yang kerja kantoran karena tak mampu sekolah, tapi tahun 2000-an ke atas sudah banyak yang sekolah. Sudah ada yang jadi guru dan kerja kantoran,”kata Sidin dalam logat Bahasa Melayu Malaysia.

Bersama Kepala Suku Mah Meri Sidin. Foto by menixnews.com

Bersama Kepala Suku Mah Meri Sidin. Foto by menixnews.com

Selepas acara sambutan, kami langsung dihibur dengan pertunjukan Tari Topeng Tok Naning dan Pongkol. Tarian itu dibawakan oleh dua pria yang memakai topeng Moyang Tok Naning dan Moyang Pongkol. Kedua pria itu diikuti empat wanita yang berbusana tradisional. Tarian juga diiringi musik yang berbeda untuk kedua Moyang tersebut.

Musik itu terdengar keras dan iramanya yang mengalun deras ke telinga. Alat musik yang dimainkan sangatlah sederhana berupa pukulan alu dan lesungnya, gendang, dan biola. Secara keseluruhan musik dan tarian itu menggambarkan kegembiraan.

Untuk mendengarkan alunan musik dan tarian Suku Mah Meri bisa dilihat disini!

Pemain musik Tarian Topeng Suku Mah Meri. Foto by menixnews.com

Pemain musik Tarian Topeng Suku Mah Meri. Foto by menixnews.com

Sadin menceritakan, setiap Moyang yang dipercaya oleh Suku Mah Meri memiliki cerita sejarah masing-masing. Moyang Tok Naning misalnya, merupakan perwujudan dari cerita seorang warga Suku Mah Meri di zaman dahulu yang tersesat di hutan dan kelaparan sampai-sampai matanya hampir keluar.

Mengenal Para Moyang

Suku Mah Meri merupakan suku dengan tingkat keterampilan kerajinan seni ukir pahat yang tinggi. Hampir setiap pria suku ini dibekali dengan kemampuan seni ukir pahat secara turun temurun. Ukiran yang mereka buat menggunakan kayu Nire Batu, sejenis kayu Bakau yang sudah tua yang biasa diambil dari sekitar Pulau Carey.

Jika singgah ke rumah-rumah Suku Mah Meri di kampung ini, rata-rata di depan rumah mereka pasti ada bilik khusus yang digunakan sebagai workshop kerajinan seni ukir pahat.

Seorang pria Suku Mah Mire sedang membuat ukiran dari kayu Nire Batu. Foto by menixnews.com

Seorang pria Suku Mah Mire sedang membuat ukiran dari kayu Nire Batu. Foto by menixnews.com

Rata-rata seni ukir yang mereka hasilkan adalah perwujudan dari bentuk-bentuk Moyang yang mereka percayai. Ada ratusan bentuk Moyang yang sudah dibuat hingga kini.

Sidin menceritakan, bentuk Moyang itu didapat dari mimpi-mimpi yang dialami oleh Bumo, sebutan untuk dukun atau kepala suku warga di sana. Biasanya, jika ada warga Mah Meri yang sakit, Bumo akan menggelar doa keselamatan. Kemudian, Bumo bermimpi tentang perwujudan bentuk suatu mahluk. Setelahnya, dibuatkan perwujudan  bentuk mahluk tersebut yang ditujukan sebagai utang ganti sakit. Dengan kata lain, sakit warga tadi dipindahkan ke Moyang tersebut yang wujudkan dalam sebuah patung.

This slideshow requires JavaScript.

Saya melihat, di dalam lemari yang ada di balai adat, terlihat puluhan hasil seni ukiran lengkap dengan nama-nama Moyangnya. Ada Moyang Bayak, Moyang Sembuar, Moyang Kelolong, Moyang Tenong A’AK Kokot Jeleng, dan lainnya. Untuk membuat satu Moyang, seorang pengerajin bisa menghabiskan waktu sepekan bahkan lebih tergantung tingkat kesulitannya.

Pajangan souvenir di Balai Adat Suku Mah Meri. Foto by menixnews.com

Pajangan souvenir di Balai Adat Suku Mah Meri. Foto by menixnews.com

Mengenal Hari Moyang

Suku Mah Meri merupakan warga asli Malaysia yang masih percaya pada Moyang. Setiap tahun, warga ini pun memiliki hari kepercayaan (Hari Besar Keagamaan) yang disebut Hari Moyang. Hari istimewa ini biasanya jatuh pada minggu terakhir Februari.

Saat menentukan hari Moyang, warga Mah Meri melihat pasang surut air laut. Warga akan berkumpul dan bermusyawarah menentukan kapan jatuhnya Hari Moyang tersebut. Penentuan Hari Moyang diambil berdasarkan suara terbanyak dari warga setempat.

Perayaan Hari Moyang biasanya dilaksanakan selama tiga hari di sekitar tanggal 23, 24, dan 25 Februari.

