• Home »
  • Bisnis »
  • Coding Mum, Tempat Emak-Emak Belajar Bikin Website dan Aplikasi Sendiri

Coding Mum, Tempat Emak-Emak Belajar Bikin Website dan Aplikasi Sendiri

Emak-emak centil peserta FGD Coding Mum se-Indonesia.

ADALAH suatu berkah dari Allah SWT dan kesempatan yang sangat berharga saat saya bisa mengikuti forum discussion group (FGD) Coding Mum se-Indonesia yang ditaja Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), sebuah lembaga pemerintah nonkementerian.

Acara tersebut berlangsung selama tiga hari dari 14-16 November 2018 di Hotel Tunjungan yang berada di sebelah Mall Tunjungan, Surabaya. Acara ini juga bersempena dengan ajang Bekraf Festival ke-2 yang berlangsung di Surabya dari 14-18 November, setelah tahun lalu dilangsungkan di Bandung. Para peserta FGD juga menginap tiga hari dua malam di hotel tersebut.

FGD Coding Mum adalah sebagai ajang pertemuan para alumni Coding Mum dari 23 kota se-Indonesia, dari Aceh sampai Papua. Tujuannya, untuk membentuk pengurus komunitas tingkat nasional dan merumuskan visi, misi, serta program kerja komunitas ini.

Selama mengikuti FGD tentu saja banyak pengalaman yang didapat karena bertemu dengan para peserta yang keren-keren yang jago coding, bikin web site, toko online, aplikasi, serta para blogger dengan hasil tulisan yang mumpuni. Di antara peserta juga ada yang sudah menghasilkan produk UMKM yang telah dipasarkan secara digital.

Sebelum cerita lebih detail lagi, saya ingin meng-highlight bahwa inti dari program Coding Mum itu adalah mengajarkan ibu-ibu rumah tangga agar mengenal bahasa pemograman secara sederhana sehingga bisa membuat web site atau blog dan aplikasi sendiri, serta bisa mendapatkan uang dari kemampuan coding tersebut.

Selama acara, kami juga dibekali dengan ilmu tentang Design Sprint dan SEO (Search engine Optimization).

Materi pertama disampaikan Mas Adhicipta R Wirawan, seorang dosen Tetap Jurusan Akuntansi – Fakultas Bisnis & Ekonomika, Universitas Suraya (Ubaya) yang juga digital entrepreneur, ilustrator, board gamers, dan pembuat aplikasi.

Sementara materi kedua disampaikan oleh Mas Budiono, seorang blogger dan youtuber kondang yang sudah beberapa kali diundang ke Kantor Google di Amerika Serikat.

Untuk detail acara FGD Coding Mum tersebut, berikut saya paparkan secara lengkap ya!

1. Day One- Pembukaan dan Belajar Dasar-Dasar Design Sprint

Hari pertama FGD Coding Mum berlangsung pada Rabu (13/11/2018) tengah hari. Acara diawali dengan makan siang bersama dan perkenalan secara tidak formal. Beberapa peserta ternyata sudah saling kenal karena sama-sama berada di komunitas bidang digital dan kepenulisan. Beberapa juga baru kenal secara langsung, setelah selama ini komunikasi hanya via WA Group alumni Coding Mum.

Kalau emak-emak sudah bertemu, ehmmmm jangan ditanya lagi riuhnya suasana….. Apalagi dua di antara kami membawa crucils  yang menambah silaturahmi makin seru. Istimewanya Coding Mum ini adalah, setiap peserta dibolehkan membawa crucils. Karena hakikatnya, semua peserta adalah ibu rumah tangga dan juga seorang ibu yang pasti sulit meninggalkan anak-anak mereka, apalagi yang masih balita. Jadi sembari belajar dan berkreativitas, menjaga buah hati tetap jadi nomor satu.

Setelah makan siang, acara dilanjutkan dengan perkenalan peserta secara formal. Formal dimaksud, perkenalkan diri satu per satu dengan menggunakan pengeras suara (hehehehe)  dan pembukaan yang dilakukan oleh  Direktur Edukasi Ekonomi Kreatif (Bekraf) Ibu Poppy Savitri.

Sambil menggendong Aron, Kak May dari Papua tetap khusuk mendengarkan paparan Ibu Poppy.

Dalam sambutannya, Ibu Poppy menegaskan bahwa program Coding Mum ini memiliki tujuan mulia.  Selain memberdayakan ibu rumah tangga agar lebih produktif dan melek teknologi digital, lebih dari itu semua adalah untuk kepentingan bangsa, mencerdaskan generasi penerus yang lahir di era digital.

