Asyiknya Keliling Kota Surabaya Naik “Bus Botol”

Sempatkan foto di depan “Bus Botol”.

SELAMA kurang lebih lima hari (23-18 Novermber 2018) berada di Surabaya, ibukota Provinsi Jawa Timur (Jatim), banyak sekali pengalaman positif yang saya dapatkan, terutama dalam hal fasilitas pendukung wisata.

Pada tulisan ini saya ingin berbagi pengalaman menggunakan moda transportasi umum berupa  city tour bus dan “Bus Botol”. Saya menamainya “Bus Botol” bukan karena bentuknya yang seperti botol, melainkan karena untuk mendapatkan tiket bus ini tidak bisa dengan uang. Calon penumpang harus menukar botol bekas air kemasan, yakni sebanyak lima botol ukuran 600 ml atau tiga botol ukuran 1 ml ke atas untuk satu tiket bus.

Saya terkagum dengan keberadaan “Bus Botol”ini dan pelaksanaannya sungguh profesional, sinergi  antara Dinas Kebersihan dan Dinas Perhubungan Surabaya.

1. Bus Botol atau Suroboyo Bus

Warga Surabaya mengenalnya dengan sebutan Suroboyo Bus, sebagaimana nama itu tertera di badan bus tersebut, baik sisi samping kanan dan kiri. Warnanya merah, masih mulus, dan bodinya cukup besar dengan kapasitas sekitar 40 penumpang. Setiap hari bus botol beroperasi dari pukul 6.00-21.00 WIB.

Warga antre di depan Bus Botol di dalam “Bus Botol”. Foto menixnews

Saya menamainya sebagai “Bus Botol”, merujuk pada cara mendapatkan tiketnya yang hanya bisa dilakukan dengan menukarkan botol bekas air kemasan. Bahkan di dalam bus tertera tulisan besar yang berisi,”Maaf Tidak Melayani Pembayaran Uang Tunai dalam Bentuk Apapun”.

Matahari terasa sangat menyengat ketika saya dan seorang teman wanita, Mbak Niar, yang tinggal di Sidoarjo, tiba di Terminal Bungurasih atau Purabaya, terminal terbesar di Surabaya.

Jam di HP saya manunjukkan pukul 14.30 WIB. Rasa panas dan gerah begitu terasa, sebagai salah satu ciri khas kota Surabaya yang memang sumuk.

Di pintu masuk terminal sebelah kiri sudah tampak ramai warga antre menunggu “Bus Botol” yang berwarna merah.

Di sebelah kiri dimana warga antre, terdapat sebuah tenda kecil dengan tulisan di atasnya, Dinas Kebersihan Kota Surabaya. Di samping tenda tersebut, ada dua bak sampah berukuran sedang yang sudah penuh dengan botol plastik bekas minum kemasan.

Ada beberapa warga yang sibuk mengeluarkan botol bekas dari dalam plastik besar dan memindahkan satu per satu botol itu ke bak sampah seraya menghitung. Aktivitas tersebut diawasi oleh seorang petugas. Di antara warga itu, termasuklah saya dan Mbak Yuniar.

Mbak Yuniar sedang menghitung botol bekas air mineral untuk ditukarkan dengan stiker tiket bus botol. Foto by menixnews.

Kami sengaja membawa satu kantong besar ditambah satu kantong kecil botol bekas. Setelah dihitung semuanya, botol yang kami bawa dari rumah Mbak Yuniar ternyata berjumlah 80 buah dengan ukuran 600 ml.

Setelah selesai menghitung, kami melapor ke petugas yang duduk di bangunan kecil di sebelah bak sampah tersebut.

Sang petugas langsung memberikan sticker bulat kecil warna merah sebanyak 15 buah, hasil pembagian 80 botol dibagi lima. Sticker tersebut kemudian ditempelkan pada selembar kertas.

Striker inilah yang berfungsi sebagai tiket untuk naik Bus Botol.

Petugas Dinas Kebersihan Kota Surabaya menghitung stiker hasil dari pertukaran botol mineral warga. Foto by menixnews.

Setelah selesai urusan sticker, kami pun melapor ke petugas yang mengurus penumpang untuk mendapatkan nomor antrean.

Kami mendapatkan nomor antrean 4 dan 5. Di atas kertas antrean itu, ditandai dengan tiga lubang di bagian atasnya. Lubang ini menandakan, kami akan naik bus yang ketiga di sore itu. Cukup lama kami menunggu bus yang dimaksud, kurang lebih 30 menit.

