Tips Memilih Asuransi bagi Anak Muda Zaman Now

Image result for asuransi prudential untuk milenial

Foto diambil dari pakarasuransi

SEORANG keponakan jauh, Ramdan, yang baru tamat sekolah dan baru mendapat pekerjaan tetiba menelepon. Awalnya saya tidak mengetahui jika yang menelepon adalah Ramdan karena di layar handphone hanya tertera nomor.

Kaget juga ditelepon oleh Ramdan karena memang dia sangat jarang berkomunikasi dengan saya dan bertemu pun biasanya sekali setahun saat momen lebaran.

Hanya saja, jika bertemu dengan saya, dia selalu mengorek banyak cerita. Apa saja, tentang pengalaman hidup saya, termasuk hal-hal kecil tentang pengaturan keuangan.

Ya, memang Ramdan itu orangnya talk active. Lebaran lalu, dia sempat meminta nomor telepon saya. “Kali-kali aja buk, saya sampai main ke Batam, kan tinggal telepon ibuk aja,”katanya ketika itu.

Dan ternyata, meskipun belum sempat main ke Batam, dia sudah menelepon saya. Yang ditanyakan saat menghubungi saya, ternyata tidak hanya kabar melainkan hal lain di luar dugaan.

Apakah itu? Tentang asuransi. (Hahahaha jauh bangets Ramdan tanya soal asuransi sampai telepon saya). Saat saya tanya,”Kok tanyanya ke ibuk?”

Dia menjawab sekaligus mengingatkan saya bahwa saat bertemu Lebaran lalu, kami memang sempat bercerita banyak tentang pengalaman saya dalam hal asuransi.

Sidik punya sidik, ternyata Ramdan ini baru diterima kerja di salah satu perusahaan swasta di kotanya. Dia memang baru tamat SMK tahun lalu, dan selama setahun ini pontang-panting cari kerja, seraya tetap membantu usaha kecil-kecilan orangtuanya.

Sekitar tiga bulan lalu, dia mendapatkan pekerjaan sebagai administrasi di perusahaan swasta. Usia Ramdan ini sekitar 19 tahun. Setahun setelah tamat SMK, dia memang bertekad untuk mengumpulkan uang, kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi sambil tetap bekerja.

Lalu, apa hubungannya dengan asuransi? Nah, di kantornya dia ditawari oleh bosnya untuk bergabung ke salah satu asuransi. Dia pun bingung, apakah memang perlu baginya untuk gabung ke asuransi?

Saya pun memberikan beberapa pertimbangan dan tips tentang hal itu. Semua yang saya paparkan kepadanya berdasarkan pengalaman saya pribadi yang pernah membeli beberapa premi asuransi baik yang berjangka maupun yang tidak.

Menurut saya, asuransi sejak dini bagi kaum milenial memang penting. Hanya saja, sebelum benar-benar membeli premi asuransi ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan matang-matang:

1. Pendapatan

Premi asuransi biasanya dibayar secara rutin setiap bulan. Jadi, baiknya anak muda yang ingin membeli premi asuransi kudu memiliki pendapatan tetap setiap bulan. Apalagi jika preminya memiliki jangka waktu yang panjang, misalnya 10 tahun.

Berapa besar rupiah yang harus dikeluarkan untuk premi bulanan asuransi? Ini juga sangat tergantung pada besarnya pendapatan. Rata-rata orang mengalokasikan dana untuk premi bulanan sebesar 5-10 persen dari gaji.

Jadi kalau anak muda sekarang gajinya Rp5.000.000 sebulan, maka bisa membeli premi asuransi bulanan dengan kisaran Rp250.000-Rp500.000.

Dengan besaran premi tersebut, biasanya aman dan tidak membebani biaya hidup pokok.

2. Jenis asuransi

Ada banyak jenis asuransi yang sekarang ditawarkan oleh perusahaan, mulai dari asuransi jiwa mencakup pertanggungan biaya kesehatan dan kematian, asuransi kendaraan, rumah, dan lainnya.

Sejumlah perusahaan yang menawarkan asuransi jiwa tersebut dibungkus dengan tambahan layanan investasi. Maksudnya, selain mendapatkan perlindungan jiwa, nasabah juga mendapatkan keuntungan lain berupa investasi.

Sehingga, jika biasanya asuransi jiwa akan hangus setelah masa pembayaran premi selesai, maka dengan tambahan investasi, nasabah akan mendapatkan pengembalian uang investasinya, meskipun tidak secara penuh sebesar uang yang sudah disetorkan ke perusahaan asuransi.

Terkait jenis asuransi yang cocok untuk anak muda zaman now, PT Prudential kini meluncurkan produk baru yang diberi nama PRUlink Generasi Baru (PGB) dan PRUlink Syariah Generasi Baru (PSGB).