“Kalau para ibu rumah tangga sudah melek digital dan bisa mengajarkan anak-anaknya di rumah cara menggunakan teknologi digital secara baik, maka generasi yang lahir di era digital ini bisa lebih baik dan produktif,”kata Bu Poppy dengan penuh semangat.

Program Coding juga sudah merambah untuk teman-teman disabilitas melalui program Coding Mum Disabilitas yang sudah diselenggarakan di beberapa kota, termasuk Surabaya. Juga sudah merambah ke sejumlah Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang ada di Hongkong, Malaysia, dan Singapura.

Setelah acara pembukaan selesai, agenda selanjutnya adalah belajar Dasar-Dasar Design Sprint bareng Mas Adhicipta. Ide dasar Design Sprint ini adalah bagaimana merumuskan suatu tujuan dan mencapainya melalui program kerja yang rasional dan sesuai dengan kebutuhan pasar atau anggota komunitas Coding Mum, dalam hal ini.

Bersama Mas Adi and team.

Design Sprint  yang dirumuskan oleh Jake Knapp dari Google Venture pada tahun 2010 ini biasa diterapkan di dunia bisnis. Secara singkat, design sprint dapat diartikan sebagai suatu metode untuk membangun konsep produk atau build product concept dan prototype dalam waktu cepat melalui lima tahapan yang sangat komunikatif dan interaktif untuk mengeluarkan semua ide, inspirasi, masalah yang ada, solusi yang kemudian diwujudkan dalam prototype yang harus dan di cross check ke calon pengguna.

Tetap produktif ditemani crucil saat diskusi Tim Kreatif.

Untuk mempermudah praktik design sprint dalam merumuskan organisasi komunitas Coding Mum, para peserta pun dibagi menjadi tiga kelompok sesuai dengan minatnya masing-masing yakni:

  1. Programming, yang akhirnya menjadi kelompok Penelitian dan Pengembangan (R&D)
  2. Pengajaran, yang akhirnya menjadi kelompok Edukasi
  3. Blogger, yang akhirnya menjadi kelompok Kreatif

Saya sendiri lebih memilih tim konten karena memang basic saya adalah penulis dan blogger.

Design Sprint Process.

2. Day Two- Merumuskan Komunitas Coding Mum Indonesia (KCMI)

Hari kedua, fokus kegiatan adalah penerapan metode design sprint untuk merumuskan organisai Komunitas Coding Mum. Awalnya kami hanya memberinama Komunitas Coding Mum, namun setelah bertemu dengan Bapak Triawan Munaf selaku Kepala Bekraf di acara Bekraft Festival di Grand City Mall, beliau mengusulkan agar ditambahkan kata Indonesia di akhir nama komunitas tersebut. Maka jadilah namanya Komunitas Coding Mum Indonesia (KCMI).

Full Team Creative

Di hari kedua, kami merumuskan masalah-masalah utama yang dihadapi oleh anggota KCMI saat ini berdasarkan tiga kelompok perumusnya, beserta mencari solusinya dan membuat program kerja.

Menjelaskan hasil rembukan Tim Kreatif untuk program Coding Mum Indonesia.

Di hari kedua juga, kami merumuskan struktur organisasi KCMI. Secara singkat, berikut adalah hasil rumusan yang kami hasilkan:

Struktur pengurus

1. President: Heni Prasetyorini (Surabaya)
2. Vice President:  Inne Ria Abidin (Jakarta)
3. Director of R&D: Farida W (Depok)
4. Vice Director of R&D: Jelita (Surabaya)
5. Director of Education: Indra (Bali)
6. Vice Director of Education: Patrice Sagay (Menado)
7. Director of Creative: Tika Yulia (Surabaya)
8. Vice Director of Creative: Etty Handayaningsih (Solo)
9. Ambassador of each city adalah setiap peserta dari masing-masing kota yang hadir.

Program Kerja

1. Membuat dan mengoptimalkan website dan akun media sosial Coding Mum.
2. Pelatihan lanjutan untuk para alumni (blog dan web online shop) dengan materi:
a. Desain blog/web
b. Creative content (tulisan, photo, video)
c. Tools (Google trend, analytic, console, adsense, dan medsos)
3. Penyusunan kurikulum untuk pelatihan Coding Mum selama setahun.
4. Pendanaan akan diusahakan dari Bekraft, sponsorship, dan Pemda.

Design Sprint Process.

