Sensasi Menegangkan di Wahana Floating Water Park Sea Forest Adventure Batam

Water World di Sea Forest Adventure, Nongsa, Batam.

Water World di Sea Forest Adventure, Nongsa, Batam.

BATAM kian kaya dengan wahana permainan air. Setelah tiga waterboom dibuka (Top 100 Batuaji, Bengkong, dan Ocarina Batam Centre), kini segera hadir wahana Water World di kawasan Sea Forest Adventure Batam yang berada di satu kawasan dengan Palm Spring Golf & Country Club, Nongsa, Batam.

Pengelolanya pun masih satu management dengan Palm Spring Golf yakni PT Sinar Mas.

Wahana yang direncanakan baru akan beroperasi Desember 2016 atau Januari 2017 ini, berbeda dengan wahana air lainnya yang telah ada.

Water world tidak berada di lokasi tertutup, melainkan langsung di alam terbuka, laut.

Wahana ini berada tidak jauh dari Pulau Putri, Nongsa.

Water world, nantinya akan terdiri dari floating water park, floating bar, cliff bar, hidden beach, dan water sport seperti para sailing, kayaking, banana boat, fishing, dive hunting, dan olahraga air lainnya.

Area ini sangat cocok bagi pengunjung yang lebih menyukai petualangan di laut. Namun, saat ini yang masih tersedia baru floating water park. Sementara untuk lainnya masih dalam pembangunan.

Tim Blogger Kepri berkesempatan mencicipi wahana ini, meskipun belum resmi beroperasi.

Kami berjumlah kurang lebih 20 orang dalam rangka family trip (famtrip) ke sana. Saya sendiri membawa squad dari rumah, suami dan dua crucils.

Kami start dari Kepri Mall dan konvoi mengendarai motor dan mobil. Jarak tempunya kurang lebih 30 menit untuk sampai di lokasi.

Sesampainya di lokasi, Pantai Palm Spring, kami langsung disambut Banquet Manager, Yenni Mahardika.

Tak lama saling berkenalan, kami langsung bersiap. Berganti baju untuk berenang (boleh juga hanya mengenakan kaos dan celana pendek atau celana panjang) dan mengenakan jaket pelanpung (safety jacket).

Saya, suami, dan duo crucils mengenakan jaket pelampung.

Saya, suami, dan duo crucils mengenakan jaket pelampung.

Semua peserta wajib mengenakan safety jacket termasuk anak-anak. Sayangnya, untuk water world ini hanya boleh diikuti oleh anak-anak usia minimal 7 tahun karena dikhawatirkan anak di bawahnya belum mampu bermain di wahana tersebut. So, yang bawa keluarga seperti saya, terpaksa para crucils hanya bermain di pantai.

Sebelum ke lokasi, kami diajak briefing singkat oleh beach guard alias penjaga pantai tentang hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama di wahana:

  1. Dilarang bawa makanan dan minuman
  2. Dilarang berenang di bawah wahana
  3. Wajib pakai jaket pelampung selama berada di wahana
  4. Jika perlu pertolongan, beritahu ke penjaga maka petugas akan bertindak.
  5. Waktu bermain hanya 30 menit.

    Tim Blogger Kepri briefing bersama beach guard.

    Tim Blogger Kepri briefing bersama beach guard.

Naik Speed atau Jalan Kaki

Water world berada di atas laut yang jaraknya sekitar 110 meter dari bibir pantai Nuvasa Bay.

Dari Pantai Palm Spring ke arena wahana, bisa dilakukan dengan tiga cara.

Pertama, naik speedboat yang sudah sudah disiapkan pengelola. Boat ini muatannya memang terbatas hanya sekitar enam orang. Hanya perlu waktu lima menit untuk sampai ke wahana tersebut.

Speed boat yang disiapkan untuk ke Water World dari Pantai Palm Spring.

Speed boat yang disiapkan untuk ke Water World dari Pantai Palm Spring.

Kedua, bisa juga jalan kaki melalui bukit dan hutan yang ada di areal Palm Spring. Jaraknya tidak begitu jauh hanya sekitar 300 meter. Waktunya pun hanya sekitar 15 menit jika jalannya santai-santai saja.

Ketiga, naik buggy car (mobil para pemain golf) dengan waktu hanya sekitar 10 menit. Lintasannya sama dengan pejalan kaki.

Permainan yang Menantang

Sesampainya di lokasi, arena permainan menantang floating water park berwarna hijau-kuning di atas laut sudah menanti kami. Wahana itu terbuat dari bahan plastik (seperti terpal yang sangat tebal) dan berisi angin

Tim Blogger Kepri berfoto bersama Banquet Manager Yenni Mahardika (kiri) dan timnya.

Tim Blogger Kepri berfoto bersama Banquet Manager Yenni Mahardika (kiri) dan timnya.

Wahana ini memiliki konsep survival science, nature dan outdoor activities.