Alhamdulillah, tepat sekitar pukul 15.30, bus yang kami nantikan tiba. Busnya besar dan berwarna merah. Tampak masih baru. Setelah bus di depan mata dan semua penumpang sudah diturunkan, bus pun dibersihkan. Kemudian, petugas memanggil kami sesuai nomor urut 1-40, merujuk pada kapasitas bus tersebut.

Warga antre di depan Bus Botol di dalam “Bus Botol”. Foto menixnews

Begitu berada di dalam bus, saya terkesima dengan kenyamanannya. Besar, bersih, wangi, dan sangat nyaman. Para petugasnya pun masih muda-muda dan keren-keren. Mereka, baik laki-laki maupun perempuan, menggunakan seragam kemeja dongker dan celana panjang kargo warga krim, serta sepatu safety yang bewarna senada dengan celananya. Melihat seragam ini, saya langsung teringat seragam “Turn Back Cream” yang sempat heboh beberapa waktu lalu.

Dengan seragam modis tersebut, tidak ada kesan angker dan sangar, apalagi para petugas memang ramah kepada para penumpang. Jika ada pertanyaan, dengan senang hati mereka menjawabnya.

Beda Warna Kursi Beda Peruntukan

Bus ini memiliki dua pintu, depan dan tengah. Ada tiga bagian kursi di bus ini. Barisan kursi depan berwarna pink untuk para wanita, kursi bagian tengah warna merah untuk lansia0, dan kursi bagian belakang warna oranye untuk siapa saja, termasuk para pria. Saat penumpang naik, dari pengeras suara ada pemberitahuan tentang alokasi kursi tersebut.

Saya dan mbak Yuniar duduk paling depan agar bisa leluasa mendapatkan pemandangan kota dan befoto-foto.

Wefie di dalam “Bus Botol.

Ketika kami sudah duduk, ternyata ada dua pria yang duduk di kursi warna pink. Melihat hal itu, petugas langsung meminta dua pria tersebut untuk pindah  ke kursi belakang yang berwarna oranye. Ehmmm good job mas petugas, yang seperti itu memang harus ditertipkan.

Rute “Bus Botol”

Tidak menunggu lama di dalam, “Bus Botol” langsung bergerak  Rutenya cukup jauh dari Bungusarih melewati pusat kota dan beberapa tempat wisata seperti Kebun Binatang Surabaya, Taman Bungkul, Tugu Pahlawan, Museum Darmo, dan berhenti di tujuan terakhir adalah JMP (Jembatan Merah Plaza).

Kami memilih berhenti di JMP karena ingin mengabiskan sore itu dengan jalan-jalan di Jembatan Merah, Pecinan Kya-Kya, dan langsung ke Makam Sunan Ampel, yang semuanya tidak begitu jauh jaraknya.

“Bos Botol” ini memiliki dua jenis yakni bus biasa dan bus bertingkat. Rute bus bertingkat lebih pendek dari bus biasa, namun bus bertingkat melewati kawasan wisata Tunjungan yang legendaris di Surabaya tersebut.

Di dalam bus, petugas akan meminta kartu sticker, kemudian melubangi sesuai dengan jumlah orang yang dibawa. Misalnya, saya dan Mbak Yuniar hanya punya satu kartu sticker dengan belasan sticker yang menempel di atasnya, maka petugas melubangi dua sticker untuk kami berdua.

Stiker hasil dari pertukaran botol mineral dan kertas tiket Bus Botol. Foto by menixnews.

Kemudian, petugas memberikan kertas yg berisi barcode. Kertas ini jangan sampai hilang karena akan diperiksa kembali oleh petugas kemudian di-scanning saat penumpang akan turun. Hal tersebut sebagai kontrol bahwa jumlah penumpang yang naik dan turun harus sama. Setelah di-scanning, kertasnya dikembalikan ke penumpang.

Dari bincang-bincang saya dengan Mas Slamet, seorang kondektur bus, pihaknya memang tidak menerima uang untuk pembelian tiket. Di bagian depan bus pun tertera tulisan “Maaf Tidak Melayani Pembayaran Uang Tunai dalam Bentuk Apapun”, seperti yang sudah saya singgung di atas.

Larangan membayar menggunakan uang terpampang jelas di bagian depan Bus Botol. Foto menixnews

Jadi, jika ingin naik bus ini, pastikan Anda membawa botol minuman. Jika tidak punya botol, ya dicari dulu di tempat sampah ya. Walaupun punya banyak duit di kantong tapi kalau tidak punya botol, tidak akan bisa naik bus ini.

Bagi yang tidak punya sticker, tetap bisa naik bus selama memiliki botol bekas, karena bisa menukarkan botol dengan sticker di atas bus.

Bagi yang tidak hapal rute bus ini, tidak perlu khawatir karena selama perjalanan, pengeras suara di bus akan memberitahu setiap halte yang akan disinggahi bus tersebut.  Pemberitahuan itu dalam tiga bahasa yakni bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Bahasa Jawa.