 

Saat Moms sibuk, para crucils tidak mau kalah.

Belajar SEO

Di hari kedua, kegiatan memang padat. Selain merumuskan organisasi KCMI dan penerapan design sprint, menjelang sore, kami diberikan pembekalan teknis tentang SEO (Search Engine Optimization), yang intinya membahas bagaimana cara agar tulisan yang kita tayangkan di blog atau website bisa merajai (posisi atas) halaman satu mesin pencari Google.

Materi disampaikan dengan apik oleh Mas Budiono. SEO ini memang sangat penting. Menurut Mas Budi, website atau blog tanpa SEO itu seperti mandi tanpa sabun… (ehmmm bau badannya gak hilang dan gan segar donk ya… hehehehe)

Mas Budiono memarkan tentang SEO.

Jadi, kisi-kisi penting dalam SEO itu adalah:

  1. Web atau blog harus menggunakan code-code yang sederhana dan efektif sehingga tampilannya menjadi ringan saat dibuka oleh pembaca. Nah, inilah pentingnya kita memahami coding agar bisa membuat blog dan web sendiri yang ringan.
  2. Content is king. Konten atau isi blog atau web site memang menjadi raja karena kontenlah blog kita dibaca orang. Dan, dalam membuat konten memang harus setema dengan niche blog tersebut.
  3. Minimal kata dalam satu konten atau artikel adalah 1000 kata dengan isi yang jelas dan berbobot bukan asal kata demi memenuhi target minimal
  4. Quality backlinks. Backlink memang sangat perlu, namun hati-hati agar menghindari backlink situs-situs judi dan pornografi agar blog atau website kita tidak dianggap spam. Backlinks sangat dibutuhkan jika direferensikan oleh web atau blog berkualitas.
  5. Untuk backlink ini bisa melakukan strategi kolaborasi dengan web berkualitas.
  6. Daftarkan web ke Google Console untuk mengetahui crowler, pembajak content, backlink tak berkualitas, dan lainnya. Caranya gampang, buka google console, daftar, verify, dan sitemaps.
  7. Pasang Google Analytic.

Opening Bekraf Festival- Jikrak Bareng Andra and The Back Bone

Setelah seharian berkutat dengan rumusan KCMI, di malam kedua kami diberikan kesempatan ikut bergabung dalam pembukaan Bekraf Festival yang dipusatkan di Grand City Mall Surabaya. Acara berlangsung cukup meriah dengan menghadirkan group band ibu kota Andra and the Backbone serta pagelaran kesenian daerah, seperti Reog Ponorogo.

Konser Andra ant The Backbone di malam pembukaan Bekraf Festival.

Acara secara resmi dibuka oleh Walikota Surabaya Ibu Tri Rismaharini dan Kepala Bekraf Bapak Triawan Munaf. Dalam sambutannya, Ibu Risma mengatakan,”Anak muda Surabaya tentu saja ingin memperbaiki kualitas produk lokal agar bisa dibawa ke tingkat dunia. Ini merupakan wujud penghargaan luar biasa kepada nenek moyang kita yang telah meninggalkan kebudayaan luar biasa pula. Ruang kreatif seperti Bekraf Festival sangat dibutuhkan. Ayo kita kembangkan kekayaan lokal yang mengagumkan ini”.

Sementara Pak Munaf menyampaikan bahwa tahun 2018 ini, sumbangsih ekonomi kreatif untuk negara sudah mencapai Rp 1.500 triliun. Kontribusi itu datang, terutama dari film, musik, kuliner, fashion, dll. Bahkan Indonesia telah menjadi motor terdepan untuk ekonomi kreatif dunia melalui konferensi ekonomi kreatif se-dunia beberapa waktu lalu.”

Kedua pejabat negara itu, hanya menyampaikan pidato sambutan dengan singkat karena mungkin sudah sangat tahu bahwa yang hadir malam itu sudah menantikan penampilan Andra and the Backbone dan ingin jingkrak-jingkrak bareng mereka.

Bekraft Festival sendiri memang sarat dengan kegiatan. Tempatnya pun sangat luas dan dibagi-bagi menjadi beberapa zona, di antaranya zona seminar dan workshop tentang industri kreatif, seperti film, games, aplikasi, dan lainnya. Ada juga zona UMKM yang menghadirkan beragam macam kuliner khas Jawa Timur maupun kuliner modern yang pemasarannya sudah menggunakan teknologi digital, serta zona kerajinan UMKM dari banyak daerah di Indonesia.