PRUlink ini memberikan perlindungan jiwa dan investasi kepada para nasabahnya. Untuk asuransi jiwa, diberikan pertanggungan biaya kesehatan dengan jumlah tertentu dan meninggal dunia dengan pertanggungan mencapai Rp 200 juta.

Berikut adalah jenis pertanggungan dari PGB dan PSGB, termasuk untuk penyakit kritis:

  1. Perlindungan kondisi kritis untuk setiap tahapan perawatan atas 12 kondisi kritis sesuai ketentuan polis.
  2. Maksimum limit tahunan sebesar Rp 15 M disesuaikan dengan plan yang dipilih.
  3. Perlindungan atas 12 kondisi kritis di rumah sakit secara cashless jika memiliki produk H & S cover plus dan PPH.
  4. Perlindungan atas 12 kondisi kritis sesuai tagihan dan sesuai tabel manfaat Prucritical hospital cover (syariah).
  5. Perawatan 12 kondisi kritis di seluruh dunia.

Yang termasuk dalam kondisi kritis Prucritical hospital cover adalah:

  1. Kanker
  2. Stroke
  3. Serangan jantung
  4. Gagal ginjal
  5. Bypass grafting arteri koroner
  6. Bedah katup jantung
  7. Bedah Aorta
  8. Bedah pengangkatan satu paru-paru
  9. Bedah pengangkatan satu ginjal
  10. Bedah penyakit liver
  11. Transplantasi organ utama
  12. Angioplasty dan perawatan invasif untuk penyakit arteri koroner.

Sementara itu, untuk pengembalian dana investasinya tergantung dari besaran dana yang dialokasikan untuk investasi.

Dari simulasi yang ada, PGB ddan PSGB ini sejak tahun pertama setoran premi, ternyata sudah mengalokasikan investasi dengan besaran yang berbeda-beda setiap tahunnya. Makin lama, besaran investasi makin tinggi, seperti tabel ini:

Lalu bagaimana pembagian setoran premi untuk asuransi jiwa dan investasi? Detailnya dapat di lihat pada diagram di bawah ini:

3. Berpikir jangka panjang

Satu hal yang harus dicamkan anak muda ketika hendak membeli premi asuransi adalah asuransi itu untuk jangka panjang, bukan sehari dua hari atau sebulan dua bulan, melainkan tahunan.

Para nasabah harus membayar premi setiap bulan, tetapi belum tentu menerima manfaatnya setiap bulan pula karena manfaat akan didapat ketika nasabah sakit atau meninggal dunia. Ketika nasabah sakit, maka akan diberikan biaya berobat dan perawatan dengan jumlah tertentu, sementara ketika meninggal dunia, manfaat lebih besar berupa uang tunai akan diberikan kepada para ahli warisnya.

Ketika kita memiliki asuransi, saat sakit tidak begitu membebani keluarga dengan biaya berobat, dan ketika kita meninggal, justru memberikan manfaat ekonomi kepada keluarga yang ditinggalkan.

Bagi kepala keluarga, misalnya, ketika meninggalkan istri dan anak untuk selamanya, sang ayah juga meninggalkan dana yang bisa digunakan untuk keperluan orang-orang tercinta.

4. Lebih muda lebih bagus

Satu pertanyaan pamungkas dilontarkan Ramdan kepada saya menjelang akhir diskusi tentang asuransi yakni,”Jadi buk, kapan baiknya saya gabung ke asuransi?”

Dengan gamblang saya menjawab,”Ikan sepat ikan gabus, makin cepat makin bagus”.

Mengapa? Karena saat masih muda, biasanya belum ada penyakit-penyakit kronis yang terditeksi, sehingga biaya preminya pun bisa kecil. Sementara kalau sudah umur 30-an ke atas, biasanya mulai terdeteksi penyakit kronis, misalnya jantung, ginjal, kanker, diabetes, dan lain-lain.

Lagipula, saat muda apalagi belum berumah tangga, tanggungan bulanan juga masih kecil. Biasanya untuk tempat tinggal, makan, dan kebutuhan lainnya masih numpang orangtua. Sehingga, uang gaji bisa dialokasikan untuk keperluan pribadi, termasuk untuk bayar asuransi.

5. Baca seteliti mungkin

Sebelum benar-benar memutuskan untuk membeli premi asuransi, sangat disarankan membaca seteliti mungkin pasal demi pasal kontrak asuransi yang diberikan perusahaan.

Biasanya dengan membaca seteliti mungkin klausal kontrak tersebut, akan banyak pertanyaan yang timbul. Jika itu terjadi, jangan sunkan untuk menanyakan sejelas-jelasnya kepada agen atau pegawai asuransi.

Dengan demikian, sejak awal kita akan mengetahui secara pasti apa plus dan minusnya bergabung ke asuransi. (sri murni)

Baca juga ulasan tentang asuransi lainnya!

Pertimbangan Memilih Asuransi Sesuai Tujuan dan Kebutuhan