Selama dalam masa perayaan Hari Moyang, ada beberapa pantangan yang harus dipatuhi warga Mah Meri, di antaranya:

  1. Warga tidak boleh memotong atau membunuh makluk hidup, termasuk ikan-ikan dan unggas untuk makan sehari-hari.
  2. Warga tidak poleh memotong kayu karena pohon dan tumbuhan lain juga merupakan makluk hidup.

“Selama setahun kan kita sudah diberi kebebasan untuk makan hewan, termasuk ikan dan unggas, juga diberikan kesempatan untuk menebang pohon. Pada Hari Moyang, semua itu dilarang sebagai bentuk penghormatan kepada Moyang,”kata Sidin.

Perayaan Hari Moyang, diisi oleh ritual doa-doa keselamatan dan kemurahan rezeki , tarian dan musik, serta makan bersama. Perayaan itu dilakukan warga dengan berkumpul di Rumah Moyang yang diberinama Moyang Ambai.

Kami pun berkesempatan melihat Rumah Moyang Ambai yang dimaksud. Letaknya memang agak jauh dari rumah warga yang mayoritas berada di pinggir jalan. Rumah Moyang, berlokasi menjorok ke tengah kebun.

Di depan komplek Rumah Moyang, terdapat gapura sederhana yang dibuat dari kayu dan atap tepas. Ada hiasan-hiasan anyaman dari daun nipah.

Menut Haznah, seorang warga Mah Meri yang ikut bermain musik saat pertujukan Tari Tok Naning di Balai Adat, lokasi Rumah Moyang yang dipilih merupakan bekas bandar atau pelabuhan tempat sampan-sampan bersandar.

Salah satu gubung Rumah Moyang. Foto by menixnews.com

Salah satu gubung Rumah Moyang. Foto by menixnews.com

Di dalam komplek tersebut terdapat dua gubuk kayu sangat sederhana. Satu berukuran besar, biasanya digunakan untuk tempat berkumpulnya warga saat Hari Moyang, dan satu lagi berukurun kecil dan berbentuk panggung yang menjadi rumah Moyang Ambai.

Di rumah panggung kecil itulah diletakkan patung Moyang Ambai dan Moyang Garden. Di dalamnya terdapat sesaji dan beberapa ukiran Moyang-Moyang lainnya.

Rumah Moyang Ambai. Foto by menixnews.com

Rumah Moyang Ambai. Foto by menixnews.com

Karena biasanya dipakai setahun sekali, lingkungan komplek Rumah Moyang ini memang tampak kurang terurus. Rumputnya tinggi-tinggi dan bangunan gubuknya tampak sudah reot.

Kak Haznah sedang menceritakan tentang Rumah Moyang. Foto by menixnews.com

Kak Haznah sedang menceritakan tentang Rumah Moyang. Foto by menixnews.com

Cara Membuat Baju dari Kayu

Warga Suku Mah Meri tetap mempertahankan sisi-sisi kehidupan tradisional mereka di tengah himpitan kemajuan zaman yang terus berkembang kiat maju dan berteknologi tinggi. Salah satu budaya yang mereka lestarikan adalah cara membuat baju sendiri dari kayu.

Kayu yang digunakan adalah Nire Batu, sama dengan kayu yang dipakai untuk membuat ukiran patung para Moyang.

Kayu Nire Batu yang sudah tua dipotong dan dibelah tipis. Kemudian belahan kayu itu dipukul-pukul hingga sengat tipis dan menyerupai lembaran kain. Setelahnya, kulit kayu dijahit dengan benang hingga menyerupai potongan baju dan rok yang sangat sederhana.

Untuk menghilangkan getah kayu tersebut, baju dicelup ke air beberapa kali hingga bersih dan dijemur. Ketika baju kulit kayu tersebut jadi, memang tidak seluruh bagian bisa tertutupi sebagaimana mengenakan baju dari serat tumbuhan lain seperti yang dikenakan orang-orang saat ini.

Untuk menutupi kekurangan baju kayu tersebut, khususnya bagi wanita, dipakailah aksesoris seperti rumbai-rumbah yang dianyam dari daun nipah.

Alhasil, penampilan Suku Mah Meri ini justru artistik dan cantik. (sri murni)

Untuk tulisan-tulisan saya tentang Rentak Selangor ini bisa Anda baca pada tautan ini:

[Rentak Selangor-1] Persiapkan 7 Hal Ini Agar Traveling Abroad Bareng Crucils Menyenangkan

[Rentak Selangor-2] Inspirasi Bang Huris: Jangan Rubuhkan Rumah Tua Anda tapi Jadikan Homestay

[Rentak Selangor-3] Avenue J Hotel: Cocok untuk Family dan Lokasinya Berada di Jantung Kota Kuala Lumpur

[Rentak Selangor-4] Mengenal Kesenian Cempuling: Cara Orang Jawa di Selangor Berkumpul dan Saling Mengingatkan

[Rentak Selangor-5] Menggali Makna Tarian Bugis di Tanah Selangor