Di ajang Bekraft Festival juga diberikan sejumlah penghargaan dan sertifikasi kepada para pelaku ekonomi kreatif termasuk sertifikasi bidang musik.

3. Day Three- Talkshow dan Jalan-Jalan

Hari ketiga kegiatan FGD, dikonsentrasikan untuk mengikuti rangkaian acara Bekraf Festival sekaligus gelaran talkshow tentang Coding Mum.

Talkshow berlangsung sekitar pukul 10.00 WIB di salah satu zona yang ada di Bekraf Festival. Ada tiga pembicara yang hadir yakni Ibu Poppy selaku Direktur Edukasi Ekonomi Kreatif (Bekraf), Mbak Heni (President KCMI), dan Mbak Ellen Xie dari Kolla, mitra Bekraf yang membantu kegiatan Coding Mum dari awal.

Talkshow tentang Coding Mum. Kika- Mbak Heni, Ibu Poppy, Mbak Ellen, dan host.

Talkshow ini berlangsung seru dan ramai. Ternyata gema Coding Mum sudah tersebar luas sehingga para peserta yang didominasi ibu-ibu rumah tangga datang dari dalam kota Surabaya maupun dari luar. Tidak sedikit peserta yang penasaran dengan Coding Mum dan ingin bergabung agar bisa mendapatkan manfaat ilmu dan keterampilan meng-coding.

Coding Mum sendiri, kini tidak hanya ada di Indonesia, tetapi juga sudah merambah para wanita Indonesia yang sedang bekerja di Hongkong, Malaysia, dan Singapura. Bahkan, sudah ada tagline bagi para tenagar kerja wanita (TKW) di sana yakni “From Cooking to Coding.”

Pada kesempatan itu juga, diberikan penghargaan kepada tiga alumni Coding Mum terbaik dari Bekraf. Ketiganya adalah Best on Service yang dimenangkan Tita Mulyati dari Bandung, Best on Education yang diberikan kepada Inne Ria Abidin dari Jakarta, dan Best on Business diterima Hertauli Roslinda Harianja dari Medan.

Sofanya Bikin Susah Move On

Dari talkshow Bekraf Festival ini, satu hal yang paling membuat saya terkesan dan akan saya terapkan di Batam adalah desain arena talkshow yang nyaman bangets dan bikin peserta, khususnya saya, susah move on karena sudah PW (posisi wenak).

Sofanya bikin susah move on.

Arena talkshow didesain lesehan. Para pembicara tetap berada di panggung, duduk di sofa, tetapi para peserta duduk di sofa lesehan yang warna-warni dan bikin nyaman.

Setelah duduk di sofa itu, rasanya memang malas untuk bergerak, sehingga bisa santai tetapi fokus mendengarkan paparan para pembicara. Pengalaman ini memang baru kali pertama saya dapatkan selama mengikuti banyak talkshow dan seminar.

Bravo deh untuk panitia karena sudah bikin saya santai, fokus, dan susah bergerak!

City Tour

Bus Pariwisata Gratis di Surabaya. Foto by menixnews

Seusai acara talkshow dan berkeliling arena Bekraf, saya dan beberapa teman menyempatkan diri untuk jalan-jalan keliling kota Surabaya menggunakan city tour bus yang sudah disediakan gratis oleh panitia.

City Tour berlangsung sekitar dua jam dengan starting point Grand City Mall. Kami mengunjungi objek wisata di dalam kota, utamanya Tugu Pahlawan dan dua museum sejarah, termasuk Museum HOS Tjokroaminoto  di Jalan Peneleh yang menjadi rumah kos Presiden Soekarno di masa kuliah.

Ditemani seorang pemandu wisata, kami diajak berkeliling kota Surabaya, melihat kebersihan dan keunikan kota ini mulai dari perkampungan, gedung-gedung tinggi, sampai pasar tradisional. Meskipun tidak turun di setiap tempat, tapi rasanya sudah sangat puas.

City tour tersebut sangat menarik dan sarat informasi karena selama di dalam bus pemandu memberikan informasi seputar daerah yang kami lalui. Sementara di tempat tujuan, kami juga ditemani pemandu lokal yang memberikan informasi sangat detail seputar destinasi wisata sejarah tersebut.

Bergabung dengan Coding Mum merupakan hal istimewa dan saya sangat senang karenanya. Maju terus Komunitas Coding Mum Indonesia! (sri murni)

Baca juga pengalaman keliling Kota Surabaya dengan “Bus Botol” ini ya!

Asyiknya Keliling Kota Surabaya Naik “Bus Botol”