Menurut Mas Slamet, saat ini ada delapan armada, dua di antaranya bus bertingkat dengan rute yang sedikit berbeda, namun tetap melewati beberapa objek wisata di dalam kota Surabaya.

Satu hal lagi yang membuat saya terkesima adalah ketersediaan chargering spot alias tempat ngecas baterai. Saat saya kehabisan baterai handphone, saya pun dibolehkan menumpang ngecas di bagian depan, dekat supir.

Menurut Mas Slamet, rata-rata penumpang bus adalah pekerja dan wisatawan, baik lokal maupun nusantara.

Botol untuk Kerajinan

Melalui “Bus Botol” ini, setiap hari ribuan botol bekas air kemasan bisa terkumpul dari warga. Lalu, diapakankah botol-botol tersebut.

Mas Slamet menceritakan, botol-botol itu utamanya adalah gunakan untuk bahan dasar kerajinan tangan yang banyak dihasilkan para pelaku usaha mikro dan menengah di Surabaya. Hasil kerajinan tangan itu bisa berupa hiasan dinding, hiasan meja, lampion, tempat tisu, dan lainnya yang bernilai ekonomi cukup lumayan.

Image result for contoh kerajinan tangan dari botol bekas

Jika memang tidak bisa lagi digunakan karena kondisi botol yang sudah rusak, maka akan didaur ulang.

2. Bus Gratis City Tour

Saya memang salut dengan pemerintah Kota Surabaya yang sudah memberikan kemudahan bagi wisatawan. Selain “Bus Botol” yang ramah lingkungan, fasilitas lainnya adalah penyediaan bus pariwisata gratis untuk city tour.

Bus Pariwisata Gratis dari PT Sampoerna untuk Kota Surabaya. Foto by menixnews

Secara regular, ada dua jenis bus pariwisata gratis yakni dikelola pemerintah dan PT Sampoerna. Bus city tour dari pemerintah beroperasi setiap hari Selasa, Sabtu, dan Minggu dengan meeting point di Balai Pemuda, Surabaya. Sebenarnya bus regular ini tidak gratis 100 persen, melainkan bayar hanya Rp 7.500 yang akan digunakan sebagai uang masuk ke salah satu museum yang di kunjungi. Namun, untuk pelayanan busnya sendiri tidak mengenakan biaya apapun.

Bus Pariwisata Gratis di Surabaya. Foto by menixnews

Sementara Bus Sampoerna beroperasi setiap hari dengan rute yang lebih singkat yakni hanya satu jam dengan mengunjungi Museum Sampoerna dan Tugu Perjuangan. Setiap bus memiliki seorang  pemandu wisata.

Saya sendiri menikmati bus city tour gratis dari Pemko Surabaya ketika mengikuti acara Bekraft Festival yang berlangsung dari 14-18 November di Grand City.

Bus City Tour beroperasi mulai pukul 09.00 WIB. Satu kali putaran city tour berlangsung selama lima jam dengan mengunjungi beberapa objek wisata di dalam kota, utamanya Tugu Perjuangan dan sejumlah museum sejarah, termasuk Museum HOS Tjokroaminoto yang menjadi rumah kos Presiden Soekarno di masa kuliah. Namun, karena keterbatasan waktu, ketika itu kami hanya menghabiskan waktu dua jam dengan mengunjungi Museum Tugu Pahlawan dan Museum HOS Tjokroaminoto di Jalan Peneleh.

Saya bersama teman-teman dari Komunitas Coding Mum Indonesia, menyoba ikut city tour gratis itu pada Jumat (16/11/2018) siang. Starting point-nya adalah Grand City. City tour gratis ini merupakan fasilitas wisata bagi para peserta dan pengunjung Bekraft.

Ditemani seorang pemandu wisata, berkeliling kota Surabaya, melihat kebersihan dan keunikan kota ini mulai dari perkampungan, gedung-gedung tinggi, sampai pasar tradisional. Meskipun tidak turun di setiap tempat, tapi rasanya sudah sangat puas.

Bus Pariwisata Gratis di Surabaya. Foto by menixnews

City tour tersebut sangat menarik dan sarat tnformasi karena di selama di dalam bus pemandu memberikan informasi seputar daerah yang kami lalui. Sementara di tempat tujuan, kami juga ditemani pemandu lokal yang memberikan informasi sangat detail seputar destinasi wisata sejarah tersebut.

Dua jempol deh untuk Pemko Surabaya karena berhasil memberikan kesan yang sangat positif kepada para tamu baik lokal maupun mancanegara. (sri murni)