Di depan wahana ini, dibikin jeti terapung yang terbuat dari plastik tebal dengan kombinasi warna orange dan biru. Pajang jeti tersebut, kata Yenni Mahardika, kurang lebih 110 meter. Karana terbuat dari plastik tebal, goyangannya terasa saat kita berjalan di atasnya. Terlebih lagi saat angin laut dan gelombang berhempus kencang. Meskipun begitu, jeti ini aman dilalui.

Di wahana itu terdapat banyak rintangan yang menantang.

Tantangan pertama adalah berenang jarak pendek dari jeti ke wahana. Jaraknya hanya sekitar lima meter. Wahana dan jeti memang tidak disatukan agar peserta bisa merasakan air laut sebelum naik ke wahana.

Lintasan laut antara jeti dan wahana floating water park.

Lintasan laut antara jeti dan wahana floating water park.

Jika ada peserta yang memang pobia dengan air, pengelola sudah menyediakan kayak untuk mengangkut mereka. Namun, karena kayak ini muatannya hanya dua orang, jadi membutuhkan waktu lebih lama.

Begitu  naik ke atas wahana, kita langsung dihadapkan dengan pilihan tantangan yang bermacam-macam, hampir mirip dengan arena Ninja Warrior (walaupun tidak se-ekstrim Ninja Warrior sungguhan).

Ada lintasan lari, panjat dinding, ayunan, trampoline, seluncuran, dan terjun bebas. Setelah melalui beberapa rintangan, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi bagi saya dengan body yang tidak langsing. Nafas pun jadi ngos-ngosan, TAPI SERU BANGETS!

Salah satu permainan di floating water park.

Salah satu permainan di floating water park.

Arena wahana ini cukup licin, sehingga menambah tantangan yang lebih seru bagi peserta. Terpeleset dan tajuh ke laut menjadi sesuatu yang biasa setiap kali gagal melalui rintangan. Tapi gak perlu khawatir akan tenggelam, karena semuanya pakai jaket pelampung dan petugas siap siaga menolong.

Bagi saya, rintangan yang paling ekstrim adalah terjun dari tempat yang paling tinggi, sekitar dua meter, ke dalam laut.

Mandi Busa

Kawasan wisata Sea Forest Adventure Palm Spring ternyata menyediakan arena mandi busa alias foam party. Namun, mandi busa tidak dibuka setiap saat, melainkan hanya jika ada pesanan.

Kebetulan, saat kami di sana, ada event family gathering yang ditaja salah satu perusahaan di Batam. Panitia acara telah memesan foam party. Alhasil kami bisa nebeng main busa di dalamnya.

This slideshow requires JavaScript.

Foam dibuat dari sampo baby Casson sehingga tidak pedih di mata bagi anak-anak.

Menurut seorang penjaga disana, arena ini bisa dipesan dengan tarif tertentu.

Tamu Umum

Pantai Palm Spring, dibuka untuk umum. Siapa saja boleh menikmatinya dengan syarat harus membayar uang masuk sebesar Rp 35 ribu per orang (dewasa) dan Rp 25 ribu (anak-anak).

Tidak harus booking untuk datang ke sini, melainkan cukup lapor ke sekuriti di gerbang masuk, kemudian melapor di lobi dan membayar uang masuk.

Sementara untuk wahana floating water park, saat ini belum dibuka untuk umum sampai Desember atau awal tahun 2017 nanti.

Pantainya Perlu Dibersihkan

Pantai Palm Spring memang luas dan landai. Pasirnya pun lumayan putih, sehingga cocok untuk tempat bermain anak-anak dan bersantai.

Namun, pantai ini cukup kotor dan perlu dibersihkan. Sampah-sampah, baik organik maupun non-organik, banyak berserakan. Meskipun ada tempat sampai disediakan, ternyata tidak mampu menyadarkan pengunjung yang datang untuk membuang sampah pada tempatnya.

Petugas kebersihan Palm Spring harus bekerja keras untuk tetap menjaga pantai agar tetap bersih sehingga kenyamanan pengunjung akan lebih terasa.

Akan Ada Glamorous Camping

Pengelola saat ini sedang menyiapkan area kamping cantik dengan nama Glamorous Camping (Glam Camp). Nantinya dilengkapi dengan fasilitas restaurant,  glamping , rumah pohon, dan fasilitas multifungsi lainnya yang dapat menciptakan suasana “dekat dengan alam” bagi para pengunjungnya.

Adapun Glam Camp merupakan salah satu tren terbaru dimana para tamu dapat tinggal di tenda yang sudah dimodifikasi dengan fasilitas kamar mandi dan kamar tidur layaknya di hotel berbintang namun dikarenakan bentuk strukturnya yang unik para tamu dapat merasa tetap dekat dengan alam tanpa mengorbankan kenyamanan yang biasanya sulit didapatkan saat berkemah di tenda biasa. (***)